Sunday, July 9, 2017

Mental Plagiat, Salah Anak atau Lingkungan?

Foto : eu.fotolia.com
Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan dengan kemunculan seorang remaja dengan beberapa tulisannya di media sosial. Bahkan si remaja sampai diundang ke istana kepresidenan bertepatan dengan hari Pancasila. Namun, sayangnya selagi dia berada di istana, viral sebuah kabar mengenai tindak plagiarisme yang dilakukan oleh remaja tersebut. Ketika ditanya oleh seorang wartawan, si remaja tersebut menjawab dengan mata berkaca-kaca bahwa dia tidak tahu menahu mengenai hal tersebut. Dia mengaku bahwa semua tulisannya adalah hasil karyanya sendiri yang beberapa sudah dia tuliskan sejak beberapa tahun yang lalu.

Waktu berlalu, akhirnya si remaja mengakui tindak plagiarisme yang dilakukannya melalui akun media sosialnya. Namun belakangan ini, muncul kembali video si remaja yang sedang "curhat" dalam bahasa inggris tentang pembullyan yang dialaminya hingga dia merasa ingin bunuh diri. Banyak netizen yang kembali menyadari bahwa video curhatan tersebut kembali diplagiat dari video gadis asal luar negeri yang diupload beberapa tahun silam.

Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin mengutip beberapa pendapat para ahli mengenai plagiat.:

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010 dikatakan:
“Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) disebutkan:
“Plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat) sendiri”.
 Menurut Oxford American Dictionary dalam Clabaugh (2001) plagiarisme adalah:
to take and use another person’s ideas or writing or inventions as one’s own
Menurut Reitz dalam Online Dictionary for Library and Information Science (http://www.abc-clio.com/ODLIS/odlis_p.aspx) plagiarisme adalah : “Copying or closely imitating take work of another writer, composer etc. without permission and with the intention of passing the result of as original work
Menurut Soelistyo (2011) ada beberapa tipe plagiarisme:
  1. Plagiarisme Kata demi Kata (Word for word Plagiarism). Penulis menggunakan kata-kata penulis lain (persis) tanpa menyebutkan sumbernya.
  2. Plagiarisme atas sumber (Plagiarism of Source). Penulis menggunakan gagasan orang lain tanpa memberikan pengakuan yang cukup (tanpa menyebutkan sumbernya secara jelas).
  3. Plagiarisme Kepengarangan (Plagiarism of Authorship). Penulis mengakui sebagai pengarang karya tulis karya orang lain.
  4. Self Plagiarism. Termasuk dalam tipe ini adalah penulis mempublikasikan satu artikel pada lebih dari satu redaksi publikasi. Dan mendaur ulang karya tulis/ karya ilmiah. Yang penting dalam self plagiarism adalah bahwa ketika mengambil karya sendiri, maka ciptaan karya baru yang dihasilkan harus memiliki perubahan yang berarti. Artinya Karya lama merupakan bagian kecil dari karya baru yang dihasilkan. Sehingga pembaca akan memperoleh hal baru, yang benar-benar penulis tuangkan pada karya tulis yang menggunakan karya lama.
(Sumber kutipan: http://lib.ugm.ac.id/ind/?page_id=327) 

Setelah membaca penjelasan di atas, saya berasumsi bahwa kita sudah mengerti penjelasan tentang plagiat. Berdasarkan referensi di atas, tidak benar bahwa plagiat tidak dapat dikatakan plagiat jika bukan pada karya ilmiah (seperti yang dikatakan salah satu dosen universitas ternama di Indonesia). Menurut saya, plagiat adalah meniru karya seseorang tanpa mencantumkan sumbernya, seolah-olah karya itu adalah miliknya. Bahkan yang terparah, pengakuan bahwa karya itu adalah miliknya ketika orang lain menemukan bahwa dia melakukan plagiat.

Saya sungguh merasa prihatin dengan remaja tersebut. Saya memiliki beberapa asumsi mengenai perilakunya yang selalu menyalin karya orang lain (bahkan dalam bentuk video). Pertama, kemungkinan besar si anak kurang mendapat penghargaan dari lingkungannya. Kedua, kemungkinan orang tua memaksa anak selalu berprestasi dan menjadi pusat perhatian, sehingga si anak akan melakukan berbagai cara demi mendapatkan prestasi yang diidamkan oleh orang tuanya. Ketiga, kurangnya pemahaman tentang plagiarisme. Keempat, si anak sudah biasa plagiat namun bukannya ketahuan malah mendapat pujian, sehingga dia ketagihan untuk terus melakukannya.

Menyedihkan? Iya, sangat menyedihkan bagi saya. Seorang remaja harusnya tumbuh dengan prestasi yang dibuatnya sendiri, namun malah tercebur ke dalam kubang plagiat demi mendapatkan pujian serta ketenaran. Saya pernah membahas ini di status facebook saya, sayangnya seorang dosen kenalan saya mengatakan bahwa "biasalah hal ini, di status facebook dan whatsapp juga pasti sering plagiat". Saya kok jadi sedih ya bacanya. Bahkan seorang terdidik pun tidak peduli lagi dengan tindakan plagiat seorang remaja. Mungkin inilah saatnya para orang tua di rumah yang terjun dalam mendidik anaknya sendiri. Mungkin inilah pertanda yang diberikan oleh Tuhan bahwa, ayo orang tua perhatikan anakmu, jangan terlalu percayakan mereka pada orang lain, mereka adalah tanggung jawabmu.

Mental plagiarisme sangat berbahaya bagi moral bangsa kita. Bayangkan jika semua remaja hanya bisa melakukan plagiat karya orang lain? Maka bersiaplah menjadi bangsa tertinggal, bangsa yang tersisihkan, tak dikenal dan hanya berputar disitu saja. Saya tidak mau bangsa saya bermental plagiat, saya tidak mau bangsa saya bangga atas tindakan plagiarisme.

Ayo, para orang tua, perhatikan kembali anakmu, tanggung jawabmu. Seorang anak bisa terbebas dari tindakan plagiarisme jika kita para orang tua lebih meluangkan waktu untuknya, memberikannya ruang untuk berkreasi, bukan malah membuatnya menjadi copyan diri kita ataukah membentuknya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ingatlah bahwa ikan tak sanggup memanjat, dan buaya tak sanggup untuk terbang. Setiap anak unik dengan membawa kecerdasannya masing-masing. Jangan kau paksa, jangan kau tekan, mereka pasti siap melakukan apa saja demi pengakuanmu, maka hargailah setiap hal kecil yang dilakukannya. Bangsa kita bisa menjadi bangsa yang kuat, besar dan maju karenamu, wahai orang tua. 

8 comments:

Coretan Bunda Erysha said...

Bener banget mba. Saya juga sedih ngeliatnya n makin sedih lagi ternyata banyak yang memujinya dan membelanya padahal yang dilakukan remaja itu jelas2 salah. Jika sebuah kesalah begitu dipuja puji menandakan Indonesia sedang berada dalam krisis adab dan moral. Terbayang kan bagaimana SDM masyarakat kita saat ini ? Hiks. PR kita utk mengedukasi masyarakat kita begitu banyak

Fanny f nila said...

Sebelum aku tau itu karya plagiat, aku sempet kagum ama ank ini.. Tp saat tau ini hanya jiplakan, jd ga ada respect samasekali :( .. Masih seumur ini udh bljar jiplak dan mencuri karya org lain, gmn besarnya nanti :(

Fany Febriany said...

iya mba, sedih banget loh. anak yg jelas2 plagiat malah diundang ke berbagai acara bergengsi ya. sementara anak yg benar2 berprestasi (penemu listrik dari pohon kedondong misalnya) tidak terekspose sama sekali, dibiarkan sebagai angin lalu. kalo saya sih, daripada sibuk mengedukasi masyarakat, kita harus mulai dari diri kita sendiri, mendidik anak agar bisa bermental kreatif bukan malah bermental pecundang

Fany Febriany said...

Dan lagi mba, apa yg dia plagiat itu kebanyakan pemikiran sekuler, suatu kenakalan intelektual yg lagi marak. Sedih ya.. kasian anaknya.

Eva Arlini said...

setuju mbak.. orangtua harus paham tanggungjawabnya sehingga terlahir anak-anak berprestasi..

Fany Febriany said...

iya mbaa sedih banget kenyataan skrg banyak org tua yg tdk paham akan hal itu :(

Rahma said...

Bisa juga anak itu melakukan plagiat karena kurang contoh dan bimbingan dalam membuat tulisan. Maklumlah masih muda. Ego tinggi dan kadang keras kepala.

Plagiarisme ini masih sangat kental di dunia pendidikan di Indonesia. Teman-temanku saja yang skripsi Bab 2-nya jelas2 nyaplok skripsi lain masih bisa diberi kelonggaran dan diluluskan. Waktu bikin makalah pas SMA aku juga menulis ulang apa yang di buku. Waktu itu gak sadar karena gak tahu dan tidak diberitahu. Gak ada peringatan apa pun dari guru.

Yang penting lulus, nilai bagus, tanpa peduli cara meraihnya.
Jadi, Sulit untuk menghilangkan mental seperti ini.

Fany Febriany said...

benar banget mba.. plagiat mmg sering bgt di akademisi apalagi ditugas2nya... bab 2 yg paling sering tuh tdk mencantumkan sumber aslix...

yg penting lulus demi capai target kampus.. bener banget, bbrp kampus sering jd pelakunya.

Post a Comment

Bagaimana Pendapatmu?