Polemik Wanita Akhir Zaman: Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sebelum memulai tulisan ini, terlebih dahulu saya memohon ampunan pada Allah SWT, sang Penguasa Hati, hanya kepadaNya saya berlindung dari godaan syaitan yang menanamkan rasa was-was dalam hati manusia. 

Wanita karir atau ibu rumah tangga? Pertanyaan ini sering terdengar pada wanita di abad ke 21 ini. Bahkan sering melintas di timeline facebook saya saling sindir antara kubu wanita karir dengan kubu ibu rumah tangga. Selanjutnya, mari kita membahas satu-satu tentang wanita karir dan ibu rumah tangga.
Gambar: kudo.co.id

Wanita Karir

Menurut pandangan saya pribadi, wanita karir adalah seorang wanita yang memutuskan untuk bekerja di luar rumah mengejar jenjang pekerjaannya. Bagi wanita jenis ini, mereka memprioritaskan pekerjaan di atas segala-galanya, mereka bisa lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah ketimbang berada di rumah. Berbagai alasan dikemukakan oleh wanita karir, diantarnya:
  • Tidak mau bergantung pada lelaki
  • Merasa bahwa wanita punya kesempatan yang sama untuk sukses bersama lelaki
  • Merasa bahwa lelaki sukses berkarir hanya cocok dengan wanita yang sukses berkarir juga
  • Merasa bahwa wanita juga punya impian yang harus diraih
  • Merasa bahwa suatu saat nanti jika ditinggal oleh suami, dia tidak akan bingung mencari nafkah bagi anak-anaknya.
  • Bekerja menjadi kebahagiaan tersendiri bagi wanita karir.
  • Demi eksistensi di lingkungan sosial.
  • Pergaulan lebih luas
  • Lebih percaya diri
  • Bisa menjadi contoh bagi anak agar si anak bisa bekerja keras di masa depan.
Saya pernah bertemu dengan seorang gadis, saya ingat betul dengan apa yang dikatakannya, "Saya ingin berkarir kak, saya tidak mau jadi ibu rumah tangga. Saya tidak mau seperti kakak saya yang hanya tinggal di rumah, urusin anak, dapur dan ranjang. Saya yakin saya bisa lebih baik dari itu".

Ibu Rumah Tangga

Menurut pandangan saya pribadi, ibu rumah tangga adalah mereka yang memutuskan fokus di rumah, mengurus anak, suami, rumah. Prioritas utama ibu rumah tangga adalah keluarga dan rumah. Tidak ada alasan untuknya keluar rumah jika tidak terkait dengan prioritas utamanya. Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, ibu rumah tangga pekerjaannya lebih mirip dengan pembantu rumah tangga. Berbagai alasan yang dikemukakan oleh ibu rumah tangga untuk memilih posisi ini, diantaranya:
  • Nurut sama suami.
  • Faktor keterpaksaan (sulit mencari pekerjaan)
  • Ingin menghabiskan waktu lebih banyak pada anak dan suami.
  • Menyadari bahwa pendidikan anak di mulai dari ibu yang berada di rumah
Faktor alasan ibu rumah tangga lebih sedikit ya dibanding dengan wanita karir. Ya, memang benar. Intinya ibu rumah tangga adalah seorang wanita yang penurut pada suami, jadi apapun yang dikatakan suami, ya pasti diikuti. Selain itu, wanita jenis ini juga memiliki suami yang mungkin memiliki rasa cemburu yang besar pada si istri, karena itu melarangnya bekerja di luar rumah.

Wanita Karir vs Ibu Rumah Tangga

Sebenarnya sangat tidak cocok disematkan kata versus diantara keduanya karena memang keduanya pasti akan tetap kekeuh dengan pilihannya masing-masing. Mereka punya alasan masing-masing dalam memilih pilihan hidupnya. Tapi bukankah setiap pilihan memiliki konsekuensi?

Misalnya, kawan saya seorang wanita karir, beliau sangat jarang di rumah bahkan sering melakukan perjalanan dinas keluar kota. Akibatnya si anak tumbuh tanpa dampingan si ibu, si anak menjadi kurang ajar. Selengkapnya bisa dibaca disini. Namun, kembali lagi, pada kenyataannya banyak wanita karir yang memiliki anak bermoral baik.

Misalnya lagi, saya seorang ibu rumah tangga, saya hanya berada di rumah. Konsekuensinya, saya tidak mendapatkan pengakuan di mata masyarakat dan keluarga besar. Pendidikan tinggi saya selalu disayangkan oleh keluarga besar. Katanya, "untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika ujung-ujungnya hanya menjadi ibu rumah tangga?"

Fenomena Anak di Akhir Zaman

Saya suka menyebutkan bahwa kita ini adalah para orang tua akhir zaman yang sedang mendidik anak akhir zaman. Mengapa akhir zaman? karena sudah begitu banyak tanda-tanda kiamat yang bermunculan. Saya seorang muslimah dan saya mempelajari tentang tanda akhir zaman menurut Al-Qur'an dan Hadist. Beberapa tanda-tandanya adalah sebagai berikut:
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah: diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr, dan merajalelanya perzinaan.” HR. Al-Bukhari (no. 80).
             Sumber kutipan: https://almanhaj.or.id/3217-tanda-tanda-kiamat.html.

Dewasa ini, kita sudah melihat tanda-tanda di atas, begitu banyak orang yang dangkal ilmunya lantas dijadikan pembicara publik. Tersebarnya kebodohan, salah satu contoh adalah kasus remaja yang melakukan plagiat lantas menjadi kebanggan presiden, banyaknya orang yang bangga ketika meminum minuman keras serta begitu banyak perzinahan yang terjadi hingga tak jarang mereka mempublikasikannya di internet.

Anak-anak kita, saat ini sedang hidup di akhir zaman. Tentu saja tantangan yang dihadapi oleh para orang tua di zaman ini berbeda dengan tantangan yang dihadapi oleh orang tua kita dulu. Bisa kita ambil perbandingan, dulu ketika anak dititip di tetangga sementara ibu pergi bekerja, maka ketika ibu pulang si anak akan tertawa riang gembira. Sementara saat ini, banyak kejadian para orang tua menitipkan anak pada tetangga, sepulangnya kemudian si anak mulai bertingkah aneh, penyendiri dan jadi penakut. Cek per cek ternyata si anak sudah dilecehkan secara seksual atau bahkan lebih mengerikan si anak sampai diculik lalu dibunuh.

Sebagai perbandingan lainnya, dahulu anak-anak kita hanya menonton doraemon dan bermain layangan, saat ini anak-anak SD sudah dibekali dengan smarphone canggih sehingga dengan mudah mengakses sistus porno atau menjadikan awkarin dan younglex sebagai panutan. Jika membuka televisi anak-anak akan mengakses acara facebooker, dahsyat dan rumah uya.

Sudah melihat perbedaannya? Jadi apakah kita masih mau mendidik anak dengan cara yang sama seperti orang tua kita dulu mendidik kita? Saya rasa pilihan yang cerdas saat ini adalah dengan mengubah cara mendidiknya.

Jadi, Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga?

Pada akhirnya, pertanyaan ini akan muncul, tentu saja. Saya pribadi akan memilih ibu rumah tangga, tak peduli orang lain mengatakan apa. Saya hanya tidak mau menyesal nantinya, saya meyakini bahwa pendidikan tinggi seorang wanita bukan untuk meraih karir bagus, namun untuk membangun suatu generasi. Saya ingat perkataan seseorang (saya lupa namanya), beliau mengatakan bahwa, "jika seorang dosen mengajar seorang laki-laki, maka dia hanya mengajar satu orang saja. Namun, jika dia mengajar seorang wanita, maka sesungguhnya dia sedang mengajar suatu bangsa". 

Pada tulisan saya ini sebenarnya saya hanya ingin mengajak para ibu untuk kembali ke rumah, saya sama sekali tidak ada maksud untuk mendiskreditkan wanita karir yang juga seorang ibu, karena saya yakin mereka jauh lebih kuat dibandingkan dengan ibu rumah tangga seutuhnya. Jika Khadijah yang menjadi panutanmu, maka kau salah, Khadijah memang seorang wanita yang mandiri, namun beliau tetap memprioritaskan keluarganya. 

Ibu, apakah kalian tega meninggalkan anak kalian untuk dititipkan pada orang lain demi mengejar hasrat pribadi? Saya tidak berbicara tentang single parent, saya berbicara secara umum, seorang wanita secara umum. Ayolah kembali ke rumah, peluk lah si buah hati, mereka tak butuh ijazahmu, mereka tak butuh posisimu di kantor. Mereka hanya butuh ibunya saja. Jika memang terpaksa kalian harus berkarir di luar, maka janganlah kau genggam karirmu itu lantas mengesampingkan keluarga. Ingatlah bahwa surgamu berada di rumah, bukan di luar sana.

Wallahu'alam bishawab.

Posting Komentar

Bagaimana Pendapatmu?

My Instagram

Copyright © Mamsqi. Blogger Templates Designed by OddThemes