Kamis, 04 Juli 2019

Sosialisasi Anak Homeschooling: Benarkah Mereka Tak Punya Teman, Kuper, dan Dikurung?

Qifaya bermain dengan anak-anak komunitas
IIP di kebun binatang Surabaya
Biasanya, setelah orang lain mengetahui bahwa anak saya menjalani homeschooling, mereka akan bertanya, "loh, trus sosialisasinya gimana? kasian tuh kalo gak punya teman, dikurung, bla bla bla..."

Ketahuilah bahwa saya ini adalah jebolan sekolah formal dan teman yang akrab dengan saya waktu itu hanya bisa dihitung jari. SD 2 orang, SMP 3 orang, SMA 2 orang. Bahkan S1 pun hanya 2 orang yang akrab, dan S2 bahkan hanya 1 orang.

Lihatlah, betapa kita tidak boleh men-judge sesuatu begitu mudahnya. Apalagi menuduh bahwa anak homeschooling adalah anak yang kuper dan tak punya pergaulan. Terbukti bahwa semua hal ini adalah tergantung dari masing-masing individu. Dan jika itu adalah anak homeschooling maka hal ini tergantung bagaimana orang tua merancang pengembangan keterampilan sosial anak. Tapi sependek pengetahuan saya, kebanyakan anak homeschooling tidak begitu sulit berinteraksi dengan orang lain. Kebanyakan dari mereka justru memiliki lingkar pertemanan yang lebih luas dibandingkan dengan anak yang bersekolah formal.

Mengenal Apa itu Sosialisasi

Sebenarnya sosialisasi itu sendiri memiliki 3 makna (source: podcast rumah inspirasi). Pertama, transfer nilai dan prinsip hidup. Kedua, membangun keterampilan sosial (komunikasi, berempati, memecahkan konflik, dll). Ketiga, yang paling sering digunakan dalam masyarakat dan dianggap sebagai kelemahan anak homeschooling adalah interaksi dengan lingkungan sekitar.

Pertanyaannya, jika sosialisasi merujuk pada pengertian pada poin pertama maka sosialisasi terbaik yang bisa diberikan pada seorang anak, apakah dari keluarga atau dari anak sebayanya? Jawabannya saya rasa cukup jelas, bahwa transfer nilai terbaik adalah dari orang tua.

Lalu, makna kedua dari sosialisasi adalah membangun keterampilan sosial seorang anak. Dalam hal ini keluarga masih menempati posisi utama sebagai teladan seorang anak. Coba bayangkan jika anak belajar membangun keterampilan sosial dari orang lain, teman sekelas misalnya. Dimana teman sekelasnya itu dibesarkan di keluarga yang ayahnya suka membentak, ibunya selalu memukul dalam memecahkan permasalahan di rumah. Kira-kira apa yang akan terjadi dengan si anak jika terus-terusan mendapatkan teladan seperti itu selama bertahun-tahun lamanya. Sementara kita tidak mungkin mengecek satu-satu latar belakang keluarga teman sekelas mereka yang jumlahnya tentu saja tidak sedikit.

Selanjutnya yang terakhir, interaksi dengan lingkungan sekitar, dan hal inilah yang sering diangkat oleh masyarakat saat memandang anak homeschooling. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa interaksi sosial benar-benar tergantung dari bagaimana orang tua merancang perkembangannya dan tentu saja tergantung dari si anak itu sendiri, nyatanya saya pun dulu anak sekolah formal malah tidak punya teman yang begitu banyak. Karena ternyata saya adalah tipe manusia introvert

Seorang anak yang menjalani pendidikan formal, akan menghadapi kawan yang sama selama bertahun-tahun. Intens atau tidak, belum tentu. Bisa saja kawannya hanya cukup tahu nama dan wajah saja. Mereka terbiasa dengan kondisi ini, sampai untuk berteman dengan senior di sekolah saja, rasanya sudah agak segan. Sistem senioritas lebih terasa, sehingga mereka lebih enjoy saat bergaul dengan teman seusia.
Bermain lintas usia dengan anak-anak
komunitas HEbAT di Coban Rondo

Berbeda dengan anak homeschooling, kondisi yang ada membawa mereka harus berteman dengan anak yang berbeda usia dengan mereka. Bisa lebih muda bahkan jauh lebih tua dari mereka. Mengapa? Karena anak homeschooling tidak punya kawan sekelas dan seumur. Misalnya saja Qifaya, yang menjalin lingkar pertemanan di lingkungan tetangga, perkumpulan homeschooling, club gymnastic, anak-anak yang sering ikut dauroh di masjid-masjid, anak-anak dari teman suami, bahkan pada orang dewasa yang selalu ditemuinya saat sholat jama'ah di masjid.

Horisontal dan Vertikal

Terdapat dua jenis sosialisasi berdasarkan kelompok yang ada di masyarakat. Pertama, horisontal (seusia) dan kedua adalah vertikal (lintas usia).

Contoh sosialisasi horisontal adalah sosialisasi yang sering dilakukan oleh anak yang bersekolah formal. Mereka dikumpulkan di dalam satu kelas dan menjalani pertemanan horisontal selama bertahun-tahun, setiap hari bahkan ada yang waktu interaksi dengan kawan seusianya lebih banyak dibandingkan dengan tidak seusia, anak yang bersekolah full day contohnya, ditambah lagi sepulang sekolah langsung ikut les. Dari SD hingga perguruan tinggi kurang lebih 16 tahun, bahkan jika anak memulai sekolah formalnya sejak usia 3 tahun maka ia bisa menjalin sosialisasi horisontal lebih lama lagi.

Sementara anak homeschooling, lebih sering melakukan sosialisasi vertikal. Dimana mereka sering berinteraksi dengan orang yang berbeda usia dengannya, di rumah misalnya mereka berinteraksi dengan ayah, ibu, kakek, nenek, adik. Di lingkungan rumah mereka bergaul dengan anak yang tidak seusia (seperti contoh Qifaya yang saya paparkan sebelumnya).

Nah, model sosialisasi vertikal sesungguhnya adalah model sosialisasi yang paling alami. Karena tentu saja dalam hidup bermasyarakat, tidak ada pengelompokan usia untuk bisa berinteraksi. Sehingga anak-anak homeschooling memiliki keuntungan dalam bersosialisasi saat terjun ke masyarakat. Mereka tidak memerlukan penyesuaian lagi karena sudah terbiasa dengan proses sosialisasi lintas usia ini.

Bagaimana Anak Homeschooling Mendapatkan Kawan?

Sebenarnya sudah saya paparkan berulang di atas, bahwa anak homeschooling mendapatkan kawan dari lingkungan sekitarnya. Namun, orang tua lah yang memegang peranan penting dalam membuka lingkar pertemanan ini. Misalnya bisa dengan mengikuti kajian rutin di masjid, bergabung dengan keluarga homeschooling lainnya, mengikuti kursus, masuk ke klub minat dan bakat anak, mengikutkan dalam kegiatan organisasi masyarakat, atau bahkan kegiatan rutin misalnya ikut sholat jama'ah di masjid dan berkumpul dengan teman ayah / ibu.

Intinya, anak homeschooling tidak seperti yang diperkirakan selama ini, yang mana masyarakat menilai anak homeschooling tidak memiliki kawan dan hanya dikurung di dalam rumah saja, meski model sosialisasi mereka berbeda, tapi bukan berarti model sosialisasi ini dinilai lebih buruk dibandingkan dengan model yang dijalani oleh anak yang menempuh pendidikan formal.

0 komentar:

Posting Komentar