Rabu, 27 Juni 2018

Begini Cara Saya Merawat Bayi Yang Terkena Flu

Foto: kakak Q 3 bulan
Sudah tiga kali adek B terkena flu dan berujung ingus karena tertular oleh kakak Q, yang meski sedang pilek, paling rajin mencium adiknya. Mau dilarang juga gak tega, takut melukai perasaan si kakak yang sayang sama adeknya. Lagian, rasanya agak sulit membuat si adek B tidak tertular karena mereka tidur sekamar dan seranjang.

Pertama kali terkena flu, hidung adek B tidak begitu mampet, jadi saya tidak berusaha mengeluarkan ingusnya. Saya hanya menunggu hingga ingusnya mengering dan menjadi upil, lalu akan saya bersihkan dengan cotton budd. Tapi, flu kedua membuat adek B jadi sangat sulit bernafas hingga harus saya bawa ke dokter karena waktu itu adek B sudah batuk keras dan sulit untuk tidur. Saat itu saya meminta suami membelikan alat penyedot ingus bayi merk pigeon yang berbentuk pompa. 

Flu ketiga, adek B tidak batuk, hanya beringus saja, jadi saya tidak membawanya ke dokter karena selang waktu sembuh dari pilek sebelumnya hanya 1 minggu. Duh, si kakak Q kedapatan minum susu kental manis di kulkas, dingin jadi kakak Q kena lagi deh pilek, sementara adek B langsung tertular juga. Karena sakitnya tidak separah yang kedua, saya hanya memberinya ASI, cairan saline dan menyedot ingusnya. Kali ini saya mengganti sedot ingusnya dengan merk little giant, dimana cara penggunaannya diisap dari selang satunya. Nah, berikut ulasannya.

Pastikan Cairan Tubuh Bayi Tercukupi

Foto: media Indonesia
ASI adalah antibody terbaik bagi bayi, di dalam ASI terkandung antioksidan yang sangat tinggi yang tidak akan ditemukan dimanapun. Ketika si kecil sakit, sebisa mungkin berikan ASI sesering mungkin. Jika bayi meminum susu formula, maka berikan susu formula dengan takaran agak cair. Insya Allah lendir bayi akan keluar melalui kotoran bayi.

Berikan Cairan Saline

Foto: wikihow
Cairan saline adalah cairan garam, sebenarnya cairan ini bisa dibuat sendiri menggunakan garam dapur, tapi karena saya ragu dan tidak tahu takarannya, jadi saya membeli cairan saline di apotik seharga 120rb rupiah.

Keluarkan Ingus Bayi dengan Nasal Aspirator / Penyedot Ingus

Kiri pigeon, kanan little giant
Di atas tadi sudah saya singgung bahwa saya menggunakan dua jenis alat penyedot ingus, yaitu pigeon yang berbentuk pompa, dan little giant yang berbentuk dua selang yang satunya dimasukkan ke mulut ibu (untuk diisap) dan lainnya ditempelkan pada lubang hidung bayi. Saya pribadi lebih nyaman menggunakan little giant karena selangnya hanya menempel di bagian lubang hidung bayi. Sementara merk pigeon yang berbentuk pompa, ujung pompanya harus masuk ke dalam rongga hidung bayi, dimana membuat rasa tidak nyaman pada bayi.

Memandikan Bayi dengan Air Hangat

Foto: tribunnews
Selama anak saya tidak demam, maka saya akan tetap memandikannya, untuk ukuran bayi B yang masih 3 bulan dan hanya menkonsumsi ASI, saya cukup memandikannya sekali sehari saja dengan air hangat. Jika kondisinya sedang beringus, maka saya akan menambahkan tingkat kehangatannya dibandingkan saat dia sehat.

Menyiram kepala bayi hingga ujung kaki dengan air hangat, diharapkan mampu mencairkan lendir di dalam leher dan dadanya. Lendir yang mencair ini kemudian bisa dikeluarkan dengan nasal aspirator atau kah keluar dengan sendirinya saat bersin (setelah ditetesi dengan cairan saline).

Jaga Suhu Ruangan

Foto: optimfred
Kakak Q adalah tipe anak yang tidak bisa tidur tanpa AC, maklum lah ya jaman sekarang, rata-rata bahkan kebanyakan anak kecil tidak bisa tidur tanpa AC. Selain saat ini AC bukan lagi kategori barang mewah (seperti jaman saya masih kecil), cuaca di Kendari serta design rumah yang tertutup juga sangat tidak mendukung jika kita tidur tanpa AC. Namun, ketika salah satu atau keduanya sedang pilek, maka saya menyetel suhu AC ke 27 derajat celcius. Oh iya, AC yang saya gunakan berukuran 1 pk ya.

Jika semua hal di atas telah dilakukan namun tidak ada perubahan selama seminggu, maka saya akan langsung membawa bayi saya ke dokter. Tapi sering kali hal di atas berhasil untuk bayi saya. Selamat merawat si kecil ya, mams. Intinya mams harus kuat dan telaten dalam merawat si kecil yang sedang terkena flu.

Kamis, 14 Juni 2018

Memandikan Bayi Jadi Lebih Mudah Dengan Kursi Mandi Sugar Baby

Empat tahun lalu, saya memandikan bayi pertama saya menggunakan baskom mandi bayi. Waktu itu, saya meletakkan baskomnya di dalam kamar, melebarkan terpal di atas tempat tidur sebagai tempat untuk meggosok badan bayi saya dengan sabun. Rasanya sangat ribet, karena jika salah posisi sedikit saja, bayi akan slip dan terlepas dari tangan kita. Tahun ini saya baru saja melahirkan dan punya seorang bayi lagi, beruntungnya saya sudah mengenal yang namanya kursi mandi bayi atau nama gaulnya baby bather. Saya rasanya sangat menyesal karena terlambat mengenal produk ini. Coba dari dulu ya, eh saya kurang tahu kapan persisnya kursi mandi ini ada di Indonesia. 

Adek B di atas sugar baby, 3 bulan
Berhubung saya sama sekali tidak punya foto ade B menggunakan kursi mandinya ini pas lagi mandi, jadi saya dengan sengaja memotretnya pas kursi mandinya sudah kering. Saat foto di atas diambil, usia ade B sudah hampir 3 bulan dengan bobot 6,7kg. Kalau sekarang sih adek B sudah 7kg.

Baby bather sugar baby ini sudah dipakai dengan ade B sejak newborn, jadi setelah tali pusar bayi saya putus, saya baru mulai memandikan mereka. Kenapa? Soalnya saya asli takut jika tali pusarnya sampai infeksi karena terkena air, meski bayi-bayi saya dimandikan dengan air kemasan, saya tetap merasa aneh.

Ada pengaturan tinggi sandaran
Meski usia adek B saat ini sudah 3 bulan, saya masih menggunakan sandaran yang paling rendah ketika memandikannya. Alasannya cukup simpel, karena untuk sandaran terendah saja, adek B sampai sering melorot ke bawah, gimana kalau dipaksa menggunakan sandaran lebih tinggi?

Tuh kan adek B sudah melorot
Meski menggunakan kursi mandi ini, tangan kita tetap harus sigap memegang si kecil ya, mams. Solanya si bayi suka gerak-gerak kalau didudukkan di kursi mandi ini. Saat memandikan adek B, saya langsung meletakkan kursi mandinya di kamar mandi. Pertama saya membasuh adek B dengan air, lalu memberinya sabun dan bilas. Berhubung kursinya terbuat dari kain yang bolong-bolong, jadi sisa sabunnya bisa langsung terjun bebas ke lantai kamar mandi. 

Keliatan gak sih bolong-bolongnya? Anak saya sudah ngambek nih
Setelah selesai dipakai, kursi mandi ini juga tetap harus dibersihkan ya mams, soalnya sisa sabun yang menempel suka bau jika dibiarkan mengering sendiri. Setelah bilas sampai bersih, langsung dijemur di luar deh, kalau saya menjemurnya tidak langsung di bawah terik matahari untuk menjadi warnanya agar tidak cepat pudar.

Oh iya, kursi mandi ini saya beli di shopee seharga 120rb rupiah loh, cukup murah jika dilihat dari manfaatnya. Kalau di off store di Makassar bisa sampai 200rb-an loh harganya. Wah.. cukup jauhnya bedanya.

Gimana, mams? Tertarik membeli buat si kecil?