Rabu, 31 Mei 2017

Hari ke Lima Puasa. Kotaku Banjir, Kotaku Malang

Sudah hampir 4 tahun saya berdomisili di kota Kendari, dan selama itu juga belum pernah sekalipun saya melihat banjir di kota ini, kecuali waktu itu ada banjir lokal di rumah gara-gara kolam ikan di dalam rumah yang meluap, sementara jalanan sama sekali tidak banjir.

Pagi tadi, hari ke lima di bulan Ramadhan tahun 2017, saya terbangun pukul 10 pagi (lama bener ya) karena hujan terus turun sejak kemarin. Hujan yang semakin deras turun ketika usai bekerja ba'da subuh, membuat saya makin nyaman berada di bawah selimut memeluk anak gadisku. Ketika terbangun, saya keluar rumah dan mendapatkan air akan naik ke teras rumah kira-kira 5cm lagi. Saya kaget dan buru-buru membangunkan suami yang masih terlelap. Belum pernah sekalipun air hujan naik sampai ke atas teras.

Ketika melihat banjir, sampah begitu banyak tergenang di sekitar rumah, sudah termasuk sampah dari rumahku yang rencananya baru akan dibuang hari ini, dan sampah-sampah dari rumah tetangga. Melihat sampah yang begitu banyak, saya meminta suami untuk mengumpulkannya, beruntung dia mau-mau saja. Sampah dikumpulkannya di dalam bak pendorong pasir (seperti gambar disebelah).

Selang 1 jam, air malah jadi tambah naik dan menyisakan kira-kira 1cm sebelum masuk ke dalam rumah. Takut terlambat, kami segera menaikkan barang-barang mudah rusak ke tempat yang lebih tinggi. Untuk menenangkan kepanikan setelah mengangkat barang, saya mencoba membuka timeline facebook. Saya mendapatkan postingan teman saya tentang banjir dan ternyata banjir sudah menyerang seisi Kendari, bahkan sampai ada wilayah yang terkena banjir bandang, innalillahi wa inna ilaihi rojiun.



Hujan yang terus menerus turun tanpa jeda, membuat kota Kendari terendam. Pasrah, hanya itu yang bisa saya lakukan. Jalanan besar saja bisa banjir, tentu saja jalan perumahan juga ikut banjir. Usai sholat dzuhur, alhamdulillah hujan mulai rintik, air mulai surut. Sampai malam ini, alhamdulillah jalanan sudah tidak terendam air lagi, tapi dari banjir tadi sungguh menyisakan begitu banyak sampah. Hal ini menjadi perhatian bahwa ternyata masih banyak orang yang suka membuang sampah sembarangan. Semoga dengan banjir ini, masyarakat Kendari jadi lebih sadar akan kebersihan lingkungan. Ya, semoga saja.

Minggu, 28 Mei 2017

Kuliner Bandung: Pisang Bollen

Waktu itu saya bertanya pada kawan saya, dimana saya bisa mendapatkan oleh-oleh khas Bandung. Lalu kawan saya memintaku untuk mencoba pisang bollen yang bisa dibeli di Kartika Sari, Bandung. Saya yang memang sudah percaya dengan kawan saya ya langsung menuju TKP. Outlet Kartika Sari sendiri ada beberapa di Bandung, lokasinya silahkan cari di google ya. 

Foto: dokumentasi pribadi
Harga yang ditawarkan adalah 47.500 rupiah. Pisang bollen Bandung ini benar-benar beda dengan yang ada dipikiranku. Ekspektasi sebelumnya adalah adonan terigu yang digiling kemudian diisi dengan isian pisang, coklat, keju atau sejenisnya. Ternyata pisang bollen Bandung terbuat dari roti yang diisi dengan pisang dan filling lainnya. Saya memilih filling coklat, tapi entah kenapa pas dimakan ada rasa kejunya :D mungkin petugasnya lagi ngantuk atau kah memang seperti ini kali ya kalau yang coklat.

Pisang yang digunakan kalau gak salah pisang raja yang sudah matang, Kata suami saya sih rasanya enak, tapi kok ya di lidahku rasanya biasa saja, mirip roti pada umumnya, nothing special. Tapi jika melihat dari tekstur rotinya, rasanya lumayan lah, tapi rasa-rasanya agak kemahalan harganya, melihat ukurannya yang demikian dan filling coklatnya juga sedikit. 

Jika ditanya rating yang saya berikan untuk kuliner ini, saya jawab 3/5. Jika disuruh membeli lagi, saya akan jawab tidak terima kasih. Namun jika dikasih secara cuma-cuma, ya alhamdulillah saya akan tetap memakannya.

Dilema Ketika Ramadhan, Masak Sendiri Atau Beli Jadi?

Foto: google
Saya bukan termasuk orang yang memilih dalam hal makanan. Alhamdulillah perutku juga kebal dengan jajanan pasar. Soalnya ya, biasanya ada perut yang bandel banget, maunya makan makanan mall terus dan enggan dimasukkan makanan yang jadi yang dibeli di pasar atau pinggir jalan. Suami saya juga demikian, alhamdulillah suami saya bukan tipe suami yang menuntut istrinya harus masak. Jika tidak memungkinkan, malah dia yang turun tangan di dapur. 

Bulan ramadhan ini, ketika saya melihat postingan kawan-kawan di facebook tentang makanan yang mereka masak untuk takjil maupun makanan berat, saya bertanya-tanya dalam hati, "saya mau masak apa ya? rasanya mau masak juga". Sebenarnya sih, dulu saya suka sekali masak-masak di dapur, terjun langsung dengan urusan perut keluarga. Dulu juga saya sering berbagi resep, bisa dibilang saya bukan newbie dalam hal dapur. Saya sudah bisa bedakan mana jahe, mana lengkuas dan mana kencur.

Setelah berpikir panjang tentang apa yang ingin saya masak ketika berbuka, saya jadi kembali bertanya pada diri sendiri, "sanggupkah?" Melihat begitu banyak pekerjaan rumah yang harus saya selesaikan (saya tidak punya ART), dan lagi saya sedang mempersiapkan ujian hasil dan tutup sebagai syarat menyelesaikan S2. Jika ingin makan cendol saja harus buat bahan dasarnya dulu, belum di bentuk, dan seterusnya, maka saya akan butuh waktu paling tidak dua jam hingga layak untuk di makan, padahal di rumah hanya ada 1 anak yang tidak begitu doyan makan kue.

Dilema urusan dapur ini terus berlanjut ketika saya sadar bahwa suami saya hanya makan sedikit karbohidrat dan banyak sayuran serta buah. Akhirnya, saya memutuskan begini, saya tetap memasak tapi hanya makanan yang mudah, nasi hanya 1 cup yang bisa saya dan anak saya makan. Untuk menu tajil pun saya memutuskan untuk membeli makanan jadi, dengan pertimbangan suami saya gak makan yang manis-manis. Berhubung saya pun tidak menkonsumsi air es, sirup, soda dan sejenisnya, saya mengganti minumannya dengan susu bear brand tidak dingin dan segelas penuh air kangen water.

Untuk menu sahur pun, saya tidak perlu masak, berhubung suami sahurnya hanya sayuran, daging atau ikan, jadi pas buka saya sengaja buat sayur dan lauk yang lebih banyak dan yang tidak mudah basi. Jadi bisa dimakan lagi pas sahur. Saya sendiri, untuk menu sahurku hanya sekaleng susu bear brand dan kangen water. Saya suka sakit perut soalnya kalo sahur dengan makanan berat.

Dengan menggunakan pola seperti ini, rasanya memang saya tidak begitu sibuk di dapur, waktu kosong saya jadi lebih banyak yang bisa digunakan untuk membaca dan ibadah tepat waktu. Daripada saya harus turun ke dapur seperti tahun pertama dan kedua saya menikah, waktu saya habis untuk memasak, malamnya keletihan dan tidak sanggup lagi untuk tarwih.

Untuk budget mungkin belum terasa ya karena anak saya masih satu. Tapi untuk keluarga besar, ada baiknya memang untuk memasak makanannya sendiri agar lebih hemat. Jika anak baru satu seperti saya, terlebih jika tidak punya asisten rumah tangga, sebaiknya pikirkan dulu baik-baik, mulai dari apa yang kita makan, jumlahnya dan waktu yang dibutuhkan. Karena jika salah menghitung, bukannya menghemat malah akan jatuhnya boros.

Jumat, 26 Mei 2017

Wisata Bandung: Dusun Bambu


Setelah mencari referensi di google tentang wisata Bandung yang ramah anak, akhirnya saya menemukan salah satu blog yang mereferensikan dusun bambu. Saya mencoba menelusurinya, lokasinya berada di Jalan Kolonel Masturi KM 11, cisarua, lembang, Kab Bandung Barat. Jika menggunakan aplikasi uber, tinggal tulis di tujuan "dusun bambu". Dari Sukajadi ke Dusun Bambu, dengan menggunakan jasa uber, saya harus mengeluarkan uang sebesar 60rb rupiah. Cukup murah, melihat perjalanannya yang jauh dengan jalan menanjak dan berkelok-kelok. 



Lokasinya yang begitu jauh dari perkotaan, membuat suasananya menjadi dambaan penduduk kota. Cuaca yang dingin karena berada di atas daratan, menjadikan tempat ini menjadi salah satu tujuan favorit jika ke Bandung. Biaya masuknya juga relatif murah yaitu 20rb rupiah dan bisa ditukarkan dengan air mineral ketika pulang nanti.

Ketika telah melewati loket pembayaran, kita diminta untuk naik ke atas mobil yang akan mengantarkan kita ke bagian pusat tempat ini. Sebenarnya kita juga bisa berjalan kaki ke atas, tapi karena baru pertama kali datang kesini dan jalanannya menanjak, jadi terasa sulit jika harus berjalan kaki terlebih ketika membawa balita tanpa stroller

Supir mobil akan menunggu penumpang lain baru akan berangkat. Ketika berangkat, disepanjang jalan terdapat pemandangan yang luar biasa indahnya, ada begitu banyak pohon dan terdapat satu spot dimana terhampar rumput sintetis. Orang-orang diperobolehkan masuk tapi harus melepaskan alas kaki (saya lupa ambil gambarnya)



Foto: dokumentasi pribadi
Jika sudah melihat penanda bambu-bambu seperti di atas, berarti kita sudah tiba di pemberhentian terakhir mobil angkutan dalam dusun bambu. Jika diperhatikan secara detail, susunan bambu-bambu ini sangat kompleks loh, bagian dalamnya bukan ruang hampa bambu, semuanya terisi bambu dan dipondasi dengan bambu juga. Keren ya!

Rumah Bambu di Atas Danau

Ada satu spot yang selalu dijadikan foto andalan ketika bermain di dusun bambu, yaitu spot foto dengan latar belakang rumah di atas danau. Ternyata rumah-rumah yang berjejer adalah tempat makan yang bisa disewa oleh pengunjung, sudah plus dengan perahu yang bisa dipakai mengelilingi danau yang dipenuhi dengan ikan koi.


Jika tidak ingin makan di rumah tersebut, tapi ingin berperahu ria, boleh kok.. Cukup membayar 10rb rupiah per orangnya. Kita sudah bisa dinatar oleh petugasnya mengelilingi danau sebanayk 2x, sudah bisa berpose cantik pula di atas perahu. Ingat ya untuk tidak bergerak terlalu banyak ketika di atas perahu, takut kebalik perahunya :D

Foto di atas perahu
Dari Jauh, inilah lokasi fotonya

Naik Kuda di Dusun Bambu

Sebenarnya, sebelum kesini, saya ingin membawa anak saya ke de'ranch, berhubung waktu di Jendela Alam anak saya tidak bisa naik kuda. Tetapi setelah menyusuri dusun bambu, ternyata ada juga wahana berkudanya. Untuk menikmati berjalan-jalan dengan menunggangi kuda, dikenakan biaya 35rb rupiah per orangnya. Kebetulan waktu itu suami saya menggunakan kuda yang sama dengan anak saya, meski begitu bayarannya tetap sama, 35rb per orang, sudah termasuk bapak-bapak yang mendampingi. Waktu itu ada dua orang yang mendampingi.

Awalnya takut, tapi lama-lama jadi suka

Bermain Dengan Kelinci

Entah kenapa ya, di setiap tempat wisata Bandung yang ramah anak, pasti ada rumah kelincinya. Begitu juga dengan dusun bambu, terdapat spot rumah kelinci dimana terdapat begitu banyak spesies kelinci. Tempatnya unik, bisa dipakai berfoto dan sangat ramah instagram loh. Untuk masuk ke spot ini dikenakan biaya sebesar 35rb rupiah per orang. Disebelah rumah kelinci ada juga spot bermain anak, dengan tarif 45rb per orang untuk biaya masuknya. Berhubung waktu itu sedang panas-panasnya (tempat bermain ada dibagian atas jadi kena matahari, sementara rumah kelinci bagian bawah jadi tertutup dari matahari), jadi saya tidak mengajak anak saya masuk ke tempat bermainnya.





Sangkar Burung Raksasa

Pernah dengar ada sangkar burung raksasa di dusun bambu? Sebenarnya sama halnya dengan ruma-rumahan bambu di tengah danau, tempat ini adalah ruang makan yang bisa disewa per jam. Bentuknya memang mirip sangkar burung dan berada di bagian atas jalan utama. Jika tidak ingin menyewanya, tenang saja kita tetap bisa naik ke atas dan berfoto (tapi tidak boleh masuk ya ke sangkarnya) di sepanjang koridor yang terbuat dari besi.




Fasilitas Untuk Orang Tua dan Cacat

Jika ingin membawa keluarga yang sudah tua, ataupun (maaf) cacat. Tenang saja, di dusun bambu disediakan fasilitas kursi roda untuk orang yang membutuhkan. Jalanan yang mendukung juga memungkinkan kita mendorong kerabat kita dengan kursi roda yang disediakan. Bahkan untuk anak yang masih menggunakan stroller juga bisa. Lingkungan dusun bambu yang semuanya masih baru dan terawat sangat memungkinkan roda stroller berputar tanpa adanya halangan.


Kantin dan Toko Oleh-Oleh

Jika lapar setelah berkelana menyusuri dusun bambu, tenang saja. Disana ada kantin kok dan tentunya juga tersedia toko oleh-oleh. Akan tetapi ketika saya cek, toko oleh-olehnya lumayan mahal jika dibandingkan dengan harga di Bandung. Mending beli di Bandung deh kalo camilannya, kecuali mungkin jika ingin membeli oleh-oleh yang ada tulisan dusun bambunya, boleh deh disini. Untuk menikmati makanan di kantinnya, kita harus membeli vouchernya dulu. Jadi kita belanjanya gak pake uang cash tapi menggunakan voucher (lupa saya foto). Jika voucher tidak habis digunakan, tenang saya bisa di kembalikan kok dananya :D


Nah, sekian perjalan saya di dusun bambu. Tertarik berkunjung? Siapkan uang cash ya, soalnya disana gak ada ATM dan saran saya gunakan mobil rental, soalnya pas pulang saya lama banget order uber dan grab tapi tidak ketemu-ketemu, setengah jam berlalu baru ketemu. Soalnya disini terpencil banget lokasinya, sangat jarang ada driver grab dan uber yang berkeliaran di sekitar sini.

Semoga tulisan saya membantu ya..

Kamis, 25 Mei 2017

Baklave Khas Turki, Kekinian di Sulawesi

Ketika saya memposting gambar baklava di facebook, kawan dari Jakarta sama sekali tidak tau menau tentang makanan ini. Katanya, "apa itu baklave?". Namun kawan yang berasal dari Sulawesi khususnya Makassar, langsung berkomentar macam-macam lah soal makanan yang satu ini. 

Ya, baklava sebenarnya adalah camilan khas Turki, sama seperti kebab yang sudah lebih dulu naik daun dibandingkan sepupunya, baklave. Jika kebab berbahan dasar daging dan sayuran yang bisa dijadikan menu utama menurutku, baklave lebih cenderung manis dan memang cocok dijadikan camilan dengan teh atau kopi sebagai pendampingnya.

Baklave sendiri berbahan dasar bolu dan kulit pastry. Jadi, dibagian bawahnya terdapat bolu lalu dibagian atas disusun kulit pastry berlapis-lapis dan bisa di filling dengan berbagai isian.

Belakangan ini, baklave memang lagi naik daun di Makassar karena ada salah satu artis ibukota yang membawanya ke Makassar dan menjadikannya oleh-oleh yang katanya "khas" Makassar. Kalau tidak salah sih, cabangnya sudah ada 3 atau 4 di Makassar.

Baklave Makassar
Foto: dokumentasi pribadi
Waktu itu, adik saya membeli baklave Makassar di outlet cabang Boulevard Makassar, untuk ukuran kecil begini (kira-kira seukuran dengan pizza hut personal) dihargai 65rb rupiah. Isinya tinggal pilih, ada coklat, keju, green tea dan berbagai isian lagi.

Menurut saya, baklave Makassar ini sangat tidak sesuai dengan harganya, ukurannya yang begitu kecil dan tipis, serta rasanya yg hanya kebanyakan terigunya saja tanpa isian. Kulit pastry nya nyaris tak terlihat seperti kulit pastry karena setiap lembarnya sudah menyatu dengan yang lainnya. Isiannya yang terlalu sedikit menjadikannya "sayang" untuk dibeli lagi.

Penampakan baklave per potong
Foto: dokumentasi pribadi
Lantas, apakah bentuk baklave memang demikian? Tentu saja tidak, saya mendapatkan toko roti di Kendari yang juga jualan baklave, namun bukan hanya itu yang menjadi menu utamanya. Nama tokonya adalah bon delicious. Toko ini memiliki konsep cafe kue nan cantik, dan instagrammable lah buat foto seru-seruan di dalamnya. Awalnya saya menemukan stand jualannya di Lippo mall Kendari, melihat kue baklavenya yang begitu menggoda, saya jadi tertarik untuk mencobanya, akhirnya nagih dan terus beli.
Baklave Kendari
Foto: dokumentasi pribadi
Baklave Kendari
Foto: dokumentasi pribadi

Lihat saja tampilannya, nahan gak liatnya? Ukurannya lebih besar dari baklave Makassar, dari diameter hingga ketebalan. Kulit pastrynya benar-benar terasa, kriuk dan tiap lapisnya di filling dengan coklat leleh. Bawahnya ada brownis padat yang rasanya juga enakk... Segini dipatok dengan harga 75rb rupiah. Tapi untuk memesan, wajib sehari sebelumnya. Aih.. kalo begini, menungu 3 hari saya juga rela..

Anak saya suka baklave Kendari
Foto: dokumentasi pribadi

Nah, bagaimana menurutmu? Tertarik mencoba baklave? 

Rahasia Bermain Jepit Boneka di Timezone

Foto: dokumentasi pribadi
Pernah lihat orang yang selalu berhasil bermain jepit boneka di timezone, amazon dan sejenisnya? Pasti jadi mau juga kan bisa dapat bonekanya? Pernah coba tapi selalu gagal? Malah menyalahkan mesin yang katanya sih sengaja disetel agar boneka tidak bisa naik ✌

Saya juga sih, dulu berpikiran yang sama. Kesal deh setiap main, rugi 10rb rupiah tapi boneka tidak naik, untung kalo nyangkut sedikit, ini malah adanya tangkapan kosong.

Lalu suatu hari, saya berkunjung ke rumah kawan, dimana rumahnya itu dipenuhi dengan boneka hasil mesin jepit boneka di timezone, mulai dari yang kecil hingga yang paling besar. Wahhh... saya jadi mupeng mau tau rahasianya. Bayangkan saja, setiap minggu dia bisa ke timezone 2-3x dan sekali main bisa dapat 3-5 boneka. Jadi di rumahnya ada sangat banyak boneka-boneka yang sering kita lihat di timezone. Katanya sih sampai karyawan timezone sudah hafal wajah dia. Setiap datang, si petugas selalu bilang "ini ibu yang suka bawa boneka pulang, rahasianya apa?"

Katanya sih, kawan itu hanya learning by doing, benar ya cara belajar yang satu ini memang yang paling top deh. Beruntung si kawan mau kasih tau resepnya sama saya dan akhirnya saya share di blog ini.
Foto: google


Pilih yang Posisi Tengkurap
Dalam memainkan mesin jepit boneka ini, pilihlah mainan yang posisinya sedang tengkurap. Jangan pernah memilih boneka yang sedang dalam kondisi duduk atau berbaring ke atas apalagi menyamping. Akan sangat sulit kecuali mungkin pada jenis boneka tertentu yang mana meski dalam posisi duduk, memiliki bagian yang bisa menjadi tempat sangkut penjepit.

Posisi Bebas
Pilihlah boneka yang memiliki posisi bebas alias tidak ada boneka lain yang menindihnya, entah itu hanya sedikit bagian yang menyentuh apalagi banyak ya.. Hal ini dimaksudkan agar penjepit bisa dengan leluasa mengambil target tanpa terganggu oleh boneka lain.

Perhatikan Posisi Antara Penjepit dan Boneka
Setelah tadi sudah ada boneka yang tengkurap dan posisi bebas, maka saat perhatikan posisi penjepitnya, arahkan ke bagian tubuh agar bisa menjepit ketiak boneka. Jangan pernah mengarahkan untuk menjepit bagian kepala jika dalam posisi tengkurap ya, soalnya kepala bulat gak ada tempat sangkutnya si penjepit.

Tangkap
Setelah selesai, maka tekan tombol tangkap dan tunggu boneka mu di bagian bawah mesin.

Sangat mudah namun tidak akan sering kita menemui posisi yang seperti ini di mesin jepit mainan. Butuh kesabaran dan ketelitian dalam memainkannya. Jika semua poin di atas telah dijalankan, maka insya Allah boneka akan tertarik dalam 1 gesekan kartu. :D

Silahkan dicoba dan semoga berhasil!


Rabu, 24 Mei 2017

Menjadi Inspirasi, Ibu Rumah Tangga Juga Bisa

Foto: kiriman guru
Siang tadi, saya mendapatkan pesan melalui facebook dari gurunda digital marketing saya. Beliau memohon izin padaku agar profil saya bisa ditampilkan dalam slide presentasi beliau berkaitan dengan digital marketing. Saya dikirimi gambar ini oleh beliau. Sebelumnya saya juga pernah diajak jadi narasumber penjual di shopee yang setidaknya bisa menjadi inspirasi bagi para newbie. Sebenarnya saya pun masih newbie sih dalam dunia digital marketing. 

Singkat cerita, setelah mendapatkan kabar ini, tentu saya begitu tersanjung. Bukan apanya ya, sebenarnya ini belum bisa disebut prestasi, masih banyak kawan seprofesi yang memiliki level jauh di atas saya dan belum terekspose. Namun melihat chattingan dari gurunda bahwa saya dijadikan bahan inspirasi bagi adik-adik mahasiswa, saya jadi agak ehem gimana gitu, bahagia. 

Padahal, saya ini hanya ibu rumah tangga yang kerjaannya hanya dasteran loh di rumah. Bahkan pernah saya disindir oleh teman kuliah saya di Magister Manajemen mengenai status saya sebagai ibu rumah tangga yang "katanya" hanya duduk manja di rumah menerima duit dari suami ☺ Secara ya, kawan-kawan sekelas pada bekerja dan beberapa memang memiliki jabatan di kantornya. Mereka menyindir saya mungkin karena kok repot-repot melanjutkan S2 sementara "hanya" ibu rumah tangga. Sungguh pemikiran primitif ya.

Waktu itu, posisi saya sudah memiliki usaha sebenarnya. Saya menjual produk beauty water dari Kangen Water dan memproduksinya sendiri, hingga saat ini bahkan usaha itu masih berjalan namun sekarang lebih fokus mencari reseller daripada menjual secara retail. Kala itu, saya bisa mendapatkan uang dari hasil penjualan sebesar 8-9jt per bulan. Lelah? ya banget lah.. soalnya semua dilakukan sendiri, pesan botol spray sendiri, jualan sendiri, take order sendiri dan melakukan pengiriman juga sendiri. 

Beberapa waktu kemudian saya mencoba move on dari kondisi yang mengekang saya itu, Saya belajar cara dropship dan alhamdulillah hasilnya bisa seperti itu, oh iya itu hanya hasil dari 1 toko ya. Sebenarnya saya ada 3 toko dropship yang saya kelola seorang diri tanpa adanya admin yang membantu, tapi alhamdulillah masih tetap bisa jalan-jalan, masih tetap bisa urusin suami dan anak, dan masih tetap bisa masak.

Semuanya karena Allah, saya bisa begini. Padahal ya, dulu, dulu banget saya pernah merasakan pedihnya hidup karena kondisi finansial yang lagi terpuruk. Mengetahui hal bahwa saya dijadikan bahan inspirasi bagi orang lain, saya sungguh tersentuh, terharu, mengingat perjuangan 4 tahun terakhir sebagai ibu rumah tangga yang memulai semuanya dari mines.

Terakhir, saya berharap sih semua ibu rumah tangga di Indonesia agar tidak patah semangat meski banyak pihak yang menjadi polusi hidup, Langkah apapun yang kau ambil dalam perjalananmu, asal suami ridho dan Allah juga ridho, maka lanjutkan. Tak perlu risau dengan sindiran orang lain yang mengatakan kamu "hanya ibu rumah tangga".

Maaf Saya Selingkuh!

Gambar: Google
Maaf saya selingkuh, sepertinya hanya itu judul yang pantas. Setelah 10 tahun nge-blog di wordpress, ahirnya hari ini resmi saya berpaling pada blogger. Sejujurnya, saya jauh lebih nyaman menggunakan wordpress, mungkin karena tampilannya dan berbagai kemudahan yang diberikan, seperti aplikasi mobile yang sangat ramah pada mata silinderku ini atau mungkin juga karena saya diawal belajar ngeblog dengan wordpress kali ya.

Tapi mau dikata apa lagi ya, saya ingin banget menulis di blog tanpa ada embel-embel subdomain wordpress di belakangnya, tanpa harus kehilangan postingan saya jika mungkin suatu saat nanti saya telah tiada. Yah, jika saya membeli domain dan menggunakan hosting sendiri, jika saya tiada, siapa yang akan mengimpor isinya dan mengekspornya ke blog baru?

Nah, karena alasan demikian lah, saya ingin tetap menggunakan hosting gratisan numpang pada wordpress. Namun, sayang harga paket domain yang ditawarkan oleh wordpress mahal gila! Untuk setahun paket termurah berada di 35,88 USD. Wah jika dirupiahkan bisa hampir menyentuh 500rb rupiah untuk setahun. Bandingkan dengan blogger yang mana ada namanya parking domain, cukup dengan membeli domain di luar seharga 135rb rupiah per tahun dan hosting gartis dari blogger.

Sebagai emmak-emmak yang berjuang demi penghematan, saya sudah pastilah berpikir keras untuk membeli paket domain di wordpress, mending kan duitnya dipake beli susu anak saya ya, melihat blog ini tidak saya peruntukkan berburu rupiah apalagi dollar, rasanya sayang banget jika harus merogoh kocek hampir 500rb. Terlebih saat ini saya lagi butuh-butuhnya uang :D

Sipp, hari ini resmi saya berpaling dari wordpress. Tinggal menunggu waktu saya mengimpor konten blog baru saya sebelumnya di wordpress, yang isinya juga baru 30an dan menunggu blogger membaca domain saya. Maafin ya wordpress... soalnya kamu kemahalan.

Selasa, 23 Mei 2017

Wisata Bandung: Farm House Lembang

Perjalanan ke Farm House Lembang sebelumnya dimulai dari jendela alam, karena berhubung lokasinya tidak begitu jauh (sama-sama di Lembang) dan kala itu masih siang, jadi saya dan anak saya melanjutkan perjalanan ke Farm House ini. Lagi-lagi saya menggunakan grab car, biaya yang harus dikeluarkan dari jendela alam ke farm house hanya 14rb rupiah saja loh.


Pertama kali masuk ke lokasi wisata ini, pas masuk diparkiran kami dimintai tiket masuk sebesar 20rb rupiah per orang, dan tiket ini bisa ditukarkan dengan 1 gelas susu untuk setiap tiketnya. Menurutku ini sangat murah, terlebih kita dikasih segelas susu segar dan dingin :D

Tempat ini saya datangi atas rekomendasi teman saya, katanya sih disini bisa menjadi salah satu destinasi menarik terlebih untuk anak jika jalan-jalan ke Bandung. Perasaan pertama saat masuk di farm house adalah adem banget... Jadi mulai dari lokasi parkir hingga ke dalam, disini ada begitu banyak pohon. Angin yang bertiup juga lumayan dingin, meski gak dingin-dingin banget ya tetap dingin lah. Waktu itu kebetulan juga lagi ada tour beberapa kelompok, jadi memang suasananya lagi ramai-ramainya.

Luas tanah tempat wisata ini menurutku gak terlalu besar, kaki tidak perlu sampai ke tempat refleksi lah sepulang dari sini. Penataan lokasi yang berkelok-kelok memberikan kesan yang luas, padahal sebenarnya kecil ya. Oh iya, saya juga sempat membaca salah satu informasi di google bahwa ada rumah hobbit di farm house ini. Memang benar sih ada rumah hobbitnya, ekspektasi saya mungkin yang berlebih menganggap lokasi ini ada area khusus berukuran besar yang di tata mirip dengan kampung para hobbit seperti di film, ternyata realita tidak seperti ekspektasiku, rumah hobbitnya tidak bisa dimasuki dan hanya ada dua rumah saja yang bersebelahan. Oh iya ada lagi satu tapi terpisah jaraknya lumayan jauh.




Kebanyakan spot disini memiliki gaya eropa, bahkan kita bisa menyewa baju ala eropa untuk dipakai berkeliling sambil berpose ala peternak di belahan eropa sana, lucu. Tapi yah waktu itu karena hanya berdua dengan anak dan antrian penyewaan baju yang begitu panjaaaang, jadi saya memutuskan untuk lanjut saja tanpa berfoto ala kekinian di farm house.

Banyaknya tanaman indah dan pohon di lokasi ini, membuatnya semakin nyaman untuk ditelusuri, dan oh iya disini juga ada spot gembok cinta loh ala korea. Jadi buat yang mau berfoto dilatar belakangi dengan ribuan gembok, tidak usah jauh-jauh ke korea lah, ke farm house Lembang saja.



Selain itu, ada juga spot dimana kita bisa bermain dengan domba dan kelinci. Untuk memberi makan, kita bisa membeli sepaket wortel dengan harga mulai 15rb rupiah. Jika tidak ingin memberi makan, kita juga bebas kok masuk ke dalam kandangnya dan berpose bersama domba dan kelinci. Domba dan kelincinya sudah jinak banget, buktinya si domba asik aja berpose dengan manusia berada disampingnya, dan dijamin gak ada bau sama sekali, soalnya air seni dan kotorannya ditampung pada sebuah penampungan yang disimpan di bagian belakang domba dan ada banyak petugas yang siap membersihkan kotoran yang tercecer di dalam atau luar kandang.

Selain kelinci dan domba sebenarnya ada hewan lain yang berada tidak jauh dari kandang domba dan kelinci, ada sapi, marmut, ikan dll, hanya saja kondisi anak saya waktu lagi sedang ngantuk berat dan saya tidak bawa stroller, jadi kami tidak begitu lama bermain dengan hewan lain. Saran saya sih, jika memang mau main agak lama, mungkin si kecil bisa dibawakan stroller buat dia duduk cantik sampai tertidur, soalnya lokasinya juga ramah stroller kok :D



Jika ingin membeli oleh-oleh khas farm house juga ada kok dijual disini, harga juga cukup bersahabat, masih masuk akal sehat lah harganya dan oh iya, jika kita ingin membawa pulang susu segarnya juga bisa. Susunya sudah dikemas dalam botolan kecil dan dijual seharga 20rb rupiah setiap 5 botolnya. Ada juga permen susu yang dijual seharga 25rb rupiah, yang bahkan belum sanggup saya habiskan meski sudah hampir seminggu pulang dari Bandung :D

Nah, sekian dulu tulisan saya mengenai farm house Lembang, tempat wisata ini saya rekomendasikan buat yang ingin berwisata di Bandung, terlebih jika membawa anak kecil. Buat yang mau sekedar foto-foto juga boleh, soalnya tempat ini bagus bener buat jadi spot foto.

Senin, 22 Mei 2017

Wisata Bandung: Jendela Alam

Hari itu sebenarnya saya ingin ke Jendela Alam bersama suami, namun sayang suami lagi ada kerjaan dan tidak memungkinkan untuk pergi bersama. Daripada bosan menunggu di kamar hotel, saya memberanikan diri menuju Jendela Alam bersama anak saya. Kami berkendara menggunakan grab car, dari sukajadi ke jendela alam kira-kira mengeluarkan biaya sekitar 60rban rupiah. Cukup murah, daripada naik taxi :D

Satu hal yang menjadi kesan pertama saya ketika masuk di wisata ini, kecil dan biasa saja. Saya hampir merasa menyesal loh ketika masuk di jendela alam. Saat itu kebetulan lagi ada tour beberapa kelompok anak TK, jadi situasinya cukup ramai. Untuk masuk ke jendela alam, kita dikenakan biaya 15rb rupiah per orang, cukup murah. Kasir yang melayani hari itu mengatakan bahwa arena yang dibuka hanya ada 3, yaitu animal feeding, kolam renang dan kereta api. Nah, jadi biaya 15rb itu hanya untuk berkeliling saja ya di area jendela alamnya, bukan untuk menikmati semua fasilitas seperti, trampolin, naik kuda poni, dll. Untuk menikmati fasilitas itu ya dikenakan biaya per wahana.

Mengingat anak saya sangat bahagia ketika diajak memberi makan ternak di lactasari diary farm, otomatis saya langsung membeli tiket untuk animal feeding yang dipatok 20rb rupiah. Oleh kasir kami disuruh masuk dan menunggu pendamping. Jadi 20rb rupiah ini sudah termasuk pendamping, memetik sayuran sendiri dan mencucinya lalu memberi makan pada ternak.

Gelang penanda masuk jendela alam





Setelah membersihkan sayuran, kangkung dan wortel, pendamping mulai mengarahkan anak saya menuju hewan ternak yang akan diberi makan. Pertama dimulai dengan memberi makan rusa. Si mbak pendamping mengatakan bahwa tanduk rusa jantan akan di tumpulkan agar tidak melukai pengunjung yang memberi makan, dan ternyata tanduk tersebut akan lepas dengan sendirinya ketika tiba musim kawin, agar si rusa betina tidak tertusuk oleh tanduk si jantan, aww... Oh iya, perkenalkan nama rusa jantan ini ruru. Ciyeee ruru lagi dikasih makan sama Qifaya. Oh iya, rusa ini sepertinya sudah sangat terbiasa dengan kunjungan manusia. Buktinya dia memang mendekat ketika kami berdiri di luar pagar, lapar ya ruru? :D




Setelah rusa, kami menuju ke kandang kelinci dan marmut, disana lumayan banyak jenis kelinci dan marmut. ihh anak saya berani ya sedekat itu sama marmutnya, saya mah takuttt..... Kelinci disana ukurannya gak tanggung-tanggung besarnya, kayak kuciing, meoong... Apa mungkin karena keseringan dikasih makan kali ya sampai badannya segede itu, masya Allah.

Memberi makan sapi
Setelah kelinci, kami menuju kandang sapi perah yang warnanya hitam putih itu loh kayak diiklan susu :D Lagi-lagi anak saya benar-benar masya Allah beraninya luar biasa, saya sendiri takut dekat-dekat. Untunglah ada mbak pendamping yang selalu sigap menjaga anak kalo dia terlalu dekat atau ada tanda-tanda bahaya :D Oh iya, baru disini loh saya lihat sapi dikasih makan begini, lidahnya duluan yang keluar memanjang, lucu, anak saya sampai sering meniru gaya makan sapi ini yang lidahnya keluar duluan ambil makanannya. Sapi disini juga gemuk-gemuk, sepenglihatan saya ada tiga ekor sapi disana dan semuanya bewarna hitam putih, cantik dan bersih serta bersuara moo... :D

Setelah memberi makan sapi, kami menuju kandang kambing dan kuda poni. Sebenarnya sih ada banyak kandang yang kami lewati saat memberi makan hewan ternak, tapi yah hewan yang kami kasih makan ya hanya hewan yang makan sayuran saja, burung, ayam, reptil dll yang tidak makan sayuran ya di skip sama mbaknya.


Spesies kambing di tempat ini cukup banyak, mulai dari lokal hingga kambing bule, halah.. saya lupa nama spesiesnya apa. Lucu banget kambing-kambingnya terlihat sangat kelaparan atau emang dasar rakus ya, mereka saling berebut ingin dikasih makan sama Qifaya. Belum lagi ada yang sampai menyeruduk kawan sendiri untuk makan, rasanya persis dengan situasi di negeri kita ya :D

Kuda poni yang hanya ada dua ekor kala itu (soalnya yang lain pada istirahat dan ada juga yang lagi ditunggangi sama anak-anak TK), ternyata murah senyum ya. Tiap dikasih makan sama Qifaya selalu menampakkan gigi-giginya bak abis pake behel, rapi beneerr tapi sayang kotor :D mbak nya sampai bilang sama Qifaya kalo malas sikat gigi, nanti giginya bakal kayak poni :D

Nah, dengan selesainya memberi makan kambing dan kuda poni yang kandangnya bersebelahan, selesai juga tur yang diberikan oleh mbaknya, anak disuruh cuci tangan pake sabun, abis itu mbaknya pamitan dan kita boleh deh keliling sendiri di kompleks jendela alam itu. Untuk menengok ulang binatangnya juga boleh tapi gak dikasih makan lagi. Anak saya tiba-tiba cemberut pas sesi animal feedingnya usai :D

Setelah memberi makan hewan, rasanya saya puas banget deh.. sangkaan awal saya tentang tempat ini jadi sirna. Jendela alam ini benar-benar ramah anak dan bisa jadi sarana bermain sambil belajar bagi anak-anak. Saya kemudian melanjutkan berkeliling dengan anak saya, disana terdapat arena bermain anak juga loh dan bebas dimainkan oleh anak-anak.

Arena bermain anak
Di sebelah arena ini terdapat kolam renang yang bisa dimainkan dengan membeli tiket masuk terlebih dahulu, kalo gak salah 20rb-25rb rupiah. Karena saat itu lagi ada tour anak-anak TK, arena bermainnya jadi sangat padat. Oh iya, jika kelaparan tak perlu khawatir karena disana juga terdapat 2 kantin yang bisa jadi tempat duduk cantik kita sambil menikmati sekeliling. Ingat ya, gak boleh bawa makanan dari luar jika ingin masuk ke tempat ini :D

Ketika menyisir tempat ini, saya menemukan lokasi outbond mini untuk dewasa dan anak, berada di sisi kanan pintu masuk. Tapi entah kenapa lagi sepi banget, jadi takut lama-lama di sisi itu :D




Setelah duduk cantik di kantin makan yogurt dingin, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 13, saya memutuskan untuk keluar dan menuju ke Farm House yang lokasinya juga berada di Lembang.

Sampai disini dulu tulisan saya mengenai jendela alam di lembang, semoga menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk mengajak anaknya berwisata sekaligus belajar di jendela alam ini.