Senin, 18 Februari 2019

Menemukan Potensi Diri Sendiri Sebagai Seorang Ibu dan Istri

Gambar: lynda.com
Sebelumnya saya telah membahas tentang menggali potensi anak, nah sekarang saatnya menggali potensi diri sendiri, khususnya potensi sebagai seorang ibu dan istri. Seperti yang sebelumnya saya jelaskan bahwa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. Potensi bagi saya adalah sesuatu yang membuat kita bahagia mengerjakannya dan merasa sedih ketika tidak melakukannya. 

Jujur saja, sejak jaman kecil impian saya adalah menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anak saya dengan baik. Terdengar lucu karena seorang anak perempuan memiliki impian seperti itu, dimana anak-anak lain menginginkan menjadi dokter. Tapi saya tidak pernah mengakuinya waktu itu, karena saya sering didoktrin oleh orang tua agar menjadi pegawai.

Saya bahagia mengurus anak-anak saya dan saya bersedih ketika sedang berada di titik terendah diri saya dan kemudian melampiaskan kesedihan pada anak-anak. Saya bahagia mempelajari berbagai ilmu tentang pendidikan anak dan saya suka mempraktekkan serta menuai hasil yang memuaskan karenanya. Seperti waktu sebelum hamil anak kedua, saya mempelajari bagaimana agar kakak sayang pada adiknya, lalu saya mempraktekkannya dan kemudian sekarang alhamdulillah anak pertama saya begitu sayang dan peduli pada adiknya. Ada ataupun tidak ada orang lain bersama mereka. Tidur ataupun sedang terjaga, kakak selalu berusaha melindungi sang adik.

Selain itu, saya juga bahagia ketika saya memasak, khususnya untuk anak-anak saya. Jujur saja, kebahagiaan memasak ini saya temukan baru-baru ini. Sebelumnya saya sangat jarang memasak dan sering memesan makanan dari luar. Alasannya sederhana, karena saya terlalu sibuk dengan diri saya sendiri, saya memenuhi permintaan orang tua untuk melanjutkan kuliah dan tetap berpenghasilan, jadi saya bekerja mendalami dunia dropship sampai waktu itu penghasilan saya bisa 20-30jt per bulan. Belum lagi tugas-tugas mahasiwa magister yang aduhai. Disitulah saat anak pertama saya kecanduan berat gadget dan tv. Saya membuat orang tua saya bangga tapi sekaligus mengorbankan anak saya.

Sejak pindah ke Surabaya, saya jadi sangat bahagia memasak di rumah. Saya bisa meninggalkan semua pekerjaan lain, tapi tidak dengan memasak. Saya bisa merasa berdosa ketika tidak sempat memasak dan harus memesan makanan di luar. Saya bahagai melihat anak-anak saya lahap memakan hasil jerih payah saya di dapur. Saya bahkan rela tidak tidur semalaman mencari resep dan bangun keesokan paginya untuk memulai menggoyang dapur.

Saya sadar bahwa orang lain di lingkungan saya, termasuk dalam lingkup keluarga sendiri, banyak yang menganggap rendah pilihanku menjadi ibu rumah tangga. Mereka seolah beranggapan bahwa percuma saya bersekolah tinggi karena ujung-ujungnya saya hanya berada di rumah. Ketika saya bertanya balik, "bagaimana dengan anak-anak saya jika saya bekerja di luar rumah?" jawaban mereka benar-benar membuat saya geram, katanya saya bisa memanggil orang untuk menjaga anak-anak saya. like seriously

Saya bahkan tidak tenang ketika suami yang menjadi anak-anak, yang notabene adalah ayah kandung mereka dan satu-satunya manusia yang terkoneksi dengan pola pengasuhan saya. Lalu bagaimana bisa saya percaya dengan orang lain yang tiba-tiba datang mengurus anak saya? No way!

Saya sadar banyak yang berharap lebih padaku, berharap saya bekerja di ranah publik karena kemampuan saya bisa dibilang lumayan baik. Saya bahkan pernah mendapat tawaran bekerja sebagai dosen, but no thanks. Saya memilih mengajar anak-anak saya sekarang, tidak tahu nanti kalau mereka sudah besar dan hidup mandiri. Mungkin saya akan terjun ke ranah publik?

Setelah itu saya merenung lama, sejak anak pertama saya usia 2 tahun. Waktu itu saya benar-benar galau karena orang tua saya memaksa agar saya bekerja di luar rumah, sementara suami saya tidak pernah ridho jika saya bekerja di luar rumah, serta saya pun tidak tega meninggalkan anak. Hampir setiap hari sejak saat itu saya merenung setiap malam, saya memandangi anak saya dan bertanya dalam hati, "apa jadinya kamu nak, jika saya menuruti keinginan orang tuaku?" saya tidak sampai hati tiba-tiba pulang ke rumah dan melihatmu sudah besar, melihatmu jauh dariku. Saya tidak mau.

Mereka mengatakan bahwa kemampuan saya selama ini sia-sia, termasuk ilmu yang telah saya timba selama ini. Tapi saya tidak pernah merasa semuanya sia-sia, saya merasa bahwa Allah menunjukkan jalan yang dulu itu agar saya bisa sampai ke titik ini, agar saya bisa membesarkan anak-anak hebat. Allah telah mempersiapkanku sedemikian rupa agar bisa menjadi sekolah pertama yang berkualitas bagi anak-anakku, dan saya bangga mengatakan ini.

Sejak awal pernikahan, kami sudah memutuskan untuk merantau. Jujur saja, ketika saya pulang ke kampung halaman bersama anak-anak, pasti selalu saja ada konflik internal antar keluarga perihal metode pengasuhanku pada mereka. Selalu ada bentrok dan saya termasuk tipe orang yang tegas dalam mendidik anak. Jika saya bilang tidak, maka tidak akan terjadi. Karena itu anak pertama saya sudah tahu betul, sekarang jika saya bilang tidak maka dia tidak akan meminta lagi. Dia tahu bahwa meski merengek dan menangis, dia tidak akan pernah mendapatkannya.

Sekarang saya sadar, mengapa Allah membawa kami begitu jauh dari keluarga besar. Allah mau kami mendidik anak-anak kami dengan baik. Jujur saja, di keluarga besar kami itu masih selalu menyalahkan lantai ketika anak jatuh. Sementara kami, tidak pernah menyalahkan apapun dan siapapun atas ketidakhati-hatian si anak. Suami saya juga tidak mau anak-anak bernyanyi, karena itu kami tidak pernah mengajarinya menyanyi. Kami juga tidak pernah berkata negatif pada anak, misalnya mengatakannya bodoh, jelek, nakal dll. Kami lebih memilih diam ketika sedang emosi pada anak, daripada harus mendoakannya seperti itu. Sementara di keluarga besar kami, ketika anak berlarian maka akan disebut nakal. Ketika anak tidak tahu sesuatu maka akan disebut bodoh. Tidak adil, sangat tidak adil memberikan penilaian seperti itu pada manusia yang baru mengenal dunia lebih singkat daripada waktu menyicil kendaraan.

Suami saya sejak anak pertama kecil ingin agar anak pertama kami berjilbab, sementara dulu setiap kami pulang kampung, anak kami sering disindir jelek karena memakai jilbab. Tapi alhamdulillah anak pertama sudah mengerti kenapa harus memakai jilbab. Intinya, banyak bentrok dalam pendidikan anak versi saya dan keluarga besar.

Sekarang saya mengerti mengapa Allah menjauhkan kami dari keluarga besar. Allah ingin agar kami memutus kezaliman yang dilakukan generasi sebelumnya. Allah ingin agar generasi di bawah kami menjadi generasi yang sebaik-baiknya. Karena itu Allah memberiku impian menjadi ibu rumah tangga, karena itu juga Allah membuatku senang mempelajari dan mempraktekkan ilmu parenting. Serta membuatku bahagia memasak karena dari dapurlah seorang anak manusia bisa tumbuh sehat dan gagah.


0 komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Pendapatmu?