Senin, 01 April 2019

Bunda Sebagai Agen Perubahan

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE
Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Berikut telah saya rangkum social venture saya yang didapatkan dari passion ditambah dengan emphaty.



Banyaknya kasus kekerasan pada anak di lingkungan rumah, kurangnya kepercayaan diri para ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya, serta maraknya pendelegasian pendidikan anak bahkan sejak usia dini (bahkan ada yang menyekolahkan anak sejak belajar merangkak), membuat hati saya terketuk. Saya merasa prihatin kepada para ibu yang merasa minder membesarkan anaknya, terlalu mendengar omongan orang hingga tidak bisa percaya lagi pada kemampuannya sendiri, bahkan jika si ibu telah mempelajari tentang ilmu parenting, namun masih juga banyak yang tidak percaya diri untuk menjalankannya.

Saya ingin menjadi influencer bagi para ibu-ibu, mengabarkan berita baik bahwa mengurus anak tidak seberat itu, bahwa pendidikan anak yang terbaik adalah dari rumahnya, bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak dan tugas ini sangat mulia,

Sekian.

Senin, 25 Maret 2019

Misi Hidup dan Produktivitas

Berkaitan dengan tugas sebelumnya disini, di postingan kali ini akan membahas tentang misi hidup dan produktivitas sebagai seorang ibu. Kali ini saya akan melanjutkan tentang hal-hal teknis berkaitan dengan postingan sebelumnya. Diantara ke-5 hal yang saya bisa dan sukai untuk dilakukan, saya memilih satu hal untuk dikembangkan, yaitu belajar ilmu tentang pengasuhan dan pendidikan anak.

Berikut BE DO HAVE yang harus saya lakukan terkait poin tersebut:

Mental apa yang harus dimiliki (BE)

Berhubung saya memilih belajar ilmu pengasuhan dan pendidikan anak, saya rasa bahwa saya harusm memiliki mental yang kuat, tegas namun sabar dan tetap konsisten dalam menjalankan pengasuhan dan pendidikan anak. Hal ini karena tingkat stress saya cenderung lebih mudah meningkat jika menghadapi anak-anak, karena itu saya harus lebih sabar lagi. Namun, saya juga harus tetap menjadi pribadi yang kuat, tegas dan konsisten agar ilmu yang saya jalankan bisa menghasilkan dampak yang positif.

Apa yang harus dilakukan? (DO)

Untuk mendapatkan ilmu tentang pengasuhan dan pendidikan anak, saya harus lebih banyak menggali ilmu, entah itu dengan membaca buku, mengikuti seminar, webinar, belajar dari agama tentunya juga sangat perlu. Selain itu saya juga perlu menuliskan rancangan apa yang harus saya lakukan untuk pengasuhan dan pendidikan itu sendiri, mencatat apa saja yang telah dilakukan, apa yang akan dilakukan dan apa yang perlu diperbaiki dalam proses menjalankannya.

Apa yang harus dilakukan jika telah memiliki apa yang diharapkan? (HAVE)

Jika saya telah mendapatkan apa yang telah saya harapkan, saatnya saya action dan mengambil langkah pertama untuk menajalankannya. Sejauh ini sebenarnya saya telah melakukan apa yang telah saya tulis di atas. Mungkin ke depannya saya tinggal observasi apa saja yang telah saya lakukan dan menuliskan apa saja yang perlu diperbaiki.

Aspek Dimensi Waktu

Lifetime Purpose, dalam kurun waktu kehidupan saya ingin mencapai satu titik dimana anak-anak saya bisa sepenuhnya menjadi manusia yang beradab dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia. Sebab, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289), sumber muslimah.or.id. Disamping itu, saya juga ingin agar ibu lainnya bisa mencetak generasi yang sama.

Strategic Plan, dalam waktu 5 - 10 tahun ke depan saya ingin agar anak-anak saya, terutama anak pertama sudah menguasai keterampilan hidup, menjadi remaja yang takut kepada Allah, sayang keluarga dan mulai menebar manfaat kepada orang lain.

New Year Soluction, tahun depan saya berharap agar dari ilmu pengasuhan dan pendidikan anak yang sedang dan akan saya miliki, anak-anak saya bisa hidup lebih bahagia sehingga mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas. Saya ingin anak-anak saya jatuh cinta dengan belajar hal baru.

Semua itu tidak akan bisa dimulai tanpa saya harus mengubah diri saya sendiri, dan perubahan itu akan saya mulai dari mindset saya, bahwa saya bisa menjalankan ilmu pengasuhan dan pendidikan anak dengan baik dan sesuai kebutuhan anak-anak saya.

Sekian.


Senin, 18 Maret 2019

Menuju Bunda Produktif

Finally, sampai juga di NHW 7 di Institut Ibu Profesional. Tugas kali ini adalah bagaimana kita menemukan bakat sejati kita, melalui pemetaan bakat dengan bantuan temubakat.com  Baiklah langsung saja ke hasil yang saya peroleh.

Hasil temubakat.com
FANY FEBRIANY, anda adalah orang yang suka dengan angka dan data  anda kurang yakin akan sesuatu yang sifatnya intuitif kecuali kalau anda juga punya bakat lainnya yang intuitif, selain memiliki sifat analitis juga banyak idea, selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang, senang mempelajari latar belakang, senang olah pikir, menyendiri, senang memotivasi dengan berbagai cara ada yang melalui sifat periangnya ada yang melalui sifat empatinya ada juga karena selalu ingin memajukan orang lain.

Berdasarkan hasil yang saya peroleh di atas, saya merasa ada kecocokan sebanyak 100% wkwkwk kok bisa ya? Namun, saya tetap harus membuat kuadran aktifitas untuk konfirmasi lebih lanjut.

Kuadran Aktifitas
Nah, di atas adalah kudran aktifitas yang telah saya tuliskan. Saya mencoba memetakan berbagai hal yang saya suka dan tidak sukai, bisa dan tidak bisa. Saya mencoba untuk mengaitkannya dengan tugas-tugas sebelumnya dan hasilnya adalah yang tertulis di gambar kuadran aktifitas.


Senin, 11 Maret 2019

Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Akhirnya sampai juga ke NHW 6 di Institut Ibu Profesional. Meski deadline pengumpulannya sudah dekat, tapi it's never too late to write something good. Tugas kali ini, seperti judul postingan adalah bagaimana saya belajar menjadi manajer keluarga handal. Caranya? Mudah, yaitu dimulai dari mengatur waktu yang sangat berharga ini. 


Aktifitas Penting / Tidak Penting
Jujur saja, setelah membuat daftar penting dan tak penting ini, saya melek sekali bahwa waktu saya memang banyak sekali habis di tiga hal di atas, bermain game, kepo postingan orang dan cari-cari barang di marketplace yang bahkan tidak mau dibeli wkwkwk wasting time banget! Kemarin-kemarin sadar sekali tentang ini, tapi sama sekali tak pernah terpikirkan untuk mengakhirinya. Jika ada waktu luang, pasti deh mulai lagi. Berikut jadwal yang saya susun.

Jadwal Harian

Waktu di atas adalah jadwal normal harian, diluar waktu mendesak seperti sakit, harus keluar rumah, mudik, atau hal mendesak lainnya yang tak bisa ditinggalkan. Berhubung anak pertama saya saat ini sedang fokus di bidang gymnastic, jadi saya meluangkan waktu di hari rabu dan sabtu untuk mengantarnya latihan. Hal ini di luar jadwal latihan tambahan dan jadwal perlombaan.

Untuk kandang waktu, saya memilih waktu dinamis saya di pukul 6 pagi hingga 6 sore. Jadi di waktu ini saya memperbanyak jam terbang saya.

Sepertinya itu saja yang ingin saya tuliskan, sekian postingan kali ini.

Rabu, 27 Februari 2019

Learning Design - Membuat Design Belajar Untuk Diri Sendiri

Baru saja saya selesai (telat) mengumpulkan tugas NHW 4, berhubung anak-anak lagi adem sama suami, saya sekalian mau mencoba mengerjakan NHW 5 ini. Oh iya, awalnya saya bingung nih bagaimana mengerjakan NHW 5 ini. Tapi terima kasih google, saya menemukan tugas NHW mbak Amaliah Rahmah dan saya mencoba untuk membuat hal yang mirip, tinggal menyesuaikan dengan misi saya sebelumnya.

Design Pembelajaran V1
Learning design ini diberikan nama v1 karena akan berubah sesuai kebutuhan di masa mendatang. Diawali dengan peran saya di dunia ini yaitu sebagai hamba (Allah), sebagai anak, ibu dan istri (keluarga) dan sebagai salah satu anggota masyarakat. Dalam gambar di atas saya memberikan anak panah timbal balik, berarti apapun yang saya lakukan, maka akan mendapatkan timbal balik.

Adapun pondasi yang harus saya bangun dalam proses belajar, harus berdasarkan Alqur'an dan sunnah, fitrah dan ilmiah. Saya tidak mau proses belajar saya terganggu oleh hal diluar pondasi tersebut, misalnya berdasarkan katanya orang tanpa dasar ilmiah yang jelas. Sehingga saya bisa mendapatkan hasil yang sesuai harapan saya.

Sementara itu, topik pembelajaran yang ingin saya ambil, sesuai dengan misi saya di tugas nhw 4 sebelumnya, saya fokus di nutrisi anak, pendidikan anak usia dini dan sekolah. Metode yang saya gunakan bisa melalui media baca, menonton video, mengikuti seminar lalu terakhir harus praktek sendiri. Alat pembelajaran saya menggunakan buku bacaan, internet, webinar dan seminar.

Nah, saya rasa sekian dulu postingan tentang design pembelajaran saya.



Mendidik Anak Dengan Kekuatan Fitrah

Tidak terasa sudah memasuki Nice Homework 4 di perkuliahan Intstitut Ibu Profesional Batch 7 ini. Rasanya makin lama saya makin tertatih-tatih mengerjakan tugasnya. Selain karena tingkat kesulitannya yang makin lama makin tinggi, kondisi keseharian plus tubuh juga membuat saya harus mencuri-curi waktu untuk mengerjakan tugas ini.

Baiklah, tak usah panjang lebar, pada NHW 1 saya pernah menulis bahwa saya ingin mendalami jurusan ilmu kehidupan di departemen kesabaran. Yah, i know it was weird. Sepertinya semua orang butuh itu. Setelah merenung beberapa waktu, saya merasa ilmu kehidupan disini adalah branding diri ya? Seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang di kelas, yang saya lupa siapa, memberikan gambaran tentang Tintin Rayner, yang sukses dengan masak-masaknya. Okay, I got it.

Jika memang ini tentang branding diri, sepertinya saya benar-benar ingin membranding diri saya dengan "seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya dengan baik dan benar". Mulai dari makanan yang mereka makan, keputusan yang saya ambil selama proses membesarkan mereka, pendidikan mereka, sampai hal detail lain selama itu berhubungan dengan proses membesarkan anak-anak saya.

Lalu, apa kabar dengan NHW 2 tentang checklist harian? Well, jujur diantara semua yang pernah saya tulis, checklist terberat yang belum bisa saya laksanakan sampai detik ini adalah membaca buku. Saya belum menemukan celah waktu dimana saya bisa pergunakan untuk membaca buku, karena saya adalah seorang ibu rumah tangga tanpa ART dan nanny serta belakangan ini kondisi kesehatan saya dan anak-anak tidak begitu baik. Selain itu, sholat tepat waktu pun masih lumayan sulit saya laksanakan di beberapa waktu misalnya dhuhur dan ashar.

Misi hidup: memberikan inspirasi ke ibu lain bahwa membesarkan anak itu menyenangkan, termasuk menyediakan gizi yang cukup untuk mereka juga menyenangkan dan tak perlu mahal.
Bidang: Nutrisi dan Pendidikan Anak
Peran: Inspirator.

Adapun ilmu-ilmu yang saya perlukan untuk menjalankan hidup seperti yang saya sebutkan di atas adalah, sebagai berikut:

  1. Ilmu Ibu Profesional : Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, Bunda Shaleha.
  2. Ilmu Nutrisi Anak : Gizi apa saja yang diperlukan untuk anak.
  3. Ilmu Homeschooling : Usia dini dan usia sekolah.
Milestone yang saya tetapkan untuk memandu perjalanan misi hidup saya dimulai dari KM 0 di tahun 2019, yaitu di usia saya yang ke 29 tahun.
KM 0 - 1 (2019) : Mempelajari seputar nutrisi anak dan pendidikan anak usia dini, mempraktikkannya dengan memberikan nutrisi bagi anak-anak saya dan pendidikan usia dini bagi mereka.
KM 1 - 2 (2020) : Menjaga terus nutrisi bagi anak-anak saya dan terus meneruskan pendidikan anak usia dini bagi anak-anak saya.
KM 2 - 3 (2021) : Menjaga terus nutrisi bagi anak-anak saya dan mempelajari pendidikan anak usia sekolah. Memulai mendaftarkan anak pertama saya di PKBM untuk memasuki homeschooling usia sekolah. Terus menjadi praktisi homeschooling.
KM 3 - 4 (2022) : Tetap menjaga nutrisi anak-anak saya, membuatnya bahagia belajar dan terus menjalankan peran sebagai ibu dan sahabat bagi anak-anak saya.

Untuk koreksi checklist NHW 2, saya harus menambahkan membaca buku tentang nutrisi dan pendidikan anak.

Sekian postingan kali ini yang sebenarnya sudah sangat terlambat untuk dikumpulkan. 


Senin, 18 Februari 2019

Menemukan Potensi Diri Sendiri Sebagai Seorang Ibu dan Istri

Gambar: lynda.com
Sebelumnya saya telah membahas tentang menggali potensi anak, nah sekarang saatnya menggali potensi diri sendiri, khususnya potensi sebagai seorang ibu dan istri. Seperti yang sebelumnya saya jelaskan bahwa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. Potensi bagi saya adalah sesuatu yang membuat kita bahagia mengerjakannya dan merasa sedih ketika tidak melakukannya. 

Jujur saja, sejak jaman kecil impian saya adalah menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anak saya dengan baik. Terdengar lucu karena seorang anak perempuan memiliki impian seperti itu, dimana anak-anak lain menginginkan menjadi dokter. Tapi saya tidak pernah mengakuinya waktu itu, karena saya sering didoktrin oleh orang tua agar menjadi pegawai.

Saya bahagia mengurus anak-anak saya dan saya bersedih ketika sedang berada di titik terendah diri saya dan kemudian melampiaskan kesedihan pada anak-anak. Saya bahagia mempelajari berbagai ilmu tentang pendidikan anak dan saya suka mempraktekkan serta menuai hasil yang memuaskan karenanya. Seperti waktu sebelum hamil anak kedua, saya mempelajari bagaimana agar kakak sayang pada adiknya, lalu saya mempraktekkannya dan kemudian sekarang alhamdulillah anak pertama saya begitu sayang dan peduli pada adiknya. Ada ataupun tidak ada orang lain bersama mereka. Tidur ataupun sedang terjaga, kakak selalu berusaha melindungi sang adik.

Selain itu, saya juga bahagia ketika saya memasak, khususnya untuk anak-anak saya. Jujur saja, kebahagiaan memasak ini saya temukan baru-baru ini. Sebelumnya saya sangat jarang memasak dan sering memesan makanan dari luar. Alasannya sederhana, karena saya terlalu sibuk dengan diri saya sendiri, saya memenuhi permintaan orang tua untuk melanjutkan kuliah dan tetap berpenghasilan, jadi saya bekerja mendalami dunia dropship sampai waktu itu penghasilan saya bisa 20-30jt per bulan. Belum lagi tugas-tugas mahasiwa magister yang aduhai. Disitulah saat anak pertama saya kecanduan berat gadget dan tv. Saya membuat orang tua saya bangga tapi sekaligus mengorbankan anak saya.

Sejak pindah ke Surabaya, saya jadi sangat bahagia memasak di rumah. Saya bisa meninggalkan semua pekerjaan lain, tapi tidak dengan memasak. Saya bisa merasa berdosa ketika tidak sempat memasak dan harus memesan makanan di luar. Saya bahagai melihat anak-anak saya lahap memakan hasil jerih payah saya di dapur. Saya bahkan rela tidak tidur semalaman mencari resep dan bangun keesokan paginya untuk memulai menggoyang dapur.

Saya sadar bahwa orang lain di lingkungan saya, termasuk dalam lingkup keluarga sendiri, banyak yang menganggap rendah pilihanku menjadi ibu rumah tangga. Mereka seolah beranggapan bahwa percuma saya bersekolah tinggi karena ujung-ujungnya saya hanya berada di rumah. Ketika saya bertanya balik, "bagaimana dengan anak-anak saya jika saya bekerja di luar rumah?" jawaban mereka benar-benar membuat saya geram, katanya saya bisa memanggil orang untuk menjaga anak-anak saya. like seriously

Saya bahkan tidak tenang ketika suami yang menjadi anak-anak, yang notabene adalah ayah kandung mereka dan satu-satunya manusia yang terkoneksi dengan pola pengasuhan saya. Lalu bagaimana bisa saya percaya dengan orang lain yang tiba-tiba datang mengurus anak saya? No way!

Saya sadar banyak yang berharap lebih padaku, berharap saya bekerja di ranah publik karena kemampuan saya bisa dibilang lumayan baik. Saya bahkan pernah mendapat tawaran bekerja sebagai dosen, but no thanks. Saya memilih mengajar anak-anak saya sekarang, tidak tahu nanti kalau mereka sudah besar dan hidup mandiri. Mungkin saya akan terjun ke ranah publik?

Setelah itu saya merenung lama, sejak anak pertama saya usia 2 tahun. Waktu itu saya benar-benar galau karena orang tua saya memaksa agar saya bekerja di luar rumah, sementara suami saya tidak pernah ridho jika saya bekerja di luar rumah, serta saya pun tidak tega meninggalkan anak. Hampir setiap hari sejak saat itu saya merenung setiap malam, saya memandangi anak saya dan bertanya dalam hati, "apa jadinya kamu nak, jika saya menuruti keinginan orang tuaku?" saya tidak sampai hati tiba-tiba pulang ke rumah dan melihatmu sudah besar, melihatmu jauh dariku. Saya tidak mau.

Mereka mengatakan bahwa kemampuan saya selama ini sia-sia, termasuk ilmu yang telah saya timba selama ini. Tapi saya tidak pernah merasa semuanya sia-sia, saya merasa bahwa Allah menunjukkan jalan yang dulu itu agar saya bisa sampai ke titik ini, agar saya bisa membesarkan anak-anak hebat. Allah telah mempersiapkanku sedemikian rupa agar bisa menjadi sekolah pertama yang berkualitas bagi anak-anakku, dan saya bangga mengatakan ini.

Sejak awal pernikahan, kami sudah memutuskan untuk merantau. Jujur saja, ketika saya pulang ke kampung halaman bersama anak-anak, pasti selalu saja ada konflik internal antar keluarga perihal metode pengasuhanku pada mereka. Selalu ada bentrok dan saya termasuk tipe orang yang tegas dalam mendidik anak. Jika saya bilang tidak, maka tidak akan terjadi. Karena itu anak pertama saya sudah tahu betul, sekarang jika saya bilang tidak maka dia tidak akan meminta lagi. Dia tahu bahwa meski merengek dan menangis, dia tidak akan pernah mendapatkannya.

Sekarang saya sadar, mengapa Allah membawa kami begitu jauh dari keluarga besar. Allah mau kami mendidik anak-anak kami dengan baik. Jujur saja, di keluarga besar kami itu masih selalu menyalahkan lantai ketika anak jatuh. Sementara kami, tidak pernah menyalahkan apapun dan siapapun atas ketidakhati-hatian si anak. Suami saya juga tidak mau anak-anak bernyanyi, karena itu kami tidak pernah mengajarinya menyanyi. Kami juga tidak pernah berkata negatif pada anak, misalnya mengatakannya bodoh, jelek, nakal dll. Kami lebih memilih diam ketika sedang emosi pada anak, daripada harus mendoakannya seperti itu. Sementara di keluarga besar kami, ketika anak berlarian maka akan disebut nakal. Ketika anak tidak tahu sesuatu maka akan disebut bodoh. Tidak adil, sangat tidak adil memberikan penilaian seperti itu pada manusia yang baru mengenal dunia lebih singkat daripada waktu menyicil kendaraan.

Suami saya sejak anak pertama kecil ingin agar anak pertama kami berjilbab, sementara dulu setiap kami pulang kampung, anak kami sering disindir jelek karena memakai jilbab. Tapi alhamdulillah anak pertama sudah mengerti kenapa harus memakai jilbab. Intinya, banyak bentrok dalam pendidikan anak versi saya dan keluarga besar.

Sekarang saya mengerti mengapa Allah menjauhkan kami dari keluarga besar. Allah ingin agar kami memutus kezaliman yang dilakukan generasi sebelumnya. Allah ingin agar generasi di bawah kami menjadi generasi yang sebaik-baiknya. Karena itu Allah memberiku impian menjadi ibu rumah tangga, karena itu juga Allah membuatku senang mempelajari dan mempraktekkan ilmu parenting. Serta membuatku bahagia memasak karena dari dapurlah seorang anak manusia bisa tumbuh sehat dan gagah.


Menggali Potensi Anak Sejak Usia Dini

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. Berarti ketika kita berbicara tentang potensi anak, kita sedang diharuskan memperhatikan kekuatan apa yang ada dalam diri anak kita yang bisa kita bantu untuk dikembangkan.

Saya memiliki dua orang anak, yang pertama akan berusia 5 tahun di akhir Maret 2019 dan yang kedua akan berusia 1 tahun di awal Maret 2019. Khusus anak kedua, karena usianya yang masih sangat muda dan waktu yang saya habiskan bersamanya juga baru hampir setahun, jadi tentu saja saya masih belum bisa menangkap potensi apa yang ada dalam dirinya, selain saat ini doi senang menggigit apa saja karena giginya baru akan tumbuh.

Anak pertama saya, Qifaya, saya perhatikan sejak usia 2 tahun anak ini sangat suka dengan permainan fisik. Saat diajak main ke mall, doi tidak pernah takut naik ke perosotan tinggi, manjat dan melompat. Waktu itu, kami membelikannya hadiah play house dan tidak disangka Qifaya bisa naik di atas atapnya dan melompat langsung ke bawah. Saat itu usianya baru 2 tahun! Selain itu, Qifaya juga suka sekali memanjat di tempat lain, dan dia sama sekali tidak takut ketika kami menaikkannya di tempat yang tinggi.



Ketika pindah ke Surabaya, Qadarullah kami dipertemukan oleh club senam khusus anak-anak. Kami memasukkan Qifaya ke club tersebut dan luar biasa baru sebulan kemajuannya sungguh tidak terduga.

Sebelum ikut senam, sudah bisa hand stand tapi dibantu. Bertahan 3 detik
Qifaya Masya Allah memiliki fisik yang kuat. Selain itu dia juga memiliki tenaga yang banyak :D Buktinya meski telah senam selama 1 setengah jam, di rumah lanjut lagi dan dia sangat bahagia melakukan itu semua. Pernah saya merasa sangat lelah dan memintanya untuk tidak ikut senam satu hari saja, eh dia malah nangis sambil melipat baju di ruang tengah yang sudah beberapa hari belum sempat saya lipat. Katanya biar mami tidak capek dan bisa temani dia pergi senam. wkwkwk anak ini benar-benar pandai mengambil hati orang lain. Masya Allah...



Melihat potensi anak itu bisa sekali dicermati dari gerak geriknya, hal yang membuatnya berbinar ketika melakukannya, dan membuatnya bersedih jika kita menghalanginya. Sampai detik ini, saya merasa bahwa Qifaya sangat suka berolahraga, dia bahagia melakukannya dan saya bangga karena dia telah menemukan hal yang disukainya sejak kecil.

Selain senam, Qifaya juga suka sekali membuat video. Lucu banget karena saya sering mendapati video buatannya di dalam ponsel atau kamera saya. Dia suka sekali berbicara di depan kamera. Baginya, dia sedang berbicara dengan teman-temannya yang banyak. Apa karena Qifaya sering menghabiskan screen timenya menonton Youtube channel Ryan's Toys? yang jelas, ini sudah dilakukannya cukup lama. Karena itu, saya sengaja membuatkan youtube channel nya sendiri dan memberitahu bahwa saya akan memasukkan videonya di dalam sana untuk ditonton oleh orang lain. And she said okay, dia senang, sampai selalu meminta saya untuk selalu merekamnya kemudian dimasukkan ke youtube wkwkwk calon youtuber berpenghasilan 1 milyar dolar per bulan nih anakku. Aamiin....

Sejauh ini menurutku hanya dua hal itu yang membuat Qifaya bahagia melakukannya. Matanya benar-benar berbinar ketika melakukan hal tersebut. Apapun pilihannya di masa depan, saya akan terus mendukungnya, selama pilihannya itu tidak melanggar syariat Allah. 

Sekian postingan kali ini, semoga menginspirasi.



Minggu, 17 Februari 2019

Jatuh Cinta Sekali Lagi

Postingan ini dibuat untuk memenuhi tugas NHW 3 Institut Ibu Profesional Batch 7 Regional Surabaya Raya

Malang, 2016
Saat pertama kali membuka google class dan membaca tugas yang ketiga ini, saya agak lumayan senang membacanya, yup pertama saya diminta untuk membuat surat cinta ke suami. Awalnya agak malu-malu saya ngasih ke doi, padahal saya cukup sering membuat surat cinta sembunyi-sembunyi :D

Waktu itu saya kasih tau ke suami, bahwa tugas ke tiga IIP kali ini adalah disuruh buat surat cinta. Aku sambil bercanda bilang ke suami, "abati, mami diminta bikin surat cinta ke suami. Tapi gimana ya, susah soalnya saya sedang tidak jatuh cinta." dan disusul dengan cekikikan. Suami langsung peluk dan bilang, "oh gitu kah? kalau begitu nanti biar abati deh yang tulis surat cinta buat mami..." dan hingga detik ini bahkan surat cintaku pun belum dibalas wkwkwk... wacana banget.

Sebenarnya saya ingin langsung kasih suratnya, mau lihat langsung reaksi dia setelah baca. Tapi apa daya, belum juga suratnya ditulis, doi berangkat tiba-tiba ke luar kota. Jadi, suratnya saya kirim melalui aplikasi whatsapp deh... 

Setelah mengirim surat, tanda centang dua pun muncul, yang berarti pesan sudah dibaca. Doi balasnya lama banget sampai bikin deg degan wkwkwk. Finally, akhirnya dibalas juga setelah 40 menit menanti, "maaf sayang, banyak kekuranganku." dan setelah itu, tak ada lagi kata-kata selain informasi keberadaannya, like always.

Sampai keesokan harinya, doi menelpon dan saya yang sudah gemesh banget sama responnya kemarin langsung tanya, "mana balasan suratku? katanya dulu mau bikin surat cinta juga, mana????" eh doi ketawa trus bilang, "tunggu sayang, untuk balas surat cintamu harus menunggu ilham dulu." wkwkwk apaan sih ilham!

Semenjak kirim surat itu, disetiap suami mengirim pesan, baik chat atau telpon atau bahkan pesan suara, pasti dibelakangnya ada ucapan i love you, wkwkwkw apaan. Meski selama ini memang sering bilang i love you tapi sekarang malah jadi lebih sering. Sampai tulisan ini dipublikasikan, saya belum pernah bertemu sama suami, karena lagi di luar kota suaminya.

Nah, penasaran kaaan suratnya kayak gimana? wkwkw pede banget, emang ada ya yang penasaran? Baiklah, berikut surat cinta yang saya kirimkan ke suami tercintah. Silahkan klik disini untuk mengunduh, soalnya kalau diposting disini agak kepanjangan.

Perasaan saya sendiri setelah menulis surat cinta ini, saya merasakan gairah yang dulu bangkit lagi. Tapi tolong jangan anggap saya mesum wkwkw ini bukan tentang mesum-mesuman, maksud saya gairah dimana saya rindu lagi sama suami saya, bukan rindu karena ingin gantian jaga anak ya, bukan. Tapi rindu karena ingin dipeluk ingin disayang-sayang, yah seperti itu lah.... intinya seperti merasakan cinta yang dulu lagi.

Sekian dulu postingan kali ini, kapan-kapan kalau ada waktu, bolehlah tulis surat cinta lagi ke suami. :D


Selasa, 12 Februari 2019

Inilah Indikator Profesionalisme Versi Saya

Postingan ini dibuat karena adanya tugas kedua dari kelas martikulasi Institut Ibu Profesional. Sayangnya, postingan ini sudah terlambat satu hari dari batas terakhir dikumpulkan. Saya tentu punya alasan saya sendiri. Jujur saja, saya sudah menanyakan indikator apa sih yang suami saya inginkan dari saya agar membuatnya bahagia, sejak sepekan yang lalu, tepatnya 5 Februari 2019. Sementara anak saya yang pertama, saya butuh waktu merampungkan jawaban dia hingga Sabtu, 9 Februari 2019 karena jawabannya yang masih sangat kekanakan. Maybe, karena doi sama sekali belum mengerti betul ya.. or maybe karena doi sudah menerima saya apa adanya, termasuk bonus suka mengomelnya hehe...

Jujur saja, sebenarnya tugas ini sudah ingin saya kumpulkan sedari Ahad, 10 Februari 2019. Tapi. lagi-lagi karena alasan kepala yang selalu sakit ketika melihat layar handphone, membuat saya agak berat membuka laptop untuk menulis tugas ini di blog saya. Sempat sih saya curhat di group Whatsapp, ada yang bilang saya boleh mengirimkan voice note untuk mengumpulkan tugas kali ini. Tapi setelah saya pikir lagi, rasanya sayang sekali jika harus melewatkan tugas ini dan tidak mempublikasikannya di blog pribadi saya :D

Setelah rebahan sedikit dan meminum obat sakit kepala, akhirnya sakitnya kepala melihat layar pun lenyap. Meski saya mengetik sambil mengernyitkan alis, berusaha melihat dengan baik karena enggan memakai kaca mata yang firasatku menjadi penyebab sakitnya kepalaku. But that's okay, I think I can make it.

Well, saya sudah membuatnya dalam bentuk file JPEG di Canva. Berikut indikator profesionalisme sebagai individu, istri dan seorang ibu versi saya, sesuai dengan request dari suami dan anak-anak saya, serta sesuai dengan hati dan pikiran saya.

Sebagai individu

Sebagai istri
Sebagai ibu
Pertanyaannya adalah mengapa indikator sebagai seorang istri kok cuma satu? Ya, karena permintaan dari sang suami juga cuma itu. Padahal ya, pas saya minta doi tulis mau apa saja dari saya, doi bilang "saya tulis ya di kertas, tapi jangan dibaca dulu. Nanti saja pas saya tidak di rumah." And did you know? kertasnya sampai doi sembunyikan dan baru dikasih tahu letaknya dimana pas doi berangkat kerja. Itupun dikasih tahu letaknya dimana melalui chat whatsapp.

Awalnya saya pikir suami maunya saya rajin masak, mengurangi jajan, menurunkan berat badan kek, atau rajin membersihkan wkwkwk secara ya, selama ini suami juga turut membantu kerjaan domestik saya. Misalnya sebelum berangkat kerja, suami mencuci dulu, menjemur. Kadang juga menyapu sekalian mengepel. Kadang juga sampai masak nasi dulu. Btw, nulis ini kok ya saya merasa berdosa? :D

Tapi memang suami saya sedari awal menikah selalu turun tangan membantu pekerjaan rumah, termasuk mengurus anak tentunya. Jadi, tolong jangan salahkan saya. Tidak mungkin saya melarang suami saya mengerjakan semua itu karena saya juga, jujur, butuh bantuan suami :D

Nah, ketika bertanya pada anak pertama saya, kakak Q, doi awalnya jawab lucu banget. Masa iya doi mau mami jadi kodok, jadi superhero, jadi bunga matahari. wkwkwk jawaban macam apa itu, nak? Makanya, meski jawabannya hanya 2 itu, tapi dalem juga yak. Lama bok baru ketemu jawabannya. 

Loh kok poin kedua dari kakak Q pengen vlog? Ehem, jadi kakak Q itu waktu layarnya dipergunakan untuk bermain game edukasi atau menonton channel Youtube si Ryan itu tuhh... Jadi, dia juga mau katanya bikin video seperti itu, dan yess.. we are already made some videos in her own youtube channel. Meski yang subscribe baru mami dan abatinya doank, hehe...

Lalu, untuk anak kedua saya karena usianya baru saja masuk 11 bulan, jadi dia benar-benar tidak punya komentar apapun selain tetetete atau nenenen dan numnumnum... 

Okay baiklah, saya rasa sekian dulu postingan saya kali ini. Sudah pukul 01.30 WIB nih. Waktunya bobo cantik di sebelah bayi yang setiap saat minta ASI. Bhayy...


Senin, 04 Februari 2019

Jika Boleh, Saya Ingin Sekali Menimba Ilmu Lebih Jauh Lagi Tentang Ini

Sebenarnya, judul tulisan ini sudah saya buat sejak beberapa hari yang lalu, tapi saya benar-benar stuck saat akan menulis, sebenarnya ilmu apa yang ingin saya pelajari di universitas kehidupan ini. Awalnya saya ingin menekuni tentang ilmu parenting, secara saya memiliki dua orang anak dan saya ingin menerapkan ilmu parenting yang baik untuk mereka. Lalu saya juga ingin menekuni ilmu homeschooling karena anak-anak saya ke depannya InsyaAllah akan saya homeschooling-kan.

Bukan hanya itu, sebenarnya saya juga ingin menekuni dunia memasak khusus untuk anak-anak karena jujur saja ketika melihat anak-anak, saya bawaannya pengen bikinkan makanan untuk mereka. Tambah satu lagi, saya juga ingin menekuni dunia digital marketing karena sehari-hari itu lah pekerjaan sampingan saya, selain menjadi ibu rumah tangga tentunya.

Namun, diantara banyaknya pilihan di atas, saya merasa tidak cukup. Saya banyak merenung tentang tugas NHW#1 dari Institut Ibu Profesional ini. Jujur, saya merenung hingga kepala saya terasa sakit. Saya berpikir karena saya memang seperti itu, saya tidak mudah memutuskan sesuatu begitu saja. Saya harus memikirkan banyak hal yang berkaitan dengan ini.

Saya suka ilmu parenting, saya suka mendalami ilmu homeschooling, memasak, pun digital marketing. Semua itu ada dalam darah saya, masuk ke dalam jiwa saya karena itulah yang benar-benar membuat mata saya berbinar saat menjalaninya. Keempat hal itu yang membuat saya ikhlas tak tidur hingga larut dan berani terbangun di waktu subuh tanpa protes atau mengeluh karena mereka telah mencuri waktu tidurku yang berharga.

Tapi diperjalanan saya merenung, saya tersadar satu hal. Ini adalah pertanyaan tentang apa yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan, berarti ini adalah tentang apa yang akan saya jalani hingga akhir hidup saya. Ini adalah tentang bagaimana saya bisa menjadikannya pendukung dalam setiap hal yang saya lakukan.

Maka saya putuskan, bahwa saya ingin mendalami tentang ilmu kesabaran. Bahwa sabar itu benar-benar sesuatu yang sangat saya butuhkan. Karena sabar itu adalah sesuatu yang sangat sedikit saya miliki dan memang harus saya tekuni agar kesabaran itu bisa melekat di diri saya hingga akhir hidup.

Jujur saja, saat menulis ini saya sangat sedih. Saya sedih karena ternyata saya benar-benar fakir kesabaran. Saya mungkin bisa mempelajari ilmu lain dengan sangat mudah, karena saya adalah tipe manusia pembelajar, saya diciptakan Allah dengan kelebihan pandai menyerap sesuatu dengan begitu mudah. Saya bahkan bisa menguasai sesuatu hanya dengan otodidak. Tapi tidak dengan kesabaran.

Saya bahkan tidak tau ilmu apalagi yang paling ingin saya tekuni selain ilmu kesabaran itu sendiri. Alasan kuat saya sangat simpel tapi baru saya sadari, bagimana mungkin anak-anak saya bisa tumbuh dengan baik tanpa kesabaran dalam diri saya? Saya ingat pernah marah begitu murkanya ketika anak sulung saya menjatuhkan air ke lantai, dan itu sungguh menyayat hatiku setelahnya. Saya sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan tentang hal ini. Saya sadar bahwa saya tak mungkin seperti ini selamanya. Saya menolak.

Berhubung ini adalah ilmu kesabaran, ilmu yang tak bisa diajarkan begitu saja, ilmu yang tidak bisa dibaca lalu dipraktekkan begitu saja. Jujur saja, sampai saat ini saya belum tahu bagaimana saya akan mempelajarinya selain berusaha mengingat akibat dari ketidaksabaranku dan membayangkan apa yang akan terjadi nanti dengan kesabaran itu. Kita tak pernah tahu, kan ulat akan menjadi secantik kupu-kupu karena kesabarannya.

Adapun berkaitan dengan adab menuntut ilmu, sekali lagi karena ini adalah tentang kesabaran, saya harus fokus untuk belajar menerima kesalahan, saya harus fokus menjernihkan pikiran dan harus lebih terbuka menerima saran dari orang lain.

Sekian.


Jumat, 25 Januari 2019

Begini Rasanya Menjadi "Mahasiswi Baru" Lagi - Narasi Studium Generale MIIPB#7

Gambar: pngtree.com
Hampir saja saya lupa bagaimana rasanya menjadi mahasiswi baru, begitulah kalau sudah lewat bertahun-tahun lalu mengikuti perkuliahan umum yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa baru. Sampai beberapa waktu lalu, saya diterima di program martikulasi Institut Ibu Profesional (yang selanjutnya saya tulis IIP). Yah, i know bahwa ini bukanlah institut resmi yang terdaftar dengan cara yang resmi pula, tapi sungguh rasanya pertama kali mengikuti kuliah umum a.k.a Studium Generale, kurang lebih sama seperti mengikuti perkuliahan umum sewaktu menjadi mahasiswi baru di jenjang pendidikan S1 ku dulu (maaf ya S2 tidak kuhitung karena saya tidak ikut kuliah umumnya :D).

Hari itu, Rabu 23 Januari 2019, sebelumnya kami telah diberikan tautan untuk masuk ke grup telegram kuliah umum IIP Batch 7 ini. Setelah masuk, wow saya takjub karena sudah ribuan peserta yang bergabung sebelum saya. It means, ada ribuan orang yang tangannya lebih lincah daripada saya untuk mengetuk tautan undangan.

Meski hanya sebuah grup di aplikasi Telegram, perkuliahan umum ini ternyata ada absensinya juga dan saya hampir terlewat mengisinya. Berhubung saya "mahasiswi" yang suka telat, saya baru datang di akhir perkuliahan umum. Tapi beruntung sekali saya karena perkuliahan umumnya dilakukan di Telegram, dimana semua percakapan terekam jelas bahkan ketikan kagum dari setiap peserta, yang menurut saya cukup mengganggu. Soalnya banyak tuh yang diminta berhenti mengirim pesan tapi masih tetap semangat mengirim, entah karena fokus mengetik sampai tidak melihat peringatan ataukah jaringan mereka lemot hingga perintah tak terlihat atau ada hal lain yang tidak saya ketahui tentunya.

Selain absensi, tentunya kuliah umum di IIP juga memiliki susunan acara, dimulai dari host membuka acara dan do'a, perkenalan Tim Fasiliator MIIP Batch #7 ,sambutan Ibu Septi Peni Wulandani, sambutan Ketua Institut Ibu Profesional, dan sambutan Ketua Divisi Matrikulasi Pusat. Setelah ada pembukaan dan sambutan-sambutan, lalu muncul lah beberapa kisah sukses dari para alumni IIP mulai dari batch 1 hingga 6. 

Setelah perkenalan singkat dari para alumni, kemudian dipersilahkanlah para peserta untuk mengajukan pertanyaan. Beberapa orang pun bertanya, dan saya perhatikan semua pertanyaan berkaitan dengan keraguan akan kemampuan diri sendiri dan tentu saja masih bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi di martikulasi ini. Wajar, namanya tempat belajar, pasti akan ada banyak orang yang butuh bantuan untuk segala hal. Termasuk saya mungkin, untuk ke depannya. 

Terakhir, setelah sesi tanya jawab seperti kuliah umum biasanya, maka habislah sudah rangkaian acara. Yah, meski saya datang sangat terlambat karena anak sulung saya tidak rela diduakan sama handphone saat bermain. Jadi saya menunggu anak-anak tidur dulu baru bisa masuk ke Telegram. Tapi meski saya datang terlambat, suasana perkuliahan umumnya benar-benar terasa. Kurang lebih sama seperti perkuliahan umum mahasiswi baru, yang isinya ibu-ibu semua hehe. Saya membayangkan sedang berada di dalam ballroom bersama ibu-ibu lainnya, saling bertanya dan beberapa orang saling cekikikan karena candaan kecil. Entahlah, mungkin imajinasi saya yang berlebihan atau memang rangkaian acaranya yang keren. 

Nah, saya rasa sekian narasi saya tentang Studium Generale Martikulasi Institut Ibu Profesional Batch 7 ini. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya :D

Selasa, 22 Januari 2019

Review Gendongan Cuddle Me Lite - Gendongan Ergonomis Murah Buatan Indonesia

Jadi, sebelumnya saya pernah mereview gendongan baby ktan buatan luar ya mams. Semakin besar, anak saya semakin berat dan rasanya kurang nyaman memakai gendongan model wrap, meski tipenya sudah easy wrap tapi tetap saja agak ribet menurutku sih. Sampai suatu waktu saya berpikir untuk menggunakan gendongan jenis soft structure carrier atau lebih dikenal dengan nama SSC. 

Sebenarnya saya pernah menggunakan jenis gendongan ini sewaktu jaman anak pertama dulu, waktu itu saya menggunakan merk elle, buatan luar negeri. Tapi berhubung sudah dikasih ke orang gendongannya, jadi saya tidak punya lagi deh jenis gendongan SSC.

Lalu saya bertanya pada kawan saya di Makassar perihal gendongan jenis SSC yang murah tapi bagus, hehe dasar ya mak irit. Lalu kawan saya menyarankan gendongan SSC merk Cuddle Me Lite. Harga terjangkau dan buatan anak bangsa, serta sudah mendukung posisi M-shape.

Saya sudah pernah mereview gendongan ini di channel Youtube-ku. Silahkan langsung dilihat saja yaaa...


Saya juga pernah membuat video tutorial cara pemakaian gendongan Cuddle Me Lite posisi belakang, silahkan lihat videonya langsung yaaa...



Sekian dulu yaa, selamat menonton....



Senin, 21 Januari 2019

Kebiasaan Baru Qifaya : Jadi Tim Pembersih Kamar Mandi

Qifaya, anak pertamaku, beberapa hari ini memiliki kebiasaan baru yang lumayan unik. Hari itu, saat saya memintanya untuk mandi pagi, yang kebetulan sudah sejak 2 bulan terakhir sudah bisa mandi sendiri (meski belakangan harus disiram lagi karena masih banyak sabun menempel di badannya), tiba-tiba membuka pintu kamar mandi dan berteriak kecil meminta izin untuk membersihkan kamar mandi. Saya yang sendirinya malas membersihkan kamar mandi, tiba-tiba tercengang dan sedikit bahagia (akhirnya ada yang bantu wkwkwk) dan segera mengiyakan permintaan anak kecil yang satu ini.
Qifaya lagi bersihkan wc
Mungkin saja, bagi sebagian orang akan menyangka bahwa saya kok ya pemalas banget, kerjaan kayak gini kok dikasih ke anak 4 tahun (yang dalam 2 bulan jadi 5 tahun) bukannya dikerjakan sendirian saja. Bukankah anak usia segitu harusnya main aja, belajar aja. Yah, saya pemalas, saya akui tapi semalas-malasnya saya, jika anak saya meminta sesuatu yang tidak masuk akal, misal minta izin naik perbaiki genteng, tentu saya tidak akan memberikan izin, ataukah minta izin pergi belanja bulanan, ya tentu tidak. 

Bagi saya, membersihkan kamar mandi juga merupakan suatu pendidikan bagi anak. Pertama, mereka belajar kebersihan, meski pasti hasil kerjanya tidak akan sebersih hasil kerja kita orang dewasa. But yeah, setidaknya mereka mau berusaha :) Saya rasa itu sudah jauh dari kata cukup. Kedua, mereka belajar bertanggung jawab. Setiap hari menggunakan kamar mandi, masa iya tidak mau dibersihkan. Kalau bersih kan mereka sendiri yang bahagia. Ketiga, belajar fokus. Anak-anak fokus mencari mana saja kotoran yang ingin diberantas, dan yang terakhir mereka bisa bersenang-senang karena bisa main air lebih lama :)

Saya juga belum tahu, sampai kapan kebiasaan ini akan Qifaya laksanakan, yang jelas saat ini setiap pagi doi rutin membersihkan kamar mandi. Mulai dari kloset sampai lantai kamar mandi. Pesan saya hanya satu, jangan menggunakan cairan pencuci kamar mandi ya... And you know what? Dia memang tidak menggunakan cairan tersebut, melainkan menggunakan sabun mandi kami wkwkwkw berarti siap-siap menambah budget untuk beli sabun bulanan :)

Senin, 14 Januari 2019

Manajamen Gawai Bagi Ibu Rumah Tangga

gambar: iprice.sg
Sebagai seorang ibu rumah tangga, tentunya saya memiliki waktu "luang" yang lebih banyak dan lebih kritis dibandingkan dengan ibu bekerja. Kenapa saya mengatakan demikian, karena ibu rumah tangga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak-anaknya. Salah sedikit menghabiskan waktu luang, anak-anak akan meniru. Adanya faktor kebosanan mengurus rumah tangga, serta faktor lain, menyebabkan banyak ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu santainya bersama gawai a.k.a gadget.

Sebenarnya tidak salah menghabiskan waktu dengan gadget, hanya saja, sayangnya banyak yang belum tahu bagaimana cara me-manage waktu penggunaan gadget hingga tidak bisa mengoptimalkan waktu membersamai anak-anak di rumah. Termasuk saya, jadi dulu saya adalah tipe manusia yang menghabiskan waktu lebih banyak di depan laptop dan smartphone, akibatnya apa? Dulu anak petama saya jadi kecanduan TV dan gadget. Soalnya anak itu akan meniru ya apa yang dilakukan orang tuanya. Akhirnya pelan-pelan saya berusaha mengubah diri, alhamdulillah anak pertama saya tidak kecanduan lagi.

Saya sendiri kebingungan ketika mendapatkan tugas dari Institut Ibu Profesional, dimana saat ini saya sedang mengikuti kelas foundation-nya. Soalnya, saya pribadi masih sering berkutat dengan gadget di rumah. Begitulah, berhubung saya seorang internet marketer dan juga saya memiliki misi hidup, yaitu bermanfaat bagi orang lain melalui internet, jadi jujur saya masih memiliki waktu yang banyak dengan gadget. Oh iya, selain itu saya juga masih senang bermain-main dengan game. 

Tapi dengan semua kenyataan yang ada, sebenarnya saya masih bisa membersamai anak-anak saya. Terbukti karena saya sama sekali tidak menggunakan jasa ART, apalagi nanny tapi masih bisa tetap eksis di dunia maya. Nah, lantas bagaimana saya mengatur jadwal bermain gadget?

Pilih Waktu Yang Tepat

Jika saya ingin bermain gadget, saya akan memilih waktu yang pas. Saya baru aktif membuka-buka gadget ketika anak-anak saya telah tertidur. Saat ini saya memiliki dua orang anak. Pertama usia 4 tahun dan kedua usia 10 bulan. Nah, karena usia mereka berbeda, maka sudah jelas jadwal tidur mereka pun berbeda. Lalu, bagaimana? Jadi, anak pertama saya itu memiliki jadwal menonton di laptop sejam per hari dan dia baru bisa nonton ketika si adik tidur. Saat itu lah saya bermain gadget dengan sangat aktif. 

Selain itu, ketika anak-anak sudah tidur di malam hari, saya meluangkan waktu lagi untuk bermain gadget. Ya, saya mengurangi jadwal tidur saya demi membaca komik dan bermain game online. Bagi saya, ini adalah me time yang sangat berharga :D

Saat berada di luar rumah dengan tujuan jalan-jalan bersama keluarga, sebisa mungkin saya tidak membawa smartphone agar jalan-jalan kami lebih berkualitas. Untuk foto-foto, saya lebih memilih membawa kamera daripada smartphone. Kecuali jika saya hanya jalan bertiga sama anak-anak tanpa suami, saya harus bawa smartphone untuk memesan taksi online.

Pilih Prioritas

Apakah di luar jam di atas saya bermain gadget? Iya, tapi saya memilih prioritas, misalnya memang ada yang harus dibalas cepat, pasti saya memegang gadget. Atau saya lagi masak dan cari resep di internet, pasti saya memegang smartphone, tapi sebelumnya saya menjelaskan kepada anak pertama tentang apa yang sedang saya lakukan agar dia tidak salah paham. Termasuk saat menulis artikel ini, anak kedua saya sedang tidur dan anak pertama duduk di sebelahku melihat pekerjaanku. Sebisa mungkin anak pertama harus mengerti apa yang sedang saya lakukan, jadi di mata kakak, saya memegang gadget untuk menulis, kerja atau cari resep.

Saya sebisa mungkin menghindari percakapan panjang ketika tidak berada di waktu yang saya sebutkan pada sub poin pertama. Keaktifan di grup WA juga sangat minim, karena saya memang sengaja tidak mengaktifkan suara notifikasi, takut jadi greget dan pengen dibuka cepat-cepat. Selain itu, saya juga tidak mengikuti akun-akun gosip di internet. Percayalah, akun seperti ini bisa dengan mudah menghabiskan waktu-waktu berharga kita. Saya juga berhenti melakukan scroll di media sosial, saya cukup fokus dengan misi saya yaitu menebar manfaat. Setelah melakukannya maka saya telah selesai.

Nah, sepertinya itu saja manajemen gawai ala saya. Percayalah, ketika kita bisa mengatur jadwal gawai dan bijak dalam setiap penggunaannya, membersamai anak-anak akan terasa lebih menyenangkan dan oh iya, ternyata dengan me-manage penggunaan gadget, bisa mengurangi ketertarikan anak-anak dengan gadget loh.  Semoga bisa menginspirasi yaaa....