Senin, 04 Februari 2019

Jika Boleh, Saya Ingin Sekali Menimba Ilmu Lebih Jauh Lagi Tentang Ini

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah saya buat sejak beberapa hari yang lalu, tapi saya benar-benar stuck saat akan menulis, sebenarnya ilmu apa yang ingin saya pelajari di universitas kehidupan ini. Awalnya saya ingin menekuni tentang ilmu parenting, secara saya memiliki dua orang anak dan saya ingin menerapkan ilmu parenting yang baik untuk mereka. Lalu saya juga ingin menekuni ilmu homeschooling karena anak-anak saya ke depannya InsyaAllah akan saya homeschooling-kan.

Bukan hanya itu, sebenarnya saya juga ingin menekuni dunia memasak khusus untuk anak-anak karena jujur saja ketika melihat anak-anak, saya bawaannya pengen bikinkan makanan untuk mereka. Tambah satu lagi, saya juga ingin menekuni dunia digital marketing karena sehari-hari itu lah pekerjaan sampingan saya, selain menjadi ibu rumah tangga tentunya.

Namun, diantara banyaknya pilihan di atas, saya merasa tidak cukup. Saya banyak merenung tentang tugas NHW#1 dari Institut Ibu Profesional ini. Jujur, saya merenung hingga kepala saya terasa sakit. Saya berpikir karena saya memang seperti itu, saya tidak mudah memutuskan sesuatu begitu saja. Saya harus memikirkan banyak hal yang berkaitan dengan ini.

Saya suka ilmu parenting, saya suka mendalami ilmu homeschooling, memasak, pun digital marketing. Semua itu ada dalam darah saya, masuk ke dalam jiwa saya karena itulah yang benar-benar membuat mata saya berbinar saat menjalaninya. Keempat hal itu yang membuat saya ikhlas tak tidur hingga larut dan berani terbangun di waktu subuh tanpa protes atau mengeluh karena mereka telah mencuri waktu tidurku yang berharga.

Tapi diperjalanan saya merenung, saya tersadar satu hal. Ini adalah pertanyaan tentang apa yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan, berarti ini adalah tentang apa yang akan saya jalani hingga akhir hidup saya. Ini adalah tentang bagaimana saya bisa menjadikannya pendukung dalam setiap hal yang saya lakukan.

Maka saya putuskan, bahwa saya ingin mendalami tentang ilmu kesabaran. Bahwa sabar itu benar-benar sesuatu yang sangat saya butuhkan. Karena sabar itu adalah sesuatu yang sangat sedikit saya miliki dan memang harus saya tekuni agar kesabaran itu bisa melekat di diri saya hingga akhir hidup.

Jujur saja, saat menulis ini saya sangat sedih. Saya sedih karena ternyata saya benar-benar fakir kesabaran. Saya mungkin bisa mempelajari ilmu lain dengan sangat mudah, karena saya adalah tipe manusia pembelajar, saya diciptakan Allah dengan kelebihan pandai menyerap sesuatu dengan begitu mudah. Saya bahkan bisa menguasai sesuatu hanya dengan otodidak. Tapi tidak dengan kesabaran.

Saya bahkan tidak tau ilmu apalagi yang paling ingin saya tekuni selain ilmu kesabaran itu sendiri. Alasan kuat saya sangat simpel tapi baru saya sadari, bagimana mungkin anak-anak saya bisa tumbuh dengan baik tanpa kesabaran dalam diri saya? Saya ingat pernah marah begitu murkanya ketika anak sulung saya menjatuhkan air ke lantai, dan itu sungguh menyayat hatiku setelahnya. Saya sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan tentang hal ini. Saya sadar bahwa saya tak mungkin seperti ini selamanya. Saya menolak.

Berhubung ini adalah ilmu kesabaran, ilmu yang tak bisa diajarkan begitu saja, ilmu yang tidak bisa dibaca lalu dipraktekkan begitu saja. Jujur saja, sampai saat ini saya belum tahu bagaimana saya akan mempelajarinya selain berusaha mengingat akibat dari ketidaksabaranku dan membayangkan apa yang akan terjadi nanti dengan kesabaran itu. Kita tak pernah tahu, kan ulat akan menjadi secantik kupu-kupu karena kesabarannya.

Adapun berkaitan dengan adab menuntut ilmu, sekali lagi karena ini adalah tentang kesabaran, saya harus fokus untuk belajar menerima kesalahan, saya harus fokus menjernihkan pikiran dan harus lebih terbuka menerima saran dari orang lain.

Sekian.


0 komentar:

Posting Komentar