Tuesday, July 11, 2017

Pengalaman Tak Terlupakan Saat Menjadi Pengantin Baru


Saat ini usia pernikahan saya dan suami sudah berjalan empat tahun. Kami memiliki satu orang anak dan alhamdulillah kami belum memiliki rumah pribadi. Kenapa kok alhamdulillah ya? Soalnya saya bersyukur sekali berada di posisi saya sekarang. Tidak seperti dulu, saat kami masih menjadi pengantin baru.

Rasanya ingatan itu masih sangat segar di kepalaku, suasananya masih melekat di setiap jengkal kulitku. Air mata yang jatuh saat itu, masih terasa hangat di pipiku. Ya, masa-masa pengantin baru kami tidak seperti kebanyakan pasangan pengantin baru lainnya yang menghabiskan berbulan madu romantis dan sejenisnya. Pengalaman pengantin baru kami begitu menyedihkan, tapi berhasil membuat saya mensyukuri apa yang saya miliki saat ini.

Sebelum menikah, saya bekerja menjadi karyawan di salah satu bank BUMN di Indonesia, tepatnya di Makassar. Begitupun dengan suami (waktu itu belum jadi suami), beliau bekerja di perusahan semen di kota Maros, Sulawesi Selatan. Selain menjadi karyawan, suami saya memiliki usaha truk 10 roda yang disewakan kepada tambang di daerah Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Jika melihat dari sisi finansial, kami sudah bisa disebut sangat layak untuk menikah. Waktu itu penghasilan suami saya saja dari usahanya bisa mendapatkan hingga 100jt rupiah per minggu. Bisa bayangkan bagaimana caranya memanjakanku saat itu? Ya benar, dengan materi.

Sebelum acara pernikahan dilaksanakan, beberapa waktu sebelumnya kami sudah saling berjanji akan berhenti dari pekerjaan kantoran kami. Saya akan fokus menjadi ibu rumah tangga, membesarkan anak-anak kami dan beliau fokus dengan usahanya, mencari nafkah untuk istri dan anak. Maka saya pun mengajukan permohonan mengundurkan diri dari pekerjaan saya seminggu sebelum akad nikah dilaksanakan. Keputusan ini bulat, maka atasan saya mengizinkannya. Beruntung saya hanya pegawai kontrak, jadi tidak memerlukan persyaratan seribet persyaratan suami yang sudah pegawai tetap di kantornya. 

Beberapa hari setelah menikah, sudah ada desas-desus perihal usaha suami yang tidak stabil. Dimulai dari aturan baru pemerintah tentang pertambangan, hingga seorang rekan yang kabur membawa semua aset serta meninggalkan utang senilai 6 milyar rupiah. Praktis dalam sebulan, kami bangkrut. Kami yang awalnya berdomisili di Makassar, akhirnya memutuskan untuk merantau ke Kendari. Kami tidak mau sampai keluarga kami tahu tentang kondisi yang kami alami. Kami tidak mau merepotkan. 

Saya ingat betul, ketika pertama kali pindah ke Kendari, suami lah yang berangkat terlebih dahulu dengan membawa mobil double cabin miliknya, rencananya mobil itu akan direntalkan ketika tiba di Kendari. Beberapa minggu kemudian, saya menyusul suami dan kami tinggal disebuah wiasma yang rasanya lebih pantas disebut kosan. Harga kamar per bulan waktu itu adalah 700rb rupiah. Saya ingat betul ketika kami ingin mudik lebaran idul fitri, kami sama sekali tidak punya dana. Saya harus menagih utang kawan saya dulu sebesar satu juta rupiah baru kami bisa pulang kampung, itupun menggunakan jalur darat lalu disambung dengan kapal fery dan lanjut lagi dengan darat, total waktu yang dibutuhkan sekitar 30 jam! Yah, waktu itu tiket pesawat mudik sudah mencapai 700an ribu per orang, makanya kami memutuskan menggunakan alternatif ini, berdua hanya butuh 800rb rupiah.

Sampai di Makassar, ternyata saya sedang hamil. Masya Allah, waktu itu saya tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Di satu sisi saya merasa bahagia karena sebentar lagi saya akan memiliki anak, tapi di sisi lain saya sedih karena saat ini sedang berada di masa tidak punya uang sama sekali. Berhubung kami masih ada uang sekitar 300rban, kami memutuskan untuk memeriksakan ke dokter kondisi kandunganku. Sangat beruntung, biaya yang dikeluarkan waktu itu hanya sekitar 200rb-an saja. 

Setelah lebaran usai, suami meyakinkanku untuk tinggal sementara waktu di rumah orang tuaku, sedangkan dia kembali ke Kendari untuk mencari peruntungan disana. Awal kehamilan, saya merasa mual namun tetap ingin makan. Hasilnya setelah makan saya pasti memuntahkan semua makanan yang sudah masuk. Sebulan saya bertahan tinggal di rumah orang tua saya yang sudah mengetahui kondisi kami. Saya mulai tak tahan karena ibu saya mulai suka menyindir saya dan menyesali keputusan saya dan suami resign dari kantor dulu. Saya sedih, emosi saya tidak terkontrol, ditambah lagi saya jauh dari suami. Rasanya ingin menghilang saja.

Lalu saya menceritakan penderitaan saya pada suami, saya ngotot ingin ke tempatnya namun suami mengatakan ingin mencari kosan baru yang lebih murah. Jadi saya menunggu selama beberapa waktu. Setelah suami dapat kosannya dan pindah, saya lalu membeli tiket ke Kendari. Saya pindah dengan membawa luka. Bukan karena sindirian ibu saya, tapi karena ketidakmampuan saya membahagiakan hati orang tua. Saya terluka karena saya merasa nasib buruk sedang menimpa saya disaat saya hamil.

Kehidupan kami setelah itu, sungguh amat memilukan. Kami tinggal di kamar sempit berukuran selayaknya 1 kamar dari rumah tipe 45. Terkadang kami harus mengumpulkan uang koin untuk membeli bensin, saat itu suami saya menjadi pengumpul kayu jati. Penghasilan lumayan, namun kami harus membayar utang yang saya sebutkan diawal tadi. Jadi hanya bersisa 700-1jt rupiah per bulan. 500rb untuk bayar kos dan sisanya untuk kehidupan selama sebulan atau lebih. Saya bahkan tidak memeriksakan kandungan saya ke dokter hingga usia 5 bulan karena tidak adanya biaya. Bahkan di hari idul adha, kami hanya bisa makan mie instan sebagai ganti daging kurban. Saya sempat menangis kala itu, saya sedang menjemur pakaian dan melihat ibu-ibu tetangga sedang makan daging kurban bersama, namun tak ada satupun yang memanggilku untuk ikut makan.

Pernah suatu ketika, saya hanya memegang uang 10rb rupiah saja dan memutuskan berjalan-jalan ke pasar. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kumakan, namun karena uang saya tidak cukup, saya hanya bisa melihat makanan itu saja dan kemudian menelan air liur. Bahkan ayah saya pernah sekali datang mengunjungiku, beliau menangis melihat kondisiku. Saya hanya bisa menyajikan nasi, kangkung dan tempe goreng tanpa bumbu. Beliau ingin memberiku uang, tapi kutolak. Saya tidak ingin menjatuhkan harga diri suamiku di depan ayahku. Jadi ayahku hanya rutin mengirimiku makanan saja yang dititip pada kawannya yang akan ke Kendari.

Selama 3 bulan kami tinggal di kosan itu, lalu pindah mengontrak rumah tua kecil bertipe 36 di pinggiran kota seharga 5jt per tahun. Saat itu saya sudah bisa ke dokter karena alhamdulillah kayu jati yang dijual suamiku laku banyak. Tapi sebagai konsekuensi, suami harus jarang pulang dan pergi di perkampungan untuk mencari lebih banyak kayu jati. Lalu di usia 6 bulan kandunganku, saya pulang ke rumah orang tuaku. Saya dipanggil karena ibuku takut jika terjadi apa-apa disana sementara suamiku sedang jauh.

Kehidupanku setelah itu, tidak beda terlalu signifikan dengan yang sebelumnya. Kadang, suamiku belum berhasil menjual kayunya atau malah tidak dapat kayu, atau malah uangnya harus dipakai bayar utang. Saya tidak bisa membayar dokter kandungan, jadi ayahku yang memberikan uang untuk periksa karena beliau takut jika terjadi apa-apa padaku dan cucunya.

Ketika akan melahirkan, saya ketakutan setengah mati. Sudah semalaman saya berbaring di ranjang bersalin, air ketuban pun sudah pecah namun pembukaan masih belum ada bahkan pembukaan satu. Satu hal yang membuatku kemungkinan bertambah stress, karena hingga saat itu tak ada sedikitpun uang yang kami pegang untuk biaya melahirkan, innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Saya sedih bukan main, terlebih ketika paginya dokter melakukab usg dan menemukan ketuban saya sudah habis di dalam dan harus dilakukan proses operasi. Saya pasrah, "ya Allah.. Jika memang ini sudah takdirku, maka saya serahkan semua urusanku padamu. Saya tidak sanggup ya Allah. Engkau Maha Kaya sementara saya tidak punya apa-apa." kira-kira begitulah pikiranku.

Lantas saya dioperasi. Setelah selesai, suami memberitahuku bahwa saat di ruang operasi tadi, dia mendapat kabar bahwa kayunya baru saja laku dan juga ayahku memberiku bantuan dana sebesar 5jt rupiah untuk tambahan biaya bersalin, uang terkumpul 20jt. Pas untuk biasa bersalin, masya Allah.. Saya menangis, tak sanggup menerima kemurahan hati Allah yang begitu sayang padaku dan anakku.

Setelah anak saya lahir, suami saya langsung kembali ke Kendari untuk mencari nafkah. ASI saya tak kunjung keluar, kemungkinan karena stress keuangan yang saya alami. Masa transisi itu sulit, terlebih sebelum menikah saya tak pernah sekalipun hidup susah. Ketika ASI tak keluar, susu formula menjadi alternatif untuk bayi. Saya ingat saat itu anak saya membutuhkan 500rb rupiah per minggu untuk susu dan popoknya. Susu anak saya S26 gold, karena itulah harganya mahal. Meski keuangan masih dibawah rata-rata, saya dan suami tidak tega memberikan nutrisi yang kurang pada anak. Jadi suami harus bekerja ekstra.

Kehidupan kami pun berlanjut, alhamdulillah semakin hari semakin baik. Kami meninggalkan semua yang dilarang Allah. Kami mulai sadar bahwa kemarin kami dihukum karena bermain dengan riba. Ya, usaha truk suami saya memang dimulai dari uang riba. Maka dari itu, Allah mencoba mencuci kami, Allah gak rela anak kami memakan uang riba alhamdulillah.

Saat ini, kehidupan kami jauh lebih baik meski kami masih ngontrak, tapi saat ini kontrakan kami jauh lebih baik. Suami tidak bekerja lagi sebagai pengumpul kayu dan saya masih tetap berada di rumah menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga seutuhnya. Kami tidak memiliki rumah bukan karena tidak mau, tapi karena kami belum sanggup membayar tunai dan belum menemukan cicilan rumah tanpa riba. Mobil pun kami tidak punya dan lagi-lagi alasannya karena tidak sanggup cash. Selain itu kami fokus melunasi utang-utang yang lalu dan alhamdulillah tinggal sedikit lagi akan lunas. Jadi kami masih bersabar, Allah Maha Kaya dan kami tidak punya apa-apa. Kami yakin, jika Allah mau ngasih, pasti kami langsung punya rumah, mobil dan apa saja. Karena pada hakekatnya semua yang ada di dunia adalah miliknya, jadi jika mau sesuatu ya tinggal minta saja, ikuti aturannya, jangan bandel.

0 comments:

Post a Comment

Bagaimana Pendapatmu?