Sabtu, 17 Agustus 2019

Sosialisasi Anak Homescooling: Penerapan Sosialisasi Lintas Usia Qifaya

Sebelumnya saya sudah pernah membahas tentang sosialisasi anak homeschooling. Tapi mungkin masih ada beberapa yang belum mengerti tentang sosialisasi vertikal atau lintas usia. Sebenarnya cukup mudah dijelaskan, namun kenyataannya masih banyak yang belum percaya bahwa anak kecil pun bahkan bisa melakukan sosialisasi jenis ini.

Baiklah, saya berikan contoh misalnya dengan apa yang terjadi sore ini dengan Qifaya. Sore tadi Qifaya minta izin bermain di luar rumah, karena memang hampir setiap sore ia bermain di luar   bersama kawannya. Namun sejak semua kawannya ikut mengaji di pondok dekat rumah, setiap sore dia bemain sendirian sampai kawan-kawannya pulang. Mengapa Qifaya tidak ikut mengaji bersama kawan-kawannya? Nanti akan saya bahas di postingan lain ya.

Lalu, sembari saya memberikan ASI pada adek B, saya mendapatkan pesan whatsapp dari tetangga saya, ibu dari kawan Qifaya.


Nah, kira-kira seperti inilah yang dinamakan sosialisasi vertikal atau lintas usia. Qifaya bertamu ke rumah tetangga, meski kawannya sedang tidak di rumah karena pergi ngaji atau sedang tidur, dia tetap bertamu dan bersosialisasi dengan ibu kawannya atau dengan adik kawannya yang masih berusia 7 bulan.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Qifaya bergaul dengan orang dewasa. Dulu pun Qifaya suka bermain dengan kawan saya, serta tante-tantenya, kakek dan nenek. Tapi saya tak menyangka anak ini benar-benar secara alami bisa bersosialisasi dengan orang lain yang bahkan saya sendiri pun tak begitu akrab hehe... Masya Allah.. Padahal biasanya anak seumuran Qifaya, sangat jarang yang mau bergaul dengan orang dewasa. Jangankan bergaul, diajak ngomong saja sering agak segan.

Dengan adanya postingan ini, semoga orang yang mengatakan anak homeschooling itu kuper dan terkurung, bisa menepis pandangannya itu. Karena ternyata anak homeschooling bisa bersosialisasi baik horisontal maupun vertikal secara alami. insya Allah

Kamis, 01 Agustus 2019

Mau Wisata Gratis Fasilitas Mewah? Ke Museum House Of Sampoerna Saja!

Kira-kira dua minggu yang lalu, satu hari sebelum ibu saya pulang ke kampung halaman, saya mengajaknya berkeliling kota Surabaya. Salah satu wisata yang kami kunjungi adalah museum House of Sampoerna. Waktu itu kebetulan saya juga belum pernah sama sekali mengunjungi tempat wisata ini, namun berbekal mesin pencarian google dan karena adanya daya tarik museum ini berupa bus Surabaya Heritage Track, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak ibu dan anak-anak saya ke tempat ini.
House of Sampoerna
Museum House of Sampoerna 
Alamat : Taman Sampoerna No.6, Krembangan Utara, Kec. Pabean Cantian, Kota SBY, Jawa Timur 60163
Jam Buka : 08.00 - 18.00
HTM : Gratis
Patung orang merokok
Saat baru tiba di Museum ini, saya pikir museumnya lagi tutup, karena pintu bangunannya tertutup rapat dan orang yang berlalu lalang juga cukup sedikit. Tapi disana ada banyak security yang berjaga di parkiran. Daripada bingung, saya memutuskan bertanya saja sama bapak securitynya dan ternyata museumnya buka, pemirsa!

Pertama kali mendorong pintu utama, kok ya ringan untuk tampilan pintu yang begitu kokoh. Ternyata eh ternyata ada petugas di bagian dalam yang sigap membuka pintu ketika ada tamu yang akan masuk. Ditambah lagi mbak petugasnya baik banget sampai bantu angkat stroller anakku diiringi dengan sapaan ramah pada kami. Setelah masuk, ternyata ada dua orang petugas, satu perempuan dan satu lelaki yang berjaga di pintu masuk.
Pas masuk pintu masuk, langsung dapat kolam ikan
Saat baru memasuki ruangan, sangat terasa udara sejuk menyentuh kulit bahkan menembus ke dalam kain gamis dan jilbab panjangku. Suhu di dalam lumayan dingin, mungkin karena ruangan ini pintunya selalu dijaga senantiasa tertutup dan hampir tidak ada celah udara dingin dari AC nya lolos ke luar. Selain suhu yang dingin, kami juga disambut dengan aroma tembakau yang cukup kuat hingga sukses membuat kakak Q menutup hidungnya rapat-rapat. Btw foto di atas itu kakak Q tahan nafas ya demi di foto sama emmaknya, makanya gayanya agak gimana gitu. wkwkwk
Baru masuk, diminta foto pertama kali, gak mau lepas tutup hidung.
Sepeda ontel juga ada di museum ini

Sepertinya ini kursi tamu milik Budi Sampoerna pada masa itu

Foto-foto proses pembuatan rokok jaman dahulu kala

Foto ini sepertinya kegiatan CSR perusahaan ke masyarakat
Museum ini memiliki 2 lantai, lantai bawah menjadi tempat memamerkan segala hal tentang rokok, khususnya peralatan yang digunakan oleh si empunya rokok ini, Budi Sampoerna. Mulai dari lemari, kursi tamu, meja kerja, sepeda, mesin pembuatan rokok pertama yang mereka gunakan hingga banyak foto dan lukisan yang menggambarkan proses pembuatan rokok pada masa itu. Oh iya, baru tahu saya pada saat itu ternyata buruh pabrik rokok mengenakan pakaian kebaya saat membuat rokok :D

JIka naik di lantai 2, terdapat kaca yang memungkinkan kita bisa melihat
proses pembuatan rokok djisamsoe pada waktu tertentu

Lantai 2 juga terdapat alat untuk menguji bahan kimia
yang digunakan pada rokok, termasuk jenis-jenis tembakau dll

Ada sign ini ditempel di kaca yang menghubungkan ruangan dengan pabrik rokok
Saat naik ke lantai dua, museum ini sudah sepi waktu itu. Hanya ada saya dan kakak Q waktu itu. Di atas sini memang hanya ada alat-alat uji bahan kimia yang digunakan dalam meracik rokok, jenis tembakau dan peralatan lain yang saya tidak begitu perhatikan. Lantai ini lebih fokus digunakan untuk menyaksikan proses pembuatan rokok Dji Sam Soe yang pada waktu tertentu (pagi hingga siang) bisa kita saksikan bersama. Namun sayang, waktu itu saya datangnya sudah lewat jam 1 siang dan jam bekerja buruhnya sudah usai, jadi sampai ketemu di lain waktu :D

Sayangnya, di kaca yang tertempel terdapat tanda bahwa kita dilarang mengambil foto dan video. Mungkin saja larangan ini berlaku saat proses pembuatan rokok sedang dilangsungkan kali ya hehe makanya saya tetap mengambil foto karena memang saat itu tidak ada kegiatan membuat rokok sama sekali.

Salah satu koleksi pameran batik

Kaca besar di dalam ruangan pameran
Selain daya tarik museum rokoknya, disana juga terdapat ruangan pameran yang sangat kebetulan saat kami datang, sedang berlangsung pameran batik. Ruangan pamerannya ini persis seperti ruangan rumah. Memiliki kamar, kamar mandi bahkan dapur. Belakangan saya ketahui bahwa house of Sampoerna ini dulunya merupakan rumah tinggal pemiliknya Budi Sampoerna. Dalam hati, "gilaaaa... rumahnya jaman itu sudah segede inii... horaaang kayaa".


Salah satu spot foto di lingkungan house of Sampoerna

instagrammable banget yak gaya emmak akoh wkwkwk
Selain daya tarik museum, bus Heritage Track, dan pameran, ternyata house of Sampoerna ini memiliki banyak spot foto yang instagrammable banget. Tempat ini sangat cocok dikunjungi olef foto hunter yang mau posting di instagram.

Nah, sekian dulu jalan-jalan kali ini ya... Untuk video jalan-jalannya, sebenarnya sudah bikin sih. Tapi sayang sekali karena ternyata mic kamera saya sedang tidak normal, jadi suara yang muncul malah kresek kresek.

Minggu, 28 Juli 2019

Akhirnya di Wisuda Juga di Institute Ibu Profesional Kelas Martikulasi 2019

Awal Juli lalu merupakan hari dimana saya di wisuda untuk yang ke sekian kalinya, jika dihitung dari wisuda mengaji waktu kecil dulu :D Ya, hari itu saya di wisuda sebagai tanda lulusnya dari kelas martikulasi di Institut Ibu Profesional. Setelah mengerjakan beberapa tugas yang disebut sebagai NHW selama kurang lebih 3 bulan lamanya, yang mana mengerjakan NHW ini rasanya kurang mantap jika tidak dibarengi dengan begadang wkwkw maklumlah saya termasuk siswi yang agak lumayan malas menyetor tugas.
IIP Martikulasi Batch 7 Surabaya Raya
Sebenarnya proses dari selesainya perkuliahan ke wisuda itu membutuhkan waktu yang lumayan lama, kira-kira 4 bulan baru sampai ke hari wisuda. Lumayan lama sampai saya hampir lupa bahwa pernah belajar disini :D Tapi mungkin ini sudah suratan takdir :D

Btw, saya sebenarnya sangat beruntung telah menjalani perkuliahan di institut ibu profesional ini. Setelah mengikuti tahap demi tahap, menyelesaikan NHW hingga selesai, akhirnya saya menemukan passion saya yaitu di bidang parenting. Plus saya juga sadar bahwa saya ini seorang penggerak, seorang pengajar dan seorang pendidik. Saya bahagai membagikan ilmu khususnya parenting kepada sebanyak mungkin orang tua di luar sana, karena saya yakin bahwa bangsa ini akan berhasil suatu saat nanti jika orang tua kembali ke rumah menjalankan perannya masing-masing.

Well,  passion ini saya selalu tuangkan di akun instagram saya, karena kebetulan people  jaman now lebih suka baca status daripada baca blog. Jadi saya rajinnya wara wiri di instagram. Tapi tak menutup kemungkinan suatu saat saya juga akan share beberapa tulisan saya di blog ini.

Saat dipanggil ke panggung buat di "wisuda"
Nah, kita kembali ke proses wisuda di institut profesional. Acara ini dilaksanakan tanggal 14 Juli 2019 di AMG Tower Surabaya. Seperti biasa, acara ini didahului dengan sambutan-sambutan, lalu peserta wisuda dipanggil satu per satu untuk di "wisuda", diberikan piagam dan bros yang disemat di pita bewarna kuning, lalu dikalungkan di leher. Setelah itu, foto cekrek cekrek dan kita turun digantikan oleh peserta lain.

Uniknya dalam acara ini, kita membawa makanan sendiri yang diletakkan di wadah kemudian wadahnya dibawa pulang kembali setelah isinya habis. Eh, meski kenyataannya wadah yang saya bawa pulang kembali terisi dengan makanan yang dibawa oleh peserta lain :D intinya acara ini tujuannya adalah minim sampah, meski di lapangan faktanya masih banyak sampah berserakan :D

Anyway, waktu itu saya berangkat dengan mengenakan cadar ya buibu. Mungkin di lain waktu akan ada yang melihat saya tanpa cadar. Ya, saya memang masih lepas pasang cadar saya, karena bagi saya cadar itu sunnah dan menjadi wajib ketika suami meminta mengenakan. Kebetulan waktu itu suami saya meminta saya untuk mengenakan cadar, jadi saya ya mengenakannya. Namun, di lain waktu kadang suami saya tidak meminta saya memakainya, jadi saya tidak memakainya :D Maafkan hatiku yang belum tulus ya mengenakan cadar.
Kakak Q sibuk meronce
Berhubung acara ini membuka sponsorship, di bagian luar ruangan terdapat beberapa stand yang menjual pelbagai jenis dagangan, salah satunya adalah mainan. Kebetulan sekali waktu itu ada anak lain yang membeli mainan dan kebetulan sekali saya hanya membawa uang cash 50rb saja, jadi kakak Q tak kubelikan mainan karena selain uangnya tak cukup, cara kami membeli mainan untuk kakak Q memang tidak bisa langsung mau langsung beli, semua harus direncanakan sebelumnya. Jadi, kakak Q meminjam mainan kawannya disana, yang entah bagaimana cara dia meminjamnya, yang jelas saat saya melihatnya, dia sudah tampak seperti foto di atas.
Mainan dari Kampoeng Dolanan
Selain permainan yang dibeli on the spot, ternyata disana juga disediakan permainan tradisional oleh Kampoeng Dolanan. Mulai congklak, hulahup, hingga enggrang juga tersedia disana. Cukup seru dimainkan oleh anak dan para ayah yang menunggu ibunya selesai di wisuda.
Permainan tarik tambang
Setelah acara wisuda berakhir, tim dari kampoeng dolanan masuk ke dalam ruangan dan mengajak seluruh peserta untuk bermain bersama. Beberapa permainan kami mainkan, tapi yang paling seru adalah bermain tarik tambang ibu-ibu. wkwkwk acara ini berhasil mengocok perut saya karena tertawa. Para ibu menarik tambang sambil teriak-teriak dan tertawa :D

Setelah permainan usai, kita makan bersama di ruangan, makanan berlebih dibungkus oleh beberapa peserta termasuk saya :D Wisuda kali ini sungguh membekas di hati saya, apalagi saya menemukan "jamu" yang dibawa peserta lain dan rasanya sungguh nikmat, Masya Allah... Senang sekali berada di kumpulan ibu-ibu ini.

Jumat, 26 Juli 2019

Liburan Seru di Dino Park, Jatim Park 3 Malang

Beberapa waktu lalu saat ibu saya berkunjung ke Surabaya, karena niat beliau ingin merasakan naik kereta api, jadi saya membawanya ke stasiun terdekat yaitu Malang. Sampai disana, kebetulan sekali bawa anak-anak ikut serta bersama kami, so sekalian saja kami mengunjungi Jatim Park 3, setelah 3 tahun lalu kami pernah berkunjung ke Jatim Park 2. Wahana bermain yang memang belum pernah saya dan anak-anak kunjungi.

Bundaran depan loket dan pintu masuk dino park
Dino Park - Jatim Park 3
Alamat : Jl. Ir. Soekarno No.112, Beji, Kec. Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur 65236
Jam Buka : 11.00 - 18.00
HTM : 75rb rupiah (anak di bawah 85cm GRATIS)

Transportasi

Jatim Park 3 ini sebenarnya berlokasi di kota Batu. Waktu itu kami menaiki transportasi kereta api dari kota Surabaya dan turun di stasiun baru kota Malang, lalu naik taksi online menuju Jatim Park 3. Jika kita berkendara dari stasiun baru kota Malang, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit - 1 jam perjalanan untuk sampai di Jatim Park 3 ini. Jarak tempuh kira-kira 13 km dan jika menggunakan taksi online biayanya sekitar 57rb-65rb, tergantung kondisi jalanan pada saat itu.

Sebenarnya lokasinya cukup dekat dari kota Malang, berhubung Malang merupakan kota kecil jadi cukup mudah untuk mencapai berbagai wisata di kota Batu. Oh iya, jika ingin mengunjungi beberapa tempat wisata di kota Batu, disana juga tersedia transportasi gratis yang disediakan oleh pengelola yang memang rutenya hanya menuju tempat-tempat wisata disana, misalnya Jatim Park 1, Jatim Park 2, Museum Angkut, dll.

Jatim Park 3

Saat baru memasuki lingkungan ini, rasanya kok agak mirip dengan memasuki Trans Studio. Jatim Park 3 ini sangat mirip dengan mall di bagian luarnya, terdapat beberapa tempat makan, gramedia, bahkan indomaret. Nah, di beberapa spot lokasi ini dijadikan tempat wisata oleh pengelola. Misalnya ada museum musik, infinite world, Fun Tech Plaza, The House of Zombie dan Dino Park yang saya kunjungi. Diantara semua wahana itu memang Dino Park lah yang paling besar dan paling cocok untuk anak-anak.

Harga tiket masuk untuk setiap wahana pun berbeda, bisa dibeli satu-satu sesuai wahana yang ingin kita masuki, atau bisa juga membeli tiket terusan yang tentunya lebih murah. Nah, jika kita hanya ingin berjalan-jalan di luar wahana, maka tidak dikenakan biaya apapun.

Dino Park

Lokasi Dino Park sendiri berada 1 level di bagian bawah mall Jatim Park 3 itu sendiri. Untuk turunnya kita harus menggunakan tangga manual atau eskalator. Cukup sulit jika membawa stroller, yang mana petugas satpamnya tidak begitu sigap membantu untuk membawa stroller. Seharusnya ada elevator yang tersedia untuk ibu yang membawa stroller atau kah bisa menggunakan eskalator lurus agar ibu-ibu yang menggunakan stroller atau kah bagi yang membawa orang tua berkursi roda bisa dengan mudah untuk memasuki wahana Dino Park ini.
Odong-odong dino

Harga naik odong-odong dino
Di bagian depan pintu masuk Dino Park ini terdapat wahana mini alias odong-odong berbentuk dino, bayarannya di luar harga tiket masuk. Lumayan menyenangkan untuk anak-anak sih menurutku, tapi lumayan ribet bagi orang tua karena petugasnya tidak menemani anak berkeliling dengan odong-odong itu alias self service.

Lokasi pembelian tiket juga berada di depan pintu masuk Dino Park, kebetulan waktu itu saya membeli tiketnya di Traveloka. Saya pikir harganya beda jauh, namun ternyata hanya beda 3rb rupiah saja :D Baiklah wkwkwk... Untuk loket tiket pun terpisah antara loket biasa dengan loket traveloka.
Loket biasa ada 5, loket traveloka hanya 1
Di pintu masuk Dino Park sebenarnya tertulis "Dilarang Membawa Makanan/Minuman dari Luar" tapi ternyata pas saya masuk dengan membawa tas ransel gede, kresek di bawah stroller dan juga ibu saya membawa tas lumayan besar, petugas pintu masuk sama sekali tidak memeriksa tas kami. Ya meskipun di dalam tas kami isinya hanya pakaian, tapi rasanya sayang juga tadi kok gak bawa cemilan dari luar ya hehehe..

Pas masuk, kita akan disambut oleh patung bergerak dinosaurus, kemudian disusul dengan rangka-rangka imitasi dinosaurus. Bagian sini masih indoor dan sejuk, setelah masuk kereta 5 jaman, ruangannya sudah mulai terbuka alias outdoor. Kalau mau naik kereta lima jaman ini, bisa kok bawa stroller. Nanti duduknya paling depan saja ya, soalnya di bagian depan ada space lumayan besar yang bisa ditempati stroller atau kursi roda. Jika tak ingin naik wahana ini, bisa di skip kok.
Kereta 5 Jaman
Jika tidak mau berjalan kaki mengitari dino Park ini, disana juga tersedia persewaan e-bike yang harganya 150rb per 3 jam, jika melebihi waktu yang ditentukan maka akan dikenakan biaya 65rb tiap jamnya.
Waktu itu kami hanya sewa 1 e-bike karena adek B didorong pake stroller
Menurutku, dino park ini lebih mirip dengan theme park karena di dalamnya ada begitu banyak wahana permainan untuk anak, hanya saja tema yang digunakan adalah dinosaurus. Selain itu disana juga terdapat banyak patung dinosaurus, baik yang diam membantu ataupun yang bergerak-gerak.

mirip play land gitu

ayunan model kapal bajak laut

Ayunan ini khusus untuk anak kecil

Bumper car
Waktu itu kami bermain disana hanya 3 jam saja, pas banget dengan jam pengembalian e-bike nya wkwkwk karena selain ibu saya capek, kasian adek B juga sampai tertidur di strollernya dan tentu saja theme park outdoor begini di siang hari panasnya minta ampun. Memang wajib bawa payung atau sekedar topi lebar.

Oh iya, disana juga menjual berbagai souvenir bertema dinoasurus. Nah, untuk lebih jelasnya bagaimana keseruan bermain di Dino Park Jatim Park 3, silahkan cek video di bawah ini ya....


Rabu, 24 Juli 2019

Puzzle Alfabet: Belajar Mengenal Huruf Dengan Permainan Kartu

Sudah berkali-kali saya mencoba mengenalkan alfabet pada kakak Q, tapi hasilnya luar biasa, doi sama sekali tidak tertarik. Mulai dari buku, flash card, alfabet kayu, sampai saya menempel alfabet di tangga rumah. Semuanya nihil, kakak Q ogah banget melirik alfabet itu. Apalagi kalau dikasih buku, disuruh duduk dan menulis. Doi bete banget dan segera ingin mengakhiri proses belajar alfabet.

Setelah sekian banyak cara yang saya gunakan agar kakak Q mengenal alfabet, akhirnya entah mengapa saya tiba-tiba kepikiran menggunakan kartu buatanku sendiri. Saya mengingat bahwa kakak Q adalah anak yang sangat senang bermain puzzle dan permainan sejenisnya. Jadi saya mendesign permainan kartu puzzle yang menyenangkan untuk kakak Q.
Puzzle Alfabet

Cara Cetak Puzzle Alfabet

File puzzle ini silahkan dicetak di atas kertas karton atau sejenis, saya menggunakan yang ukuran A4 dan dalam satu ukuran kertas A4 dicetak 4 kartu. Setelah itu lapisi bagian atas kertas dengan isolasi bening agar kartu lebih awet. Jika suka, bagian belakang kartu juga bisa dilapisi isolasi bening. Lalu potong pinggiran kartu, dan bagian tengah kartu yang sudah ada garis titik putih. Setelah itu, kartu siap dimainkan bersama.
Block semua item, lalu klik kanan dan pilih print
Pilih yang dilingkar merah, pastikan kertas di set ukuran A4

Cara Main Puzzle Alfabet

Cara mainnya sangat mudah, persis dengan permainan kartu joker yang waktu kecil sering saya sebut dengan permainan "monyet". Dimana satu kartu disimpan dan lainnya dibagikan kepada 2 atau lebih pemain, kemudian setiap kartu dicocokkan satu sama lain agar menjadi pas. Kartu yan dipegang tiap pemain yang tidak mempunyai pasangan, akan diambil bergantian satu per satu oleh lawan main. Pemain terakhir yang mendapatkan kartu tanpa pasangan adalah yang kalah. Nah, kartu tanpa pasangan ini sebenarnya pasangannya adalah "monyet" yang disembunyikan diawal.

Permainannya lumayan seru, sampai kakak Q berkali-kali minta main ini dan akhirnya sedikit demi sedikit doi mulai paham dengan alfabet. Dalam sehari, kami bisa bermain kartu ini sampai minimal 5x. Kakak Q doyan banget pokoknya.

Insya Allah dalam waktu dekat saya juga akan membuat puzzle huruf hijaiyyah, tergantung situasi dan kondisi saya. Doakan saya sehat selalu dan bisa membuat puzzlenya yaa.. Insya Allah pasti akan saya bagikan secara cuma-cuma.

Oh iya, kartu ini memang saya design tanpa ada gangguan lain misalnya kartun dan sejenisnya. Memang sengaja di design dengan tampilan polos, agar anak-anak lebih fokus pada huruf-hurufnya.

Senin, 22 Juli 2019

Berapakah Biaya Homeschooling?

Sewaktu mengatakan bahwa kakak Q saya homescooling-kan, beberapa orang berkata, "wah, kalo homeschooling tuh harganya mahal..." beberapa juga berkata, "kamu gak punya uang ya? sampai harus homeschooling". Well, keduanya sama sekali tak paham tentang homeschooling, karena memang homeschooling masih begitu asing di masyarakat kita.
Gambar: cityclub

Homeschooling adalah Keluarga, Bukan Sebuah Lembaga

Pertama, Homeschooling bukanlah lembaga, melainkan sebuah keluarga. Mungkin pernyataan ini sangat cocok bagi mereka yang sering berkata bahwa homeschooling itu mahal. Mungkin juga alasan mereka berkata mahal karena ada begitu banyak lembaga yang memberikan embel-embel homeschooling di depan namanya. Ambil saja contoh homeschooling kak set* dan homeschooling primaga*a.

Mereka memberi embel-embel homeschooling pada lembaganya dan mematok harga yang fantastis bagi anak yang ingin menjalani "homeschooling" disana. Sebut saja lembaga kak se*o yang menarik biaya pendaftaran kurang lebih 50jt di awal, belum termasuk biaya bulanan yang juga biayanya tidak kalah fantastis. Wajar sekali beberapa orang mengatakan jika homeschooling mahal, jika mereka mendapatkan informasi dari lembaga ini.

Padahal, di seluruh penjuru dunia ini yang namanya homeschooling merupakan pendidikan yang dilakukan di rumah. Namanya saja "home" yang berarti proses pendidikan ini utamanya dilakukan di rumah. Jika masih menitipkan anak pada sebuah lembaga, namanya tetaplah sekolah, bukan homeschooling. Meski mereka hanya masuk beberapa kali dalam seminggu dan tidak seketat sekolah formal pada umumnya, mereka tetaplah sekolah, atau lebih tepatnya sekolah fleksibel. Mereka berada di antara sekolah dan homeschooling.

Fleksibilitas Biaya Homeschooling

Kedua, karena homeschooling merupakan pendidikan berbasis keluarga, menyebabkan biaya yang keluar sangat fleksibel dari masing-masing keluarga. Sama halnya dengan biaya makan sebuah keluarga, pasti berbeda dengan keluarga lainnya. Begitupun dengan homeschooling, biaya yang dikeluarkan setiap keluarga berbeda, tergantung kebutuhan dan keinginan keluarga tersebut.

Sebagai contoh, keluarga si A ingin menerapkan metode montessori dalam kegiatan home-schooling anaknya. Maka otomatis keluarga A akan mengeluarkan biaya untuk menyiapkan segala perlengkapan montessori untuk anaknya. Sementara keluarga B ingin menerapkan metode unschooling pada anaknya, dimana metode ini tidak berpatok si anak harus melakukan apa dengan cara apa. Semua bergantung kondisi si anak saat itu ingin belajar apa. Maka tentu keluarga B akan menyiapkan apa saja yang dibutuhkan si anak untuk memenuhi kebutuhan belajarnya saat itu juga.

Saya kembali menganalogikannya dengan biaya makan. Misalnya keluarga A memilih makan setiap hari di luar rumah, sementara keluarga B memilih makan setiap hari dengan masakan rumah. Tentu biaya yang keluar berbeda antara keluarga A dan keluarga B. Nah, begitu juga dengan homeschooling. Biayanya sangat tergantung dengan kebutuhan dan keinginan setiap keluarga, berbeda satu dengan yang lainnya.

Jadi, Homeschooling Mahal atau Murah?

Seperti yang saya paparkan di atas tadi, bahwa biaya homeschooling bisa jadi mahal atau pun murah. Kembali pada kondisi masing-masing keluarga. Bisa menjadi mahal jika orang tua memanggil tutor untuk membimbing anak dalam proses belajar, membeli peralatan dan perangkat belajar dari luar negeri, melakukan kegiatan belajar di luar yang membutuhkan biaya besar.

Namun, biaya homeschooling juga bisa menjadi murah jika orang tua bisa mengakali perangkat belajar anak dengan menggunakan bahan yang tersedia di sekitar rumah, menggunakan buku-buku bekas atau bahkan meminjam buku dari perpustakaan daerah, memanfaatkan internet.

Untuk kegiatan homeschooling kakak Q sendiri, kami menggunakan metode unschooling yang mana kakak Q bebas ingin belajar apa saja tanpa mematok kurikulum. Jika hari ini ia ingin belajar berhitung, maka kami akan menemaninya dan tidak memaksa untuk belajar yang lain. Kami juga tetap membelikan beraneka ragam permainan edukatif, buku-buku baik baru/impor/bekas, kami juga tetap menggunakan internet dan perangkat gratis yang tersedia di sekitar rumah. Bahkan kami juga melakukan kegiatan outdoor yang membutuhkan biaya. Oh iya, untuk minat dan bakat, saat ini kakak Q masih mengikuti latihan gymnastic. Total biaya yang keluar untuk "homeschooling" kakak Q berkisar antara 900rb-1,2jt setiap bulannya, sudah termasuk biaya gymnastic, transportasi, beli mainan, buku, bahan praktek, dll. Belum termasuk biaya travelling jika kami melakukannya dalam sebulan.

Mahal? Tergantung kondisi keluarga masing-masing lagi ya, karena seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa biaya homeschooling itu ibarat biaya makan. Oh iya, untuk saat ini kakak Q belum mendaftar di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) karena syarat untuk mendaftar disana adalah 7 tahun, sementara kakak Q baru berusia 5 tahun. Jika sudah mendaftar maka tentu saja biaya yang keluar akan lebih. Tapi tentu saja mendaftar di PKMB adalah termasuk opsi, boleh ya dan boleh tidak. Bahkan beberapa keluarga baru mendaftar di PKBM saat akan mengikuti ujian paket.


Serunya Naik Kereta Api Ekonomi Mutiara Selatan dari Surabaya ke Malang

Seminggu yang lalu, kebetulan ibu saya berkunjung ke Surabaya. Beliau memang telah merencanakan ini jauh hari sebelumnya. Katanya, sih beliau ingin menengok sang cucu sekaligus merasakan naik kereta api untuk pertama kalinya. Mengingat kondisi ibu saya yang sudah tua serta saya juga membawa anak-anak tanpa suami, maka saya memutuskan liburan ke Malang saja dengan menggunakan transportasi kereta api yang mana hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam saja dari stasiun wonokromo ke stasiun Malang kota baru.

Seperti biasa, saya memesan tiket kereta api melalui aplikasi Traveloka. Sebenarnya kita juga bisa memesan langsung di stasiun, tapi agar tidak ribet dan lebih jelas, saya memutuskan memeasan melalui online saja. Harga untuk kereta api dari Surabaya ke Malang kelas ekonomi adalah 40rb rupiah per orang, dimana bayi tidak perlu membayar dan tentu tidak juga mendapatkan kursi alias dipangku. Tapi bukan berarti si bayi tidak mendapatkan tiket, kita tetap memesan tiket untuknya dengan pilihan kursi untuk bayi.

Tiket KA Mutiara Selatan kelas Ekonomi
Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama saya menggunakan kereta api menuju malang. Pada tahun 2016 saya juga sempat menggunakan transportasi ini ke Malang dari Surabaya, tapi waktu itu saya menggunakan kereta api penataran yang harganya cuma 12rb rupiah saja. Tapi maklum saja ya, dengan harga yang cuma 12rb, jangan meminta kondisi kereta yang sebanding dengan harga 40rb rupiah :D
Beli roti sebelum berangkat
Waktu itu, kami berangkat dari stasiun wonokromo dan ini adalah kali pertama juga bagi saya memasuki stasiun ini. Sebelumnya saya naik kereta api dari stasiun gubeng. Pas tiba di stasiun wonokromo, saya tidak menyangka bahwa disini sangat sepi penjual makanan. Kami bekeliling dan hanya mendapati satu penjual saja, yaitu Roti O di bagian depan stasiun. Harga rotinya juga lumayan mahal menurutku, per pcs dihargai 12rb rupiah dan coklat panasnya dihargai 30rb rupiah :D Bertiga pesan masing-masing 1 roti dan coklat panas, harganya sudah lebih mahal daripada tiket kereta apinya. Saran saya lebih baik beli snack dari rumah saja sebelum mampir ke stasiun ini, karena disini tidak ada alfamart atau indomaret.
Jalan Masuk Stasiun Wonokromo
Kami menggunakan transportasi taksi online menuju stasiun Wonokromo dan kami diturunkan di depan stasiun yang ada jalan khusus bagi penumpang stasiun yang turun di pinggir jalan. Lumayan sempit, hanya cukup berjalan 2 orang berdampingan saja. Tak tahu ya jika kita turun di parkiran mobil seperti apa.
Ruang Tunggu Stasiun Wonokromo
Setelah check in, kami memasuki ruang tunggu kereta api yang menurutku lumayan bersih. Disana juga ada semacam pengamen yang sudah di upgrade karena menggunakan speaker dan mic, hanya saja saya lupa memotretnya. Lumayan menggaggu sih menurutku.
Kereta Api Mutiara Selatan kelas Ekonomi
Nah, pas masuk di dalam kereta, rasanya kurang lebih hampir sama dengan kereta api kelas eksekutif yang pernah saya naiki dari Jakarta ke Bandung. Di kereta api kelas ekonomi Mutiara Selatan ini, juga memiliki kursi yang tiap deretnya hanya 2 orang saja, yang membedakan hanya luas kursinya saja. Pada kelas ekonomi, kursinya tidak begitu luas, tak ada bantal dan tak ada tatakan meja untuk makan, space kaki juga terbatas.
Space kaki kereta api kelas ekonomi
Beruntungnya naik kereta api saat bukan musim liburan, banyak kursi yang kosong. Bahkan di sebelah saya tidak ada orang. Jadi adek B juga ikutan punya kursi. Luamayan lah bisa dipake rebahan sama adek B. Pas pulang malah, kakak Q pindah ke deret belakang untuk tidur sambil selonjoran kakinya.

Saya sudah mendokumentasikan perjalan kami selama di kereta api menuju Malang dalam bentuk video. Silahkan ditengok ya!



Selasa, 16 Juli 2019

Menghirup Udara Malam di Pasar Ikan Pabean Surabaya

Setahun sudah saya berdomisili di kota Surabaya dan baru malam ini saya berhasil mengunjungi pasar ikan di kota ini. Selama ini suami saya yang sering belanja di pasar ikan. Alasannya simple, sejak kecil saya memang tidak terbiasa dengan kondisi pasar karena tidak pernah secara khusus diajak ke pasar (apalagi pasar ikan). Jadi saya merasa kurang nyaman berada di dalam pasar ikan. Nah, malam ini sekalian menunggu waktu tidur, kami berjalan-jalan mengunjungi pasar ikan sambil tentu saja membeli ikan untuk persediaan makanan kami.

Penampakan Pasar Ikan Pabean
Pasar Ikan Pabean Surabaya
Jl. Panggung, Nyamplungan, Kec. Pabean Cantian, Kota SBY, Jawa Timur 60162

Sejak tinggal di Kendari dulu, kami memang sudah terbiasa belanja ikan di pasar ikan. Kalau di Kendari dan Makassar namanya pelelangan ikan dan lokasinya tepat di pinggir laut. Jadi ikan yang baru ditangkap langsung dijual. Sementara pasar ikan pabean di Surabaya, letaknya cukup jauh dari laut. Jadi butuh waktu lagi untuk mengangkutnya dari laut untuk dipasarkan.

Awal pindah di Surabaya, kami membeli ikan di pasar dekat rumah. Tapi dasar ya kami sudah terbiasa makan ikan segar yang baru ditangkap di laut, pas dikasih ikan yang sudah bermalam ya rasanya gak mau turun di tenggorokan. Jadi, suami yang waktu itu memutuskan naik gojek pagi-pagi sekali menuju pasar ikan pabean dan pulang dengan tangan hampa karena ternyata pasarnya belum buka wkwkwkw.

Berbeda dengan pasar ikan di Makassar dan Kendari yang buka pagi bahkan subuh, ketika siang sudah banyak yang pulang. Sementara di pasar ikan pabean Surabaya, pasarnya baru buka siang hari sampai subuh. Jadi setelah itu, suami baru belanja ikan di pasar sana sepulang bekerja, sore atau malam hari.
Bagian luar pasar ikan pabean
Nah, karena pasar ikan ini letaknya lumayan jauh dari laut, jadi penampakan pasarnya sangat mirip dengan kompleks pasar biasa di Makassar dan Sulawesi. Pasar ikan pabean Surabaya di sisi kanan kirinya terdiri dari bangunan ruko model lama dan jalanannya terbuat dari paving block. Tak ada angin sepoi sepoi yang menyambar ujung jilbab seperti pelelangan ikan di kampungku yang pasar ikannya berada di pinggir laut :D
Abati pilih ikan, Qifaya sibuk pegang ikan juga :D
Katanya sih, disini tuh pasar ikan yang paling besar. Jadi penjual-penjual yang ada di komplek perumahan, yang keliling dan di pinggir jalan itu semuanya beli disini. Ya aku sih percaya aja sama suami karena memang harga ikan disini lebih murah dibandingkan dengan ikan di tempat lain. Tapi meski menjadi pusat perbelanjaan ikan dan makhluk laut lainnya, bukan berarti disini ikannya segar semua. Harus tetap pintar-pintarnya memilih, apalagi tadi saya menemukan penjual nakal yang kasih pewarna makanan di kerang jualannya (Kalau di Makassar namanya tude, di Kendari namanya pokea, Surabaya belum tahu namanya apa).
Kerang diberi pewarna agar lebih menarik pembeli
Mengunjungi pasar ikan merupakan hal baru bagi adek B, doi jadi auto semangat pas lihat ikan besar wkwkwk tapi emmaknya juga semangat sih soalnya terakhir mengunjungi pasar ikan kira-kira 2-3 tahun yang lalu sebelum akoh hamil anak kedua.
Ikannya panjang banget
Mengunjungi pasar ikan juga bisa sekalian ajar anak-anak untuk melihat berbagai jenis hewan laut, bahkan menyentuhnya langsung meski dalam kondisi ikannya tak bernyawa lagi. Disini juga anak-anak belajar melihat proses transaksi jual beli. Mereka juga belajar profesi berniaga, belajar tawar menawar, dan tentu saja bersenang-senang.
Wajah bahagia ketemu banyak ikan
Pas mau pulang, saya melihat penjual ikan asin. Langsung deh auto pegang baju suami minta dibelikan ebi. Harga per kg ebi 40rb rupiah, suami minta 1/4 kg saja dikasih harga 15rb per kg. Saya yang tak mau rugi, bilang "mending 1/2 kg, 20rb kan ya?". Pas ditimbang sama bapak penjualnya, saya kaget karena ternyata 1/2 kg itu buaaanyak banget! wkwkwkw
Kedai ikan kering
Setelah mendapatkan 2 kg ikan dan 1/2 kg ebi, kami akhirnya memutuskan untuk balik ke rumah, melihat waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 yang mana anak-anak sudah harus tidur karena besok harus menjemput neneknya di pelabuhan. 

Nah, sekian jalan-jalan di pasar ikan pabean Surabaya, ya! Tertarik mengunjungi pasar ikan ini? Ada banyak jenis ikan loh disana. Mulai dari ikan yang sering kita makan sampai ikan yang baru pertama kali kita lihat. Eh tapi kayaknya ikan piranha gak ada dijual disana deh. Terakhir, ada ole-ole foto kakak Q dengan wajah bahagia banget tapi mami ambil fotonya kurang bagus, nih.
Anak kicik senang bangeeettt