Senin, 01 Juli 2019

Qifaya Resmi Tidak Bersekolah

Tahun ini Qifaya berusia 5 tahun dan pada umumnya anak-anak akan mulai bersekolah di TK saat usia 5 tahun, termasuk saya dulu. Tapi berbeda dengan anakku, Qifaya. Tahun ini Qifaya tidak akan masuk sekolah. Bukan karena kami tidak mempunyai uang untuk memasukkannya ke lembaga pendidikan formal itu, bukan juga karena kami ingin menunda hingga tahun depan. Melainkan kami lebih memilih "menyekolahkan" anak kami di rumah, alias homeschooling.

Banyak tetangga yang bertanya, "kenapa sih Qifaya belum sekolah? Ayo bu, dimasukkan anaknya di sekolah TK sama anak saya biar dia senang punya banyak teman." Saya hanya bisa membalas ajakan ibu-ibu itu dengan senyuman termanis yang bisa saya hasilkan dengan bibirku. Kenapa saya tidak membalas? Pernah sih  saya mencoba menerangkan bahwa Qifaya itu homeschooling, namun yang terjadi? yahh begitulah jika kita berbicara dengan orang yang tidak se-frekuensi, jadi selanjutnya saya memilih untuk tersenyum saja, daripada ribet kan ya..

Jujur saja, saat ini Qifaya adalah satu-satunya cucu, saudara, sepupu, yang intinya dia adalah satu-satunya anak yang menjalankan homeschooling baik itu di pihak keluarga saya maupun keluarga suami, dan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan suami. 

Sebenarnya sudah lama saya mengatakan niat saya untuk meng-homeschooling-kan Qifaya pada ibu saya, namun yang terjadi waktu itu ibu saya mengatakan bahwa, "tidak ada orang pintar yang tidak sekolah.". Saya mengerti bahwa ibu saya belum tau saja bahwa ada banyak sekali orang hebat yang tidak bersekolah, beberapa diantaranya adalah Agatha Christie, Alexander Graham Bell, Thomas A. Edison, Woodrow Wilson, Mozart, Kolonel Sanders, Walt Disney, K.H. Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, Buya Hamka, (sumber: pelatihanhomeschooling)

Tokoh Islam lainnys yang dididik oleh ibunya, diantaranya adalah Sufyan ats-Tsaury, Imam Malik bin Anas, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari, Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar al-Asqalani, Abdurrahman bin an-Nashir, Muhammad al-Fatih (sumber: kisahmuslim)

Lalu, Bagaimana Tanggapan Qifaya Mengenai Homeschooling?

Iya, benar sekali. Saya memilih homeschooling untuk Qifaya bukan berarti saya tidak peduli dengan pandangan dan pendapat anak saya, apakah ia mau atau tidak. Tentu saja, saat bermain dengan kawan seusianya, pasti kawannya bertanya, "kenapa kamu tidak sekolah padahal kamu sudah besar?" yah, meskipun saya sudah menjelaskan bahwa ia homeschooling dan sudah bisa menjawab kawannya dengan jawaban yang sama, tapi ada waktu ia juga bertanya pada saya bahwa mengapa ia tidak bersekolah seperti kawan-kawannya.

Apa yang kemudian saya katakan? Saya berlutut di hadapannya dan berkata bahwa, "loh, kita kan sekolah di rumah, nak. Kita belajar dimana saja, di luar rumah, di dalam rumah, kita belajar sesuai yang Qifaya sukai. Mami bisa kok temani kakak belajar, kenapa harus ke sekolah dan diajar sama orang lain? Kamu lihat kan teman-teman kamu yang sekolah, mainnya pasti malam hari, tidak bisa main lagi di luar sama temannya pas sore. Mami tidak suka loh kalau kakak main di luar rumah malam-malam.."

And Finally she is understand  dan menerima bahwa ia bisa belajar dari rumah atau darimana saja, termasuk ketika main di kebun binatang, ikut ke masjid, ke mall, ke kantor abati, di tempat senam, dan dimana saja. Dia gak mau ke sekolah lagi, karena memang Qifaya adalah anak spesial yang tidak begitu betah duduk di depan buku, paling lama 20 menit setelah itu dia akan protes minta berhenti.

Apa Saja Kegiatan Qifaya Selama Homeschooling?

Saat ini Qifaya baru berusia 5 tahun, yang mana saya lebih dekat dengan metode unschooling. Iya, artinya memang tidak sekolah. Ia bebas melakukan apa saja yang ingin ia ketahui, misalnya Qifaya ingin mewarnai, ya ayo. Mau menggambar, ayo. Pokoknya apa saja yang ingin dia lakukan saat itu, maka saya akan menemaninya.

Saya masih belum ada kurikulum khusus selama ini, mengingat usianya yang masih dini, jadi saya masih mengajaknya untuk bermain permainan edukatif yang beberapa saya jual di Mainan QIfaya

Selain itu, pada usia dini juga saya fokus menanamkan tauhid ke hati anak saya, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah karena Allah dan kita pun perlu melakukan kebaikan demi Allah. 


Hal lain yang saya terapkan yaitu mengajaknya untuk menguasai keterampilan dasar, misalnya mandi sendiri, merapikan mainan sendiri, menjaga kebersihan dan tugas utama dia saat pagi dan petang adalah membuka dan menutup gorden rumah.

Untuk membaca alfabet dan huruf hijaiyah, jujur saja saya tidak terburu-buru karena memang otak anak baru siap membaca saat mereka berusia 7 tahun. Jika dipaksa, efek buruknya akan terasa saat mereka berada di usia remaja. Para psikolog juga mengatakan bahwa anak yang dipaksa menguasasi calistung, akan mengalami trauma dan merasa terbebani karena pengalaman belajarnya benar-benar menyulitkan.

Untuk mendokumentasikan kegiatan homeschoolingnya, saya memilih media youtube sekalian bisa saya bagikan link videonya kepada kerabat yang terus bertanya pada saya mengenai pendidikan anak saya.

Terakhir dari saya, mengapa saya memilih homeschooling untuk anak saya? Jawabnya, Saya hanya ingin anak-anak saya belajar dengan suka cita.

2 komentar:

  1. ya setiap keluarga punya kebijaksanaan sendiri ya, dan orang luar tak perlu nyinyir

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap benar sekali mba... tidak perlu menyamakan keluarga satu dgn lainnya

      Hapus