Selasa, 29 Mei 2018

Resep Bumbu Dasar Putih

Saya termasuk orang yang malas memasak, ya malas pake banget. Bukan apanya, punya balita yang super aktif ditambah dengan bayi kecil, plus kedua anak ini selalu mau ditemani maminya, membuat saya tidak bisa berlama-lama di dapur. Paling malas kalau harus mengupas bawang dan bumbu lainnya. Pokoknya masak seadanya saja. Sebelumnya sih saya suka membeli bumbu dasar putih yang langsung jadi, tapi berhubung tokonya lagi tidak menerima orderan bumbu putih di bulan Ramadhan, jadi lah saya membuatnya sendiri dengan resep yang pernah diajarkan oleh ibu saya tercinta.

Bumbu Dasar Putih

Bahan:
  • 30 siung bawang merah
  • 4 bonggol bawang putih
  • 4 batang serai
  • 1 ruas lengkuas muda
  • 4 buah kemiri
  • Secukupnya air matang
  • Secukupnya minyak
Cara Membuat:
  1. Kupas dan cuci duo bawang, serai, lengkuas muda dan kemiri.
  2. Haluskan bahan dengan cara diblender, tambahkan air matang secukupnya.
  3. Masak di atas wajan hingga airnya mengering, tandanya sudah tidak ada letupan lagi.
  4. Tambahkan minyak, tumis hingga tercium wangi khas.
  5. Sisihkan di dalam wadah, tunggu hingga dingin lalu bisa dimasukkan di dalam kulkas.
Bumbu dasar putih ini bisa awet di dalam kulkas selama satu bulan, asalkan saat diambil mam menggunakan sendok bersih, ya. Bumbu dasar ini bisa digunakan untuk menumis, membuat sup, campuran tepung untuk membuat tempe, tahu, ayam goreng dll. Intinya bumbu putih adalah bumbu dasar yang digunakan dalam memasak apa saja, tinggal ditambahkan bumbu lain yang tidak perlu diblender lagi jika akan digunakan. Btw untuk bahan di atas, bumbunya muat di dalam wadah 300 gram ya.

Bagaimana resep bumbu dasar putih di atas, mams? Semoga membantu, ya!


mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Senin, 28 Mei 2018

Perjuanganku Melancarkan ASI Setelah Lama Menjadi Ibu Sufor

Ade B usia 8 hari

Bagi sebagian ibu, memproduksi ASI adalah hal yang biasa saja, sangat mudah, begitu saja keluar tanpa ada usaha yang berarti. Mungkin itulah sebabnya banyak ibu menyusui yang memandang sebelah mata ibu yang memberikan susu formula kepada bayinya. Anak pertama saya contohnya, dikenyangkan oleh susu formula. Waktu itu, ASI saya tidak keluar dan karena saya fakir ilmu, saya tidak tau harus bagaimana. Ditambah lagi lingkungan yang hanya bisa men-judge saya dengan ucapan "percuma payudara besar tapi tidak ada ASI" dan ucapan menusuk lainnya.

Saat saya mengetahui saya hamil anak kedua, saya ketakutan setengah mati. Bukan takut tidak bisa membesarkannya, saya takut tidak bisa memproduksi ASI seperti waktu anak pertama. Saya takut payudara saya tidak bisa memberikan hak anak saya. Saya takut orang-orang akan berkata menusuk lagi dan men-judge saya dan anak saya macam-macam.

Pelbagai cara saya lakukan untuk mengusahakan agar ASI saya keluar di kehamilan kedua kala itu. Saya bertanya pada saudara dan kawan yang berhasil mengASIhi bayinya. Suplemen yang diiklankan pun saya beli agar dapat memproduksi ASI saat anak saya lahir. Saya juga mencari rumah sakit yang pro ASI.

Tapi Tuhan berkata lain. Saat melahirkan, saya terus menyusui anak saya meski saya tahu saat itu ASI saya tidak keluar sama sekali. Beruntung sekali saya melahirkan di rumah sakit yang tidak langsung memberikan susu formula kepada bayi. Meskipun saya melahirkan dengan cara caesar, saya tetap semangat menyusui anak saya. Tubuh saya yang masih kesakitan, kupaksa untuk berbalik dan bangun untuk memberi ASI pada bayiku.

Sampai di hari ke tiga, saya memutuskan untuk memberikan susu formula kepada bayi saya (dengan syarat suami harus tanda tangan pemberian susu formula kepada pihak rumah sakit). Waktu itu saya sangat syok karena seorang kerabat suami yang datang berkunjung terus-terusan memegang payudaraku bahkan "membantu" memasukkan area puting ke dalam mulut bayiku. Belum lagi, kerabat prianya terus-terusan memandang payudaraku ketika menyusui bayiku meski saya telah berbalik badan, dia tetap saja mengikuti.

Sepulang dari rumah sakit, saya kembali mengusahakan bayiku menyusu di payudaraku, dengan tetap memberikan susu formula. ASI saya belum keluar sama sekali dan bayiku menangis kelaparan. Belum lagi karena waktu itu saya melahirkan di Makassar dan menumpang di rumah orang tuaku, mereka memarahiku karena tidak memberikan susu formula pada bayiku, mereka terus-terusan berkata bahwa saya tidak mempunyai ASI, bahwa payudaraku kosong. Padahal saya begitu yakin bahwa sebentar lagi payudaraku terisi dengan ASI. Pikiranku kacau, saya mulai stress. Belum lagi luka operasi yang begitu menyakitkan, saya menangis sejadi-jadinya dihadapan suamiku.

Ade B 1 bulan

Lalu saya berkonsultasi pada seorang kawan lama yang sukses mengASIhi dan beliau juga tergabung dalam grup AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Sulsel, dari beliau lah semangat mengASIhi ku muncul dengan membara. Beliau mengatakan bahwa setiap payudara pasti berisi ASI, hanya saja faktor stress yang menghambatnya keluar. Beliau menyarankan untuk melakukan pijat oksitoksin di rumah dengan bantuan suami. Saya pun melakukannya dengan sebelumnya mencari referensi di youtube. Ketika suami melakukan pijatan, ada tetesan yang membasahi pahaku. Awalnya kupikir itu adalah ASI ku yang mengucur, ternyata air mataku yang jatuh. Saya tidak sadar sedang menangis. 

Saya jadi kepikiran dengan anak pertamaku, saya merasa sangat bersalah padanya. Lalu saya kembali memandangi anak keduaku, saya semakin menangis, saya benar-benar bersedih, merasa tidak pantas menjadi seorang ibu. Sepertinya saya terkena baby blues

Kemudian kawan saya berkata, bahwa ASI hanya bisa keluar jika ibunya bahagia. Ayo, kamu makan apa saja yang bisa bikin hati kamu senang, beli apa saja yang bisa bikin hati kamu senang. Terlebih, lihat bayi kamu, sayangi dia dan yakin kamu bisa mengASIhinya. Well, saya mencobanya. Saya membeli makanan yang saya sukai, saya menonton hingga larut malam dan membeli paket perawatan yang sudah lama saya incar.

Ade B 2 bulan

Alhamdulillah
, tepat di hari ke lima, tiba-tiba saya merasa payudara saya terisi penuh, baju saya basah. Saya merasa belum percaya. Saya coba memompanya, namun hanya membasahi pantat botol. Setelah saya konsultasikan pada kawan saya, ternyata memang demikian. Lalu saya coba menyusui anak saya, alhamdulillah anak saya terus mengisap dan menelan. Saya coba melepaskan susu formulanya, alhamdulillah pipisnya tetap banyak, poopnya juga lancar. 

Tapi meskipun saya sudah menyusui anak saya, masih saja ada yang bilang, "ASI mu kayaknya nda cukup untuk bayimu, kenapa dia menyusuinya lama sekali." Ya ampun, memang benar ya omongan orang tidak akan ada habisnya. Tapi saya cuek saja, asalkan BAK dan BAB anak saya lancar, berat badannya bertambah, saya yakin ASI saya cukup untuknya.

Setelah mulai menyusui, saya tidak ada makanan khusus untuk melancarkan ASI. Hanya vitamin blackmores dan madu yang harus saya habiskan, karena awalnya disarankan kawan saya sebelum ASI saya keluar.

Ade B 2 setengah bulan, 6,4kg
As you can see di setiap foto di atas, badan adek B sudah bertambah, tubuhnya juga semakin keras jika dipegang. Gerakannya juga masih aktif. Jika masih saja ada yang ngomong "ASI kamu tidak lancar", kayaknya tuh orang minta diperahin ASI deh, gemeesss...

Nah, mams, itulah perjuanganku melancarkan ASI di dalam lingkungan yang sangat tidak mendukung. Punya pengalaman juga atau baru akan berjuang? good luck, ya!

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya
This entry was posted in

Kamis, 24 Mei 2018

Kenali Tanda Kakak Cemburu Pada Adik

Dua hari yang lalu, adek B telah diimunisasi HIB dan Polio, dimana setelah imunisasi si adek jadi demam dan sangat rewel. Hal ini berarti waktu saya tersita sangat banyak untuk mengurus adek B dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Saya tidak menyangka bahwa kakak Q merasa cemburu pada adek B karena hal ini. Saya tahu kakak Q cemburu, sejak kakak Q menunjukkan gambarnya padaku.

Hari itu, hari dimana adek B sangat rewel karena imunisasi. Sedikit-sedikit adek B nangis, minta gendong, minta peluk dan tidak mau disusui. Sedikit saja kaki bekas suntiknya disentuh, bahkan di ujung jarinya, adek langsung menangis kesakitan hingga menjerit-jerit. Melihat bayi usia 2 bulan yang nangis terus menerus disertai dengan demam yang lumayan tinggi dan tidak mau menyusu, membuatku makin stress. Ditambah lagi kakak Q yang ikut-ikutan mencari perhatian dengan terus-menerus mengajakku bermain.

Salahku memang, sedikit-sedikit kakak membuat suara gaduh, saya pasti menegurnya dengan nada yang agak tinggi. Tubuhku sudah kelelahan kala itu, sangat lelah. Sejak pagi hingga sore, tak sekalipun saya berbaring, saya hanya menggendong adek B bahkan sambil membuat makanan untuk kakak Q. 

Sampai suatu waktu, kakak Q mengambil kertas dan mulai menggambar. Setelah selesai, kakak Q menghampiriku dan menunjukkan gambarnya. Saya bertanya, "ini siapa, sayang?" lalu kakak Q menjawab sambil terus melihat gambarnya, "ini kakak sama mami, pegangan tangan." 

Gambar kakak biasanya, adek sedang digendong sama mami
Gambar kakak dimana hanya ada mami dan kakak

Mendengar jawabannya saya kaget, tidak biasanya kakak Q menggambar tanpa ada adik di sisinya. Lalu saya bertanya, "loh, adek sama abati mana?" dan jreengggg jawaban kakak Q benar-benar membuatku merasa bersalah, "adek sama abati pergi jauh, hilang."

Saya langsung berkaca-kaca mendengar jawaban kakak Q, saya sadar bahwa kakak Q sedang cemburu pada adik. Mungkin kakak Q sadar bahwa tidak biasanya mami menolak ajakan bermain dan menghabiskan waktu lebih banyak daripada adik. Hari itu juga saya banyak menegur kakak dengan membawa-bawa nama adik, misalnya "tolong kakak jangan ribut, adik lagi tidur." Saya tidak sadar bahwa perkataan itu bisa melukai perasaannya dan membuatnya cemburu pada adik. Sejak melihat gambar itu, saya langsung memeluknya dan memberitahu pada suami agar memberikan perhatiannya pada si kakak saja sampai adik benar-benar sehat.

Kecemburuan kakak pada adik adalah hal yang wajar, yang tidak wajar adalah saat orang tua tidak sadar dengan kecemburuan itu dan tidak berusaha untuk mengatasinya. Kecemburuan kakak Q pada adek B pertama kali saya lihat saat adek B lahir, waktu itu kakak jadi murung saat saya diantar suster ke kamar perawatan. Kakak agak takut mendekatiku dan akhirnya bertanya kemana saja saya selama ini dan mana si adik.

Mengatasi kecemburuan ini pun sebenarnya mudah. Sebaiknya orang tua jangan pernah menyalahkan si kakak atas sesuatu demi si adik, misalnya "adik nangis gara-gara kakak", hindari penggunaan kata negatif ya, mams. Selalu gunakan kalimat positif, misalnya "adek sayang sama kakak, kakak juga sayang ya sama adik.". 

Ingat juga untuk selalu mengajak si kakak dalam mengurus adik, tapi jika kakak tidak mau, jangan dipaksa. Memaksa si kakak mengurus adik, hanya akan membuatnya berpikir orang tuanya hanya menyayangi adik saja.

Ceritakan kisah kakak waktu kecil. Misalnya, "dulu waktu kakak kecil juga seperti ini, kakak juga sering minta gendong kalau sakit", dll. Hal ini akan membuat si kakak berpikir bahwa ternyata dirinya juga dulu diperlakukan sama seperti adik saat ini.

Nah, sekian postingan kenali tanda kakak cemburu pada adik. Jaga hati anak-anak kita ya mams agar kakak beradik selalu saling menyayangi hingga ajal menjemput. Semoga bermanfaat

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Minggu, 20 Mei 2018

Tips Menjalankan Ibadah Puasa Bagi Ibu Menyusui

Bulan Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan pertama bagi saya menjadi ibu menyusui. Kelahiran anak saya dua bulan lalu menjadikan saya sebagai ibu ASI bagi anak saya. Sebelum berpuasa di bulan Ramadhan, saya meluangkan 4 hari untuk berpuasa mengganti utang puasa tahun lalu dan alhamdulillah puasa saya lancar dan hak ASI anak saya terpenuhi.

Sebenarnya dalam agama Islam, ibu menyusui diberikan pilihan untuk berpuasa di bulan suci Ramadhan, terlebih jika si bayi masih di bawah 6 bulan, dimana ASI merupakan satu-satunya asupan si kecil. Namun, jika busui merasa kondisi aman dan terkendali, maka boleh-boleh saja berpuasa saat masih ASI eksklusif. Lantas, bagaimana saya menjalankan ibadah puasa saya dengan tetap memenuhi hak ASI anak saya? Berikut saya paparkan.

Berdoa pada Allah SWT

Pertama, kita harus selalu berdoa pada Allah SWT yang Maha Memiliki segalanya, termasuk ASI itu sendiri. Tidak ada satu pun yang bisa menahan jika Allah berkehendak, dan tak ada satupun yang bisa terjadi jika Allah menahan. Jadi, kita harus tetap berdoa agar diberikan kelancaran ASI saat menjalankan ibadah puasa.

Konsumsi Air Putih Minimal 3 Liter per Hari

Saya pribadi menkonsumsi air putih 3 - 5 liter per hari. Jadi saya punya galon kecil berukuran 5 liter yang selalu terisi penuh dan harus saya habiskan dalam waktu 24 jam. Hal ini karena bahan utama ASI adalah air, makanya sebisa mungkin busui harus menkonsumsi air putih sebanyak-banyaknya. Oh iya, tolong hindari air soda ya. 

Makan Tetap 3x Sehari

Meski sedang berpuasa, saya tetap makan 3x sehari. Saat berbuka, setelah tarwih dan saat sahur. Nah, sahur sangat berperan penting bagi ibu menyusui yang ingin melaksanakan ibadah puasa. Saya pribadi, saat lupa sahur saya tidak berani melanjutkan berpuasa di pagi hari. Hal ini karena tubuh tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup, sementara bayi kita juga tergantung pada tubuh kita.

Makan Makanan Bergizi

Hindari makan banyak tapi tidak bergizi, tetap jaga kualitas makan ya, mams. Biasanya saat berbuka puasa kita sering ya mendapatkan orang yang "balas dendam", pokoknya semua makanan di makan dalam satu waktu. Nah,  hindari pola makan yang seperti ini.

Konsumsi Vitamin dan Madu

Bila diperlukan, mams bisa menkonsumsi vitamin dan madu. Tapi, jika mams  cukup yakin makanan yang dikonsumsi mencukupi semua kebutuhan vitamin Anda, maka boleh di skip.

Nah, berikut jadwal makan saya selama berpuasa sambil menyusui anak saya.
  • Sahur pukul 04.00 : Makan berat + vitamin blackmores + air putih minimal 1 liter.
  • Buka puasa : Makan ringan, kurma atau kue + air putih minimal 1 liter.
  • Setelah sholat tarwih : Makan berat + blackmores + air putih minimal 1 liter.
  • Sebelum tidur : susu + madu + air putih minimal 1 liter.
Sebisa mungkin saya menghindari makanan manis. Saat makan berat pun, saya hanya menkonsumsi sedikit nasi dengan banyak sayuran. Hal ini agar saya dapat minum air putih yang banyak. Nah, bagaimana tips menjalankan ibadah puasa bagi ibu menyusui dari saya? Semoga membantu ya, dan selamat menjalankan ibadah puasa.

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya
This entry was posted in

Rabu, 09 Mei 2018

Review Gendongan Easy Wrap Baby K'Tan

Melahirkan anak kedua merupakan pengalaman baru bagi saya. Semuanya sangat berbeda dibandingkan dengan anak pertama dulu. Waktu habis melahirkan anak pertama, lingkunganku mendoktrin agar tidak menggendong anak agar tidak terbiasa digendong. Alhasil, si kakak Q hingga saat ini memang tidak begitu suka digendong. Padahal penelitian lebih lanjut mengatakan bahwa menggendong sangat bermanfaat bagi si bayi. (silahkan googling).

Melahirkan secara caesar membuat saya harus bolak-balik ke dokter untuk memeriksakan kondisi bekas operasiku. Tidak tanggung-tanggung, saya harus memeriksakan bekas luka hingga usia anak saya satu bulan. Berhubung adek B full direct breast feeding a.k.a menyusui di badan secara langsung, otomatis adek B harus ikut serta kemana pun saya pergi.

Awalnya saya hanya menggendongnya tanpa alat bantu, tapi rasanya lenganku seperti mati rasa ketika menggendong di atas 5 menit. Akhirnya saya kepikiran untuk membeli gendongan kaos berbentuk sling instan yang lagi kekinian, namun rasanya kurang cocok untuk newborn karena satu lengan masih dimanfaatkan untuk menahan leher bayi yang masih belum kuat.

Kemudian saya coba searching di google dan menemukan baby wrap. Rasanya kok bagus, terlihat sangat nyaman bagi si baby, namun karena gendongan berbentuk wrap berupa kain panjang yang dililit di tubuh si ibu, rasanya sangat ribet jika harus saya gunakan. 

Saya hampir menyerah, saya buka-buka facebook dan tiba-tiba muncul iklan baby wrap merk Baby K'Tan beserta harganya. Saya kaget melihat harganya yang tidak sama dengan baby wrap pada umumnya yang hanya berkisar 100rban. Saya berpikir gendongan wrap macam apa ini, kenapa dijual dengan harga di atas biasanya, pasti produk impor. 

Benar saja, ternyata Baby K'Tan adalah gendongan wrap impor, harga belinya tergantung beli dimana. Saya pribadi membelinya di tokopedia dengan harga 520rb rupiah untuk yang original. Oh iya, gendongan ini ada beberapa jenis ya, ada yang breeze, active, dan original. Kebetulan saya mendapatkan tipe original untuk size yang saya pakai. Waktu itu karena buru-buru akan segera digunakan pulang ke tanah rantau, akhirnya gak milih tipe dan warna lagi deh, yang penting muat.

Gendongan Baby K'Tan Original Eggplant. M-shape / Hug Positition
Pertama kali memegang gendongan ini, kainnya benar-benar soft. Terbuat dari kain katun, namun katunnya sangat berbeda dengan gendongan katun dari Indonesia. Benar-benar nyaman buat si ibu dan si bayi, loh!

Gendongan ini disebut easy wrap karena memang tidak perlu lilitan yang banyak untuk menggunakannya. Gendongan ini terdiri dari dua kain yang sudah dijahit kemudian disatukan dengan cincin dari kain juga (ngerti gak sih heheh ribet baget ya). Intinya untuk menggunakan gendongan ini, kita tidak perlu lilitan yang sangat banyak seperti gendongan wrap pada umumnya.

Selain itu, gendongan ini juga sangat nyaman digunakan untuk newborn, sama sekali tidak akan menggaggu pertumbuhan si bayi karena kita bisa menggunakan posisi kangguru saat menggendong bayi kecil. Untuk bayi usia 2 bulan ke atas, kita sudah bisa menggunakan posisi M-Shape atau hug position. Oh iya, tas gendongan ini bisa dibuka untuk dijadikan bagian dari gendongannya untuk dipakai jadi bentuk M-shape.

Gendongan Baby K'Tan Original Eggplant. Newborn / Kangoro Positition
Menggunakan gendongan baby k'tan, saya bisa menggunakan tangan saya untuk hal yang lain, misalnya masak, mencuci piring, menyapu atau sambil mengangkat barang. Intinya tangan jadi bebas digunakan untuk hal yang lain tanpa takut leher bayi yang belum kuat jadi kemana-mana.

Oh iya, saya menggunakan ukuran M untuk berat badan 69kg (jangan ketawa ya, ini sudah turun 15kg) dan tinggi badan 160cm. Tapi rasanya kok agak longgar ya. Tapi gak papalah.. jika berat badanku turun nanti, bisa dijahit untuk diperkecil.

Saat menggunakan gendongan ini rasanya cukup nyaman di bahu. Namun tidak bisa dipungkiri jika digunakan dalam waktu yang lama, rasanya pegal juga. Untuk si bayi, saya perhatikan adek B tidur dengan sangat nyaman saat digendong dengan gendongan ini, apa mungkin karena usianya masih 2 bulan, ya? Entahlah, intinya gendongan ini cukup nyaman bagi ibu dan bayi.

Nah, sekian review saya tentang gendongan easy wrap Baby K'Tan. Bagaimana, tertarik mencoba, mams? Semoga membantu, ya!

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Sabtu, 05 Mei 2018

Pengalaman Naik Pesawat Dengan Bayi Usia 1 Bulan

Tepatnya dua bulan lalu, saya melahirkan di Makassar, tanah kelahiran saya dan suami (beserta anak pertama kami). Pada usia adek B yang ke 1 setengah bulan karena satu hal dan yang lainnya, kami memutuskan untuk kembali ke tanah rantau kami di Kendari. Hal ini berarti adek B saat itu belum mencukupi usia standar menjadi penumpang maskapai penerbangan, yakni usia 3 bulan.


Saat itu kami menumpangi pesawat Garuda dengan harapan tidak ada drama delay, namun ternyata pesawat Garuda delay juga selama satu jam. Penerbangan dari Makassar ke Kendari terbilang cukup singkat, hanya bekisar 1 jam perjalanan udara. Tapi yang namanya bayi kecil, mau naik pesawatnya hanya satu jam pun tentu memiliki pelbagai risiko.

Seperti pada umumnya, bayi di bawah usia 2 tahun hanya membayar sebesar 10% dari harga tiket dewasa tanpa ada bagasi. Padahal ya barang bawaan kami 70% punya si adek B, hehe. Berhubung maskapai pesawat tidak mengizinkan bayi di bawah 3 bulan melakukan penerbangan (pada kasus tertentu biasanya bisa, asal ada rekomendasi dokter), maka saya meminta suami untuk memalsukan usia anak saya, yang sebenarnya lahir bulan Maret 2018 diubah menjadi Januari 2018. Nah, apa saja persiapan saya membawa bayi usia 1 setengah bulan untuk menaiki pesawat? Berikut saya paparkan.

Gendongan Bayi

Menurut hemat saya, gendongan bayi lebih efisien dan efektif dibawa ketimbang stroller. Kenapa? Hal ini karena bayi usia 1 bulan masih sangat membutuhkan kehangatan tubuh ibu, masih suka dipeluk-peluk. Untuk menghindari si bayi ngamuk, maka saya memilih gendongan berbentuk wrap. Saya sendiri menggunakan easy wrap dari baby K'tan. Sebenarnya saya juga punya gendongan instan yang berbentuk sling, namun rasanya pergelangan tanganku sangat letih menggunakan gendongan tipe sling karena leher bayi usia 1 bulan masih belum kuat, jadi lengan kita masih harus menyangganya. 

Saya juga memilih gendongan easy wrap daripada wrap pada umumnya yang harus dililit banyak, tujuannya agar tidak rempong, itu saja. Bandara Hasanuddin Makassar memang tidak sebesar bandara Soekarno Hatta di Jakarta, namun percayalah mams, gendongan akan sangat bermanfaat jika akan menaiki pesawat. Oh iya, kakak Q dulu naik pesawat di usia 4 setengah bulan, saat itu lehernya sudah tahan jadi saya menggunakan gendongan tipe SSC (soft structured carrier). Lagian waktu itu saya belum paham betul tipe gendongan, maklum ibu baru nan bodoh lugu.

Apron Menyusui

Alhamdulillah anak kedua ini saya bisa menjadi ibu ASI. Berbeda dengan anak pertama dulu dimana saya jadi ibu sufor. Berhubung saya full direct breast feedingi, maka saya sangat membutuhkan apron menyusui untuk menutupi area pribadi saya saat menyusui di tempat umum. Trust me, ini sangat bermanfaat. 


Bagi ibu sufor, saran saya siapkan semua keperluan feeding bayi di tempat berukuran kecil, termasuk termos air panas. Tapi dulu waktu anak pertama sih saya menyajikan susu formulanya dengan air mineral biasa. 

Baju Ganti Bayi, Popok dan Tissue Basah

Ingat juga ya mams untuk membawa pakaian ganti, popok dan tissue basah untuk si kecil. Kemarin sebelum naik ke pesawat, adek B buang air besar di popoknya. Otomatis saya harus menggantinya di nursing room. Oh iya, di nursing room bandara ternyata ada ranjang, wastafel dan dispenser air minum yang ada keran air panasnya. Kemarin lupa di foto karena buru-buru sudah ada panggilan naik ke pesawat. 

Tips Saat Naik Pesawat Bersama Bayi

Selain persiapan yang sudah saya paparkan di atas, saya juga punya beberapa tips nih agar naik pesawat bersama si kecil bisa jadi menyenangkan tanpa ada drama sama sekali. Alhamdulillah perjalanan pulang kami ke tanah rantau kemarin tidak menghadirkan drama sama sekali pada adek B.
  1. Kenakan pakaian yang nyaman untuk si kecil, saya pribadi memilih sleep wear untuk adek B, yang ada tutupan tangan dan kakinya langsung. Jadi adek B tidak perlu mengenakan kaos tangan dan kaos kaki lagi, deh. Pengalaman naik pesawat bersama kakak Q, doi rewelnya minta ampun selama perjalanan, waktu itu saya memakaikan pakaian yang heboh untuk anak saya hehe.. maaf ya kakak Q.
  2. Susui si kecil selama take off dan landing pesawat agar tekanan udara yang tiba-tiba naik dan turun tidak membuat telinga bagian dalam si kecil jadi sakit. Oh iya, penutup telinga sangat tidak efektif loh untuk membantu telinga si kecil. Hal ini karena saat naik pesawat, bukan telinga bagian luar yang bermasalah, tetapi telinga bagian dalam yang hanya bisa dihilangkan dengan menelan. Bagi yang sudah biasa naik pesawat, pasti paham deh, saat tekanan udara di kabin berubah, telinga pasti akan berdengung dan akan hilang ketika kita menelan ludah. Nah! thats why si kecil harus tetap menyusu saat itu.
  3. Selain si kecil, ibunya juga WAJIB mengenakan pakaian yang nyaman, sebisa mungkin kenakan pakaian yang busui friendly, ya!
  4. Hindari membawa tentengan yang berlebihan, misalnya mau bawa ole-ole sampai berkantung-kantung hehe, saya sendiri hanya membawa satu tas ransel berukuran kecil untuk menyimpan keperluan adek B.
Nah, itulah pengalaman, persiapan dan tips saat naik pesawat bersama bayi usia 1 bulan. Masih ada tambahan gak nih? Semoga membantu ya! 

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Selasa, 01 Mei 2018

Review Full Cover Apron Petite Mimi: Nyaman Menyusui Di Tempat Umum

Setelah melahirkan secara caesar, saya masih harus memeriksakan bekas operasi saya ke dokter beberapa kali hingga usia anak saya 1 bulan. Berhubung anak saya full direct breast feeding alias menyusu langsung di badan saya, otomatis saya harus membawanya ikut serta periksa ke dokter. Awalnya saya berpikir untuk menutupinya dengan jilbab saja, namun ketika dilakukan langsung rasanya sangat sulit. Jadi waktu itu saya harus masuk ke ruang menyusui jika ingin memberikan ASI untuk anak saya.

Sebelumnya saya pernah melihat apron menyusui di internet, sebelum saya hamil anak kedua. Namun waktu itu saya berpikir, "ini untuk apa ya?". Sangat dimaklumi karena anak pertama saya adalah anak susu formula. Jadi tentu saja saya sangat tidak mengenal produk apron menyusui.

Berhubung suami saya ada di Makassar kala itu, saya memutuskan untuk mengunjungi baby shop terdekat (meski ketika pulang bayi saya sudah nangis-nangis cari emmaknya) untuk mencari apron menyusui yang bisa saya gunakan jika berada di tempat umum. Awalnya saya menemukan apron yang hanya digantungkan di leher saja, tidak full cover. Sebenarnya mau beli yang itu karena bahannya nyaman dan motifnya sederhana, secara saya tidak terlalu suka dengan motif penuh. Tapi setelah saya coba, rasanya kok aneh ya, sepertinya agak sulit menutupi bagian samping, akan butuh perjuangan dan pastinya akan ribet terlebih karena saya berjilbab dan agak rempong.

Saya hampir menyerah hingga menemukan full cover apron merk petite mimi di baby shop yang sama. Saya buka apronnya dan ternyata bagus, apronnya bisa menutupi keliling depan, samping dan belakang. Apronnya juga dilengkapi dengan kawat bagian depan, jadi kita bisa tetap menjalin bonding dengan si baby dengan mengintip dari baliknya. Cocok juga buat si bayi yang masih kecil dan belum bisa menemukan puting susunya sendiri, jadi kita bisa lihat dan membantunya. Apron ini juga dilengkapi dengan tali yang bisa digantungkan ke leher jika tidak ingin full cover saat menggunakannya.

Ada kawat di bagian depan, jadi bisa ngintip si kecil di dalam lagi ngapain
Gambar di atas adalah pertama kalinya saya menggunakan apron ini, pas lagi jalan ke mol. Sungguh sangat membantu, bisa dilihat pada gambar di atas, apronnya benar-benar full cover ya menutupi semua bagian tubuh. Bahkan si kecil juga bisa tertutupi, jadi tidak perlu menggunakan selimut lagi untuk bayi kecil saat menyusui.

digunakan saat di pesawat juga bagus

Makan di restoran juga bagus
Apron ini juga dilengkapi dengan tas kecil untuk menyimpan apronnya. Jadi pas disimpan di dalam tas, bisa lebih rapih. Hanya saja, saya kurang suka dengan bahannya, agak kasar dan tipis, motifnya juga terlalu berlebihan. Kemungkinan besar dibuat motif ramai untuk mengakali bahannya yang agak tipis, jadi biar tidak tembus pandang maka dibuatlah motif yang ramai.

Apron ini saya beli di baby shop Milk Makassar seharga 125rb rupiah. Jika beli online di shopee bisa dapat seharga 90rban. Harganya sesuai lah menurutku jika dibandingkan dengan fungsinya yang sangat membantu menutupi area yang sangat pribadi bagi wanita. Produk ini sangat saya rekomendasikan bagi para pejuang ASI yang ingin tetap eksis di luar rumah, seperti saya :D

Nah, sekian review saya tentang full cover apron petite mimi. Semoga membantu ya, mams!

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya