Pengalaman Naik Pesawat Dengan Bayi Usia 1 Bulan

Tepatnya dua bulan lalu, saya melahirkan di Makassar, tanah kelahiran saya dan suami (beserta anak pertama kami). Pada usia adek B yang ke 1 setengah bulan karena satu hal dan yang lainnya, kami memutuskan untuk kembali ke tanah rantau kami di Kendari. Hal ini berarti adek B saat itu belum mencukupi usia standar menjadi penumpang maskapai penerbangan, yakni usia 3 bulan.


Saat itu kami menumpangi pesawat Garuda dengan harapan tidak ada drama delay, namun ternyata pesawat Garuda delay juga selama satu jam. Penerbangan dari Makassar ke Kendari terbilang cukup singkat, hanya bekisar 1 jam perjalanan udara. Tapi yang namanya bayi kecil, mau naik pesawatnya hanya satu jam pun tentu memiliki pelbagai risiko.

Seperti pada umumnya, bayi di bawah usia 2 tahun hanya membayar sebesar 10% dari harga tiket dewasa tanpa ada bagasi. Padahal ya barang bawaan kami 70% punya si adek B, hehe. Berhubung maskapai pesawat tidak mengizinkan bayi di bawah 3 bulan melakukan penerbangan (pada kasus tertentu biasanya bisa, asal ada rekomendasi dokter), maka saya meminta suami untuk memalsukan usia anak saya, yang sebenarnya lahir bulan Maret 2018 diubah menjadi Januari 2018. Nah, apa saja persiapan saya membawa bayi usia 1 setengah bulan untuk menaiki pesawat? Berikut saya paparkan.

Gendongan Bayi

Menurut hemat saya, gendongan bayi lebih efisien dan efektif dibawa ketimbang stroller. Kenapa? Hal ini karena bayi usia 1 bulan masih sangat membutuhkan kehangatan tubuh ibu, masih suka dipeluk-peluk. Untuk menghindari si bayi ngamuk, maka saya memilih gendongan berbentuk wrap. Saya sendiri menggunakan easy wrap dari baby K'tan. Sebenarnya saya juga punya gendongan instan yang berbentuk sling, namun rasanya pergelangan tanganku sangat letih menggunakan gendongan tipe sling karena leher bayi usia 1 bulan masih belum kuat, jadi lengan kita masih harus menyangganya. 

Saya juga memilih gendongan easy wrap daripada wrap pada umumnya yang harus dililit banyak, tujuannya agar tidak rempong, itu saja. Bandara Hasanuddin Makassar memang tidak sebesar bandara Soekarno Hatta di Jakarta, namun percayalah mams, gendongan akan sangat bermanfaat jika akan menaiki pesawat. Oh iya, kakak Q dulu naik pesawat di usia 4 setengah bulan, saat itu lehernya sudah tahan jadi saya menggunakan gendongan tipe SSC (soft structured carrier). Lagian waktu itu saya belum paham betul tipe gendongan, maklum ibu baru nan bodoh lugu.

Apron Menyusui

Alhamdulillah anak kedua ini saya bisa menjadi ibu ASI. Berbeda dengan anak pertama dulu dimana saya jadi ibu sufor. Berhubung saya full direct breast feedingi, maka saya sangat membutuhkan apron menyusui untuk menutupi area pribadi saya saat menyusui di tempat umum. Trust me, ini sangat bermanfaat. 


Bagi ibu sufor, saran saya siapkan semua keperluan feeding bayi di tempat berukuran kecil, termasuk termos air panas. Tapi dulu waktu anak pertama sih saya menyajikan susu formulanya dengan air mineral biasa. 

Baju Ganti Bayi, Popok dan Tissue Basah

Ingat juga ya mams untuk membawa pakaian ganti, popok dan tissue basah untuk si kecil. Kemarin sebelum naik ke pesawat, adek B buang air besar di popoknya. Otomatis saya harus menggantinya di nursing room. Oh iya, di nursing room bandara ternyata ada ranjang, wastafel dan dispenser air minum yang ada keran air panasnya. Kemarin lupa di foto karena buru-buru sudah ada panggilan naik ke pesawat. 

Tips Saat Naik Pesawat Bersama Bayi

Selain persiapan yang sudah saya paparkan di atas, saya juga punya beberapa tips nih agar naik pesawat bersama si kecil bisa jadi menyenangkan tanpa ada drama sama sekali. Alhamdulillah perjalanan pulang kami ke tanah rantau kemarin tidak menghadirkan drama sama sekali pada adek B.
  1. Kenakan pakaian yang nyaman untuk si kecil, saya pribadi memilih sleep wear untuk adek B, yang ada tutupan tangan dan kakinya langsung. Jadi adek B tidak perlu mengenakan kaos tangan dan kaos kaki lagi, deh. Pengalaman naik pesawat bersama kakak Q, doi rewelnya minta ampun selama perjalanan, waktu itu saya memakaikan pakaian yang heboh untuk anak saya hehe.. maaf ya kakak Q.
  2. Susui si kecil selama take off dan landing pesawat agar tekanan udara yang tiba-tiba naik dan turun tidak membuat telinga bagian dalam si kecil jadi sakit. Oh iya, penutup telinga sangat tidak efektif loh untuk membantu telinga si kecil. Hal ini karena saat naik pesawat, bukan telinga bagian luar yang bermasalah, tetapi telinga bagian dalam yang hanya bisa dihilangkan dengan menelan. Bagi yang sudah biasa naik pesawat, pasti paham deh, saat tekanan udara di kabin berubah, telinga pasti akan berdengung dan akan hilang ketika kita menelan ludah. Nah! thats why si kecil harus tetap menyusu saat itu.
  3. Selain si kecil, ibunya juga WAJIB mengenakan pakaian yang nyaman, sebisa mungkin kenakan pakaian yang busui friendly, ya!
  4. Hindari membawa tentengan yang berlebihan, misalnya mau bawa ole-ole sampai berkantung-kantung hehe, saya sendiri hanya membawa satu tas ransel berukuran kecil untuk menyimpan keperluan adek B.
Nah, itulah pengalaman, persiapan dan tips saat naik pesawat bersama bayi usia 1 bulan. Masih ada tambahan gak nih? Semoga membantu ya! 

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Posting Komentar

Bagaimana Pendapatmu?

My Instagram

Copyright © Mamsqi. Blogger Templates Designed by OddThemes