Rabu, 21 Maret 2018

Pengalaman Melahirkan Caesar Kedua

Akhirnya anak keduaku lahir juga dengan proses persalinan secara caesar. Kali ini, proses persalinan dengan jalan operasi caesar sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Kenapa harus caesar? Soalnya anak pertama saya juga lahir secara caesar. Apa tidak bisa normal? Bisa dan dokter menawarkan saya untuk mencoba jalan normal, namun saya merasa tidak yakin sanggup melahirkan anak kedua saya dengan jalan normal. Jadi yah, bismillahirrahmanirrohim, saya memilih jalan caesar.

Sebelum melahirkan, saya sempat membaca beberapa artikel tentang pengalaman orang lain melahirkan caesar kedua, namun yang saya dapatkan kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa caesar kedua lebih sakit dibandingkan dengan yang pertama kali.

Sebelum membandingkan rasanya melahirkan secara caesar yang pertama dan kedua, saya akan menuliskan satu per satu apa yang saya alami di persalinan kedua saya secara caesar ini.

Rabu, 6 Maret 2018

Selepas sholat isya, saya ditemani oleh suami, orang tua dan anak pertama saya menuju rumah sakit bersalin. Berhubung 7 maret adalah hari yang telah saya rencanakan untuk melakukan persalinan secara caesar, dokter meminta saya untuk datang malam hari sebelum operasi berlangsung. 

Pertama tiba, saya langsung memasuki ruang IGD dan memberikan surat rujukan dari dokter kandungan saya kepada dokter jaga di IGD. Setelah itu, saya diminta untuk berbaring di bed IGD sementara suami saya mengurus administrasi rumah sakit.

Nah, yang menyenangkan adalah perawat tidak perlu melakukan periksa dalam pada saya karena memang rujukan saya adalah melahirkan secara caesar. Saya ingat dulu waktu melahirkan anak pertama, berulang-ulang saya harus merasakan 'sakitnya' pemeriksaan dalam. Perawat hanya melakukan pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi bayi dan pengukuran lingkat dan tinggi perut. Tidak lama kemudian, bagian lab datang untuk mengambil sampel darah dan ketika administrasi selesai, saya dipersilahkan masuk ke kamar rawat saya dan diingatkan untuk berpuasa mulai pukul 01.00 karena besok akan diadakan operasi pada pukul 09.00.

Kamis, 7 Maret 2018

Setelah melakukan sholat subuh dan sholat taubat, saya bersiap-siap dan membersihkan diri, sambil berdoa kapan saya akan buang air besar. Soalnya entah kenapa saya tidak dipompa untuk mengeluarkan kotoran ataukah diberikan dulcolax seperti yang lalu. Mungkin perawatnya lupa atau bagaimana.

Pukul 06.00 seorang perawat datang dan memasangkan infus ke tangan kanan saya, lalu mengukur tekanan darah saya yang ternyata menjadi tinggi karena kepikiran terus proses operasi yang akan saya jalani. Untung saja si perawatnya baik hati dan tidak sombong, dia mengingatkan saya untuk rileks dan mengatakan semua akan baik-baik saja, tidak usah terlalu dipikirkan sambil mengelus-elus lengan saya.

Pukul 08.00 akhirnya saya dijemput dengan menggunakan kursi roda. Suami, anak, orang tua dan mertua sudah berkumpul di kamar. Perasaan saya jadi haru plus sangat rindu dengan anak pertama saya yang sedari malam tidak tidur denganku melainkan dengan orang tuaku. Kuraih anakku, kucium wajahnya dan kupeluk tubuh mungilnya sambil mengucapkan kata sayang.

Saya dimasukkan ke dalam kamar perawatan pasca operasi dan berbaring di bed 3. Di dalam ruangan terdapat beberapa ranjang yang sudah diisi dengan pasien lain. Ada yang sudah operasi dan ada juga yang bernasib sama denganku, menunggu giliran.

Pukul 09.00 akhirnya giliran saya yang masuk ke kamar operasi. Saya hanya berjalan kaki dituntun oleh perawat dari kamar perawatan pasca operasi menuju ruang operasi. Rasanya ngeri-ngeri gimana ya, soalnya saya banyak membaca pengalaman caesar kedua orang lain yang katanya jauh lebih sakit dibandingkan dengan caesar pertama.

Pintu kamar operasi pun terlihat dengan daun pintu yang sudah terbuka lebar. Saya mencium aroma seperti aroma pemutih pakaian suncle*n, yang terakhir saya sadari adalah bau darah dari rahim. Baunya sangat menyengat sampai menusuk hidungku. Terdengar suara dokter anastesi, yang mana adalah seorang bapak-bapak, mengatakan pada si perawat kenapa saya terlambat dibawa masuk ke ruang operasi.

Baca Juga : Perawatan Pasca Operasi Caesar, Biaya, Obat dan Waktu Pemulihan


Saya diminta naik ke atas ranjang operasi, yang ukurannya sangat ramping, sekiranya hanya muat badan saja, sulit rasanya naik ke atasnya. Daaan... akhirnya tiba saat saya harus disuntik di bagian belakang. Seingat saya dulu waktu melahirkan kakak Q, saya diminta duduk dalam posisi membungkuk, nah pas kemarin saya diminta berbaring ke sebelah kiri sambil memeluk lutut dan kepala ditekuk ke bawah oleh si bapak dokter anastesi. Ya Allah, rasanya sangat tidak mengenakkan, rasanya lebih enak waktu melahirkan pertama dulu, yang mana posisinya duduk dan sama sekali tidak ada rasa sakit apapun. Nah, kemarin itu posisinya sangat tidak nyaman karena saya sampai sesak nafas, pas disuntik di belakang pun, kayaknya suntikannya tidak pas di tempat tujuan, buktinya rasanya sakit sekali, ngilu-ngilu sampai saya ingin meluruskan belakang namun ditahan oleh si bapak dokter anastesi. Saya nangis by the way.

Setelah disuntik, badan saya buru-buru dibalik ke atas sama dokter anastesi. Tangan diposisikan seperti lagi disalip, lengkap deh dengan segala peralatan yang dipasang di lengan, jari dan dada saya plus tangan saya diikat biar tidak gerak-gerak. Ya Allah rasanya sudah seperti akan disembelih dan dikurbankan kayak sapi kurban. Nah, setelah itu saya dites efek anastesi, disuruh bandingkan dinginnya cool bag di pipi dengan di perut. Alhamdulillah rasanya lebih dingin di pipi, kalo diperut rasanya kayak gimana ya, seperti disentuh saja namun tidak ada efek dingin sama sekali.

Akhirnya si dokter spog masuk dan mengintip dari balik tirai yang sengaja dipasang di atas dada untuk menutupi kengerian di bawah sana. Dokter spog mengatakan "saya mulai yaa.." setelah itu beliau menuntun untuk berdoa bersama, lalu terdengar si dokter meminta pisau pada asistennya. Nah, disitulah kengerian mulai menjalar ditubuhku. Ya Allah, saya dipotong ini ya Allah... suara radionya mana yaaa.. huhh rasanya ngeri harus dengar percakapan dokter dan suara-suara alatnya itu. Suara radionya baru dinyalakan pas si anak sudah keluar. Telat lah, saya sudah dengar SEMUANYA. hehehe

Setelah proses operasi selesai, pukul 10.00 saya dibawa ke ruang pemulihan dan tidak diperbolehkan minum sebelum bisa menggerakkan kaki. Pas saya tanya perawat, biasanya butuh berapa jam ya agar kaki bisa bergerak, dijawabnya 3 jam. Ya Allah, rasanya lama soalnya saya sudah puasa sejak jam 1 malam, perut sudah sangat lapar. Plus saya rindu pada anak pertama saya. Lalu saya tanya lagi, kapan saya bisa ke kamar, si perawat mengatakan bahwa jika tidak ada masalah saya bisa diantar jam 16.00 ke kamar.
Kaki sudah bisa digerakkan tapi belum bisa balik kamar

Dua orang disamping bed sudah balik kamar
Seperti biasa, setelah operasi badan jadi menggigil. Berangsur-angsur efek bius hilang, bersamaan dengan datangnya rasa sakit dan nyeri di bekas operasi. Jika dulu saya menangis dan berteriak, kali ini saya hanya bisa meringis dan beristigfar. Mungkin pengaruh malu kali ya karena di kiri dan kanan adem-adem saja pasca operasi.

Perbedaan Caesar Pertama dan Kedua

  1. Sc pertama prosesnya lebih cepat, kedua lebih lama.
  2. Sc pertama pemulihannya lebih lama, kedua lebih cepat.
  3. Sc pertama saya di RS sampai 8 hari, kedua hanya 3 hari.
  4. Sc pertama saya tidak sanggup menggendong bayi saya yang beratnya 3,8kg, kedua saya menggendong bayi saya yang 4kg pulang ke rumah plus ada kakaknya yang menggantung di badan saya.
  5. Sc pertama biaya lebih mahal karena cito sc dan lama perawatan di RS, kedua lebih murah.
Setelah ada kesimpulan di atas, bisa disimpulkan sendiri bahwa caesar kedua sebenarnya lebih enteng dibanding yang pertama. Mungkin karena sudah ada pengalaman kali ya, dan kemungkinan besar karena ada si kakak yang diingat juga butuh kita. Jadi emmaknya harus kuat demi si anak-anak.

Nah, jadi buibu, yang ada rencana caesar kedua, tidak usah khawatir dengan review orang lain. Rasanya tidak sengeri itu kok, yang penting mindset kita harus kuat. Tidak usah bayangkan yang tidak-tidak, takutnya tekanan darah akan naik dan jadinya runyam deh...

Semoga selamat ya bersalinnya, ibu dan bayi sehat selalu.

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

2 komentar:

  1. Huhu, disuntik anestesi yang di tulang belakang itu memang sakit banget Mbak, akupun pernah waktu operasi ureter. Rasaya ngilu, nyeriii :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbaa.. Pas sc kedua ini mmg sakit pas suntik anastesix, tp waktu sc pertama dulu sama sx ga ada rasax loh.. Katax sih kalo ga sakit artix suntikanx pas banget di ruas tulang blkg itu. Kalo sakit artix ga pas

      Hapus

Bagaimana Pendapatmu?