Minggu, 28 Mei 2017

Dilema Ketika Ramadhan, Masak Sendiri Atau Beli Jadi?

Foto: google
Saya bukan termasuk orang yang memilih dalam hal makanan. Alhamdulillah perutku juga kebal dengan jajanan pasar. Soalnya ya, biasanya ada perut yang bandel banget, maunya makan makanan mall terus dan enggan dimasukkan makanan yang jadi yang dibeli di pasar atau pinggir jalan. Suami saya juga demikian, alhamdulillah suami saya bukan tipe suami yang menuntut istrinya harus masak. Jika tidak memungkinkan, malah dia yang turun tangan di dapur. 

Bulan ramadhan ini, ketika saya melihat postingan kawan-kawan di facebook tentang makanan yang mereka masak untuk takjil maupun makanan berat, saya bertanya-tanya dalam hati, "saya mau masak apa ya? rasanya mau masak juga". Sebenarnya sih, dulu saya suka sekali masak-masak di dapur, terjun langsung dengan urusan perut keluarga. Dulu juga saya sering berbagi resep, bisa dibilang saya bukan newbie dalam hal dapur. Saya sudah bisa bedakan mana jahe, mana lengkuas dan mana kencur.

Setelah berpikir panjang tentang apa yang ingin saya masak ketika berbuka, saya jadi kembali bertanya pada diri sendiri, "sanggupkah?" Melihat begitu banyak pekerjaan rumah yang harus saya selesaikan (saya tidak punya ART), dan lagi saya sedang mempersiapkan ujian hasil dan tutup sebagai syarat menyelesaikan S2. Jika ingin makan cendol saja harus buat bahan dasarnya dulu, belum di bentuk, dan seterusnya, maka saya akan butuh waktu paling tidak dua jam hingga layak untuk di makan, padahal di rumah hanya ada 1 anak yang tidak begitu doyan makan kue.

Dilema urusan dapur ini terus berlanjut ketika saya sadar bahwa suami saya hanya makan sedikit karbohidrat dan banyak sayuran serta buah. Akhirnya, saya memutuskan begini, saya tetap memasak tapi hanya makanan yang mudah, nasi hanya 1 cup yang bisa saya dan anak saya makan. Untuk menu tajil pun saya memutuskan untuk membeli makanan jadi, dengan pertimbangan suami saya gak makan yang manis-manis. Berhubung saya pun tidak menkonsumsi air es, sirup, soda dan sejenisnya, saya mengganti minumannya dengan susu bear brand tidak dingin dan segelas penuh air kangen water.

Untuk menu sahur pun, saya tidak perlu masak, berhubung suami sahurnya hanya sayuran, daging atau ikan, jadi pas buka saya sengaja buat sayur dan lauk yang lebih banyak dan yang tidak mudah basi. Jadi bisa dimakan lagi pas sahur. Saya sendiri, untuk menu sahurku hanya sekaleng susu bear brand dan kangen water. Saya suka sakit perut soalnya kalo sahur dengan makanan berat.

Dengan menggunakan pola seperti ini, rasanya memang saya tidak begitu sibuk di dapur, waktu kosong saya jadi lebih banyak yang bisa digunakan untuk membaca dan ibadah tepat waktu. Daripada saya harus turun ke dapur seperti tahun pertama dan kedua saya menikah, waktu saya habis untuk memasak, malamnya keletihan dan tidak sanggup lagi untuk tarwih.

Untuk budget mungkin belum terasa ya karena anak saya masih satu. Tapi untuk keluarga besar, ada baiknya memang untuk memasak makanannya sendiri agar lebih hemat. Jika anak baru satu seperti saya, terlebih jika tidak punya asisten rumah tangga, sebaiknya pikirkan dulu baik-baik, mulai dari apa yang kita makan, jumlahnya dan waktu yang dibutuhkan. Karena jika salah menghitung, bukannya menghemat malah akan jatuhnya boros.

0 komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Pendapatmu?