Monday, July 3, 2017

Pembullyan Nyata Orang Tua Pada Anak

dokumentasi pribadi
Malam ini karena tidak masak di rumah, saya dan anak beralih ke warung prasmanan dekat rumah untuk bersantap malam. Awalnya biasa saja, sampai saya mendengar seorang ibu yang membully anaknya sendiri di hadapan orang lain. Si ibu kerap melontarkan kata-kata kasar pada si anak, padahal saya memperhatikan si anak sedang menyusun air mineral kemasan gelas menjadi sebuah menara dan menyusun tusuk gigi menjadi beragam bentuk. Sayangnya, si ibu merasa hal yang dilakukan si anak adalah hal yang negatif.

Menurut Wikipedia, pembullyan atau penindasan adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Dewasa ini, kita para orang tua mengatakan bahwa anak kerap di bully di sekolah dan pembullyan hanya dilakukan pada anak seusia mereka saja. Tapi tahukah, bahwa kenyataan pahitnya adalah para orang tua lah yang kerap melakukan tindakan pembullyan pada anak mereka sendiri. Coba perhatikan, seorang anak yang tidak mampu melakukan satu kompetensi misalnya matematika, maka orang tua akan selalu mengatakan anak tersebut bodoh bahkan jika perlu melakukan tindakan kekerasan. Jika anak memiliki energi yang luar biasa besar, loncat kiri dan kanan, berlarian dan menari, maka si orang tua akan melabeli si anak dengan kata "liar" bahkan "nakal".

Kenyataan ini pahit, sangat pahit. Sayangnya tidak banyak orang tua yang sadar akan hal ini. Si anak memecahkan gelas, lantas si ibu berteriak "BODOH!". Padahal apa sulitnya membersihkan pecahan kaca yang berserakan? Sesulit itu kah hingga lebih mudah mematahkan hati si anak? Si anak makan blepotan, menumpahkan makanannya kemana-mana, lantas di ibu berteriak lagi "JOROK KAMU!". Sesulit itu kah membasuh tubuh yang kecil itu, mengelap meja dan menyapu lantai? Sehingga begitu mudahnya mematahkan hati yang kecil itu.

Begitulah generasi kami, generasi ibu pada abad ke 21. Mereka memang dididik menjadi wanita karir, bukan menjadi ibu rumah tangga. Sehingga ketika mereka dihadapkan pada sosok anak, mereka stress dan tak tau harus berbuat apa. Saya pun demikian, di awal memiliki anak, saya sempat stress dan kebanyakan marah. Namun saya sadar bahwa saya tidak bisa begini terus-terusan. Saya belajar, masuk komunitas parenting, membaca buku, dan yang terpenting saya memohon ampun pada Allah, sang Maha pembolak balik hati.

Ayo ibu, ayah, kembalilah pada fitrahmu. Anakmu bukan musuhmu, anakmu bukan sainganmu. Mereka adalah surgamu, mereka adalah pewarismu, darah dagingmu, jembatanmu menuju surga. Lepaskan mereka dari pembullyan, selamatkan mereka dari penindasan yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri.

6 comments:

Dewi Rieka said...

Duuh semoga terhindar dari hobi bully anak :(

Fanny f nila said...

Aku prnh denger sendiri, pas lg istirahat di rest area tegal.. Di situkan ada banyak toilet dan tempat mandinya mba, yg masuk muri itu.. Nah, pas lg mandi, aku denger ada ibu yg memaki2 anaknya dengen suara luar biasa kenceng. Kata2nya bikin ngelus dada,sampe nama2 binatangpun bisa keluar :(.. T pi yg bikin aku miris mba, pas denger jwban si anak, dia pun ga segan ngeluarin kata2 kasar ke ibunya td. :( omg, aku ga kebayang samasekali bakal seperti apa hubungan ibu anak ini di masa depan. Dan bakal seperti apa anaknya kalo dr sekecil ini dia udh bisa seperti itu :( sedih liatnya...

Fany Febriany said...

amiin..

Fany Febriany said...

iya mba, anakx kan meniru lingkunganx. kalo yg di dengar selalu kata kasar, ya gak mungkin lah si anak bakal bicara halus. banyak mba, banyak banget ibu yg doyan bully anaknya.

widjiume said...

Iya benar mbk,,,
Tidak selalu dengan kekerasan baik dalam perbuatan atau perkataan...

Namun juga bukan berarti semua itu tidak perlu. Untuk antisipasi maka pendekatan hati antara anak sangat diperlukan, sehingga tanpa bully anak mudah untuk di kasih pengertian...

Terima kasih mbk,,,
Sangat menarik
salam

Fany Febriany said...

setuju mba wid, pendekatan hati sangat diperlukan. salam kenal ya mba wid

Post a Comment

Bagaimana Pendapatmu?