Senin, 24 Juli 2017

Guruku, Bukanlah Seorang Guru

Foto: webtoons pak guru inyong
Kemarin saya membaca sebuah berita yang isinya tentang seorang guru yang melempar muridnya dengan kursi plastik karena si murid tidak mau membersihkan ruang kelas yang sudah menjadi tanggung jawab hariannya. Akibatnya, kepala si anak harus menderita bocor dan dijahit dengan beberapa jahitan. Sumber berita bisa dibaca disini ya.

Sebelumnya saya pernah membaca berita tentang seorang guru yang menelanjangi siswa karena tidak mengerjakan PR, sumber. Lalu, ada lagi berita tentang guru yang menampar muridnya dengan sadisnya, sumber. Kemudian berita lainnya menulis tentang seorang guru yang memukul anak hingga wajah si anak lebam dan gigi nyaris copot, sumber. Serta masih banyak kasus dimana guru menghukum muridnya secara tidak wajar.

Menurut saya, guru adalah profesi yang bersentuhan langsung dengan hidup manusia. Sama halnya dengan profesi dokter. Bayangkan jika seorang dokter salah mendiagnosa penyakit pasiennya, maka yang terjadi adalah kehidupan pasien yang dipertaruhkan. Seorang guru yang salah mendidik murid-muridnya, dengan memberikan hukuman yang tidak sewajarnya, maka akan menimbulkan efek trauma di hati dan pikiran si murid yang kemudian akan mempertaruhkan kehidupan si anak ke depannya. Dokter dan guru adalah profesi yang sangat dekat bahkan sangat bisa mempengaruhi kehidupan manusia.

Tapi, saya tidak sedang membahas profesi dokter. Saya sedang membahas profesi guru. Kejadian yang memedihkan hati tentang hukuman tidak wajar seorang guru pada muridnya membuat saya bertanya-tanya. Apakah zaman sekarang seorang guru tidak lagi mendedikasikan hatinya untuk pendidikan? Apakah mereka yang berkuliah hingga mendapat gelar S.Pd hanya dengan tujuan mendapatkan gaji dari pemerintah atau lembaga lainnya? Sehingga lupa bahwa yang dihadapinya adalah seorang manusia yang ingin belajar menghadapi dunia.

Pasti akan banyak pembelaan di luar sana bahwa guru juga seorang manusia yang memiliki masalah di luar sehingga memungkinkan dia khilaf dengan pekerjaanya. Bayangkan jika seorang dokter yang berdalih seperti itu. "Saya sedang stress mengingat istri/suami saya, jadi maaf saya salah potong. Harusnya mengangkat usus buntu malah saya mengangkat rahim. Maaf saya khilaf". Masalah gak? Jelas masalah!

Bagaimana jika seorang guru yang melakukan kekhilafan? "Maaf saya khilaf melempar kursi ke kepala anak Anda sehingga membuat kepalanya jadi bocor". Kira-kira orang tua mana yang mau menerima? Kira-kira anak mana yang tidak trauma jika diperlakukan seperti itu? Kira-kira apa yang akan terjadi di masa depan si anak ketika mereka terus-menerus diberikan hukuman sadis oleh gurunya di sekolah, sementara mereka bersekolah untuk belajar, bukan untuk dihukum. dengan sadis.

Guruku bukanlah seorang guru. Ya, memang benar. Pada kenyataannya banyak para pendidik kita di sekolah yang sebenarnya belum pantas bekerja menjadi seorang guru. Mereka berilmu namun tak berakhlak mulia. Sementara berilmu tidak cukup menjadikan seseorang mampu mendidik seorang manusia, apalagi harus dihadapkan dengan puluhan siswa di kelas. Mungkin itulah sebabnya semakin kesini, semakin banyak orang tua yang sadar bahwa lebih baik mendidik sendiri anaknya di rumah (dengan homeschooling) daripada harus menitipkan anak di sekolah.

Harapan saya, setiap orang yang ingin mendaftarkan diri menjadi seorang guru, harusnya dibekali dengan tes psikologi yang dilakukan langsung oleh psikiater yang ahli di bidangnya. Jika ada kecenderungan negatif, maka selayaknya ditolak. Karena di tangan seorang guru lah para orang tua menitipkan calon penerus bangsa. Apa jadinya jika calon penerus bangsa dititipkan pada seorang psikopat? Terlebih saat ini banyak sekolah yang menerapkan jam yang lebih lama dari biasanya, yang otomatis mau atau tidak mau, si anak akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama gurunya.

Wallahu'alam.

1 komentar:

  1. Guru juga manusia yang punya kekurangan dan kesalahan ya,
    selain dengan psikologi apakah perlu juga menelusuri track recordnya ya?

    terima kasih dan salam kenal

    BalasHapus

Bagaimana Pendapatmu?