Rabu, 27 Februari 2019

Learning Design - Membuat Design Belajar Untuk Diri Sendiri

Baru saja saya selesai (telat) mengumpulkan tugas NHW 4, berhubung anak-anak lagi adem sama suami, saya sekalian mau mencoba mengerjakan NHW 5 ini. Oh iya, awalnya saya bingung nih bagaimana mengerjakan NHW 5 ini. Tapi terima kasih google, saya menemukan tugas NHW mbak Amaliah Rahmah dan saya mencoba untuk membuat hal yang mirip, tinggal menyesuaikan dengan misi saya sebelumnya.

Design Pembelajaran V1
Learning design ini diberikan nama v1 karena akan berubah sesuai kebutuhan di masa mendatang. Diawali dengan peran saya di dunia ini yaitu sebagai hamba (Allah), sebagai anak, ibu dan istri (keluarga) dan sebagai salah satu anggota masyarakat. Dalam gambar di atas saya memberikan anak panah timbal balik, berarti apapun yang saya lakukan, maka akan mendapatkan timbal balik.

Adapun pondasi yang harus saya bangun dalam proses belajar, harus berdasarkan Alqur'an dan sunnah, fitrah dan ilmiah. Saya tidak mau proses belajar saya terganggu oleh hal diluar pondasi tersebut, misalnya berdasarkan katanya orang tanpa dasar ilmiah yang jelas. Sehingga saya bisa mendapatkan hasil yang sesuai harapan saya.

Sementara itu, topik pembelajaran yang ingin saya ambil, sesuai dengan misi saya di tugas nhw 4 sebelumnya, saya fokus di nutrisi anak, pendidikan anak usia dini dan sekolah. Metode yang saya gunakan bisa melalui media baca, menonton video, mengikuti seminar lalu terakhir harus praktek sendiri. Alat pembelajaran saya menggunakan buku bacaan, internet, webinar dan seminar.

Nah, saya rasa sekian dulu postingan tentang design pembelajaran saya.



Mendidik Anak Dengan Kekuatan Fitrah

Tidak terasa sudah memasuki Nice Homework 4 di perkuliahan Intstitut Ibu Profesional Batch 7 ini. Rasanya makin lama saya makin tertatih-tatih mengerjakan tugasnya. Selain karena tingkat kesulitannya yang makin lama makin tinggi, kondisi keseharian plus tubuh juga membuat saya harus mencuri-curi waktu untuk mengerjakan tugas ini.

Baiklah, tak usah panjang lebar, pada NHW 1 saya pernah menulis bahwa saya ingin mendalami jurusan ilmu kehidupan di departemen kesabaran. Yah, i know it was weird. Sepertinya semua orang butuh itu. Setelah merenung beberapa waktu, saya merasa ilmu kehidupan disini adalah branding diri ya? Seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang di kelas, yang saya lupa siapa, memberikan gambaran tentang Tintin Rayner, yang sukses dengan masak-masaknya. Okay, I got it.

Jika memang ini tentang branding diri, sepertinya saya benar-benar ingin membranding diri saya dengan "seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya dengan baik dan benar". Mulai dari makanan yang mereka makan, keputusan yang saya ambil selama proses membesarkan mereka, pendidikan mereka, sampai hal detail lain selama itu berhubungan dengan proses membesarkan anak-anak saya.

Lalu, apa kabar dengan NHW 2 tentang checklist harian? Well, jujur diantara semua yang pernah saya tulis, checklist terberat yang belum bisa saya laksanakan sampai detik ini adalah membaca buku. Saya belum menemukan celah waktu dimana saya bisa pergunakan untuk membaca buku, karena saya adalah seorang ibu rumah tangga tanpa ART dan nanny serta belakangan ini kondisi kesehatan saya dan anak-anak tidak begitu baik. Selain itu, sholat tepat waktu pun masih lumayan sulit saya laksanakan di beberapa waktu misalnya dhuhur dan ashar.

Misi hidup: memberikan inspirasi ke ibu lain bahwa membesarkan anak itu menyenangkan, termasuk menyediakan gizi yang cukup untuk mereka juga menyenangkan dan tak perlu mahal.
Bidang: Nutrisi dan Pendidikan Anak
Peran: Inspirator.

Adapun ilmu-ilmu yang saya perlukan untuk menjalankan hidup seperti yang saya sebutkan di atas adalah, sebagai berikut:

  1. Ilmu Ibu Profesional : Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, Bunda Shaleha.
  2. Ilmu Nutrisi Anak : Gizi apa saja yang diperlukan untuk anak.
  3. Ilmu Homeschooling : Usia dini dan usia sekolah.
Milestone yang saya tetapkan untuk memandu perjalanan misi hidup saya dimulai dari KM 0 di tahun 2019, yaitu di usia saya yang ke 29 tahun.
KM 0 - 1 (2019) : Mempelajari seputar nutrisi anak dan pendidikan anak usia dini, mempraktikkannya dengan memberikan nutrisi bagi anak-anak saya dan pendidikan usia dini bagi mereka.
KM 1 - 2 (2020) : Menjaga terus nutrisi bagi anak-anak saya dan terus meneruskan pendidikan anak usia dini bagi anak-anak saya.
KM 2 - 3 (2021) : Menjaga terus nutrisi bagi anak-anak saya dan mempelajari pendidikan anak usia sekolah. Memulai mendaftarkan anak pertama saya di PKBM untuk memasuki homeschooling usia sekolah. Terus menjadi praktisi homeschooling.
KM 3 - 4 (2022) : Tetap menjaga nutrisi anak-anak saya, membuatnya bahagia belajar dan terus menjalankan peran sebagai ibu dan sahabat bagi anak-anak saya.

Untuk koreksi checklist NHW 2, saya harus menambahkan membaca buku tentang nutrisi dan pendidikan anak.

Sekian postingan kali ini yang sebenarnya sudah sangat terlambat untuk dikumpulkan. 


Senin, 18 Februari 2019

Menemukan Potensi Diri Sendiri Sebagai Seorang Ibu dan Istri

Gambar: lynda.com
Sebelumnya saya telah membahas tentang menggali potensi anak, nah sekarang saatnya menggali potensi diri sendiri, khususnya potensi sebagai seorang ibu dan istri. Seperti yang sebelumnya saya jelaskan bahwa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. Potensi bagi saya adalah sesuatu yang membuat kita bahagia mengerjakannya dan merasa sedih ketika tidak melakukannya. 

Jujur saja, sejak jaman kecil impian saya adalah menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anak saya dengan baik. Terdengar lucu karena seorang anak perempuan memiliki impian seperti itu, dimana anak-anak lain menginginkan menjadi dokter. Tapi saya tidak pernah mengakuinya waktu itu, karena saya sering didoktrin oleh orang tua agar menjadi pegawai.

Saya bahagia mengurus anak-anak saya dan saya bersedih ketika sedang berada di titik terendah diri saya dan kemudian melampiaskan kesedihan pada anak-anak. Saya bahagia mempelajari berbagai ilmu tentang pendidikan anak dan saya suka mempraktekkan serta menuai hasil yang memuaskan karenanya. Seperti waktu sebelum hamil anak kedua, saya mempelajari bagaimana agar kakak sayang pada adiknya, lalu saya mempraktekkannya dan kemudian sekarang alhamdulillah anak pertama saya begitu sayang dan peduli pada adiknya. Ada ataupun tidak ada orang lain bersama mereka. Tidur ataupun sedang terjaga, kakak selalu berusaha melindungi sang adik.

Selain itu, saya juga bahagia ketika saya memasak, khususnya untuk anak-anak saya. Jujur saja, kebahagiaan memasak ini saya temukan baru-baru ini. Sebelumnya saya sangat jarang memasak dan sering memesan makanan dari luar. Alasannya sederhana, karena saya terlalu sibuk dengan diri saya sendiri, saya memenuhi permintaan orang tua untuk melanjutkan kuliah dan tetap berpenghasilan, jadi saya bekerja mendalami dunia dropship sampai waktu itu penghasilan saya bisa 20-30jt per bulan. Belum lagi tugas-tugas mahasiwa magister yang aduhai. Disitulah saat anak pertama saya kecanduan berat gadget dan tv. Saya membuat orang tua saya bangga tapi sekaligus mengorbankan anak saya.

Sejak pindah ke Surabaya, saya jadi sangat bahagia memasak di rumah. Saya bisa meninggalkan semua pekerjaan lain, tapi tidak dengan memasak. Saya bisa merasa berdosa ketika tidak sempat memasak dan harus memesan makanan di luar. Saya bahagai melihat anak-anak saya lahap memakan hasil jerih payah saya di dapur. Saya bahkan rela tidak tidur semalaman mencari resep dan bangun keesokan paginya untuk memulai menggoyang dapur.

Saya sadar bahwa orang lain di lingkungan saya, termasuk dalam lingkup keluarga sendiri, banyak yang menganggap rendah pilihanku menjadi ibu rumah tangga. Mereka seolah beranggapan bahwa percuma saya bersekolah tinggi karena ujung-ujungnya saya hanya berada di rumah. Ketika saya bertanya balik, "bagaimana dengan anak-anak saya jika saya bekerja di luar rumah?" jawaban mereka benar-benar membuat saya geram, katanya saya bisa memanggil orang untuk menjaga anak-anak saya. like seriously

Saya bahkan tidak tenang ketika suami yang menjadi anak-anak, yang notabene adalah ayah kandung mereka dan satu-satunya manusia yang terkoneksi dengan pola pengasuhan saya. Lalu bagaimana bisa saya percaya dengan orang lain yang tiba-tiba datang mengurus anak saya? No way!

Saya sadar banyak yang berharap lebih padaku, berharap saya bekerja di ranah publik karena kemampuan saya bisa dibilang lumayan baik. Saya bahkan pernah mendapat tawaran bekerja sebagai dosen, but no thanks. Saya memilih mengajar anak-anak saya sekarang, tidak tahu nanti kalau mereka sudah besar dan hidup mandiri. Mungkin saya akan terjun ke ranah publik?

Setelah itu saya merenung lama, sejak anak pertama saya usia 2 tahun. Waktu itu saya benar-benar galau karena orang tua saya memaksa agar saya bekerja di luar rumah, sementara suami saya tidak pernah ridho jika saya bekerja di luar rumah, serta saya pun tidak tega meninggalkan anak. Hampir setiap hari sejak saat itu saya merenung setiap malam, saya memandangi anak saya dan bertanya dalam hati, "apa jadinya kamu nak, jika saya menuruti keinginan orang tuaku?" saya tidak sampai hati tiba-tiba pulang ke rumah dan melihatmu sudah besar, melihatmu jauh dariku. Saya tidak mau.

Mereka mengatakan bahwa kemampuan saya selama ini sia-sia, termasuk ilmu yang telah saya timba selama ini. Tapi saya tidak pernah merasa semuanya sia-sia, saya merasa bahwa Allah menunjukkan jalan yang dulu itu agar saya bisa sampai ke titik ini, agar saya bisa membesarkan anak-anak hebat. Allah telah mempersiapkanku sedemikian rupa agar bisa menjadi sekolah pertama yang berkualitas bagi anak-anakku, dan saya bangga mengatakan ini.

Sejak awal pernikahan, kami sudah memutuskan untuk merantau. Jujur saja, ketika saya pulang ke kampung halaman bersama anak-anak, pasti selalu saja ada konflik internal antar keluarga perihal metode pengasuhanku pada mereka. Selalu ada bentrok dan saya termasuk tipe orang yang tegas dalam mendidik anak. Jika saya bilang tidak, maka tidak akan terjadi. Karena itu anak pertama saya sudah tahu betul, sekarang jika saya bilang tidak maka dia tidak akan meminta lagi. Dia tahu bahwa meski merengek dan menangis, dia tidak akan pernah mendapatkannya.

Sekarang saya sadar, mengapa Allah membawa kami begitu jauh dari keluarga besar. Allah mau kami mendidik anak-anak kami dengan baik. Jujur saja, di keluarga besar kami itu masih selalu menyalahkan lantai ketika anak jatuh. Sementara kami, tidak pernah menyalahkan apapun dan siapapun atas ketidakhati-hatian si anak. Suami saya juga tidak mau anak-anak bernyanyi, karena itu kami tidak pernah mengajarinya menyanyi. Kami juga tidak pernah berkata negatif pada anak, misalnya mengatakannya bodoh, jelek, nakal dll. Kami lebih memilih diam ketika sedang emosi pada anak, daripada harus mendoakannya seperti itu. Sementara di keluarga besar kami, ketika anak berlarian maka akan disebut nakal. Ketika anak tidak tahu sesuatu maka akan disebut bodoh. Tidak adil, sangat tidak adil memberikan penilaian seperti itu pada manusia yang baru mengenal dunia lebih singkat daripada waktu menyicil kendaraan.

Suami saya sejak anak pertama kecil ingin agar anak pertama kami berjilbab, sementara dulu setiap kami pulang kampung, anak kami sering disindir jelek karena memakai jilbab. Tapi alhamdulillah anak pertama sudah mengerti kenapa harus memakai jilbab. Intinya, banyak bentrok dalam pendidikan anak versi saya dan keluarga besar.

Sekarang saya mengerti mengapa Allah menjauhkan kami dari keluarga besar. Allah ingin agar kami memutus kezaliman yang dilakukan generasi sebelumnya. Allah ingin agar generasi di bawah kami menjadi generasi yang sebaik-baiknya. Karena itu Allah memberiku impian menjadi ibu rumah tangga, karena itu juga Allah membuatku senang mempelajari dan mempraktekkan ilmu parenting. Serta membuatku bahagia memasak karena dari dapurlah seorang anak manusia bisa tumbuh sehat dan gagah.


Menggali Potensi Anak Sejak Usia Dini

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. Berarti ketika kita berbicara tentang potensi anak, kita sedang diharuskan memperhatikan kekuatan apa yang ada dalam diri anak kita yang bisa kita bantu untuk dikembangkan.

Saya memiliki dua orang anak, yang pertama akan berusia 5 tahun di akhir Maret 2019 dan yang kedua akan berusia 1 tahun di awal Maret 2019. Khusus anak kedua, karena usianya yang masih sangat muda dan waktu yang saya habiskan bersamanya juga baru hampir setahun, jadi tentu saja saya masih belum bisa menangkap potensi apa yang ada dalam dirinya, selain saat ini doi senang menggigit apa saja karena giginya baru akan tumbuh.

Anak pertama saya, Qifaya, saya perhatikan sejak usia 2 tahun anak ini sangat suka dengan permainan fisik. Saat diajak main ke mall, doi tidak pernah takut naik ke perosotan tinggi, manjat dan melompat. Waktu itu, kami membelikannya hadiah play house dan tidak disangka Qifaya bisa naik di atas atapnya dan melompat langsung ke bawah. Saat itu usianya baru 2 tahun! Selain itu, Qifaya juga suka sekali memanjat di tempat lain, dan dia sama sekali tidak takut ketika kami menaikkannya di tempat yang tinggi.



Ketika pindah ke Surabaya, Qadarullah kami dipertemukan oleh club senam khusus anak-anak. Kami memasukkan Qifaya ke club tersebut dan luar biasa baru sebulan kemajuannya sungguh tidak terduga.

Sebelum ikut senam, sudah bisa hand stand tapi dibantu. Bertahan 3 detik
Qifaya Masya Allah memiliki fisik yang kuat. Selain itu dia juga memiliki tenaga yang banyak :D Buktinya meski telah senam selama 1 setengah jam, di rumah lanjut lagi dan dia sangat bahagia melakukan itu semua. Pernah saya merasa sangat lelah dan memintanya untuk tidak ikut senam satu hari saja, eh dia malah nangis sambil melipat baju di ruang tengah yang sudah beberapa hari belum sempat saya lipat. Katanya biar mami tidak capek dan bisa temani dia pergi senam. wkwkwk anak ini benar-benar pandai mengambil hati orang lain. Masya Allah...



Melihat potensi anak itu bisa sekali dicermati dari gerak geriknya, hal yang membuatnya berbinar ketika melakukannya, dan membuatnya bersedih jika kita menghalanginya. Sampai detik ini, saya merasa bahwa Qifaya sangat suka berolahraga, dia bahagia melakukannya dan saya bangga karena dia telah menemukan hal yang disukainya sejak kecil.

Selain senam, Qifaya juga suka sekali membuat video. Lucu banget karena saya sering mendapati video buatannya di dalam ponsel atau kamera saya. Dia suka sekali berbicara di depan kamera. Baginya, dia sedang berbicara dengan teman-temannya yang banyak. Apa karena Qifaya sering menghabiskan screen timenya menonton Youtube channel Ryan's Toys? yang jelas, ini sudah dilakukannya cukup lama. Karena itu, saya sengaja membuatkan youtube channel nya sendiri dan memberitahu bahwa saya akan memasukkan videonya di dalam sana untuk ditonton oleh orang lain. And she said okay, dia senang, sampai selalu meminta saya untuk selalu merekamnya kemudian dimasukkan ke youtube wkwkwk calon youtuber berpenghasilan 1 milyar dolar per bulan nih anakku. Aamiin....

Sejauh ini menurutku hanya dua hal itu yang membuat Qifaya bahagia melakukannya. Matanya benar-benar berbinar ketika melakukan hal tersebut. Apapun pilihannya di masa depan, saya akan terus mendukungnya, selama pilihannya itu tidak melanggar syariat Allah. 

Sekian postingan kali ini, semoga menginspirasi.



Minggu, 17 Februari 2019

Jatuh Cinta Sekali Lagi

Postingan ini dibuat untuk memenuhi tugas NHW 3 Institut Ibu Profesional Batch 7 Regional Surabaya Raya

Malang, 2016
Saat pertama kali membuka google class dan membaca tugas yang ketiga ini, saya agak lumayan senang membacanya, yup pertama saya diminta untuk membuat surat cinta ke suami. Awalnya agak malu-malu saya ngasih ke doi, padahal saya cukup sering membuat surat cinta sembunyi-sembunyi :D

Waktu itu saya kasih tau ke suami, bahwa tugas ke tiga IIP kali ini adalah disuruh buat surat cinta. Aku sambil bercanda bilang ke suami, "abati, mami diminta bikin surat cinta ke suami. Tapi gimana ya, susah soalnya saya sedang tidak jatuh cinta." dan disusul dengan cekikikan. Suami langsung peluk dan bilang, "oh gitu kah? kalau begitu nanti biar abati deh yang tulis surat cinta buat mami..." dan hingga detik ini bahkan surat cintaku pun belum dibalas wkwkwk... wacana banget.

Sebenarnya saya ingin langsung kasih suratnya, mau lihat langsung reaksi dia setelah baca. Tapi apa daya, belum juga suratnya ditulis, doi berangkat tiba-tiba ke luar kota. Jadi, suratnya saya kirim melalui aplikasi whatsapp deh... 

Setelah mengirim surat, tanda centang dua pun muncul, yang berarti pesan sudah dibaca. Doi balasnya lama banget sampai bikin deg degan wkwkwk. Finally, akhirnya dibalas juga setelah 40 menit menanti, "maaf sayang, banyak kekuranganku." dan setelah itu, tak ada lagi kata-kata selain informasi keberadaannya, like always.

Sampai keesokan harinya, doi menelpon dan saya yang sudah gemesh banget sama responnya kemarin langsung tanya, "mana balasan suratku? katanya dulu mau bikin surat cinta juga, mana????" eh doi ketawa trus bilang, "tunggu sayang, untuk balas surat cintamu harus menunggu ilham dulu." wkwkwk apaan sih ilham!

Semenjak kirim surat itu, disetiap suami mengirim pesan, baik chat atau telpon atau bahkan pesan suara, pasti dibelakangnya ada ucapan i love you, wkwkwkw apaan. Meski selama ini memang sering bilang i love you tapi sekarang malah jadi lebih sering. Sampai tulisan ini dipublikasikan, saya belum pernah bertemu sama suami, karena lagi di luar kota suaminya.

Nah, penasaran kaaan suratnya kayak gimana? wkwkw pede banget, emang ada ya yang penasaran? Baiklah, berikut surat cinta yang saya kirimkan ke suami tercintah. Silahkan klik disini untuk mengunduh, soalnya kalau diposting disini agak kepanjangan.

Perasaan saya sendiri setelah menulis surat cinta ini, saya merasakan gairah yang dulu bangkit lagi. Tapi tolong jangan anggap saya mesum wkwkw ini bukan tentang mesum-mesuman, maksud saya gairah dimana saya rindu lagi sama suami saya, bukan rindu karena ingin gantian jaga anak ya, bukan. Tapi rindu karena ingin dipeluk ingin disayang-sayang, yah seperti itu lah.... intinya seperti merasakan cinta yang dulu lagi.

Sekian dulu postingan kali ini, kapan-kapan kalau ada waktu, bolehlah tulis surat cinta lagi ke suami. :D


Selasa, 12 Februari 2019

Inilah Indikator Profesionalisme Versi Saya

Postingan ini dibuat karena adanya tugas kedua dari kelas martikulasi Institut Ibu Profesional. Sayangnya, postingan ini sudah terlambat satu hari dari batas terakhir dikumpulkan. Saya tentu punya alasan saya sendiri. Jujur saja, saya sudah menanyakan indikator apa sih yang suami saya inginkan dari saya agar membuatnya bahagia, sejak sepekan yang lalu, tepatnya 5 Februari 2019. Sementara anak saya yang pertama, saya butuh waktu merampungkan jawaban dia hingga Sabtu, 9 Februari 2019 karena jawabannya yang masih sangat kekanakan. Maybe, karena doi sama sekali belum mengerti betul ya.. or maybe karena doi sudah menerima saya apa adanya, termasuk bonus suka mengomelnya hehe...

Jujur saja, sebenarnya tugas ini sudah ingin saya kumpulkan sedari Ahad, 10 Februari 2019. Tapi. lagi-lagi karena alasan kepala yang selalu sakit ketika melihat layar handphone, membuat saya agak berat membuka laptop untuk menulis tugas ini di blog saya. Sempat sih saya curhat di group Whatsapp, ada yang bilang saya boleh mengirimkan voice note untuk mengumpulkan tugas kali ini. Tapi setelah saya pikir lagi, rasanya sayang sekali jika harus melewatkan tugas ini dan tidak mempublikasikannya di blog pribadi saya :D

Setelah rebahan sedikit dan meminum obat sakit kepala, akhirnya sakitnya kepala melihat layar pun lenyap. Meski saya mengetik sambil mengernyitkan alis, berusaha melihat dengan baik karena enggan memakai kaca mata yang firasatku menjadi penyebab sakitnya kepalaku. But that's okay, I think I can make it.

Well, saya sudah membuatnya dalam bentuk file JPEG di Canva. Berikut indikator profesionalisme sebagai individu, istri dan seorang ibu versi saya, sesuai dengan request dari suami dan anak-anak saya, serta sesuai dengan hati dan pikiran saya.

Sebagai individu

Sebagai istri
Sebagai ibu
Pertanyaannya adalah mengapa indikator sebagai seorang istri kok cuma satu? Ya, karena permintaan dari sang suami juga cuma itu. Padahal ya, pas saya minta doi tulis mau apa saja dari saya, doi bilang "saya tulis ya di kertas, tapi jangan dibaca dulu. Nanti saja pas saya tidak di rumah." And did you know? kertasnya sampai doi sembunyikan dan baru dikasih tahu letaknya dimana pas doi berangkat kerja. Itupun dikasih tahu letaknya dimana melalui chat whatsapp.

Awalnya saya pikir suami maunya saya rajin masak, mengurangi jajan, menurunkan berat badan kek, atau rajin membersihkan wkwkwk secara ya, selama ini suami juga turut membantu kerjaan domestik saya. Misalnya sebelum berangkat kerja, suami mencuci dulu, menjemur. Kadang juga menyapu sekalian mengepel. Kadang juga sampai masak nasi dulu. Btw, nulis ini kok ya saya merasa berdosa? :D

Tapi memang suami saya sedari awal menikah selalu turun tangan membantu pekerjaan rumah, termasuk mengurus anak tentunya. Jadi, tolong jangan salahkan saya. Tidak mungkin saya melarang suami saya mengerjakan semua itu karena saya juga, jujur, butuh bantuan suami :D

Nah, ketika bertanya pada anak pertama saya, kakak Q, doi awalnya jawab lucu banget. Masa iya doi mau mami jadi kodok, jadi superhero, jadi bunga matahari. wkwkwk jawaban macam apa itu, nak? Makanya, meski jawabannya hanya 2 itu, tapi dalem juga yak. Lama bok baru ketemu jawabannya. 

Loh kok poin kedua dari kakak Q pengen vlog? Ehem, jadi kakak Q itu waktu layarnya dipergunakan untuk bermain game edukasi atau menonton channel Youtube si Ryan itu tuhh... Jadi, dia juga mau katanya bikin video seperti itu, dan yess.. we are already made some videos in her own youtube channel. Meski yang subscribe baru mami dan abatinya doank, hehe...

Lalu, untuk anak kedua saya karena usianya baru saja masuk 11 bulan, jadi dia benar-benar tidak punya komentar apapun selain tetetete atau nenenen dan numnumnum... 

Okay baiklah, saya rasa sekian dulu postingan saya kali ini. Sudah pukul 01.30 WIB nih. Waktunya bobo cantik di sebelah bayi yang setiap saat minta ASI. Bhayy...


Senin, 04 Februari 2019

Jika Boleh, Saya Ingin Sekali Menimba Ilmu Lebih Jauh Lagi Tentang Ini

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah saya buat sejak beberapa hari yang lalu, tapi saya benar-benar stuck saat akan menulis, sebenarnya ilmu apa yang ingin saya pelajari di universitas kehidupan ini. Awalnya saya ingin menekuni tentang ilmu parenting, secara saya memiliki dua orang anak dan saya ingin menerapkan ilmu parenting yang baik untuk mereka. Lalu saya juga ingin menekuni ilmu homeschooling karena anak-anak saya ke depannya InsyaAllah akan saya homeschooling-kan.

Bukan hanya itu, sebenarnya saya juga ingin menekuni dunia memasak khusus untuk anak-anak karena jujur saja ketika melihat anak-anak, saya bawaannya pengen bikinkan makanan untuk mereka. Tambah satu lagi, saya juga ingin menekuni dunia digital marketing karena sehari-hari itu lah pekerjaan sampingan saya, selain menjadi ibu rumah tangga tentunya.

Namun, diantara banyaknya pilihan di atas, saya merasa tidak cukup. Saya banyak merenung tentang tugas NHW#1 dari Institut Ibu Profesional ini. Jujur, saya merenung hingga kepala saya terasa sakit. Saya berpikir karena saya memang seperti itu, saya tidak mudah memutuskan sesuatu begitu saja. Saya harus memikirkan banyak hal yang berkaitan dengan ini.

Saya suka ilmu parenting, saya suka mendalami ilmu homeschooling, memasak, pun digital marketing. Semua itu ada dalam darah saya, masuk ke dalam jiwa saya karena itulah yang benar-benar membuat mata saya berbinar saat menjalaninya. Keempat hal itu yang membuat saya ikhlas tak tidur hingga larut dan berani terbangun di waktu subuh tanpa protes atau mengeluh karena mereka telah mencuri waktu tidurku yang berharga.

Tapi diperjalanan saya merenung, saya tersadar satu hal. Ini adalah pertanyaan tentang apa yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan, berarti ini adalah tentang apa yang akan saya jalani hingga akhir hidup saya. Ini adalah tentang bagaimana saya bisa menjadikannya pendukung dalam setiap hal yang saya lakukan.

Maka saya putuskan, bahwa saya ingin mendalami tentang ilmu kesabaran. Bahwa sabar itu benar-benar sesuatu yang sangat saya butuhkan. Karena sabar itu adalah sesuatu yang sangat sedikit saya miliki dan memang harus saya tekuni agar kesabaran itu bisa melekat di diri saya hingga akhir hidup.

Jujur saja, saat menulis ini saya sangat sedih. Saya sedih karena ternyata saya benar-benar fakir kesabaran. Saya mungkin bisa mempelajari ilmu lain dengan sangat mudah, karena saya adalah tipe manusia pembelajar, saya diciptakan Allah dengan kelebihan pandai menyerap sesuatu dengan begitu mudah. Saya bahkan bisa menguasai sesuatu hanya dengan otodidak. Tapi tidak dengan kesabaran.

Saya bahkan tidak tau ilmu apalagi yang paling ingin saya tekuni selain ilmu kesabaran itu sendiri. Alasan kuat saya sangat simpel tapi baru saya sadari, bagimana mungkin anak-anak saya bisa tumbuh dengan baik tanpa kesabaran dalam diri saya? Saya ingat pernah marah begitu murkanya ketika anak sulung saya menjatuhkan air ke lantai, dan itu sungguh menyayat hatiku setelahnya. Saya sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan tentang hal ini. Saya sadar bahwa saya tak mungkin seperti ini selamanya. Saya menolak.

Berhubung ini adalah ilmu kesabaran, ilmu yang tak bisa diajarkan begitu saja, ilmu yang tidak bisa dibaca lalu dipraktekkan begitu saja. Jujur saja, sampai saat ini saya belum tahu bagaimana saya akan mempelajarinya selain berusaha mengingat akibat dari ketidaksabaranku dan membayangkan apa yang akan terjadi nanti dengan kesabaran itu. Kita tak pernah tahu, kan ulat akan menjadi secantik kupu-kupu karena kesabarannya.

Adapun berkaitan dengan adab menuntut ilmu, sekali lagi karena ini adalah tentang kesabaran, saya harus fokus untuk belajar menerima kesalahan, saya harus fokus menjernihkan pikiran dan harus lebih terbuka menerima saran dari orang lain.

Sekian.