Sabtu, 31 Maret 2018

Perawatan Pasca Operasi Caesar, Biaya, Obat dan Waktu Pemulihan

Pada awal Maret lalu, tepatnya tanggal 7 Maret, saya melahirkan anak kedua saya melalui proses operasi caesar. Salah satu hal yang membedakan persalinan normal dan caesar adalah perawatan pasca melahirkannya. Jika persalinan normal tidak membutuhkan periksa dokter setelahnya, nah persalinan caesar membutuhkan cekup rutin ke dokter hingga jahitan benar-benar kering. Berikut biaya, obat dan waktu pemulihan yang saya butuhkan setelah menjalani operasi caesar.

Tanggal 15 Maret adalah jadwal pertama kali saya melakukan cekup setelah keluar dari rumah sakit, waktu itu dokter berkata bahwa perban anti air saya terbuka sedikit. Saya malah tidak tahu karena kurangnya perhatian. Dokter berkata, luka bekas caesar saya jahitannya hampir terbuka di bagian ujung kanan. Suami saya yang ikut melihat mengatakan bahwa memang benar di bagian ujung kanan itu terlihat merah. Jadi, dokter meresepkan antibiotik claneksi untuk penggunaan 4 hari sambil tetap menkonsumsi VIP Albumin yang masih tersisa di rumah, setelah itu saya diminta untuk datang kembali. Luka pun ditutup kembali menggunakan perban anti air.



Seharusnya saya datang lagi periksa 4 hari kemudian, tapi karena kedua anak saya demam, saya tidak datang, lalu ketika anak saya sudah sehat, ternyata dokter saya lagi melancong ke luar negeri. So I decided to wait. Hingga tanggal 29 Maret baru saya kembali memeriksakan kondisi luka jahitan saya. Tapi selama itu, saya selalu mengganti perban sendiri di rumah dengan bantuan suami tentunya.

Baca Juga : Biaya Melahirkan di RSIA Ananda Makassar 2018

Saat pemeriksaan kedua, ternyata luka saya belum kering, malah keluar darah dan nanah. Lalu dokter membersihkan luka saya dan memencet bagian yang bernanah. Proses penyembuhan luka di kulit terluar saya agak lambat, begitu kata dokter. Dokter bertanya pada saya apakah saya rajin bergerak di rumah. Ternyata pasca caesar, kita dituntut untuk rajin bergerak, tidak tinggal diam agar luka cepat sembuh. Lalu saya kembali diresepkan antibiotik claneksi, VIP Albumin dan Trichodazol yang kemudian saya harus merogoh kocek yang menurutku lumayan mahal.



Berikut obat yang diresepkan dokter




Oh iya, selain obat yang diresepkan dokter di atas, saya juga menkonsumsi ikan gabus di awal pemulihan, sekarang sih sudah tidak lagi. Saya juga menkonsumsi susu tinggi protein, peptisol. 


Nah, sebenarnya saya masih harus periksa di tanggal 5 April, jadi tulisan ini akan bersambung minggu depan yaa....

====================UPDATE 8 APRIL 2018=====================

Kamis 5 April lalu, adalaha kunjungan terakhir saya ke dokter. Hari sebelumnya, perban saya terlepas dan basah semuanya, jadi saya memutuskan untuk melepasnya. Kemudian dengan bantuan adik saya, luka dibersihkan dengan cairan NACL atau biasa disebut air infus, lalu diolesi dengan salep bioplacenton dan ditutup dengan perban biasa.

Ketika kunjungan ke dokter, ternyata luka saya sudah kering, alhamdulillah... Tinggal menggunting ujung jahitan yang terdapat benang kecil yang agak keluar. Setelah itu dokter meresepkan saya salep anti keloid.

Satu fakta yang saya temukan ketika visit dokter kali ini, ternyata kulit bekas operasi pertama dulu sudah dibuang waktu melakukan operasi kedua. Jadi semakin banyak secar, semakin banyak kulit yang dibuang. Pantas saja rasanya kok perut saya bagian bawah jadi makin aneh ya keliatannya. Alasan kulitnya dibuang agar proses penyembuhan luka operasinya bisa lekas sembuh, karena pada dasarnya bekas jahitan operasi kulitnya sudah tidak sehat dan aliran darah sudah sangat kurang disana. Oh pantas saja pas saya pegang bekas jahitannya kok rasanya kayak mati rasa ya. heheh

Berikut struk dan selep yang diresepkan oleh dokter.




Nah, demikian akhir dari pemeriksaan pasca operasi caesar kedua saya, semoga bisa dijadikan bahan pelajaran yaaa... and do not worry be hurt, everything will gonna be okay. 


mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Sabtu, 24 Maret 2018

Akhirnya Anak Kedua Kami Lahir Juga

Alhamdulillah, akhirnya putra kedua kami lahir juga melalui proses sectio caesaria atau lebih dikenal dengan caesar. Setelah menanti kelahirannya selama 39 minggu dan 3 hari, penantian itu berakhir juga. Meski sejak awal kehamilan, sudah terjadi banyak drama, mulai dari keluar darah dari jalan lahir pada trisemester pertama hingga sakit gigi pada trisemester terakhir. Namun dengan kelahirannya, rasanya semua terbayarkan lunas.

Saya punya kebiasaan sejak kehamilan anak pertama dulu, saya sering menuliskan proses kehamilan saya dalam sebuah buku. Maksudnya untuk kenang-kenangan gitu, siapa tahu saya nanti sudah tidak ada lagi, ataukah saya kenapa-kenapa, nah dari buku itulah anak-anak saya akan tau betapa saya sangat menyayangi mereka bahkan saat mereka belum ada di dunia ini.







And.... finally, launching juga bayinya...


Abdul Barr
Lahir 7 Maret 2018
Pukul 09.21 WITA
Pb 50cm BB 4kg

Hai baby boy, ada banyak cinta disini untukmu.


mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Rabu, 21 Maret 2018

Pengalaman Melahirkan Caesar Kedua

Akhirnya anak keduaku lahir juga dengan proses persalinan secara caesar. Kali ini, proses persalinan dengan jalan operasi caesar sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Kenapa harus caesar? Soalnya anak pertama saya juga lahir secara caesar. Apa tidak bisa normal? Bisa dan dokter menawarkan saya untuk mencoba jalan normal, namun saya merasa tidak yakin sanggup melahirkan anak kedua saya dengan jalan normal. Jadi yah, bismillahirrahmanirrohim, saya memilih jalan caesar.

Sebelum melahirkan, saya sempat membaca beberapa artikel tentang pengalaman orang lain melahirkan caesar kedua, namun yang saya dapatkan kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa caesar kedua lebih sakit dibandingkan dengan yang pertama kali.

Sebelum membandingkan rasanya melahirkan secara caesar yang pertama dan kedua, saya akan menuliskan satu per satu apa yang saya alami di persalinan kedua saya secara caesar ini.

Rabu, 6 Maret 2018

Selepas sholat isya, saya ditemani oleh suami, orang tua dan anak pertama saya menuju rumah sakit bersalin. Berhubung 7 maret adalah hari yang telah saya rencanakan untuk melakukan persalinan secara caesar, dokter meminta saya untuk datang malam hari sebelum operasi berlangsung. 

Pertama tiba, saya langsung memasuki ruang IGD dan memberikan surat rujukan dari dokter kandungan saya kepada dokter jaga di IGD. Setelah itu, saya diminta untuk berbaring di bed IGD sementara suami saya mengurus administrasi rumah sakit.

Nah, yang menyenangkan adalah perawat tidak perlu melakukan periksa dalam pada saya karena memang rujukan saya adalah melahirkan secara caesar. Saya ingat dulu waktu melahirkan anak pertama, berulang-ulang saya harus merasakan 'sakitnya' pemeriksaan dalam. Perawat hanya melakukan pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi bayi dan pengukuran lingkat dan tinggi perut. Tidak lama kemudian, bagian lab datang untuk mengambil sampel darah dan ketika administrasi selesai, saya dipersilahkan masuk ke kamar rawat saya dan diingatkan untuk berpuasa mulai pukul 01.00 karena besok akan diadakan operasi pada pukul 09.00.

Kamis, 7 Maret 2018

Setelah melakukan sholat subuh dan sholat taubat, saya bersiap-siap dan membersihkan diri, sambil berdoa kapan saya akan buang air besar. Soalnya entah kenapa saya tidak dipompa untuk mengeluarkan kotoran ataukah diberikan dulcolax seperti yang lalu. Mungkin perawatnya lupa atau bagaimana.

Pukul 06.00 seorang perawat datang dan memasangkan infus ke tangan kanan saya, lalu mengukur tekanan darah saya yang ternyata menjadi tinggi karena kepikiran terus proses operasi yang akan saya jalani. Untung saja si perawatnya baik hati dan tidak sombong, dia mengingatkan saya untuk rileks dan mengatakan semua akan baik-baik saja, tidak usah terlalu dipikirkan sambil mengelus-elus lengan saya.

Pukul 08.00 akhirnya saya dijemput dengan menggunakan kursi roda. Suami, anak, orang tua dan mertua sudah berkumpul di kamar. Perasaan saya jadi haru plus sangat rindu dengan anak pertama saya yang sedari malam tidak tidur denganku melainkan dengan orang tuaku. Kuraih anakku, kucium wajahnya dan kupeluk tubuh mungilnya sambil mengucapkan kata sayang.

Saya dimasukkan ke dalam kamar perawatan pasca operasi dan berbaring di bed 3. Di dalam ruangan terdapat beberapa ranjang yang sudah diisi dengan pasien lain. Ada yang sudah operasi dan ada juga yang bernasib sama denganku, menunggu giliran.

Pukul 09.00 akhirnya giliran saya yang masuk ke kamar operasi. Saya hanya berjalan kaki dituntun oleh perawat dari kamar perawatan pasca operasi menuju ruang operasi. Rasanya ngeri-ngeri gimana ya, soalnya saya banyak membaca pengalaman caesar kedua orang lain yang katanya jauh lebih sakit dibandingkan dengan caesar pertama.

Pintu kamar operasi pun terlihat dengan daun pintu yang sudah terbuka lebar. Saya mencium aroma seperti aroma pemutih pakaian suncle*n, yang terakhir saya sadari adalah bau darah dari rahim. Baunya sangat menyengat sampai menusuk hidungku. Terdengar suara dokter anastesi, yang mana adalah seorang bapak-bapak, mengatakan pada si perawat kenapa saya terlambat dibawa masuk ke ruang operasi.

Baca Juga : Perawatan Pasca Operasi Caesar, Biaya, Obat dan Waktu Pemulihan


Saya diminta naik ke atas ranjang operasi, yang ukurannya sangat ramping, sekiranya hanya muat badan saja, sulit rasanya naik ke atasnya. Daaan... akhirnya tiba saat saya harus disuntik di bagian belakang. Seingat saya dulu waktu melahirkan kakak Q, saya diminta duduk dalam posisi membungkuk, nah pas kemarin saya diminta berbaring ke sebelah kiri sambil memeluk lutut dan kepala ditekuk ke bawah oleh si bapak dokter anastesi. Ya Allah, rasanya sangat tidak mengenakkan, rasanya lebih enak waktu melahirkan pertama dulu, yang mana posisinya duduk dan sama sekali tidak ada rasa sakit apapun. Nah, kemarin itu posisinya sangat tidak nyaman karena saya sampai sesak nafas, pas disuntik di belakang pun, kayaknya suntikannya tidak pas di tempat tujuan, buktinya rasanya sakit sekali, ngilu-ngilu sampai saya ingin meluruskan belakang namun ditahan oleh si bapak dokter anastesi. Saya nangis by the way.

Setelah disuntik, badan saya buru-buru dibalik ke atas sama dokter anastesi. Tangan diposisikan seperti lagi disalip, lengkap deh dengan segala peralatan yang dipasang di lengan, jari dan dada saya plus tangan saya diikat biar tidak gerak-gerak. Ya Allah rasanya sudah seperti akan disembelih dan dikurbankan kayak sapi kurban. Nah, setelah itu saya dites efek anastesi, disuruh bandingkan dinginnya cool bag di pipi dengan di perut. Alhamdulillah rasanya lebih dingin di pipi, kalo diperut rasanya kayak gimana ya, seperti disentuh saja namun tidak ada efek dingin sama sekali.

Akhirnya si dokter spog masuk dan mengintip dari balik tirai yang sengaja dipasang di atas dada untuk menutupi kengerian di bawah sana. Dokter spog mengatakan "saya mulai yaa.." setelah itu beliau menuntun untuk berdoa bersama, lalu terdengar si dokter meminta pisau pada asistennya. Nah, disitulah kengerian mulai menjalar ditubuhku. Ya Allah, saya dipotong ini ya Allah... suara radionya mana yaaa.. huhh rasanya ngeri harus dengar percakapan dokter dan suara-suara alatnya itu. Suara radionya baru dinyalakan pas si anak sudah keluar. Telat lah, saya sudah dengar SEMUANYA. hehehe

Setelah proses operasi selesai, pukul 10.00 saya dibawa ke ruang pemulihan dan tidak diperbolehkan minum sebelum bisa menggerakkan kaki. Pas saya tanya perawat, biasanya butuh berapa jam ya agar kaki bisa bergerak, dijawabnya 3 jam. Ya Allah, rasanya lama soalnya saya sudah puasa sejak jam 1 malam, perut sudah sangat lapar. Plus saya rindu pada anak pertama saya. Lalu saya tanya lagi, kapan saya bisa ke kamar, si perawat mengatakan bahwa jika tidak ada masalah saya bisa diantar jam 16.00 ke kamar.
Kaki sudah bisa digerakkan tapi belum bisa balik kamar

Dua orang disamping bed sudah balik kamar
Seperti biasa, setelah operasi badan jadi menggigil. Berangsur-angsur efek bius hilang, bersamaan dengan datangnya rasa sakit dan nyeri di bekas operasi. Jika dulu saya menangis dan berteriak, kali ini saya hanya bisa meringis dan beristigfar. Mungkin pengaruh malu kali ya karena di kiri dan kanan adem-adem saja pasca operasi.

Perbedaan Caesar Pertama dan Kedua

  1. Sc pertama prosesnya lebih cepat, kedua lebih lama.
  2. Sc pertama pemulihannya lebih lama, kedua lebih cepat.
  3. Sc pertama saya di RS sampai 8 hari, kedua hanya 3 hari.
  4. Sc pertama saya tidak sanggup menggendong bayi saya yang beratnya 3,8kg, kedua saya menggendong bayi saya yang 4kg pulang ke rumah plus ada kakaknya yang menggantung di badan saya.
  5. Sc pertama biaya lebih mahal karena cito sc dan lama perawatan di RS, kedua lebih murah.
Setelah ada kesimpulan di atas, bisa disimpulkan sendiri bahwa caesar kedua sebenarnya lebih enteng dibanding yang pertama. Mungkin karena sudah ada pengalaman kali ya, dan kemungkinan besar karena ada si kakak yang diingat juga butuh kita. Jadi emmaknya harus kuat demi si anak-anak.

Nah, jadi buibu, yang ada rencana caesar kedua, tidak usah khawatir dengan review orang lain. Rasanya tidak sengeri itu kok, yang penting mindset kita harus kuat. Tidak usah bayangkan yang tidak-tidak, takutnya tekanan darah akan naik dan jadinya runyam deh...

Semoga selamat ya bersalinnya, ibu dan bayi sehat selalu.

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya