Kamis, 23 Februari 2017

Fenomena Mother Distrust

Foto: google

Tulisan saya ini sebenarnya sudah banyak diulas oleh blogger lain, hanya saja sangat kebetulan di waktu yang dekat ini saya melihat langsung fenomena ini terjadi pada anak dari kawan saya. Perlu diketahu, mother distrust adalah hilangnya kepercayaan seorang anak kepada ibunya.


Hal ini merupakan potret kebobrokan akhlak yang marak terjadi di negeri kita ini. Bukan hanya 1 atau dua kasus, tapi hal ini bisa dengan mudah kita dapatkan di media sosial. Gejala ini menjadi penanda bahwa tidak berkualitasnya generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa.

Kala itu, saya mendapatkan tag di facebook saya oleh seorang kawan yang mengupload fotonya ber-selfie di salah satu bandara. Saya yang kebetulan sedang online di facebook, langsung membuka foto beliau dan saya menemukan sebuah komentar yang ternyata dari putra sulung beliau yang kira-kira berusia 8-9 tahun. Adalah hal yang wajar ketika seorang anak berkomentar pada foto ibunya, akan tetapi yang membuatnya janggal ketika sang anak meninggalkan komentar tajam dan tidak seharusnya dituliskan bahkan oleh seorang dewasa.

Saya ingat betul anak tsb meninggalkan beberapa komentar, diantaranya mengatakan bahwa ibunya anjing, ibunya mirip monyet bahkan mendoakan si ibu agar cepat meninggal dan dia bisa mendapatkan ibu tiri. Naudzubillah. Saya speechless membaca komentar tersebut.

Sebagai informasi, kawan saya ini adalah seorang wanita karir yang bekerja di salah satu kantor pemerintahan. Beliau memang selalu meninggalkan rumah dengan bepergian ke luar kota, terkadang dalam seminggu beliau bisa mengunjungi 3 daerah sekaligus sehingga beliau sangat jarang berada di rumah. Kalaupun beliau tidak melakukan perjalanan dinas, beliau baru berada di rumah ketika malam tiba dikarenakan banyaknya tanggung jawab yang harus dilakukan di kantor. Akhir pekan pun beliau gunakan untuk melanjutkan studi S2. Jadi bisa dibilang, hampir tidak ada waktu untuk anaknya selain waktu tidur.

Sebagai seorang muslim, kita diajar oleh Nabi Muhammad untuk mendahulukan ibu kita 3x baru ayah kita. Tapi melihat fenomena ini, lantas siapa yang patut disalahkan? Sang anak kah? atau malah sebaliknya, sang ibu itu sendiri. Bagaimana bisa kita mengharapkan seorang anak yang bisa menjadi generasi penerus bangsa, jika pada ibunya saja dia bersikap seperti ini.

Dewasa ini begitu banyak para wanita yang mengejar karir dengan dalih ingin membantu suami. Padahal jika dilihat kembali, si suami berpenghasilan cukup untuk membiayai keluarga. Para wanita beranggapan "sayang" sudah sekolah tinggi-tinggi jika hanya berakhir di dapur dan ranjang sebagai seorang ibu rumah tangga. Padahal sesungguhnya esensi dari seorang ibu rumah tangga adalah ketika kita bisa menjadi penghidup sebuah rumah. Ketika kita menjadi rumah bagi suami dan anak-anak kita.

Tidak jarang juga saya mendengarkan beberapa orang tua berpesan kepada anak perempuannya bahwa seorang wanita harus bekerja agar bisa mandiri jika suami nanti macam-macam, entah dia selingkuh atau meninggalkan kita. Astagfirullah... Bu... tolong berhati-hatilah dalam berucap, mungkin dewasa ini begitu banyak terjadi kasus pertengkaran suami istri karena adanya sumbangsih anda sebagai ibu, secara tidak langsung mendoakan si anak agar bercerai atau diselingkuhi. Ujung-ujungnya anaklah yang akan menjadi korban, muncul lah fenomena ini.

Akhir kata saya menitip pesan kepada seluruh ibu di Indonesia, wahai ibu... pulanglah... anakmu membutuhkanmu. Seorang anak tidak membutuhkan ibu yang berpendidikan tinggi atau berkarir sukses, seorang anak membutuhkan kehadiranmu.

0 komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Pendapatmu?