Senin, 30 Juli 2018

Cara Alami Basmi Bulu Ketiak Dalam Waktu 2 Detik

Ada yang punya bulu di ketiak juga? Berarti kita sama dong ya... Sejak SD rambut di ketiak saya sudah mulai muncul. Secara saya akil balighnya juga cepat, pas kelas 5 SD, sudah jelas tanda-tanda kedewasaan tubuh juga mulai nampak saat itu, salah satunya ya bulu ketiak. Berhubung masih baru tumbuh, bulu ketiak itu masih berupa rambut-rambut halus yang sama sekali tidak berarti. Pas masuk SMP, rambutnya makin panjang, meski halus tapi sangat mengganggu. Demi menghemat waktu, saya mencukurnya dengan cukur jenggot pinjam punya bapak saya hehe..

Tahun demi tahun ketiak saya selalu dicukur habis hampir setiap hari, waktu itu belum berjilbab sih, sering pake baju mini mini sampai ketiak keliatan, jadi sudah pasti saya rajin bercukur. Pas SMA, karena rajin dicukur, rambutnya jadi makin lebat dan banyak. Ibu saya menyarankan untuk dicabut. Pertama kali bulu ketiak saya dicabut, rasanya kayak mau pipis dicelana. hihi.. sakit sakit gimana gitu..

Setelah mendapatkan metode "cabut bulu ketiak", saya terus-terusan mencabutnya satu per satu menggunakan pinset. Awalnya memang sakit, tapi lama-lama karena terbiasa jadinya hambar juga, kulit ketiak saya sudah kebal. Sampai suatu saat, setelah menikah dan sedang hamil anak pertama, ketiak saya jadi infeksi dan muncul semacam bisul yang berisi nanah dan beberapa bulu ketiak yang tumbuh ke dalam. Entah karena bawaan hamil ataukah karena mencabut bulu ketiak, saya juga tidak tahu pastinya. Intinya, sejak saat itu saya berhenti mencabuti bulu ketiak saya dan kembali ke metode "cukur habis".

Oh iya, karena bertahun-tahun bulu ketiak saya dicabut satu per satu, pori-porinya jadi besar dan beberapa bulu yang gagal tercabut malah jadi kayak jerawat. Jadilah ketiak saya kala itu berpori besar dan berjerawat. ewh...

Setelah melahirkan anak kedua, saya membaca-baca artikel tentang waxing. Belum pernah sih coba, sebelumnya saya juga sering lihat di iklan-iklan salon tentang metode hilang bulu dengan laser dan hasilnya, katanya sih ngefek dan permanen. Tapi kembali saya baca review beberapa blogger, ada juga ternyata sudah bayar berjuta-juta tapi bulu ketiaknya tumbuh lagi. Sayang banget uangnya, kan.

Finally, saya memberanikan diri untuk waxing. Dari beberapa penjual waxing dan review beberapa blogger, mereka sukanya pake sugar waxing. Berhubung syarat untuk berwaxing adalah minimal bulu ketiak 0,5cm, jadi saya dengan sabar merawat pertumbuhan bulu ketiak saya wkwkwk.. 

Baru saja ingin membeli waxing seharga 85rb, saya tiba-tiba ketemu DIY sugar waxing dengan harga yang sangat murah, bahkan bahannya ready di dapur sendiri siss..... Yup.. sugar waxing ternyata bisa dibuat sendiri di rumah.

Sugar waxing buatan suami
Saya sih baru satu kali ngomong ke suami, eh dengan sigap doi langsung ke dapur meluncur cantik bikin dari bahan-bahan yang kusebut tanpa takaran. Tapi ternyata jadi juga loh. Salut nih  sama suami, kayaknya sudah bisa buka salon waxing khusus ketiak berbulu. hhahaha... Sebel sih mungkin suamiku dengan ketiakku yang bulunya sudah panjang banget karena dirawat hampir sebulan. Hahahahah.

Bahannya:
- Gula pasir
- Perasan jeruk nipis
- air

Semua bahannya di masak sampai mengental dan berubah warna jadi coklat muda kayak gambar di atas ya. Buat ibu-ibu yang biasa bikin karamel pasti tau deh teksturnya. Berhubung ini ada campuran air dan jeruk nipisnya, meski dingin, gulanya gak akan mengeras kayak karamel kue ya...

Setelah jadi, oleskan di ketiak atau area manapun yang ingin dibasmi bulunya (oles searah dengan pertumbuhan rambut), saya sih pakai sendok hahaha... maklum lah, tak ada spatula sendok makan pun jadi. Btw, sugar waxingnya enak loh. Coba saja sendiri jika tak percaya. Setelah dioles, ambil kain bersih, kalau saya pakai sapu tangan bayi saya, pinjam dulu ya nak yaa... Kainnya ditempel di ketiak yang sudah dioles sugar wax nya, tekan-tekan sebentar, kira-kira 1 menit lah. Lalu tarik dehh berlawanan arah tumbuh bulu ketiak.

Taraaa... yang jijikan gak usah liat, ini cuma bukti bahwa its working

Rasanya pas ditarik, sama sekali gak sakit sih bagi saya, mungkin karena saya sudah terbiasa dicabut bulunya pakai pinset. Pas lihat hasilnya, langsung deh kayak berat badan hilang 2 kg hahahaha.. Lega, sungguh sangat lega perasaanku. Suami langsung ketawa terbahak-bahak, katanya akhirnya ketiak istrinya bersih juga. 

Berhubung saya gak tahu caranya foto, jadi akar-akarnya pada gak kelihatan ya.. Padahal jika dilihat langsung, setiap bulu yang melengket disini benar-benar terangkat dengan akarnya. Membuatku sungguh sangat terharu. Oh iya, kainnya tinggal direndam ya pakai air biasa, nanti juga sugar wax nya larut dan bulu-bulunya lepas sendiri.


Saat postingan ini diterbitkan, sudah seminggu pas sejak saya waxing, dan hari ini bulu ketiaknya belum tumbuh. Pori-pori juga tidak besar seperti waktu saya mencabuti dengan pinset satu per satu. Oh iya, setelah waxing saya langsung cuci ketiak dan membiarkannya sehari semalam tanpa memberikan apa-apa agar tidak iritasi. Lebih bagus lagi dikasih gel aloe vera untuk menenangkan kulit yang abis tertarik.

Bagaimana ibu ibu? tertarik mencoba? hehehe... Sebelum waxing, tolong dirawat dulu ya bulu ketiaknya sampai sepanjang minimal setengah sentimeter.

====================== UPDATE 1 September 2018======================

Akhirnya suami ngasih takaran yang bagus:
- 100 gram Gula pasir.
- 3 sdm jeruk nipis.
- 3 sdm air.

Sebelum digunakan, saya sisihkan sebagian di wadah kecil untuk digunakan kemudian hari, Ternyata disimpan berhari hingga minggu, tetap bagus kok. Teksturnya kayak madu :D

Oh iya, pas coba waxing untuk kedua kalinya (tapi yang kedua rambutnya tidak selebat yang pertama, hanya rambut halus yang panjang), saya tidak menggunakan kain, hanya tangan, ternyata tercabut juga. Bulu ketiak langsung nempel banget di jari-jari.

Stok sugar wax buatan sendiri


Senin, 23 Juli 2018

Rumah Tanpa Televisi, Mengubah Kebiasaan Anak Yang Kecanduan Televisi

Rumah Tanpa TV
Jaman sekarang, termasuk anakku, kakak Q yang saat ini usianya sudah 4 tahun, sepanjang hidupnya sungguh sangat kecanduan dengan yang namanya televisi. Saya sebagai orang tua, tau persis bahwa setiap anak mempunyai screening time atau waktu untuk menghabiskan di depan layar, termasuk laptop, televisi dan hp. Namun, karena istilahnya tidak mau rempong, saya membiarkan anak saya menonton tv mulai dari terbukanya mata hingga tertutup, begitu seterusnya dari hari ke hari.

Waktu itu, kami memiliki dua televisi, satu digantung di dinding ruang keluarga dan satunya tergantung di dinding kamar kami. Nah, tv yang tergantung di dalam kamar ini lah yang selalu on sepanjang waktu kecuali jika kakak Q sedang tidur. Bahkan ketika kakak Q sedang bermain pun, tv akan terus menyala.

Sebenarnya beberapa bulan terakhir saya mulai risih dengan tv yang terus-terusan menyala, bukan apanya, kakak Q sudah berusia 4 tahun dan semakin kesini semakin banyak tingkah dan ucapan yang dia copas dari televisi. Televisi yang terpampang nyata di kamar dengan layanan tv kabel yang relatif sangat murah, hanya 30rb rupiah per bulan, membuat naluri kemalasanku menemani anak main jadi semakin meningkat. Ditambah dengan kesibukan sendiri, lengkaplah sudah. 

Anak saya memang sudah tidak kecanduan gadget lagi sejak usianya 2 tahun, (mungkin nanti saya akan ceritakan pengalaman menghentikan kecanduan gadget pada anak saya), tapi saya masih belum bisa sepenuhnya melepas kecanduan televisi pada anak saya. Setiap melihat anak saya menonton televisi, saya jadi kesal dan selalu berdoa pada Allah SWT bagaimana pun caranya agar kakak Q tidak nonton tv lagi, entah itu karena tv nya rusak atau dijual atau apapun itu. 

Sejak ada keputusan saya dan suami merantau ke Surabaya, kami memutuskan untuk menjual sebagian besar barang milik kami, termasuk televisi. Dari situlah saya melihat secercah harapan pada anak saya yang kala itu kecanduan televisi.

Sebelumnya, kami sudah memberitahukan pada kakak Q bahwa kami akan pindah dan harus menjual  sebagian besar barang-barang kami. Waktu itu, kakak Q sempat memohon agar tidak menjual televisi, dia bahkan sampai nangis. Rasanya sedih juga, tapi saya memberitahunya sambil memeluk bahwa tv nya harus dijual karena kalau tidak dijual, nanti kita tidak punya uang untuk beli tiket pesawat ke Surabaya.

Foto waktu tv nyala terus di dalam kamar

Hari itu pun tiba, hari pertama kami berada di Surabaya, rumah baru kami. Tidak ada tv di dalam rumah, sama sekali. Beberapa kali kudapati kakak Q berdoa dengan suara, mengatakan "Ya Allah tolong kasih uang mami supaya bisa belikan kakak tv ya..". Mendengar doa anak kecil rasanya antara geli dan kasian. Dalam hati saya menyambung doanya, "Ya Allah, jangan ya... tolong semoga kami tidak usah punya tv."

Setiap hari, kakak Q mengatakan bahwa dia bosan dan tidak tahu harus apa. Lantas saya mengajaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, mengajaknya bermain, mengajaknya membaca buku dan menceritakan pengalaman saya sewaktu menjadi anak-anak juga.

Kakak Q tidak sepenuhnya tidak menonton, dia tetap menonton, di laptop, dengan batasan waktu dan menonton kartun yang sebelumnya telah saya nonton. Agar saya tahu persis apa yang anak saya nonton. Saya tidak akan pernah membiarkannya menonton youtube, secara youtube selalu menampilkan rekomendasi video lain di sebelahnya, dimana anak saya sudah pandai memainkan touchpad pada laptop. Tidak ya, di youtube kita sama sekali tidak bisa memfilter apa yang anak-anak nonton. Kadang, meski tampilan kartun, video yang tampil tetap ada konten pornografi. Ingat tidak, kala itu ada yang sharing bahwa kartun di youtube menampilkan elsa dan spiderman lagi berhubungan intim?

Takut, sangat takut. Saya tidak akan pernah lagi membiarkan anak saya nonton youtube secara online. Kecuali jika videonya telah di download di ipad dan jaringan internetnya dimatikan, mungkin dengan cara itu kita orang tua bisa sedikit lebih memfilter acara apa yang akan ditonton anak kita.

Pemikiran saya, masa gara-kita mau rusak anak kita semudah itu? Bikinnya susah, tau! Hamilkan juga susah, melahirkan juga, bahkan perut saya harus dibelah dulu baru anak saya bisa keluar. Tidak, jangan.... Saya tidak mau anak saya rusak karena barang murah seperti tv dan gadget, anak saya terlalu mahal jika dibandingkan dengan barang tersebut.

Nah, kini giliran Anda sebagai orang tua, apakah ingin menghentikan anak Anda dari kecanduan tv dan gadget saat ini juga, ataukah rela anak Anda yang berharga rusak karena hal tersebut. Pilihan di tangan Anda.

Senin, 16 Juli 2018

Merantau : Cerita Tentang Perjalanan Meninggalkan Tanah Rantau Kendari

view from grand clarion Kendari
Lima tahun sudah saya menghabiskan waktu merantau di kota Kendari. Jika ada yang belum tahu dimana tepatnya posisi Kendari, kota tersebut berada di pulau Sulawesi bagian tenggara. Kota kecil yang baru akan berkembang. Dikelilingi dengan pantai, dan menurutku biaya hidup disana cukup tinggi dibandingkan dengan kampung halamanku, Makassar.

Hal yang membuatku selalu terkenang dengan kota kecil itu mungkin karena kota Kendari menjadi saksi bisu perjuangan awal pernikahan kami. Dimana setelah menikah, karena kebangkrutan suami atas usahanya, kami memutuskan merantau ke Kendari. Makan dengan jatah 5rb per hari, sudah pernah kami rasakan saat berada disana. Bahkan hanya makan pop mie di hari raya pun sudah kami rasakan saat masih hidup berdua disana.

Kendari bagiku adalah tempat dimana kami merasakan rumah, rumah bagi kami dan anak-anak kami. Tempat dimana kami membesarkan anak-anak kami. Dimana tanahnya menumbuhkan makanan, lautnya memberikan ikan untuk kami dan anak-anak kami. Meski tidak ada saudara disana, kami tetap merasakan seperti berada di kampung sendiri. Bagaimana tidak, saya melihat wajah ramah orang Kendari persis seperti di kampung halamanku. Perlakuan mereka, senyum mereka, semuanya tidak terlupakan, tidak mungkin.

Beberapa orang, mungkin selalu merasa ingin pulang ke kampung halaman saat berada di perantauannya, tapi entah kenapa ketika berada di kota Kendari, rasanya seperti di kampung sendiri, rasanya sedih jika harus berpisah terlalu lama. Rasanya rindu dengan makanan khas sana, ikan disana rasanya benar berbeda dengan ikan di daerah lain. 

Kendari, kota kecil yang baru memiliki traffic light dengan jumlah yang sangat sedikit. Disana lah Allah memberiku kesempatan membesarkan dua janin di dalam rahimku. Nikmat, karena jajanannya masih sesuai dengan seleraku. Saat di pasar pun masih sering saya mendengar akses yang sama denganku, bahkan bahasanya pun mirip dengan pasar di kampung halamanku. 


Orang lain boleh memulai rumah tangganya dengan rumah nyaman yang telah tersedia, entah itu milik pribadi, ngontrak atau bahkan menumpang di rumah orang tua. Tapi kami, di kota ini memulai segalanya dengan hidup di kosan kecil yang seukuran dengan kamar rumah tipe 45.

Ah, rasanya tidak cukup kata untuk menggambarkan perantauanku di kota Kendari. Saya sungguh mencintai kota ini, saya sungguh bersedih harus meninggalkannya untuk merantau lagi ke Surabaya. 

Selamat tinggal, Kendari. Terima kasih atas pengalaman berharga selama 5 tahun belakangan. Terima kasih karena pernah menjadi rumah kami. Tanahmu akan selalu menjadi kampung halaman kedua bagi kami.