Selasa, 12 Februari 2019

Inilah Indikator Profesionalisme Versi Saya

Postingan ini dibuat karena adanya tugas kedua dari kelas martikulasi Institut Ibu Profesional. Sayangnya, postingan ini sudah terlambat satu hari dari batas terakhir dikumpulkan. Saya tentu punya alasan saya sendiri. Jujur saja, saya sudah menanyakan indikator apa sih yang suami saya inginkan dari saya agar membuatnya bahagia, sejak sepekan yang lalu, tepatnya 5 Februari 2019. Sementara anak saya yang pertama, saya butuh waktu merampungkan jawaban dia hingga Sabtu, 9 Februari 2019 karena jawabannya yang masih sangat kekanakan. Maybe, karena doi sama sekali belum mengerti betul ya.. or maybe karena doi sudah menerima saya apa adanya, termasuk bonus suka mengomelnya hehe...

Jujur saja, sebenarnya tugas ini sudah ingin saya kumpulkan sedari Ahad, 10 Februari 2019. Tapi. lagi-lagi karena alasan kepala yang selalu sakit ketika melihat layar handphone, membuat saya agak berat membuka laptop untuk menulis tugas ini di blog saya. Sempat sih saya curhat di group Whatsapp, ada yang bilang saya boleh mengirimkan voice note untuk mengumpulkan tugas kali ini. Tapi setelah saya pikir lagi, rasanya sayang sekali jika harus melewatkan tugas ini dan tidak mempublikasikannya di blog pribadi saya :D

Setelah rebahan sedikit dan meminum obat sakit kepala, akhirnya sakitnya kepala melihat layar pun lenyap. Meski saya mengetik sambil mengernyitkan alis, berusaha melihat dengan baik karena enggan memakai kaca mata yang firasatku menjadi penyebab sakitnya kepalaku. But that's okay, I think I can make it.

Well, saya sudah membuatnya dalam bentuk file JPEG di Canva. Berikut indikator profesionalisme sebagai individu, istri dan seorang ibu versi saya, sesuai dengan request dari suami dan anak-anak saya, serta sesuai dengan hati dan pikiran saya.

Sebagai individu

Sebagai istri
Sebagai ibu
Pertanyaannya adalah mengapa indikator sebagai seorang istri kok cuma satu? Ya, karena permintaan dari sang suami juga cuma itu. Padahal ya, pas saya minta doi tulis mau apa saja dari saya, doi bilang "saya tulis ya di kertas, tapi jangan dibaca dulu. Nanti saja pas saya tidak di rumah." And did you know? kertasnya sampai doi sembunyikan dan baru dikasih tahu letaknya dimana pas doi berangkat kerja. Itupun dikasih tahu letaknya dimana melalui chat whatsapp.

Awalnya saya pikir suami maunya saya rajin masak, mengurangi jajan, menurunkan berat badan kek, atau rajin membersihkan wkwkwk secara ya, selama ini suami juga turut membantu kerjaan domestik saya. Misalnya sebelum berangkat kerja, suami mencuci dulu, menjemur. Kadang juga menyapu sekalian mengepel. Kadang juga sampai masak nasi dulu. Btw, nulis ini kok ya saya merasa berdosa? :D

Tapi memang suami saya sedari awal menikah selalu turun tangan membantu pekerjaan rumah, termasuk mengurus anak tentunya. Jadi, tolong jangan salahkan saya. Tidak mungkin saya melarang suami saya mengerjakan semua itu karena saya juga, jujur, butuh bantuan suami :D

Nah, ketika bertanya pada anak pertama saya, kakak Q, doi awalnya jawab lucu banget. Masa iya doi mau mami jadi kodok, jadi superhero, jadi bunga matahari. wkwkwk jawaban macam apa itu, nak? Makanya, meski jawabannya hanya 2 itu, tapi dalem juga yak. Lama bok baru ketemu jawabannya. 

Loh kok poin kedua dari kakak Q pengen vlog? Ehem, jadi kakak Q itu waktu layarnya dipergunakan untuk bermain game edukasi atau menonton channel Youtube si Ryan itu tuhh... Jadi, dia juga mau katanya bikin video seperti itu, dan yess.. we are already made some videos in her own youtube channel. Meski yang subscribe baru mami dan abatinya doank, hehe...

Lalu, untuk anak kedua saya karena usianya baru saja masuk 11 bulan, jadi dia benar-benar tidak punya komentar apapun selain tetetete atau nenenen dan numnumnum... 

Okay baiklah, saya rasa sekian dulu postingan saya kali ini. Sudah pukul 01.30 WIB nih. Waktunya bobo cantik di sebelah bayi yang setiap saat minta ASI. Bhayy...


Senin, 04 Februari 2019

Jika Boleh, Saya Ingin Sekali Menimba Ilmu Lebih Jauh Lagi Tentang Ini

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah saya buat sejak beberapa hari yang lalu, tapi saya benar-benar stuck saat akan menulis, sebenarnya ilmu apa yang ingin saya pelajari di universitas kehidupan ini. Awalnya saya ingin menekuni tentang ilmu parenting, secara saya memiliki dua orang anak dan saya ingin menerapkan ilmu parenting yang baik untuk mereka. Lalu saya juga ingin menekuni ilmu homeschooling karena anak-anak saya ke depannya InsyaAllah akan saya homeschooling-kan.

Bukan hanya itu, sebenarnya saya juga ingin menekuni dunia memasak khusus untuk anak-anak karena jujur saja ketika melihat anak-anak, saya bawaannya pengen bikinkan makanan untuk mereka. Tambah satu lagi, saya juga ingin menekuni dunia digital marketing karena sehari-hari itu lah pekerjaan sampingan saya, selain menjadi ibu rumah tangga tentunya.

Namun, diantara banyaknya pilihan di atas, saya merasa tidak cukup. Saya banyak merenung tentang tugas NHW#1 dari Institut Ibu Profesional ini. Jujur, saya merenung hingga kepala saya terasa sakit. Saya berpikir karena saya memang seperti itu, saya tidak mudah memutuskan sesuatu begitu saja. Saya harus memikirkan banyak hal yang berkaitan dengan ini.

Saya suka ilmu parenting, saya suka mendalami ilmu homeschooling, memasak, pun digital marketing. Semua itu ada dalam darah saya, masuk ke dalam jiwa saya karena itulah yang benar-benar membuat mata saya berbinar saat menjalaninya. Keempat hal itu yang membuat saya ikhlas tak tidur hingga larut dan berani terbangun di waktu subuh tanpa protes atau mengeluh karena mereka telah mencuri waktu tidurku yang berharga.

Tapi diperjalanan saya merenung, saya tersadar satu hal. Ini adalah pertanyaan tentang apa yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan, berarti ini adalah tentang apa yang akan saya jalani hingga akhir hidup saya. Ini adalah tentang bagaimana saya bisa menjadikannya pendukung dalam setiap hal yang saya lakukan.

Maka saya putuskan, bahwa saya ingin mendalami tentang ilmu kesabaran. Bahwa sabar itu benar-benar sesuatu yang sangat saya butuhkan. Karena sabar itu adalah sesuatu yang sangat sedikit saya miliki dan memang harus saya tekuni agar kesabaran itu bisa melekat di diri saya hingga akhir hidup.

Jujur saja, saat menulis ini saya sangat sedih. Saya sedih karena ternyata saya benar-benar fakir kesabaran. Saya mungkin bisa mempelajari ilmu lain dengan sangat mudah, karena saya adalah tipe manusia pembelajar, saya diciptakan Allah dengan kelebihan pandai menyerap sesuatu dengan begitu mudah. Saya bahkan bisa menguasai sesuatu hanya dengan otodidak. Tapi tidak dengan kesabaran.

Saya bahkan tidak tau ilmu apalagi yang paling ingin saya tekuni selain ilmu kesabaran itu sendiri. Alasan kuat saya sangat simpel tapi baru saya sadari, bagimana mungkin anak-anak saya bisa tumbuh dengan baik tanpa kesabaran dalam diri saya? Saya ingat pernah marah begitu murkanya ketika anak sulung saya menjatuhkan air ke lantai, dan itu sungguh menyayat hatiku setelahnya. Saya sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan tentang hal ini. Saya sadar bahwa saya tak mungkin seperti ini selamanya. Saya menolak.

Berhubung ini adalah ilmu kesabaran, ilmu yang tak bisa diajarkan begitu saja, ilmu yang tidak bisa dibaca lalu dipraktekkan begitu saja. Jujur saja, sampai saat ini saya belum tahu bagaimana saya akan mempelajarinya selain berusaha mengingat akibat dari ketidaksabaranku dan membayangkan apa yang akan terjadi nanti dengan kesabaran itu. Kita tak pernah tahu, kan ulat akan menjadi secantik kupu-kupu karena kesabarannya.

Adapun berkaitan dengan adab menuntut ilmu, sekali lagi karena ini adalah tentang kesabaran, saya harus fokus untuk belajar menerima kesalahan, saya harus fokus menjernihkan pikiran dan harus lebih terbuka menerima saran dari orang lain.

Sekian.


Jumat, 25 Januari 2019

Begini Rasanya Menjadi "Mahasiswi Baru" Lagi - Narasi Studium Generale MIIPB#7

Gambar: pngtree.com
Hampir saja saya lupa bagaimana rasanya menjadi mahasiswi baru, begitulah kalau sudah lewat bertahun-tahun lalu mengikuti perkuliahan umum yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa baru. Sampai beberapa waktu lalu, saya diterima di program martikulasi Institut Ibu Profesional (yang selanjutnya saya tulis IIP). Yah, i know bahwa ini bukanlah institut resmi yang terdaftar dengan cara yang resmi pula, tapi sungguh rasanya pertama kali mengikuti kuliah umum a.k.a Studium Generale, kurang lebih sama seperti mengikuti perkuliahan umum sewaktu menjadi mahasiswi baru di jenjang pendidikan S1 ku dulu (maaf ya S2 tidak kuhitung karena saya tidak ikut kuliah umumnya :D).

Hari itu, Rabu 23 Januari 2019, sebelumnya kami telah diberikan tautan untuk masuk ke grup telegram kuliah umum IIP Batch 7 ini. Setelah masuk, wow saya takjub karena sudah ribuan peserta yang bergabung sebelum saya. It means, ada ribuan orang yang tangannya lebih lincah daripada saya untuk mengetuk tautan undangan.

Meski hanya sebuah grup di aplikasi Telegram, perkuliahan umum ini ternyata ada absensinya juga dan saya hampir terlewat mengisinya. Berhubung saya "mahasiswi" yang suka telat, saya baru datang di akhir perkuliahan umum. Tapi beruntung sekali saya karena perkuliahan umumnya dilakukan di Telegram, dimana semua percakapan terekam jelas bahkan ketikan kagum dari setiap peserta, yang menurut saya cukup mengganggu. Soalnya banyak tuh yang diminta berhenti mengirim pesan tapi masih tetap semangat mengirim, entah karena fokus mengetik sampai tidak melihat peringatan ataukah jaringan mereka lemot hingga perintah tak terlihat atau ada hal lain yang tidak saya ketahui tentunya.

Selain absensi, tentunya kuliah umum di IIP juga memiliki susunan acara, dimulai dari host membuka acara dan do'a, perkenalan Tim Fasiliator MIIP Batch #7 ,sambutan Ibu Septi Peni Wulandani, sambutan Ketua Institut Ibu Profesional, dan sambutan Ketua Divisi Matrikulasi Pusat. Setelah ada pembukaan dan sambutan-sambutan, lalu muncul lah beberapa kisah sukses dari para alumni IIP mulai dari batch 1 hingga 6. 

Setelah perkenalan singkat dari para alumni, kemudian dipersilahkanlah para peserta untuk mengajukan pertanyaan. Beberapa orang pun bertanya, dan saya perhatikan semua pertanyaan berkaitan dengan keraguan akan kemampuan diri sendiri dan tentu saja masih bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi di martikulasi ini. Wajar, namanya tempat belajar, pasti akan ada banyak orang yang butuh bantuan untuk segala hal. Termasuk saya mungkin, untuk ke depannya. 

Terakhir, setelah sesi tanya jawab seperti kuliah umum biasanya, maka habislah sudah rangkaian acara. Yah, meski saya datang sangat terlambat karena anak sulung saya tidak rela diduakan sama handphone saat bermain. Jadi saya menunggu anak-anak tidur dulu baru bisa masuk ke Telegram. Tapi meski saya datang terlambat, suasana perkuliahan umumnya benar-benar terasa. Kurang lebih sama seperti perkuliahan umum mahasiswi baru, yang isinya ibu-ibu semua hehe. Saya membayangkan sedang berada di dalam ballroom bersama ibu-ibu lainnya, saling bertanya dan beberapa orang saling cekikikan karena candaan kecil. Entahlah, mungkin imajinasi saya yang berlebihan atau memang rangkaian acaranya yang keren. 

Nah, saya rasa sekian narasi saya tentang Studium Generale Martikulasi Institut Ibu Profesional Batch 7 ini. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya :D

Selasa, 22 Januari 2019

Review Gendongan Cuddle Me Lite - Gendongan Ergonomis Murah Buatan Indonesia

Jadi, sebelumnya saya pernah mereview gendongan baby ktan buatan luar ya mams. Semakin besar, anak saya semakin berat dan rasanya kurang nyaman memakai gendongan model wrap, meski tipenya sudah easy wrap tapi tetap saja agak ribet menurutku sih. Sampai suatu waktu saya berpikir untuk menggunakan gendongan jenis soft structure carrier atau lebih dikenal dengan nama SSC. 

Sebenarnya saya pernah menggunakan jenis gendongan ini sewaktu jaman anak pertama dulu, waktu itu saya menggunakan merk elle, buatan luar negeri. Tapi berhubung sudah dikasih ke orang gendongannya, jadi saya tidak punya lagi deh jenis gendongan SSC.

Lalu saya bertanya pada kawan saya di Makassar perihal gendongan jenis SSC yang murah tapi bagus, hehe dasar ya mak irit. Lalu kawan saya menyarankan gendongan SSC merk Cuddle Me Lite. Harga terjangkau dan buatan anak bangsa, serta sudah mendukung posisi M-shape.

Saya sudah pernah mereview gendongan ini di channel Youtube-ku. Silahkan langsung dilihat saja yaaa...


Saya juga pernah membuat video tutorial cara pemakaian gendongan Cuddle Me Lite posisi belakang, silahkan lihat videonya langsung yaaa...



Sekian dulu yaa, selamat menonton....



Senin, 21 Januari 2019

Kebiasaan Baru Qifaya : Jadi Tim Pembersih Kamar Mandi

Qifaya, anak pertamaku, beberapa hari ini memiliki kebiasaan baru yang lumayan unik. Hari itu, saat saya memintanya untuk mandi pagi, yang kebetulan sudah sejak 2 bulan terakhir sudah bisa mandi sendiri (meski belakangan harus disiram lagi karena masih banyak sabun menempel di badannya), tiba-tiba membuka pintu kamar mandi dan berteriak kecil meminta izin untuk membersihkan kamar mandi. Saya yang sendirinya malas membersihkan kamar mandi, tiba-tiba tercengang dan sedikit bahagia (akhirnya ada yang bantu wkwkwk) dan segera mengiyakan permintaan anak kecil yang satu ini.
Qifaya lagi bersihkan wc
Mungkin saja, bagi sebagian orang akan menyangka bahwa saya kok ya pemalas banget, kerjaan kayak gini kok dikasih ke anak 4 tahun (yang dalam 2 bulan jadi 5 tahun) bukannya dikerjakan sendirian saja. Bukankah anak usia segitu harusnya main aja, belajar aja. Yah, saya pemalas, saya akui tapi semalas-malasnya saya, jika anak saya meminta sesuatu yang tidak masuk akal, misal minta izin naik perbaiki genteng, tentu saya tidak akan memberikan izin, ataukah minta izin pergi belanja bulanan, ya tentu tidak. 

Bagi saya, membersihkan kamar mandi juga merupakan suatu pendidikan bagi anak. Pertama, mereka belajar kebersihan, meski pasti hasil kerjanya tidak akan sebersih hasil kerja kita orang dewasa. But yeah, setidaknya mereka mau berusaha :) Saya rasa itu sudah jauh dari kata cukup. Kedua, mereka belajar bertanggung jawab. Setiap hari menggunakan kamar mandi, masa iya tidak mau dibersihkan. Kalau bersih kan mereka sendiri yang bahagia. Ketiga, belajar fokus. Anak-anak fokus mencari mana saja kotoran yang ingin diberantas, dan yang terakhir mereka bisa bersenang-senang karena bisa main air lebih lama :)

Saya juga belum tahu, sampai kapan kebiasaan ini akan Qifaya laksanakan, yang jelas saat ini setiap pagi doi rutin membersihkan kamar mandi. Mulai dari kloset sampai lantai kamar mandi. Pesan saya hanya satu, jangan menggunakan cairan pencuci kamar mandi ya... And you know what? Dia memang tidak menggunakan cairan tersebut, melainkan menggunakan sabun mandi kami wkwkwkw berarti siap-siap menambah budget untuk beli sabun bulanan :)

Senin, 14 Januari 2019

Manajamen Gawai Bagi Ibu Rumah Tangga

gambar: iprice.sg
Sebagai seorang ibu rumah tangga, tentunya saya memiliki waktu "luang" yang lebih banyak dan lebih kritis dibandingkan dengan ibu bekerja. Kenapa saya mengatakan demikian, karena ibu rumah tangga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak-anaknya. Salah sedikit menghabiskan waktu luang, anak-anak akan meniru. Adanya faktor kebosanan mengurus rumah tangga, serta faktor lain, menyebabkan banyak ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu santainya bersama gawai a.k.a gadget.

Sebenarnya tidak salah menghabiskan waktu dengan gadget, hanya saja, sayangnya banyak yang belum tahu bagaimana cara me-manage waktu penggunaan gadget hingga tidak bisa mengoptimalkan waktu membersamai anak-anak di rumah. Termasuk saya, jadi dulu saya adalah tipe manusia yang menghabiskan waktu lebih banyak di depan laptop dan smartphone, akibatnya apa? Dulu anak petama saya jadi kecanduan TV dan gadget. Soalnya anak itu akan meniru ya apa yang dilakukan orang tuanya. Akhirnya pelan-pelan saya berusaha mengubah diri, alhamdulillah anak pertama saya tidak kecanduan lagi.

Saya sendiri kebingungan ketika mendapatkan tugas dari Institut Ibu Profesional, dimana saat ini saya sedang mengikuti kelas foundation-nya. Soalnya, saya pribadi masih sering berkutat dengan gadget di rumah. Begitulah, berhubung saya seorang internet marketer dan juga saya memiliki misi hidup, yaitu bermanfaat bagi orang lain melalui internet, jadi jujur saya masih memiliki waktu yang banyak dengan gadget. Oh iya, selain itu saya juga masih senang bermain-main dengan game. 

Tapi dengan semua kenyataan yang ada, sebenarnya saya masih bisa membersamai anak-anak saya. Terbukti karena saya sama sekali tidak menggunakan jasa ART, apalagi nanny tapi masih bisa tetap eksis di dunia maya. Nah, lantas bagaimana saya mengatur jadwal bermain gadget?

Pilih Waktu Yang Tepat

Jika saya ingin bermain gadget, saya akan memilih waktu yang pas. Saya baru aktif membuka-buka gadget ketika anak-anak saya telah tertidur. Saat ini saya memiliki dua orang anak. Pertama usia 4 tahun dan kedua usia 10 bulan. Nah, karena usia mereka berbeda, maka sudah jelas jadwal tidur mereka pun berbeda. Lalu, bagaimana? Jadi, anak pertama saya itu memiliki jadwal menonton di laptop sejam per hari dan dia baru bisa nonton ketika si adik tidur. Saat itu lah saya bermain gadget dengan sangat aktif. 

Selain itu, ketika anak-anak sudah tidur di malam hari, saya meluangkan waktu lagi untuk bermain gadget. Ya, saya mengurangi jadwal tidur saya demi membaca komik dan bermain game online. Bagi saya, ini adalah me time yang sangat berharga :D

Saat berada di luar rumah dengan tujuan jalan-jalan bersama keluarga, sebisa mungkin saya tidak membawa smartphone agar jalan-jalan kami lebih berkualitas. Untuk foto-foto, saya lebih memilih membawa kamera daripada smartphone. Kecuali jika saya hanya jalan bertiga sama anak-anak tanpa suami, saya harus bawa smartphone untuk memesan taksi online.

Pilih Prioritas

Apakah di luar jam di atas saya bermain gadget? Iya, tapi saya memilih prioritas, misalnya memang ada yang harus dibalas cepat, pasti saya memegang gadget. Atau saya lagi masak dan cari resep di internet, pasti saya memegang smartphone, tapi sebelumnya saya menjelaskan kepada anak pertama tentang apa yang sedang saya lakukan agar dia tidak salah paham. Termasuk saat menulis artikel ini, anak kedua saya sedang tidur dan anak pertama duduk di sebelahku melihat pekerjaanku. Sebisa mungkin anak pertama harus mengerti apa yang sedang saya lakukan, jadi di mata kakak, saya memegang gadget untuk menulis, kerja atau cari resep.

Saya sebisa mungkin menghindari percakapan panjang ketika tidak berada di waktu yang saya sebutkan pada sub poin pertama. Keaktifan di grup WA juga sangat minim, karena saya memang sengaja tidak mengaktifkan suara notifikasi, takut jadi greget dan pengen dibuka cepat-cepat. Selain itu, saya juga tidak mengikuti akun-akun gosip di internet. Percayalah, akun seperti ini bisa dengan mudah menghabiskan waktu-waktu berharga kita. Saya juga berhenti melakukan scroll di media sosial, saya cukup fokus dengan misi saya yaitu menebar manfaat. Setelah melakukannya maka saya telah selesai.

Nah, sepertinya itu saja manajemen gawai ala saya. Percayalah, ketika kita bisa mengatur jadwal gawai dan bijak dalam setiap penggunaannya, membersamai anak-anak akan terasa lebih menyenangkan dan oh iya, ternyata dengan me-manage penggunaan gadget, bisa mengurangi ketertarikan anak-anak dengan gadget loh.  Semoga bisa menginspirasi yaaa....