Senin, 22 Juli 2019

Berapakah Biaya Homeschooling?

Sewaktu mengatakan bahwa kakak Q saya homescooling-kan, beberapa orang berkata, "wah, kalo homeschooling tuh harganya mahal..." beberapa juga berkata, "kamu gak punya uang ya? sampai harus homeschooling". Well, keduanya sama sekali tak paham tentang homeschooling, karena memang homeschooling masih begitu asing di masyarakat kita.
Gambar: cityclub

Homeschooling adalah Keluarga, Bukan Sebuah Lembaga

Pertama, Homeschooling bukanlah lembaga, melainkan sebuah keluarga. Mungkin pernyataan ini sangat cocok bagi mereka yang sering berkata bahwa homeschooling itu mahal. Mungkin juga alasan mereka berkata mahal karena ada begitu banyak lembaga yang memberikan embel-embel homeschooling di depan namanya. Ambil saja contoh homeschooling kak set* dan homeschooling primaga*a.

Mereka memberi embel-embel homeschooling pada lembaganya dan mematok harga yang fantastis bagi anak yang ingin menjalani "homeschooling" disana. Sebut saja lembaga kak se*o yang menarik biaya pendaftaran kurang lebih 50jt di awal, belum termasuk biaya bulanan yang juga biayanya tidak kalah fantastis. Wajar sekali beberapa orang mengatakan jika homeschooling mahal, jika mereka mendapatkan informasi dari lembaga ini.

Padahal, di seluruh penjuru dunia ini yang namanya homeschooling merupakan pendidikan yang dilakukan di rumah. Namanya saja "home" yang berarti proses pendidikan ini utamanya dilakukan di rumah. Jika masih menitipkan anak pada sebuah lembaga, namanya tetaplah sekolah, bukan homeschooling. Meski mereka hanya masuk beberapa kali dalam seminggu dan tidak seketat sekolah formal pada umumnya, mereka tetaplah sekolah, atau lebih tepatnya sekolah fleksibel. Mereka berada di antara sekolah dan homeschooling.

Fleksibilitas Biaya Homeschooling

Kedua, karena homeschooling merupakan pendidikan berbasis keluarga, menyebabkan biaya yang keluar sangat fleksibel dari masing-masing keluarga. Sama halnya dengan biaya makan sebuah keluarga, pasti berbeda dengan keluarga lainnya. Begitupun dengan homeschooling, biaya yang dikeluarkan setiap keluarga berbeda, tergantung kebutuhan dan keinginan keluarga tersebut.

Sebagai contoh, keluarga si A ingin menerapkan metode montessori dalam kegiatan home-schooling anaknya. Maka otomatis keluarga A akan mengeluarkan biaya untuk menyiapkan segala perlengkapan montessori untuk anaknya. Sementara keluarga B ingin menerapkan metode unschooling pada anaknya, dimana metode ini tidak berpatok si anak harus melakukan apa dengan cara apa. Semua bergantung kondisi si anak saat itu ingin belajar apa. Maka tentu keluarga B akan menyiapkan apa saja yang dibutuhkan si anak untuk memenuhi kebutuhan belajarnya saat itu juga.

Saya kembali menganalogikannya dengan biaya makan. Misalnya keluarga A memilih makan setiap hari di luar rumah, sementara keluarga B memilih makan setiap hari dengan masakan rumah. Tentu biaya yang keluar berbeda antara keluarga A dan keluarga B. Nah, begitu juga dengan homeschooling. Biayanya sangat tergantung dengan kebutuhan dan keinginan setiap keluarga, berbeda satu dengan yang lainnya.

Jadi, Homeschooling Mahal atau Murah?

Seperti yang saya paparkan di atas tadi, bahwa biaya homeschooling bisa jadi mahal atau pun murah. Kembali pada kondisi masing-masing keluarga. Bisa menjadi mahal jika orang tua memanggil tutor untuk membimbing anak dalam proses belajar, membeli peralatan dan perangkat belajar dari luar negeri, melakukan kegiatan belajar di luar yang membutuhkan biaya besar.

Namun, biaya homeschooling juga bisa menjadi murah jika orang tua bisa mengakali perangkat belajar anak dengan menggunakan bahan yang tersedia di sekitar rumah, menggunakan buku-buku bekas atau bahkan meminjam buku dari perpustakaan daerah, memanfaatkan internet.

Untuk kegiatan homeschooling kakak Q sendiri, kami menggunakan metode unschooling yang mana kakak Q bebas ingin belajar apa saja tanpa mematok kurikulum. Jika hari ini ia ingin belajar berhitung, maka kami akan menemaninya dan tidak memaksa untuk belajar yang lain. Kami juga tetap membelikan beraneka ragam permainan edukatif, buku-buku baik baru/impor/bekas, kami juga tetap menggunakan internet dan perangkat gratis yang tersedia di sekitar rumah. Bahkan kami juga melakukan kegiatan outdoor yang membutuhkan biaya. Oh iya, untuk minat dan bakat, saat ini kakak Q masih mengikuti latihan gymnastic. Total biaya yang keluar untuk "homeschooling" kakak Q berkisar antara 1jt-1,5jt setiap bulannya.


Serunya Naik Kereta Api Ekonomi Mutiara Selatan dari Surabaya ke Malang

Seminggu yang lalu, kebetulan ibu saya berkunjung ke Surabaya. Beliau memang telah merencanakan ini jauh hari sebelumnya. Katanya, sih beliau ingin menengok sang cucu sekaligus merasakan naik kereta api untuk pertama kalinya. Mengingat kondisi ibu saya yang sudah tua serta saya juga membawa anak-anak tanpa suami, maka saya memutuskan liburan ke Malang saja dengan menggunakan transportasi kereta api yang mana hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam saja dari stasiun wonokromo ke stasiun Malang kota baru.

Seperti biasa, saya memesan tiket kereta api melalui aplikasi Traveloka. Sebenarnya kita juga bisa memesan langsung di stasiun, tapi agar tidak ribet dan lebih jelas, saya memutuskan memeasan melalui online saja. Harga untuk kereta api dari Surabaya ke Malang kelas ekonomi adalah 40rb rupiah per orang, dimana bayi tidak perlu membayar dan tentu tidak juga mendapatkan kursi alias dipangku. Tapi bukan berarti si bayi tidak mendapatkan tiket, kita tetap memesan tiket untuknya dengan pilihan kursi untuk bayi.

Tiket KA Mutiara Selatan kelas Ekonomi
Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama saya menggunakan kereta api menuju malang. Pada tahun 2016 saya juga sempat menggunakan transportasi ini ke Malang dari Surabaya, tapi waktu itu saya menggunakan kereta api penataran yang harganya cuma 12rb rupiah saja. Tapi maklum saja ya, dengan harga yang cuma 12rb, jangan meminta kondisi kereta yang sebanding dengan harga 40rb rupiah :D
Beli roti sebelum berangkat
Waktu itu, kami berangkat dari stasiun wonokromo dan ini adalah kali pertama juga bagi saya memasuki stasiun ini. Sebelumnya saya naik kereta api dari stasiun gubeng. Pas tiba di stasiun wonokromo, saya tidak menyangka bahwa disini sangat sepi penjual makanan. Kami bekeliling dan hanya mendapati satu penjual saja, yaitu Roti O di bagian depan stasiun. Harga rotinya juga lumayan mahal menurutku, per pcs dihargai 12rb rupiah dan coklat panasnya dihargai 30rb rupiah :D Bertiga pesan masing-masing 1 roti dan coklat panas, harganya sudah lebih mahal daripada tiket kereta apinya. Saran saya lebih baik beli snack dari rumah saja sebelum mampir ke stasiun ini, karena disini tidak ada alfamart atau indomaret.
Jalan Masuk Stasiun Wonokromo
Kami menggunakan transportasi taksi online menuju stasiun Wonokromo dan kami diturunkan di depan stasiun yang ada jalan khusus bagi penumpang stasiun yang turun di pinggir jalan. Lumayan sempit, hanya cukup berjalan 2 orang berdampingan saja. Tak tahu ya jika kita turun di parkiran mobil seperti apa.
Ruang Tunggu Stasiun Wonokromo
Setelah check in, kami memasuki ruang tunggu kereta api yang menurutku lumayan bersih. Disana juga ada semacam pengamen yang sudah di upgrade karena menggunakan speaker dan mic, hanya saja saya lupa memotretnya. Lumayan menggaggu sih menurutku.
Kereta Api Mutiara Selatan kelas Ekonomi
Nah, pas masuk di dalam kereta, rasanya kurang lebih hampir sama dengan kereta api kelas eksekutif yang pernah saya naiki dari Jakarta ke Bandung. Di kereta api kelas ekonomi Mutiara Selatan ini, juga memiliki kursi yang tiap deretnya hanya 2 orang saja, yang membedakan hanya luas kursinya saja. Pada kelas ekonomi, kursinya tidak begitu luas, tak ada bantal dan tak ada tatakan meja untuk makan, space kaki juga terbatas.
Space kaki kereta api kelas ekonomi
Beruntungnya naik kereta api saat bukan musim liburan, banyak kursi yang kosong. Bahkan di sebelah saya tidak ada orang. Jadi adek B juga ikutan punya kursi. Luamayan lah bisa dipake rebahan sama adek B. Pas pulang malah, kakak Q pindah ke deret belakang untuk tidur sambil selonjoran kakinya.

Saya sudah mendokumentasikan perjalan kami selama di kereta api menuju Malang dalam bentuk video. Silahkan ditengok ya!



Selasa, 16 Juli 2019

Menghirup Udara Malam di Pasar Ikan Pabean Surabaya

Setahun sudah saya berdomisili di kota Surabaya dan baru malam ini saya berhasil mengunjungi pasar ikan di kota ini. Selama ini suami saya yang sering belanja di pasar ikan. Alasannya simple, sejak kecil saya memang tidak terbiasa dengan kondisi pasar karena tidak pernah secara khusus diajak ke pasar (apalagi pasar ikan). Jadi saya merasa kurang nyaman berada di dalam pasar ikan. Nah, malam ini sekalian menunggu waktu tidur, kami berjalan-jalan mengunjungi pasar ikan sambil tentu saja membeli ikan untuk persediaan makanan kami.

Penampakan Pasar Ikan Pabean
Pasar Ikan Pabean Surabaya
Jl. Panggung, Nyamplungan, Kec. Pabean Cantian, Kota SBY, Jawa Timur 60162

Sejak tinggal di Kendari dulu, kami memang sudah terbiasa belanja ikan di pasar ikan. Kalau di Kendari dan Makassar namanya pelelangan ikan dan lokasinya tepat di pinggir laut. Jadi ikan yang baru ditangkap langsung dijual. Sementara pasar ikan pabean di Surabaya, letaknya cukup jauh dari laut. Jadi butuh waktu lagi untuk mengangkutnya dari laut untuk dipasarkan.

Awal pindah di Surabaya, kami membeli ikan di pasar dekat rumah. Tapi dasar ya kami sudah terbiasa makan ikan segar yang baru ditangkap di laut, pas dikasih ikan yang sudah bermalam ya rasanya gak mau turun di tenggorokan. Jadi, suami yang waktu itu memutuskan naik gojek pagi-pagi sekali menuju pasar ikan pabean dan pulang dengan tangan hampa karena ternyata pasarnya belum buka wkwkwkw.

Berbeda dengan pasar ikan di Makassar dan Kendari yang buka pagi bahkan subuh, ketika siang sudah banyak yang pulang. Sementara di pasar ikan pabean Surabaya, pasarnya baru buka siang hari sampai subuh. Jadi setelah itu, suami baru belanja ikan di pasar sana sepulang bekerja, sore atau malam hari.
Bagian luar pasar ikan pabean
Nah, karena pasar ikan ini letaknya lumayan jauh dari laut, jadi penampakan pasarnya sangat mirip dengan kompleks pasar biasa di Makassar dan Sulawesi. Pasar ikan pabean Surabaya di sisi kanan kirinya terdiri dari bangunan ruko model lama dan jalanannya terbuat dari paving block. Tak ada angin sepoi sepoi yang menyambar ujung jilbab seperti pelelangan ikan di kampungku yang pasar ikannya berada di pinggir laut :D
Abati pilih ikan, Qifaya sibuk pegang ikan juga :D
Katanya sih, disini tuh pasar ikan yang paling besar. Jadi penjual-penjual yang ada di komplek perumahan, yang keliling dan di pinggir jalan itu semuanya beli disini. Ya aku sih percaya aja sama suami karena memang harga ikan disini lebih murah dibandingkan dengan ikan di tempat lain. Tapi meski menjadi pusat perbelanjaan ikan dan makhluk laut lainnya, bukan berarti disini ikannya segar semua. Harus tetap pintar-pintarnya memilih, apalagi tadi saya menemukan penjual nakal yang kasih pewarna makanan di kerang jualannya (Kalau di Makassar namanya tude, di Kendari namanya pokea, Surabaya belum tahu namanya apa).
Kerang diberi pewarna agar lebih menarik pembeli
Mengunjungi pasar ikan merupakan hal baru bagi adek B, doi jadi auto semangat pas lihat ikan besar wkwkwk tapi emmaknya juga semangat sih soalnya terakhir mengunjungi pasar ikan kira-kira 2-3 tahun yang lalu sebelum akoh hamil anak kedua.
Ikannya panjang banget
Mengunjungi pasar ikan juga bisa sekalian ajar anak-anak untuk melihat berbagai jenis hewan laut, bahkan menyentuhnya langsung meski dalam kondisi ikannya tak bernyawa lagi. Disini juga anak-anak belajar melihat proses transaksi jual beli. Mereka juga belajar profesi berniaga, belajar tawar menawar, dan tentu saja bersenang-senang.
Wajah bahagia ketemu banyak ikan
Pas mau pulang, saya melihat penjual ikan asin. Langsung deh auto pegang baju suami minta dibelikan ebi. Harga per kg ebi 40rb rupiah, suami minta 1/4 kg saja dikasih harga 15rb per kg. Saya yang tak mau rugi, bilang "mending 1/2 kg, 20rb kan ya?". Pas ditimbang sama bapak penjualnya, saya kaget karena ternyata 1/2 kg itu buaaanyak banget! wkwkwkw
Kedai ikan kering
Setelah mendapatkan 2 kg ikan dan 1/2 kg ebi, kami akhirnya memutuskan untuk balik ke rumah, melihat waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 yang mana anak-anak sudah harus tidur karena besok harus menjemput neneknya di pelabuhan. 

Nah, sekian jalan-jalan di pasar ikan pabean Surabaya, ya! Tertarik mengunjungi pasar ikan ini? Ada banyak jenis ikan loh disana. Mulai dari ikan yang sering kita makan sampai ikan yang baru pertama kali kita lihat. Eh tapi kayaknya ikan piranha gak ada dijual disana deh. Terakhir, ada ole-ole foto kakak Q dengan wajah bahagia banget tapi mami ambil fotonya kurang bagus, nih.
Anak kicik senang bangeeettt

Jumat, 12 Juli 2019

Liburan Seru dan Hemat di Taman Prestasi Surabaya

Surabaya selain dikenal sebagai kota pahlawan, ternyata kota ini juga dikenal dengan kota taman. Dimana ada banyak sekali taman yang tersebar di setiap penjuru kota Surabaya. Setiap taman bahkan memiliki nama yang unik dan tentunya tidak sekedar bernama taman namun tak terurus, taman yang ada di Surabaya memiliki daya tariknya sendiri dan sangat bisa dijadikan sebagai destinasi liburan keluarga. Salah satu taman yang pernah kami kunjungi adalah taman prestasi.

Salah satu spot di taman prestasi surabaya
Taman Prestasi Surabaya
Alamat: Jl. Ketabang Kali No.6, Ketabang, Kec. Genteng, Kota SBY, Jawa Timur 60272
Biaya Masuk: GRATIS

Kami mengunjungi taman ini di hari Minggu, dimana saat itu ada lumayan banyak--namun tak begitu padat-- pengunjung. Kami tiba bertepatan dengan adzan ashar, yang membuat kami harus menemukan mushollah terlebih dahulu. Kesan pertama saat memasuki wc yang saya pakai untuk berwudhu, saya lumayan takjub karena wc umum seperti ini bisa sangat bersih. Beda sekali dengan wc tempat umum biasanya. Sementara mushollahnya, cukup terbuka dan cukup nyaman menurut saya untuk sholat.

Salah satu fasilitas bermain di taman pestasi Surabaya
Selain bisa menjadi tempat nongkrong anak muda, taman prestasi Surabaya juga memiliki banyak sekali fasilitas bermain bagi anak-anak, yang menjadikannya sangat mungkin untuk dijadikan destinasi liburan bagi keluarga yang memiliki anak kecil.

Fasilitas bermain yang ada disini pun cukup terawat dan berfungsi sebagaimana mestinya. Terbuat dari besi yang memungkinkan tidak hanya anak-anak yang bisa menggunakannya, melainkan orang dewasa pun bisa menggunakan fasilitas ini untuk sekedar kembali ke masa kecil dulu.


Selain menjadi tempat bermain, taman prestasi juga bisa dijadikan tempat berkumpul komunitas untuk sekedar ngobrol atau mengadakan playdate karena di taman ini memiliki banyak sekali titik untuk mengadakan pertemuan dengan tema "lesehan".

Salah satu spot foto di Taman Prestasi Surabaya
Melihat begitu banyaknya titik yang sangat menarik di Taman Prestasi Surabaya ini, bukan rahasia lagi bahwa taman ini juga bisa dijadikan tempat befoto bagi pengunjungnya. Saat itu juga ada cukup banyak orang yang datang dengan membawa kamera profesional untuk sekedar mengabadikan momen mereka.

Nah bagaimana? Tertarik mengunjungi taman prestasi Surabaya? Dengar-dengar, disini juga kita bisa naik perahu Kalimas di taman prestasi ini, namun sayangnya saya belum mencobanya. Mungkin di lain kesempatan.

Kamis, 11 Juli 2019

Review Baby Walker Bright Start Pattern Palls

Sewaktu Abdul Barr berusia 10 bulan, saya memutuskan untuk memberinya alat bantu berjalan yang lebih dikenal dengan sebutan baby walker. Saat itu saya memutuskan untuk menyewa baby walker di salah satu tempat rental perlengkapan bayi di Surabaya, mengingat baby walker milik Qifaya dulu hanya dipakai sebentar saja dan akhirnya tersimpan cantik di gudang rumah mertua hingga saat ini. Kok gak pake punya Qifaya saja sih? Jawabannya ya itu karena punya Qifaya ada di Makassar dan untuk mengirimnya kesini pasti butuh biaya yang sepertinya lebih mahal daripada harga baby walker itu sendiri.

Abdul Barr nangis naik baby walker
Baby Walker Bright Start Pattern Palls
Harga Pasar: Rp. 800,000
Harga Sewa per Bulan (Surabaya) : Rp. 120,000

Pertama kali Abdul Barr dimasukkan ke dalam baby walker ini, doi langsung nangis. Sepertinya dia merasa terkurung atau entahlah, sepertinya dia ketakutan dimasukkan di dalam sebuah benda asing. Meski saya sudah mengajaknya bermain dengan permainan yang tersedia di baby walkernya itu, dia tetap menangis ingin dikeluarkan dari sana. Dalam hati saya berkata, "syukurlah ini hanya barang sewaan".

Beberapa hari kemudian, Abdul Barr sudah tidak nangis lagi jika dimasukkan di dalam baby walker ini, namun sangat disayangkan karena dia tidak tahu bahwa benda ini merupakan alat bantu berjalan untuk bayi. Jadi, dia hanya duduk diam di baby walker ini sambil sesekali bermain dengan permainan disana.


Finally, dia mau jalan juga dengan baby walker ini. Tapi tangannya harus dipegang dulu baru mau jalan di dalamnya. Jika tidak dipegang, maka dia hanya terduduk disana :D hehehe sekali lagi syukurlah karena hanya barang sewa.

Sisi positif yang saya lihat dari baby walker ini:

  • baby walker ini cukup kokoh jika dibandingkan dengan merk lokal, Family.
  • posisi duduk bisa diatur ketinggiannya (3 level ketinggian).
  • bagian bawah terdapat karet sehingga anak yang menggunakan ini tidak serta merta meluncur seperti menggunakan merk lokal, Family.
Selebihnya, fungsinya sama saja dengan merk lainnya dan jujur saya juga masih agak takut bagian belakang kaki anak saya tersangkut saat melangkah. Meskipun bagian bawahnya sudah agak lebar daripada merk Family (baby walker punya Qifaya dulu), tapi kekhawatiran itu tetap ada.

Berhubung baby walker ini tidak jauh berbeda dengan baby walker lainnya, jadi saya belum berani merekomendasikan merk ini kepada khalayak. Namun, jika ingin mencoba maka ada baiknya jika terlebih dahulu dirental dulu, takut anaknya gak suka seperti anak saya.

Nah, sekian review baby walker Bright Start Pattern Palls. Semoga membantu ya!

Minggu, 07 Juli 2019

Serunya Menghabiskan Waktu di Perpustakaan Umum Surabaya

Beberapa waktu yang lalu kami mendapatkan info dari salah satu grup Whatsapp tentang keberadaan perpustakaan umum yang ada di Surabaya. Menurut kabar yang ada, katanya sih di perpustakaan ini, kita bebas masuk, bebas meminjam buku dan tentunya ada area khusus untuk anak-anak. Setelah menyampaikan hal ini ke suami, akhirnya hari ini kami berhasil juga mengunjungi perpustakaan umum Surabaya ini.

Perpustakaan Umum Kota Surabaya
Alamat: Jl. Gubernur Suryo No.15, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Kota SBY, Jawa Timur 60271
Jam buka: Setiap hari pukul 07.30 - 20.30 WIB.
Telepon: (031) 5349844
Provinsi: Jawa Timur

Pintu Masuk Perpustakaan Umum Surabaya
Pertama kali tiba di perpustakaan ini, keliatan dari luar bahwa di dalam sudah sangat nyaman sekali. Saat membuka pintu kaca (lihat gambar atas), kita disambut dengan berbagai buku yang tersusun rapi layaknya toko buku ternama. Kesan perpustakaan yang bukunya hanya tersusun ala kadarnya, tidak akan ditemukan di perpustakaan ini.

Sebelum masuk ke area dalam, kita wajib menitipkan makanan dan minuman pada penjaga. Sama seperti perpustakaan lain, tidak boleh membawa makanan / minuman masuk ke dalamnya. Selain makanan dan minuman, kita juga bisa menitipkan barang lain, misalnya tadi saya menitipkan gendongan Abdul Barr.

Jika ingin bertanya sesuatu, meminjam dan mengembalikan buku, maka silahkan datangi bagian pelayan. Pusat pelayanan ini berada di bagian depan kok. Oh iya, untuk meminjam buku di perpustakaan ini, kita hanya perlu memperlihatkan KTP. Jika KTP yang kita punya adalah KTP Surabaya, maka tidak akan dikenakan biaya sama sekali. Namun jika KTPnya merupakan KTP luar Surabaya, maka kita harus menitipkan jaminan berupa uang sejumlah 100rb rupiah yang akan dikembalikan seluruhnya setelah buku kembali. Selain itu, kita juga hanya diizinkan meminjam satu buku saja ya selama satu minggu.
Kondisi dalam perpustakaan
Bisa lesehan juga
Meski di akhir pekan, perpustakaan ini termasuk sepi menurutku. Hanya ada beberapa orang yang bersedia menghabiskan waktu disini membaca buku. Bahkan sayangnya saya mendapati seorang pria yang tidur dipangkuan seorang perempuan di korean corner. Apa mungkin saking ademnya ya sampai bisa tertidur pulas. Soalnya di perpustakaan ini benar-benar full ac dan sangat bersih. Selama beberapa jam menghabiskan waktu disana, berkali-kali seorang petugas mondar mandir dengan sapunya, membersihkan lantai.

Koean Corner
Bagian kesukaan saya di perpustakaan ini adalah Korean Corner, di sisi ini terdapat berbagai buku sains yang dikemas dengan gambar yang menarik seperti komik. Sebenarnya literasi seperti ini sangat cocok untuk anak yang sudah mampu membaca dengan baik. Selain ceritanya menyenangkan, dapat berbagai ilmu juga.

Seperti yang terlihat pada foto, terdapat patung yang memakai hanbok, pakaian adat Korea (sisi kiri untuk wanita dan kanan untuk pria). Di dalam sudut ini juga terdapat tv, dvd dan beberapa cd yang tidak begitu saya perhatikan tentang apa dan hanya bisa diputar dengan izin penjaga (yang belum saya tau cara meminta izinnya bagaimana).

Kids Corner
Nah, sementara sudut favorit Qifaya tentu saja di bagian anak-anak. Pada bagian ini ada begitu banyak buku anak. Terdapat juga 2 buah komputer namun tidak menyala saat itu. Lantainya dilapisi evamat sehingga lumayan empuk buat anak-anak duduk lesehan.

Salah Satu Rak Buku Anak
Buku-buku anak tersusun begitu rapih, Di bagian ini ada seorang petugas yang sigap untuk merapikan bagian di rak buku yang terhambur oleh tangan-tangan kecil pecinta buku.

Komputer Games Edukasi Anak
Nah, di bagian depan kids corner terdapat 2 buah komputer khusus untuk anak yang isinya permainan edukasi yang bisa dimainkan oleh anak-anak. Qifaya juga menghabiskan waktu yang lumayan lama di bagian ini. Kebetulan sekali screen time dia hari ini belum ada sama sekali.

Banner Literasi Ceria
Satu hal yang menarik perhatian saya pada kids cornet, terdapat satu banner yang berisi informasi bahwa di tempat ini diakan literasi ceria setiap hari Sabtu pada waktu tertentu (gambar di atas terlampir). Hal ini bisa menjadi pertimbangan buat kami agar datang di hari Sabtu untuk mengikuti kegiatan ini. Cukup menarik untuk meningkatkan budaya literasi di kalangan anak-anak, melihat jaman ini anak-anak kurang tertarik dengan buku melainkan video di Youtube.

Nah, sekian dulu ya jalan-jalan kali ini. Semoga lain waktu bisa mereview tempat lainnya. Terakhir, ada ole-ole foto nih dari Abdul Barr.

Bagian Depan Perpustakaan Umum Surabaya

Pelatarannya sangat luas, bisa jadi tempat berlarian anak-anak

Kamis, 04 Juli 2019

Sosialisasi Anak Homeschooling: Benarkah Mereka Tak Punya Teman, Kuper, dan Dikurung?

Qifaya bermain dengan anak-anak komunitas
IIP di kebun binatang Surabaya
Biasanya, setelah orang lain mengetahui bahwa anak saya menjalani homeschooling, mereka akan bertanya, "loh, trus sosialisasinya gimana? kasian tuh kalo gak punya teman, dikurung, bla bla bla..."

Ketahuilah bahwa saya ini adalah jebolan sekolah formal dan teman yang akrab dengan saya waktu itu hanya bisa dihitung jari. SD 2 orang, SMP 3 orang, SMA 2 orang. Bahkan S1 pun hanya 2 orang yang akrab, dan S2 bahkan hanya 1 orang.

Lihatlah, betapa kita tidak boleh men-judge sesuatu begitu mudahnya. Apalagi menuduh bahwa anak homeschooling adalah anak yang kuper dan tak punya pergaulan. Terbukti bahwa semua hal ini adalah tergantung dari masing-masing individu. Dan jika itu adalah anak homeschooling maka hal ini tergantung bagaimana orang tua merancang pengembangan keterampilan sosial anak. Tapi sependek pengetahuan saya, kebanyakan anak homeschooling tidak begitu sulit berinteraksi dengan orang lain. Kebanyakan dari mereka justru memiliki lingkar pertemanan yang lebih luas dibandingkan dengan anak yang bersekolah formal.

Mengenal Apa itu Sosialisasi

Sebenarnya sosialisasi itu sendiri memiliki 3 makna (source: podcast rumah inspirasi). Pertama, transfer nilai dan prinsip hidup. Kedua, membangun keterampilan sosial (komunikasi, berempati, memecahkan konflik, dll). Ketiga, yang paling sering digunakan dalam masyarakat dan dianggap sebagai kelemahan anak homeschooling adalah interaksi dengan lingkungan sekitar.

Pertanyaannya, jika sosialisasi merujuk pada pengertian pada poin pertama maka sosialisasi terbaik yang bisa diberikan pada seorang anak, apakah dari keluarga atau dari anak sebayanya? Jawabannya saya rasa cukup jelas, bahwa transfer nilai terbaik adalah dari orang tua.

Lalu, makna kedua dari sosialisasi adalah membangun keterampilan sosial seorang anak. Dalam hal ini keluarga masih menempati posisi utama sebagai teladan seorang anak. Coba bayangkan jika anak belajar membangun keterampilan sosial dari orang lain, teman sekelas misalnya. Dimana teman sekelasnya itu dibesarkan di keluarga yang ayahnya suka membentak, ibunya selalu memukul dalam memecahkan permasalahan di rumah. Kira-kira apa yang akan terjadi dengan si anak jika terus-terusan mendapatkan teladan seperti itu selama bertahun-tahun lamanya. Sementara kita tidak mungkin mengecek satu-satu latar belakang keluarga teman sekelas mereka yang jumlahnya tentu saja tidak sedikit.

Selanjutnya yang terakhir, interaksi dengan lingkungan sekitar, dan hal inilah yang sering diangkat oleh masyarakat saat memandang anak homeschooling. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa interaksi sosial benar-benar tergantung dari bagaimana orang tua merancang perkembangannya dan tentu saja tergantung dari si anak itu sendiri, nyatanya saya pun dulu anak sekolah formal malah tidak punya teman yang begitu banyak. Karena ternyata saya adalah tipe manusia introvert

Seorang anak yang menjalani pendidikan formal, akan menghadapi kawan yang sama selama bertahun-tahun. Intens atau tidak, belum tentu. Bisa saja kawannya hanya cukup tahu nama dan wajah saja. Mereka terbiasa dengan kondisi ini, sampai untuk berteman dengan senior di sekolah saja, rasanya sudah agak segan. Sistem senioritas lebih terasa, sehingga mereka lebih enjoy saat bergaul dengan teman seusia.
Bermain lintas usia dengan anak-anak
komunitas HEbAT di Coban Rondo

Berbeda dengan anak homeschooling, kondisi yang ada membawa mereka harus berteman dengan anak yang berbeda usia dengan mereka. Bisa lebih muda bahkan jauh lebih tua dari mereka. Mengapa? Karena anak homeschooling tidak punya kawan sekelas dan seumur. Misalnya saja Qifaya, yang menjalin lingkar pertemanan di lingkungan tetangga, perkumpulan homeschooling, club gymnastic, anak-anak yang sering ikut dauroh di masjid-masjid, anak-anak dari teman suami, bahkan pada orang dewasa yang selalu ditemuinya saat sholat jama'ah di masjid.

Horisontal dan Vertikal

Terdapat dua jenis sosialisasi berdasarkan kelompok yang ada di masyarakat. Pertama, horisontal (seusia) dan kedua adalah vertikal (lintas usia).

Contoh sosialisasi horisontal adalah sosialisasi yang sering dilakukan oleh anak yang bersekolah formal. Mereka dikumpulkan di dalam satu kelas dan menjalani pertemanan horisontal selama bertahun-tahun, setiap hari bahkan ada yang waktu interaksi dengan kawan seusianya lebih banyak dibandingkan dengan tidak seusia, anak yang bersekolah full day contohnya, ditambah lagi sepulang sekolah langsung ikut les. Dari SD hingga perguruan tinggi kurang lebih 16 tahun, bahkan jika anak memulai sekolah formalnya sejak usia 3 tahun maka ia bisa menjalin sosialisasi horisontal lebih lama lagi.

Sementara anak homeschooling, lebih sering melakukan sosialisasi vertikal. Dimana mereka sering berinteraksi dengan orang yang berbeda usia dengannya, di rumah misalnya mereka berinteraksi dengan ayah, ibu, kakek, nenek, adik. Di lingkungan rumah mereka bergaul dengan anak yang tidak seusia (seperti contoh Qifaya yang saya paparkan sebelumnya).

Nah, model sosialisasi vertikal sesungguhnya adalah model sosialisasi yang paling alami. Karena tentu saja dalam hidup bermasyarakat, tidak ada pengelompokan usia untuk bisa berinteraksi. Sehingga anak-anak homeschooling memiliki keuntungan dalam bersosialisasi saat terjun ke masyarakat. Mereka tidak memerlukan penyesuaian lagi karena sudah terbiasa dengan proses sosialisasi lintas usia ini.

Bagaimana Anak Homeschooling Mendapatkan Kawan?

Sebenarnya sudah saya paparkan berulang di atas, bahwa anak homeschooling mendapatkan kawan dari lingkungan sekitarnya. Namun, orang tua lah yang memegang peranan penting dalam membuka lingkar pertemanan ini. Misalnya bisa dengan mengikuti kajian rutin di masjid, bergabung dengan keluarga homeschooling lainnya, mengikuti kursus, masuk ke klub minat dan bakat anak, mengikutkan dalam kegiatan organisasi masyarakat, atau bahkan kegiatan rutin misalnya ikut sholat jama'ah di masjid dan berkumpul dengan teman ayah / ibu.

Intinya, anak homeschooling tidak seperti yang diperkirakan selama ini, yang mana masyarakat menilai anak homeschooling tidak memiliki kawan dan hanya dikurung di dalam rumah saja, meski model sosialisasi mereka berbeda, tapi bukan berarti model sosialisasi ini dinilai lebih buruk dibandingkan dengan model yang dijalani oleh anak yang menempuh pendidikan formal.

Senin, 01 Juli 2019

Qifaya Resmi Tidak Bersekolah

Tahun ini Qifaya berusia 5 tahun dan pada umumnya anak-anak akan mulai bersekolah di TK saat usia 5 tahun, termasuk saya dulu. Tapi berbeda dengan anakku, Qifaya. Tahun ini Qifaya tidak akan masuk sekolah. Bukan karena kami tidak mempunyai uang untuk memasukkannya ke lembaga pendidikan formal itu, bukan juga karena kami ingin menunda hingga tahun depan. Melainkan kami lebih memilih "menyekolahkan" anak kami di rumah, alias homeschooling.

Banyak tetangga yang bertanya, "kenapa sih Qifaya belum sekolah? Ayo bu, dimasukkan anaknya di sekolah TK sama anak saya biar dia senang punya banyak teman." Saya hanya bisa membalas ajakan ibu-ibu itu dengan senyuman termanis yang bisa saya hasilkan dengan bibirku. Kenapa saya tidak membalas? Pernah sih  saya mencoba menerangkan bahwa Qifaya itu homeschooling, namun yang terjadi? yahh begitulah jika kita berbicara dengan orang yang tidak se-frekuensi, jadi selanjutnya saya memilih untuk tersenyum saja, daripada ribet kan ya..

Jujur saja, saat ini Qifaya adalah satu-satunya cucu, saudara, sepupu, yang intinya dia adalah satu-satunya anak yang menjalankan homeschooling baik itu di pihak keluarga saya maupun keluarga suami, dan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan suami. 

Sebenarnya sudah lama saya mengatakan niat saya untuk meng-homeschooling-kan Qifaya pada ibu saya, namun yang terjadi waktu itu ibu saya mengatakan bahwa, "tidak ada orang pintar yang tidak sekolah.". Saya mengerti bahwa ibu saya belum tau saja bahwa ada banyak sekali orang hebat yang tidak bersekolah, beberapa diantaranya adalah Agatha Christie, Alexander Graham Bell, Thomas A. Edison, Woodrow Wilson, Mozart, Kolonel Sanders, Walt Disney, K.H. Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, Buya Hamka, (sumber: pelatihanhomeschooling)

Tokoh Islam lainnys yang dididik oleh ibunya, diantaranya adalah Sufyan ats-Tsaury, Imam Malik bin Anas, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari, Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar al-Asqalani, Abdurrahman bin an-Nashir, Muhammad al-Fatih (sumber: kisahmuslim)

Lalu, Bagaimana Tanggapan Qifaya Mengenai Homeschooling?

Iya, benar sekali. Saya memilih homeschooling untuk Qifaya bukan berarti saya tidak peduli dengan pandangan dan pendapat anak saya, apakah ia mau atau tidak. Tentu saja, saat bermain dengan kawan seusianya, pasti kawannya bertanya, "kenapa kamu tidak sekolah padahal kamu sudah besar?" yah, meskipun saya sudah menjelaskan bahwa ia homeschooling dan sudah bisa menjawab kawannya dengan jawaban yang sama, tapi ada waktu ia juga bertanya pada saya bahwa mengapa ia tidak bersekolah seperti kawan-kawannya.

Apa yang kemudian saya katakan? Saya berlutut di hadapannya dan berkata bahwa, "loh, kita kan sekolah di rumah, nak. Kita belajar dimana saja, di luar rumah, di dalam rumah, kita belajar sesuai yang Qifaya sukai. Mami bisa kok temani kakak belajar, kenapa harus ke sekolah dan diajar sama orang lain? Kamu lihat kan teman-teman kamu yang sekolah, mainnya pasti malam hari, tidak bisa main lagi di luar sama temannya pas sore. Mami tidak suka loh kalau kakak main di luar rumah malam-malam.."

And Finally she is understand  dan menerima bahwa ia bisa belajar dari rumah atau darimana saja, termasuk ketika main di kebun binatang, ikut ke masjid, ke mall, ke kantor abati, di tempat senam, dan dimana saja. Dia gak mau ke sekolah lagi, karena memang Qifaya adalah anak spesial yang tidak begitu betah duduk di depan buku, paling lama 20 menit setelah itu dia akan protes minta berhenti.

Apa Saja Kegiatan Qifaya Selama Homeschooling?

Saat ini Qifaya baru berusia 5 tahun, yang mana saya lebih dekat dengan metode unschooling. Iya, artinya memang tidak sekolah. Ia bebas melakukan apa saja yang ingin ia ketahui, misalnya Qifaya ingin mewarnai, ya ayo. Mau menggambar, ayo. Pokoknya apa saja yang ingin dia lakukan saat itu, maka saya akan menemaninya.

Saya masih belum ada kurikulum khusus selama ini, mengingat usianya yang masih dini, jadi saya masih mengajaknya untuk bermain permainan edukatif yang beberapa saya jual di Mainan QIfaya

Selain itu, pada usia dini juga saya fokus menanamkan tauhid ke hati anak saya, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah karena Allah dan kita pun perlu melakukan kebaikan demi Allah. 


Hal lain yang saya terapkan yaitu mengajaknya untuk menguasai keterampilan dasar, misalnya mandi sendiri, merapikan mainan sendiri, menjaga kebersihan dan tugas utama dia saat pagi dan petang adalah membuka dan menutup gorden rumah.

Untuk membaca alfabet dan huruf hijaiyah, jujur saja saya tidak terburu-buru karena memang otak anak baru siap membaca saat mereka berusia 7 tahun. Jika dipaksa, efek buruknya akan terasa saat mereka berada di usia remaja. Para psikolog juga mengatakan bahwa anak yang dipaksa menguasasi calistung, akan mengalami trauma dan merasa terbebani karena pengalaman belajarnya benar-benar menyulitkan.

Untuk mendokumentasikan kegiatan homeschoolingnya, saya memilih media youtube sekalian bisa saya bagikan link videonya kepada kerabat yang terus bertanya pada saya mengenai pendidikan anak saya.

Terakhir dari saya, mengapa saya memilih homeschooling untuk anak saya? Jawabnya, Saya hanya ingin anak-anak saya belajar dengan suka cita.