Jumat, 13 April 2018

Pengalaman Merawat Sendiri Bayi Kuning di Rumah

Ibu mana yang tidak panik ketika mendapati kondisi bayi mungilnya yang tak berdaya memiliki kelainan, tidak normal seperti bayi pada umumnya. Terlebih kelainan itu terlihat sangat ambigu. Ya, bayi kuning memang menciptakan berbagai persepsi di mata orang yang melihatnya. Orang awam kemungkinan besar akan mengatakan bahwa si bayi dehidrasi karena kurangnya ASI.

Sewaktu acara syukuran, kira-kira sebulan yang lalu saat anak saya berusia 8 hari, beberapa orang yang datang melihat bayi saya mengatakan bahwa si anak berwarna kuning. Bahkan beberapa orang dengan lantangnya men-judge saya memiliki ASI yang kurang. Padahal saya baru saja bahagia karena akhirnya ASI saya keluar setelah hari kelima kelahiran bayi saya. Mendengar ucapan-ucapan sumbang itu, saya hanya bisa menyembunyikan kesedihanku dibalik senyuman palsu. Dalam hati, perasaan sudah bercampur aduk, terkadang saya menitikkan air mata di balik sunyi.

Keesokan harinya saya memperhatikan anak saya dengan seksama di bawah cahaya matahari. Oh, ternyata bayi saya memang kuning, bahkan matanya pun berwarna kuning. Saya membuka kembali foto-foto yang saya ambil dua hari sebelumnya, ternyata bayi saya memang kuning, Kenyataan ini membuat saya semakin lemas menjadi-jadi. Pikiran saya kacau dan hati saya tidak tenang. Saya ketakutan karena mengingat anak pertama saya tidak mendapatkan hak sepenuhnya atas ASI ku. Namun saya pikir lagi, jika memang anak saya kuning karena dehidrasi, lantas mengapa urinnya cukup, BAB nya juga lancar. Saya semakin cemas.

Mata bahkan sampai gusinya pun ikut berwarna kuning, usia 7 hari
Kebetulan saya memiliki seorang teman yang sudah dua kali kami hamil bersamaan, bahkan kedua anak kami lahir dalam waktu berdekatan. Saya sedikit sharing dengan beliau dan ternyata teman saya ini kedua anaknya terlahir dalam kondisi kuning. Ternyata pembuat ulah bayi kuning ini bukan karena kurangnya asupan ASI, namun karena ulah si bilirubin pada tubuh si kecil (bisa di googling ya). Setelah beberapa penjelasan dari beliau yang kebetulan juga seorang perawat, akhirnya saya mulai kalem.

Lalu beberapa hari kemudian, saudari ipar saya berkunjung ke rumah. Saya menceritakan kondisi anak saya dan berencana akan membawanya ke dokter anak. Namun saudari ipar saya ini mengatakan bahwa anaknya juga terlahir dengan kondisi seperti itu, waktu itu beliau membawanya ke dokter anak, tapi si bu dokter hanya menyarankan agar si bayi dijemur pagi antara pukul 7 hingga 8. Nah, kebetulan di Makassar lagi sering hujan waktu itu, otomatis waktu berjemur anak saya terganggu. Bayangkan saja, usia anak saya sudah lewat setengah bulan namun berjemur baru 3 kali. 

Namun, saya tidak menyerah, saya terus memanjatkan doa pada Sang Pengatur Hujan, sambil terus memberikan ASI pada anak saya. Alhamdulillah, matahari pagi pun muncul. Setiap pagi saya menjemur anak saya di bawah matahari pagi selama kurang lebih 15 menit. Anak saya hanya mengenakan popok dan singlet, berbaring di atas pangkuanku yang ikut duduk berjemur sambil menunggu lewatnya penjual jamu.

Adek lagi dijemur pagi
Setelah dijemur dengan rutin, alhamdulillah saat ini mata bayi saya sudah berwarna normal, begitupun dengan gusinya. Namun saya melihat kulitnya masih agak kuning. But it is okay, perubahannya sudah sangat luar biasa menurunkan level kecemasanku.

Mata sudah normal, usia 1 bulan
Nah, demikian pengalaman saya dalam merawat sendiri bayi kuning di rumah. Semoga membantu dan sehat selalu ya si kecil.

Mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

4 komentar:

  1. Anakku waktu lahir dulu juga sempat kuning beberapa hari karena jarang dijemur. Waktu itu juga lebih sering hujan makanya jarang dijemur

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak pertama sy dlu tdk kuning mba, makax kaget pas liat adeknya kuning :D

      Hapus
  2. ternyata solusinya gampang ya mbak....dijemur aja ....tq

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa mbaa.. djemur2 saja, ponakan saya malah baikannya pas diusia hampir 2 bulan.

      Hapus

Bagaimana Pendapatmu?