Minggu, 09 Desember 2018

Day 3 - Kenapa Memilih Nama Blog yang Sekarang Digunakan

Hari ketiga ini saya menulis di jam 9 malam, wkwkw Kemarin malam saya tidak bisa tidur malam dan baru bisa tidur setelah sholat subuh karena suami ada di luar kota dan saya rindu! Setiap suami keluar kota saya memang jadi melek terus, gak tau deh napa. Mungkin karena tidak ada yang menegur untuk berhenti main hp :D

Oh iya, hari ini temanya kenapa memilih nama blog yang sekarang digunakan ya? Sebenarnya mamsqi adalah inisialku, kepanjangan dari mami Qifaya, dimana Qifaya adalah nama anak pertama saya. Inisial ini pertama kali disebut oleh tetangga saya waktu tinggal di Kendari dulu. Waktu itu saya juga menyingkat nama dia, jadi Bundaf (Bunda Daffa), jadi dia juga menyingkat nama saya jadi Mamsqi (Mami Qifaya).

Lalu, mengapa saya pilih nama itu sebagai nama blog saya? Yah, untuk gaya-gayaan saja sih sebenarnya hehehe tak ada maksud lain :D

Nah, kayaknya tema dan kondisi saya hari ini membuat saya tidak bisa berkata banyak :D Sekian dulu yak, sampai jumpa besok!


Sabtu, 08 Desember 2018

Day 2 - Tema Blog yang Disukai

Gambar: redhatblog
Tidak terasa sudah hari kedua, (plak) baru hari kedua sudah pake kata "tidak terasa", rasanya agak gimana gitu... Kemarin saya posting abis sholat subuh, tapi subuh tadi saya benar-benar ambruk karena abis baking roti buat bekal suami berangkat ke bandara jam 4 subuh. Jadi selesai sholat langsung tidur say..

Sebenarnya saya telah menulis banyak sekali tema di blog-blog saya. Loh kok blog-blog sih? iya soalnya saya punya blog masa lampau yang akhirnya sekarang tak terurus demi mengurus sang buah hati tercintah (padahal malas). Rasanya cukup satu saja blog yang saya punya untuk menyalurkan setiap kata yang tak tersampaikan, sisanya bisa saya luangkan di status facebook atau di halaman instagram saya.

Jumat, 07 Desember 2018

Day 1 - Kenapa Menulis Blog

Foto: connectnigeria.com
Pertama kali mengenal dunia per-blog-an (apaan nih), saat itu tahun 2007 di sekolah SMA saya. Jadi waktu itu internet baru masuk di sekolah kami. Kebetulan saya yang tertarik sekali dengan dunia komputer waktu itu, jadi semangat bolak balik perpustakaan. Soalnya waktu itu komputer yang internetnya aktif hanya di ruang perpustakaan, dan sangat beruntung karena satu sekolah yang minat sama internet hanya 2 siswa saja. Saya dan satu anak lelaki, yang saya lupa namanya (tenang saja, gak ada cerita kami jadian, kok).

30 Day Blog Challenge - Tantangan 30 Hari Menulis di Blog

Foto: tokopedia
Sebenarnya tantangan ini saya dapatkan di blog perempuan dot com, waktunya sudah sangat lewat dan saya baru bisa login blog sekarang karena faktor malas. :D Pas buka blog, kayaknya ni blog sudah banyak sarang laba-labanya, sudah bau debu dan lain-lain, layaknya rumah yang ditinggal lama sama pemiliknya hahaha. Kasian banget ya...

Demi kebaikan blog ini, saya memutuskan membuat tantangan untuk diri saya sendiri. Temanya saya ambil dari blog perempuan ya.. 

  1. Kenapa Menulis Blog
  2. Tema Blog yang disukai
  3. Kenapa memilih nama blog yang sekarang digunakan
  4. Kota-kota yang pernah kamu tinggali
  5. Tentang Media Sosial
  6. 5 Fakta soal diri sendiri
  7. 5 Warung makan/restoran favorit beserta reviewnya
  8. 5 Barang yang selalu ada di tas
  9. 5 Blogger favorit dan kenapa
  10. 5 Rekomendasi buku/film/musik
  11. Barang yang dikoleksi di rumah
  12. 5 Tips hidup sehat versi kamu
  13. Negara/kota/tempat wisata impian
  14. Surat untuk seseorang (siapapun)
  15. 10 Akun Instagram Favorit
  16. 10 List blog favorit untuk blogwalking
  17. 5 Hal yang ingin dilakukan di tahun 2019
  18. Surat untuk seseorang (siapapun)
  19. Kalau mendapat hadiah uang 100 juta, apa yang akan kamu lakukan?
  20. Yang dilakukan di hari libur
  21. Pekerjaan rumah tangga yang disukai
  22. Pilih menjadi blogger full time atau blogger part time
  23. Hal yang disesali saat ini
  24. 5 Keinginan yang belum tercapai
  25. Kenangan masa kecil
  26. 5 Produk kecantikan yang digunakan dan direkomendasikan
  27. 5 Kebahagiaan sederhana
  28. 5 Situs belanja favorit
  29. 5 Situs yang sering dikunjungi
  30. Target blogging tahun 2019
Nah, nah... itu dia lisnya, setiap abis update Insya Allah akan saya link kan ke urutan di atas ya.. Semoga setiap hari semangat. :D Bersabarlah ya blogku sayang...

Pengalaman Pertama Waxing Miss V

Warning!! Postingan ini tidak cocok u

Gambar: womensrunning.com
Sebenarnya saya tidak ada maksud apa-apa melakukan waxing area sensitifku, hanya sekedar ingin mencoba saja. Soalnya saya sudah gerah melakukan cukur demi cukur tapi tumbuhnya cepat banget. Sebelumnya saya pernah waxing bulu ketiak dan rasanya tidak sakit sama sekali, hasilnya sangat memuaskan. Jadi saya pikir waxing miss V pun tak akan mengapa. Bismillah, saya memberanikan diri waxing dengan bantuan suami. Oh iya, saya melakukan waxing di rumah dengan bahan yang sama seperti saat waxing bulu ketiak.

Tarikan pertama, rasanya tuh tidak sakit sama sekali loh, rasanya hanya kayak ada sensasi kejut sama seperti saat waxing bulu ketiak. Sayangnya karena area miss v jauh lebih lebat dibanding ketiak, jadi perlu berulang kali dioles lalu tarik. Nah, ini yang bikin sakit hahahaha. Dan akhirnya suami tidak mau menyelesaikan pekerjaannya karena kasian sama saya (ini yang lebih sakit wkwkwk tanggung banget ya). Padahal gapapa juga sebenarnya wkwkwk.. 

Beberapa hari setelah waxing, barulah saya merasa sedikit menyesal melakukan tindakan pencabutan bulu ini. Soalnya area yang telah dicabut bulunya jadi muncul bintik kayak jerawat dan berisi wkwkwk. Sakit banget, apalagi pas suami pencet-pencet jerawatnya karena emang sudah besar dan bermata wkwkw..(napa juga ya malah dipencet) Sakitnya double, jadi pengen jambak rambut suami. Hahahaha.

Dua minggu setelah di waxing, bulunya belum tumbuh juga, jerawatnya pun sudah hilang. Nah disini saya agak menyesal kenapa gak sekalian dicabut semuanya saja ya waktu itu wkwkwk... Jadi serba galau dengan perbuluan area sensitif ini.. Anyway, tolong jangan minta fotonya ya, kalau ketiak saya masih pede, tapi kalo rambut itu saya agak pemalu orangnya wkwkw...

Saran saya, jika memang sungguh-sungguh ingin membersihkan area miss v, maka sebaiknya datanglah ke tempat yang menyediakan jasa waxing yang profesional. Jika menggunakan jasa suami, cabutnya tidak akan serius, sumpah deh. Pasti bakal ketawa-ketawa dan berujunng rasa iba. Hahaha..

Nah, bagaimana mams? Tertarik mencoba? :D


Kamis, 27 September 2018

Metode MPASI Bayi, BLW atau Spoon Feeding

Anak kedua saya saat ini sudah memulai MPASI nya, sudah berjalan hampir satu bulan, loh.. Saya pribadi lebih memilih metode spoon feeding dalam pemberian makanan pendamping ASI untuk anak-anak saya. Nah, sebelum lanjut ke metode, saya ingin memaparkan tentang penjelasan BLW (baby led weaning) dan Spoon Feeding, yang selanjutnya saya sebut RF (responsif feeding). 

Sebelum itu lagi, kita harus tahu dulu sebenarnya apa tujuan pemberian makan pada bayi. Pertama, untuk mencukupi kebutuhan nutrisi yang sudah tidak dapat dipenuhi oleh ASI saja. Kebutuhan nutrisi yang dimaksud adalah makro dan mikronutrien, dimana mikronutrien adalah zat gizi yang diperlukan oleh tubuh selama hidupnya dalam jumlah kecil untuk melaksanakan fungsi-fungsi fisiologis, tetapi tidak dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh. Mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral yang tidak dapat dibuat oleh tubuh tetapi dapat diperoleh dari makanan. Sedangkan makronutrien adalah zat gizi yang memberikan energi bagi tubuh yang diperlukan tubuh dalam jumlah besar untuk bertahan hidup. Kedua, fungsi pendidikan dimana melatih kemampuan anak untuk makan, melatih disiplin, melatih pengenalan rasa, dll. Ketiga, fungsi psikologis yaitu membangun bonding ibu dan anak.

Baby Led Weaning

Baru-baru ini, muncul metode baru dalam pemberian makanan pendamping ASI, namanya BLW atau Baby Led Weaning dimana Gill Rapley adalah penciptanya. Berikut definisi operasional BLW menurut penciptanya:
  1. Anak duduk dengan keluarga di waktu makan dan bergabung kapanpun dia siap.
  2. Anak didorong untuk mengeksplor makanan saat dia tertarik, mengambilnya dengan tangan dan tidak masalah jika tidak dimakan sama sekali diawalnya.
  3. Makanan ditawarkan dalam bentuk dan ukuran yang mudah dipegang, bukan puree atau makanan yang dihancurkan seperti bubur.
  4. Anak makan sendiri dari awal, tidak boleh disuapi.
  5. Anak tetap mendapat susu kapanpun dia mau, anak yang memutuskan kapan waktunya mengurangi susu.
Definisi operasional di atas berarti jika TIDAK seperti di atas, makanya bukan metode BLW ya, no matter what!

Menurut Gill Rapley, penciptanya, ada beberapa keuntungan dalam metode BLW ini, yaitu lebih menyenangkan, lebih natural, membuat bayi belajar tentang makan, membuat bayi belajar untuk makan dengan aman, belajar dengan tekstur, bentuk, ukuran, dll, menjadi bagian dari waktu bersama keluarga, bisa mengendalikan nafsu makan, nutrisi yang lebih baik, baik untuk kesehatan jangka panjang. 

Tapi, tunggu dulu! Benarkah semua itu menurut bukti ilmiah?

Menurut Enza D'auria, dkk dalam jurnalnya yang berjudul "Baby-led weaning: what a systematic review of the literature adds on", mengatakan bahwa anak BLW secara signifikan lebih underweight daripada non BLW. Selain itu, anak BLW minum susu lebih banyak daripada anak non BLW. Padahal kebutuhan ASI pada bayi di atas usia 6 bulan sudah tidak mencukupi kebutuhan energi si kecil. Bukan cuma itu, zat besi lebih tidak tercukupi lagi. Bisa dilihat gambar di bawah.

Sumber: google

Merujuk dari definisi operasional BLW, maka kira-kira bentuk makanan bayi BLW adalah seperti gambar di bawah ini:
Sumber: gofood.site
Pertanyaannya, jika bentuk makanannya seperti itu, berapa banyak sih yang bisa benar-benar tertelan oleh bayi usia 6 bulan? Sementara kebutuhan energi hariannya adalah sebesar 770 kkal, dimana 539 kkal tercukupi oleh ASI dan sisanya 231 kkal harus tercukupi dari MPASI, (Hanandita, 2018)

Responsive Feeding

Responsive feeding atau biasa disebut spoon feeding, merupakan cara makan rekomendasi dari WHO. Bisa download file pdf nya disini. Berikut praktek responsive feeding:
  1. Suapi bayi secara langsung, untuk anak yuang lebih besar bisa didorong untuk makan sendiri.
  2. Suapi pelan dan sabar, jangan dipaksa.
  3. Jika anak menolak banyak makanan, tawarkan berbagai kombinasi rasa dan tekstur makanan.
  4. Minimalkan distraksi saaat anak makan. (gadget, jalan-jalan, tv, mainan, dll)
  5. Kontak mata, ajak bayi bicara saat menyuapi.
Pada responsive feeding, ibu lah yang menentukan KAPAN anak makan, APA yang dimakan, DIMANA anak makan. Sementara anak menentukan BERAPA yang dimakan dan mau atau tidak makan (selera). Prinsipnya responsive fedding tidak memaksa anak untuk makan, tetap anak yang menentukan, ibulah yang memperhatikan tanda-tandanya (lapar/kenyang).

Setelah membaca artikel di atas, kira-kira nih ya, mana diantara kedua metode di atas yang mampu mencukupi kebutuhan kalori anak yang sudah tidak bisa dicukupi oleh ASI saja? eng ing eng... silahkan dijawab sendiri ya..

Sekian tulisan saya kali ini, semoga bermanfaat.


This entry was posted in

Senin, 24 September 2018

Perlukah Kursi Makan Untuk Bayi?

Bagi ibu-ibu yang sebentar lagi anaknya memulai MP-ASI, pasti lagi bertanya-tanya apakah kursi makan bayi penting untuk mendukung proses si kecil makan? Jawabannya, bisa ya bisa tidak. Lah kok gitu sih.. well, itulah kenapa saya membuat postingan ini.

Sebagian orang tua, kursi makan bayi memang merupakan barang wajib yang harus dimiliki bayi, sama halnya dengan bouncer, stroller dan box bayi. Namun, apakah itu perlu? Apakah bayi kita benar-benar membutuhkannya atau hanya sekedar orang tuanya saja yang menginginkannya. Beda ya antara kebutuhan dan keinginan.

Sumber: google
Saya pribadi setelah menjadi ibu selama 4 tahun lebih dan menangani 2 orang anak (ciee ileee, belagak kayak ekspert banget ya ^_^;), kedua anak saya memiliki perbedaan dalam hal MP-ASI. Dulu si kakak Q tidak mau makan sambil duduk saat memulai MP-ASI pertamanya, meski saya coba dudukkan di pangkuan, anak kecil ini menolak dan malah lebih suka makan di atas stroller yang bagian kepalanya posisi setengah baring. Sementara anak kedua saya, meski dia belum mampu duduk sendiri (bahkan sebenarnya belum mampu tengkurap sendiri, mungkin karena badannya kegendutan kali ya.), dia malah nangis kalau makan sambil rebahan meski bagian kepala sedikit lebih ditinggikan. 

Jadi, anak pertama saya sama sekali tidak memiliki kursi makan, sementara anak kedua saya memutuskan untuk membelikannya setelah sukses membuat saya agak kewalahan menyuapi sambil mendudukkannya dipangkuan. 

Lantas, apa saja yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan untuk membeli kursi makan bayi atau biasa dikenal dengan high chair? 

1. Kenali Tanda Pada Si Kecil

Seperti yang saya telah paparkan di atas, kedua anak saya memiliki perbedaan saat memulai MP-ASI nya. Ada baiknya ibu baru mengambil keputusan membelikan kursi makan untuk bayi setelah si kecil memulai MP-ASI pertamanya dalam beberapa hari. Hal ini bertujuan agar ibu bisa menilai si kecil apakah si kecil membutuhkan kursi makan atau tidak sama sekali.

2. Pertimbangkan Biaya

Saat ini di luar sana ada banyak sekali jenis kursi bayi, mulai yang murah yang seharga ratusan ribu rupiah, hingga mencapai jutaan bahkan lebih. Kenapa saya meletakkan posisi biaya di atas kenyamanan? Soalnya banyak orang tua yang lebih besar pasak daripada tiang :D Meski anak adalah segalanya, aset dunia akhirat, namun tidak berarti ibu harus berutang demi membelikan kursi makan si kecil, apalagi sampai harus nyicil dengan sistem riba. Bijaklah dalam memenuhi kebutuhan si kecil.

3. Perhatikan Keamanan dan Kenyamanan Bayi.

Keamanan bayi sangat penting, tentu saja namanya saja high chair, artinya kursi tinggi, dimana bayi duduk di atas kursi yang tingginya jauh di atas panjang tubuhnya sendiri. Jika kursinya tidak memiliki keamanan yang sesuai, kira-kira bagaimana ya? Soalnya jaman sekarang model kursi makan bayi sudah sangat bervariatif, mulai dari yang memiliki roda di depan (seperti foto di atas), yang seenak-enaknya mengklaim agar bisa memudahkan mendorong kursi bagi orang tua, nah jika memiliki roda, apakah tidak berbahaya buat si kecil yang biasanya banyak gerak saat di dudukkan di atas kursi. Bahkan seramnya, ada model kursi makan bayi yang bisa berubah model, seperti gambar di bawah ini.
Sumber: google

Kira-kira kursi tersbut kuat ga ya kalau dipake goyang maju mundur si kecil? Mungkin saat masih baru, masih kuat. Namun bagaimana jika sudah digunakan dalam beberapa waktu, apakah masih sama? Saya sendiri takut.

Lantas, kursi makan seperti apa ya yang bagus? 

Kursi makan yang bagus adalah kursi makan yang sesuai budget orang tua, keamanannya pas dan kenyamanan juga pas. Kenyamanan disini bukan untuk orang tua melainkan untuk si kecil, ingat ya buibu, ini bukan tentang Anda, tapi tentang si kecil.

Kursi makan bayi
Saya pibadi menjatuhkan pilihan di kursi makan IKEA antilop. Kenapa? Soalnya harganya sesuai budget keluarga, di Surabaya harganya hanya 255rb, dari segi keamanan, menurut saya ini cocok sekali untuk adek B yang kurang suka "diikat", soalnya ada penyangga di antara selangkangan bayi, bagia kanan kiri juga lumayan tinggi. Jika ingin melihat langsung kursi ini bahkan mencobanya, mungkin buibu bisa bawa anaknya makan di pizza hut :D Soalnya mereka pakainya kursi ini disana. Yaa hitung-hitung jadi tester :D

Sebenarnya ada banyak kursi makan bayi yang bagus-bagus, lucu-lucu dan bahkan ada yang memiliki bantalan dudukan dan sandaran, namun pertimbangan saya tidak membelikannya karena bayi makan itu lumayan kotor ya, saya ga mau makanannya tumpah ke bantalan dan karena sering dipake kursinya, berujung bantalannya jarang dicuci dan malah jadi sarang bakteri. Saya mendingan menggunakan yang plastik, jadi setelah makan jika kotor, tinggal dicuci pake air dan langsung lap. Beres deh.

Nah, sekian postingan saya tentang kursi makan bayi, semoga segera ya menemukan kursi makan buat si kecil, itupun jika si kecil mau di dudukkan, tapi jika tidak, please jangan dipaksa. Semoga membantu.


Minggu, 16 September 2018

Jalan-Jalan Sore di Food Junction Grand Pakuwon Surabaya

foto: ig mamqifaya
Beberapa hari yang lalu, kami berkunjung ke food junction grand pakuwon Surabaya. Ini adalah kali pertama kami mengunjungi salah satu pusat berkumpulnya penjual makanan di Surabaya. Sebenarnya alasan utama kami kesini bukan untuk makan-makan, melainkan karena melihat promo diskon minyak goreng di Instagram :D

Jarak dari rumah kami ke food junction sebenarnya cukup dekat, kira-kira hanya 2 km saja. Ulala, sangat dekat malahan menurutku, tapi tetap terasa jauh jika berjalan kaki. Untuk menuju ke food junction, kami menggunakan kendaraan sepeda motor. Cukup buat 2 dewasa, 1 balita dan 1 bayi :D heboh ya, maklum lah biar motor yang penting milik sendiri dan cash :D

Pertama memasuki area food junction, komentar pertama saya ke suami "oooo ini toh yang namanya food junction, kirain dulu ini pintu masuk perumahan." daaan ternyata di dalam kawasan ini memang benar ada perumahannya loh... Hanya saja belum total terbangun. 

Seperti namanya, food junction adalah tempat khusus untuk makan-makan, tapi tidak hanya makan-makan, ternyata disini juga ada tempat hiburannya loh, dan tentu saja ada hypermart nya. Meski waktu itu ternyata promo minyak goreng 2 liter hanya 10rb nya sudah habis, setidaknya kami bisa menikmati camilan sore dan tentu saja naik bebek dayung :D

Di food junction grand pakuwon, penjual makanannya cukup ramai, bahkan sangat ramai. Sangat rekomended lah buat yang ingin makan, ada banyak pilihan menu disini dan juga ada cukup hiburan buat anak-anak. 

Beberapa hiburannya ada bebek kayuh di air, sepedaan bentuk mobil vw kodok, bombom car/motor, dan apa lagi ya, sepertinya hanya itu. Untuk naik ke bebek dayung, kita perlu membeli tiket terlebih dahulu seharga 20rb untuk sekali memutari air mancur. Satu bebek bisa muat hingga 2 dewasa dan 2 anak. Tapi waktu itu saya hanya berdua saja sama kakak Q :D 

Oh iya, bagi kalian yang aktif di instagram, food junction grand pakuwon ini bisa jadi lokasi foto yang bagus loh.... Banyak banget spot yang instagrammablee lahh... pokoknya cuccok... Kalau kesini wajib bawa kamera. Kemarin saya gak bawa kamera sih, soalnya saya pikir tempatnya biasa saja kayak tempat makan biasa, ternyata menyesal :D

Nah, bagaimana? tertarik berkunjung ke food junction grand pakuwon Surabaya? yukk....