Senin, 16 Juli 2018

Merantau : Cerita Tentang Perjalanan Meninggalkan Tanah Rantau Kendari

view from grand clarion Kendari
Lima tahun sudah saya menghabiskan waktu merantau di kota Kendari. Jika ada yang belum tahu dimana tepatnya posisi Kendari, kota tersebut berada di pulau Sulawesi bagian tenggara. Kota kecil yang baru akan berkembang. Dikelilingi dengan pantai, dan menurutku biaya hidup disana cukup tinggi dibandingkan dengan kampung halamanku, Makassar.

Hal yang membuatku selalu terkenang dengan kota kecil itu mungkin karena kota Kendari menjadi saksi bisu perjuangan awal pernikahan kami. Dimana setelah menikah, karena kebangkrutan suami atas usahanya, kami memutuskan merantau ke Kendari. Makan dengan jatah 5rb per hari, sudah pernah kami rasakan saat berada disana. Bahkan hanya makan pop mie di hari raya pun sudah kami rasakan saat masih hidup berdua disana.

Kendari bagiku adalah tempat dimana kami merasakan rumah, rumah bagi kami dan anak-anak kami. Tempat dimana kami membesarkan anak-anak kami. Dimana tanahnya menumbuhkan makanan, lautnya memberikan ikan untuk kami dan anak-anak kami. Meski tidak ada saudara disana, kami tetap merasakan seperti berada di kampung sendiri. Bagaimana tidak, saya melihat wajah ramah orang Kendari persis seperti di kampung halamanku. Perlakuan mereka, senyum mereka, semuanya tidak terlupakan, tidak mungkin.

Beberapa orang, mungkin selalu merasa ingin pulang ke kampung halaman saat berada di perantauannya, tapi entah kenapa ketika berada di kota Kendari, rasanya seperti di kampung sendiri, rasanya sedih jika harus berpisah terlalu lama. Rasanya rindu dengan makanan khas sana, ikan disana rasanya benar berbeda dengan ikan di daerah lain. 

Kendari, kota kecil yang baru memiliki traffic light dengan jumlah yang sangat sedikit. Disana lah Allah memberiku kesempatan membesarkan dua janin di dalam rahimku. Nikmat, karena jajanannya masih sesuai dengan seleraku. Saat di pasar pun masih sering saya mendengar akses yang sama denganku, bahkan bahasanya pun mirip dengan pasar di kampung halamanku. 


Orang lain boleh memulai rumah tangganya dengan rumah nyaman yang telah tersedia, entah itu milik pribadi, ngontrak atau bahkan menumpang di rumah orang tua. Tapi kami, di kota ini memulai segalanya dengan hidup di kosan kecil yang seukuran dengan kamar rumah tipe 45.

Ah, rasanya tidak cukup kata untuk menggambarkan perantauanku di kota Kendari. Saya sungguh mencintai kota ini, saya sungguh bersedih harus meninggalkannya untuk merantau lagi ke Surabaya. 

Selamat tinggal, Kendari. Terima kasih atas pengalaman berharga selama 5 tahun belakangan. Terima kasih karena pernah menjadi rumah kami. Tanahmu akan selalu menjadi kampung halaman kedua bagi kami.

0 komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Pendapatmu?