Senin, 28 Mei 2018

Perjuanganku Melancarkan ASI Setelah Lama Menjadi Ibu Sufor

Ade B usia 8 hari

Bagi sebagian ibu, memproduksi ASI adalah hal yang biasa saja, sangat mudah, begitu saja keluar tanpa ada usaha yang berarti. Mungkin itulah sebabnya banyak ibu menyusui yang memandang sebelah mata ibu yang memberikan susu formula kepada bayinya. Anak pertama saya contohnya, dikenyangkan oleh susu formula. Waktu itu, ASI saya tidak keluar dan karena saya fakir ilmu, saya tidak tau harus bagaimana. Ditambah lagi lingkungan yang hanya bisa men-judge saya dengan ucapan "percuma payudara besar tapi tidak ada ASI" dan ucapan menusuk lainnya.

Saat saya mengetahui saya hamil anak kedua, saya ketakutan setengah mati. Bukan takut tidak bisa membesarkannya, saya takut tidak bisa memproduksi ASI seperti waktu anak pertama. Saya takut payudara saya tidak bisa memberikan hak anak saya. Saya takut orang-orang akan berkata menusuk lagi dan men-judge saya dan anak saya macam-macam.

Pelbagai cara saya lakukan untuk mengusahakan agar ASI saya keluar di kehamilan kedua kala itu. Saya bertanya pada saudara dan kawan yang berhasil mengASIhi bayinya. Suplemen yang diiklankan pun saya beli agar dapat memproduksi ASI saat anak saya lahir. Saya juga mencari rumah sakit yang pro ASI.

Tapi Tuhan berkata lain. Saat melahirkan, saya terus menyusui anak saya meski saya tahu saat itu ASI saya tidak keluar sama sekali. Beruntung sekali saya melahirkan di rumah sakit yang tidak langsung memberikan susu formula kepada bayi. Meskipun saya melahirkan dengan cara caesar, saya tetap semangat menyusui anak saya. Tubuh saya yang masih kesakitan, kupaksa untuk berbalik dan bangun untuk memberi ASI pada bayiku.

Sampai di hari ke tiga, saya memutuskan untuk memberikan susu formula kepada bayi saya (dengan syarat suami harus tanda tangan pemberian susu formula kepada pihak rumah sakit). Waktu itu saya sangat syok karena seorang kerabat suami yang datang berkunjung terus-terusan memegang payudaraku bahkan "membantu" memasukkan area puting ke dalam mulut bayiku. Belum lagi, kerabat prianya terus-terusan memandang payudaraku ketika menyusui bayiku meski saya telah berbalik badan, dia tetap saja mengikuti.

Sepulang dari rumah sakit, saya kembali mengusahakan bayiku menyusu di payudaraku, dengan tetap memberikan susu formula. ASI saya belum keluar sama sekali dan bayiku menangis kelaparan. Belum lagi karena waktu itu saya melahirkan di Makassar dan menumpang di rumah orang tuaku, mereka memarahiku karena tidak memberikan susu formula pada bayiku, mereka terus-terusan berkata bahwa saya tidak mempunyai ASI, bahwa payudaraku kosong. Padahal saya begitu yakin bahwa sebentar lagi payudaraku terisi dengan ASI. Pikiranku kacau, saya mulai stress. Belum lagi luka operasi yang begitu menyakitkan, saya menangis sejadi-jadinya dihadapan suamiku.

Ade B 1 bulan

Lalu saya berkonsultasi pada seorang kawan lama yang sukses mengASIhi dan beliau juga tergabung dalam grup AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Sulsel, dari beliau lah semangat mengASIhi ku muncul dengan membara. Beliau mengatakan bahwa setiap payudara pasti berisi ASI, hanya saja faktor stress yang menghambatnya keluar. Beliau menyarankan untuk melakukan pijat oksitoksin di rumah dengan bantuan suami. Saya pun melakukannya dengan sebelumnya mencari referensi di youtube. Ketika suami melakukan pijatan, ada tetesan yang membasahi pahaku. Awalnya kupikir itu adalah ASI ku yang mengucur, ternyata air mataku yang jatuh. Saya tidak sadar sedang menangis. 

Saya jadi kepikiran dengan anak pertamaku, saya merasa sangat bersalah padanya. Lalu saya kembali memandangi anak keduaku, saya semakin menangis, saya benar-benar bersedih, merasa tidak pantas menjadi seorang ibu. Sepertinya saya terkena baby blues

Kemudian kawan saya berkata, bahwa ASI hanya bisa keluar jika ibunya bahagia. Ayo, kamu makan apa saja yang bisa bikin hati kamu senang, beli apa saja yang bisa bikin hati kamu senang. Terlebih, lihat bayi kamu, sayangi dia dan yakin kamu bisa mengASIhinya. Well, saya mencobanya. Saya membeli makanan yang saya sukai, saya menonton hingga larut malam dan membeli paket perawatan yang sudah lama saya incar.

Ade B 2 bulan

Alhamdulillah
, tepat di hari ke lima, tiba-tiba saya merasa payudara saya terisi penuh, baju saya basah. Saya merasa belum percaya. Saya coba memompanya, namun hanya membasahi pantat botol. Setelah saya konsultasikan pada kawan saya, ternyata memang demikian. Lalu saya coba menyusui anak saya, alhamdulillah anak saya terus mengisap dan menelan. Saya coba melepaskan susu formulanya, alhamdulillah pipisnya tetap banyak, poopnya juga lancar. 

Tapi meskipun saya sudah menyusui anak saya, masih saja ada yang bilang, "ASI mu kayaknya nda cukup untuk bayimu, kenapa dia menyusuinya lama sekali." Ya ampun, memang benar ya omongan orang tidak akan ada habisnya. Tapi saya cuek saja, asalkan BAK dan BAB anak saya lancar, berat badannya bertambah, saya yakin ASI saya cukup untuknya.

Setelah mulai menyusui, saya tidak ada makanan khusus untuk melancarkan ASI. Hanya vitamin blackmores dan madu yang harus saya habiskan, karena awalnya disarankan kawan saya sebelum ASI saya keluar.

Ade B 2 setengah bulan, 6,4kg
As you can see di setiap foto di atas, badan adek B sudah bertambah, tubuhnya juga semakin keras jika dipegang. Gerakannya juga masih aktif. Jika masih saja ada yang ngomong "ASI kamu tidak lancar", kayaknya tuh orang minta diperahin ASI deh, gemeesss...

Nah, mams, itulah perjuanganku melancarkan ASI di dalam lingkungan yang sangat tidak mendukung. Punya pengalaman juga atau baru akan berjuang? good luck, ya!

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya
This entry was posted in

4 komentar:

  1. Kuncinya memang harus setrong mom meskipun lelah fisik dan hati (kalau dengerin nyinyirin orang) hehe. Yang penting tumbuh kembang anak sesuai semestinya :D

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah ya mbk. Ndak butuh waktu lama banget asi buat si kecil udh keluar. Yeaayyy ikut seneeengg

    BalasHapus
  3. @dudukpalingdepan: iya benar sx mba.. tutup mata tutup telinga sj sama omongan org, yg ptg anak sehat

    BalasHapus
  4. @Inda Chakim: iya mba, alhamdulillah tapi waktu itu 5 hari serasa 5 tahun :D

    BalasHapus

Bagaimana Pendapatmu?