Rumah Tanpa Televisi, Mengubah Kebiasaan Anak Yang Kecanduan Televisi

Rumah Tanpa TV
Jaman sekarang, termasuk anakku, kakak Q yang saat ini usianya sudah 4 tahun, sepanjang hidupnya sungguh sangat kecanduan dengan yang namanya televisi. Saya sebagai orang tua, tau persis bahwa setiap anak mempunyai screening time atau waktu untuk menghabiskan di depan layar, termasuk laptop, televisi dan hp. Namun, karena istilahnya tidak mau rempong, saya membiarkan anak saya menonton tv mulai dari terbukanya mata hingga tertutup, begitu seterusnya dari hari ke hari.

Waktu itu, kami memiliki dua televisi, satu digantung di dinding ruang keluarga dan satunya tergantung di dinding kamar kami. Nah, tv yang tergantung di dalam kamar ini lah yang selalu on sepanjang waktu kecuali jika kakak Q sedang tidur. Bahkan ketika kakak Q sedang bermain pun, tv akan terus menyala.

Sebenarnya beberapa bulan terakhir saya mulai risih dengan tv yang terus-terusan menyala, bukan apanya, kakak Q sudah berusia 4 tahun dan semakin kesini semakin banyak tingkah dan ucapan yang dia copas dari televisi. Televisi yang terpampang nyata di kamar dengan layanan tv kabel yang relatif sangat murah, hanya 30rb rupiah per bulan, membuat naluri kemalasanku menemani anak main jadi semakin meningkat. Ditambah dengan kesibukan sendiri, lengkaplah sudah. 

Anak saya memang sudah tidak kecanduan gadget lagi sejak usianya 2 tahun, (mungkin nanti saya akan ceritakan pengalaman menghentikan kecanduan gadget pada anak saya), tapi saya masih belum bisa sepenuhnya melepas kecanduan televisi pada anak saya. Setiap melihat anak saya menonton televisi, saya jadi kesal dan selalu berdoa pada Allah SWT bagaimana pun caranya agar kakak Q tidak nonton tv lagi, entah itu karena tv nya rusak atau dijual atau apapun itu. 

Sejak ada keputusan saya dan suami merantau ke Surabaya, kami memutuskan untuk menjual sebagian besar barang milik kami, termasuk televisi. Dari situlah saya melihat secercah harapan pada anak saya yang kala itu kecanduan televisi.

Sebelumnya, kami sudah memberitahukan pada kakak Q bahwa kami akan pindah dan harus menjual  sebagian besar barang-barang kami. Waktu itu, kakak Q sempat memohon agar tidak menjual televisi, dia bahkan sampai nangis. Rasanya sedih juga, tapi saya memberitahunya sambil memeluk bahwa tv nya harus dijual karena kalau tidak dijual, nanti kita tidak punya uang untuk beli tiket pesawat ke Surabaya.

Foto waktu tv nyala terus di dalam kamar

Hari itu pun tiba, hari pertama kami berada di Surabaya, rumah baru kami. Tidak ada tv di dalam rumah, sama sekali. Beberapa kali kudapati kakak Q berdoa dengan suara, mengatakan "Ya Allah tolong kasih uang mami supaya bisa belikan kakak tv ya..". Mendengar doa anak kecil rasanya antara geli dan kasian. Dalam hati saya menyambung doanya, "Ya Allah, jangan ya... tolong semoga kami tidak usah punya tv."

Setiap hari, kakak Q mengatakan bahwa dia bosan dan tidak tahu harus apa. Lantas saya mengajaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, mengajaknya bermain, mengajaknya membaca buku dan menceritakan pengalaman saya sewaktu menjadi anak-anak juga.

Kakak Q tidak sepenuhnya tidak menonton, dia tetap menonton, di laptop, dengan batasan waktu dan menonton kartun yang sebelumnya telah saya nonton. Agar saya tahu persis apa yang anak saya nonton. Saya tidak akan pernah membiarkannya menonton youtube, secara youtube selalu menampilkan rekomendasi video lain di sebelahnya, dimana anak saya sudah pandai memainkan touchpad pada laptop. Tidak ya, di youtube kita sama sekali tidak bisa memfilter apa yang anak-anak nonton. Kadang, meski tampilan kartun, video yang tampil tetap ada konten pornografi. Ingat tidak, kala itu ada yang sharing bahwa kartun di youtube menampilkan elsa dan spiderman lagi berhubungan intim?

Takut, sangat takut. Saya tidak akan pernah lagi membiarkan anak saya nonton youtube secara online. Kecuali jika videonya telah di download di ipad dan jaringan internetnya dimatikan, mungkin dengan cara itu kita orang tua bisa sedikit lebih memfilter acara apa yang akan ditonton anak kita.

Pemikiran saya, masa gara-kita mau rusak anak kita semudah itu? Bikinnya susah, tau! Hamilkan juga susah, melahirkan juga, bahkan perut saya harus dibelah dulu baru anak saya bisa keluar. Tidak, jangan.... Saya tidak mau anak saya rusak karena barang murah seperti tv dan gadget, anak saya terlalu mahal jika dibandingkan dengan barang tersebut.

Nah, kini giliran Anda sebagai orang tua, apakah ingin menghentikan anak Anda dari kecanduan tv dan gadget saat ini juga, ataukah rela anak Anda yang berharga rusak karena hal tersebut. Pilihan di tangan Anda.

Posting Komentar

Bagaimana Pendapatmu?

My Instagram

Copyright © Mamsqi. Blogger Templates Designed by OddThemes