Friday, June 2, 2017

Cara Ampuh Mengajarkan Anak Menutup Aurat Sejak Dini

Saya punya kebiasaan memosting foto anak saya di facebook dengan hijabnya. Bukan untuk pamer bahwa anak saya berhijab, tapi untuk mendokumentasikan foto-fotonya agar mudah dilihat oleh keluarga dan bisa sebagai penyimpanan online (tapi sekarang foto-fotonya sudah diprivate sebagian. 

Ada satu hari, seorang kawan yang memiliki anak perempuan bertanya padaku tentang bagiamana caraku membuat si kecil mengenakan jilbab. Kemudian di hari yang lain, seorang kawan lainnya pun bertanya demikian.

Alhamdulillah, anak saya mengenakan jilbab bukan hanya saat difoto saja. Anak saya selalu mengenakan jilbabnya saat keluar dari pintu rumah. Jilbab baginya bukan hanya sekedar gaya-gayaan untuk diposting di medsos untuk mendapatkan like, komen dan share. Alhamdulillah, anak ini tetap konsisten meski saya tidak memintanya, malah dia sendiri yang mengingatkan untuk memakaikannya jilbab ketika akan keluar rumah. Bahkan masya Allah, dia sering mengingatkan saya untuk mengenakan jilbab ketika akan keluar rumah. 

Pernah suatu hari, saya bercanda dengannya di depan umum, saya berkata akan melepaskan jilbabnya (sambil memengang jilbabnya), secara spontan dia langsung bilang jangan lalu menangis. Dia terlihat sangat kesal dan ingin menjauh, khawatir akan kulepas jilbabnya. Setelah saya mengaku hanya bercanda dan kemudian memeluknya dan meminta maaf, tangisannya langsung reda.

Lantas, apa yang telah kami tanamkan padanya sehingga dia punya kesadaran sendiri dalam mengenakan jilbab? Berikut akan saya jelaskan.

Anak melihat, anak meniru

Anak kecil itu bagaikan mesin peniru yang tercanggih di atas yang tercanggih, anak kecil diciptakan oleh Allah dengan membawa kemampuan meniru yang luar biasa. Lihat saja, anak yang tumbuh dilingkungan yang berbahasa Indonesia, maka dia akan mampu berbahasa Indonesia, begitu juga dengan bahasa Korea, Arab, Jepang, Inggris, anak tanpa diajar, tanpa butuh guru les akan mampu berbahasa lingkungannya dengan fasih. 

Begitu juga dengan menutup aurat, bagaimana bisa kita mengharapkan si anak untuk menutup auratnya, sementara ibunya tidak konsisten dalam menutup auratnya sendiri. Saya pribadi, alhamdulillah bahkan jika akan mengambil jemuran, menerima paket atau apapun itu yang mengharuskan saya melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah, atau jika ada tamu yang tidak pantas melihat auratku, maka saya akan menutupnya. Dengan cara ini, anak saya meniru. Ketika ada orang yang datang, jika itu teman suami, maka dia akan buru-buru mengenakan jilbabnya jika ingin keluar untuk bergabung dengan tamu.

Bisa karena terbiasa

Memang benar ucapan orang bijak, bahwa kita bisa karena terbiasa. Sesuatu yang dilakukan secara berulang, meski awalnya kita sangat sulit melakukannya, maka suatu saat akan bisa juga. Kebiasaan membawa kemahiran. 

Anak saya juga pernah berada di kondisi tidak nyaman dengan jilbabnya, sama seperti ketika orang dewasa pertama kali mengenakan jilbab, pasti akan merasa risih, akan ada keluhan ini dan itu. Begitu juga dengan anakku, terlebih karena dia termasuk anak yang tidak betah tanpa AC. Keringatnya selalu bercucuran kemana-mana. 

Saya mengajarkan anak saya berjilbab sebelum usia 1 tahun, awalnya memang dia sering membukanya, nangis bahkan sampai ngamuk. Tapi, dengan sabar saya terus memakaikannya kembali sambil berkata, "Qifaya lihat mami pake jilbab,kan? Masa anak mami tidak mau pake jilbab?" Saya perhatikan anak saya memang selalu mau samaan dengan maminya, karena dia suka meniru, jadi ketika saya mengucapkan kalimat di atas, dia pasti langsung mau dipakaian jilbabnya lagi.

Doktrin

Jika si anak sudah mulai belajar mengenal jilbab, maka perlahan doktrinlah dia tentang kenapa harus mengenakan jilbab. Berikan penjelasan, katakan dengan halus, dan lakukan secara berulang. Hindari memerintahnya memakai jilbab tanpa memberikan penjelasan kenapa dia harus mengenakannya, anak juga butuh penjelasan, terlebih anak sekecil ini yang selalu bertanya kenapa begini kenapa begitu. Jika kita memaksanya mengenakan jilbab tanpa memberi tahu alasannya, maka kesadaran tidak akan tumbuh. Karena disini, yang perlu dibangun adalah kesadaran si anak, bukan sekedar perilaku yang ditunjukkan di depan orang tua. Alhamdulillah, anak saya meski berada di rumah neneknya dan ingin diajak keluar oleh orang disana, dia akan selalu meminta untuk dipakaikan jilbab.

Tumbuhkan kesadaran, ajarkan dia rasa malu

Saya sendiri selalu mendoktrin anak untuk mengenakan jilbab dan menanamkan rasa malu pada dirinya. Ternyata rasa malu itu juga sangat efektif. Saya menjelaskan bahwa anak perempuan tidak boleh diliat tubuhnya oleh orang lain selain orang yang tinggal di rumah. Ketika dia keluar tanpa jilbab, maka saya akan mengatakan "ih, Qifaya tidak malu keluar tidak pake jilbab? Itu rambutnya dilihat sama orang lain nak."

Kapan sebenarnya waktu yang tepat mengajarkan si kecil menutup auratnya? Jawabannya adalah sedini mungkin, agar dia merasa terbiasa. Namun, untuk menumbuhkan kesadarannya sendiri, dibutuhkan di anak sudah harus mengerti apa yang kita bicarakan, misalnya si anak sudah bisa merepon perintah kita. 

Nah, demikian tips dari saya tentang bagaimana cara ampuh mengajarkan anak menutup aurat sejak dini. Selamat mencoba dan semoga membantu ya..

0 comments:

Post a Comment

Bagaimana Pendapatmu?