Selasa, 17 April 2018

Review LumiSpa Nu Skin

Sejak hamil anak kedua, saya sama sekali tidak pernah menyentuh yang namanya produk kecantikan, kecuali lotion tubuh yang saya gunakan untuk pijat bagian punggung saya. Bisa bayangkan kondisi wajah saya yang tidak pernah dirawat selama 9 bulan? Bahkan sabun wajah pun saya tidak pakai. 

Saya tipikal bumil yang tidak mau menyentuh produk kecantikan apapun selama hamil, kecuali waktu hamil anak kedua ini ya saya sempat facial di natasha skin care, namun akhirnya saya menyesal. Kondisi inilah yang menyebabkan kulit wajah saya jadi sangat kusam dan keliatan sangat tua. Nah, setelah melahirkan saya bertekad untuk merawat diri saya lagi. Berhubung mual-mual karena hormon hamilnya sudah lenyap tak tersisa, jadi saya memberanikan diri memesan lumi spa di kawan saya.

AgeLoc LumiSpa Nu skin
Kulit saya dulunya sih adalah tipe kulit sangat sensitif dan berminyak. Tapi setelah melahirkan anak pertama, suami saya menghadiahkan produk Galvanic Spa Nuskin, akhirnya kulit wajah saya tidak sensitif dan berminyak lagi. Saat ini kondisi kulit saya cenderung normal kombinasi.

LumiSpa Nuskin
Harga     : Paket Hemat Rp. 2.550.000 (waktu itu saya dapat potongan jadi hanya bayar Rp. 2,350,000)

Produk ini mengklaim bisa memberikan 7 manfaat, diantaranya:
  1. Pembaruan kulit
  2. Kehalusan 
  3. Kecerahan kulit yang meningkat
  4. Tampilan pori-pori yang berkurang 
  5. Kulit terlihat lebih segar
  6. Kulit terlihat berisi dan kencang
  7. Kulit bersih
Silikon halus sama sekali tidak melukai kulit wajah
Produk yang saya beli ini adalah paket hemat dari LumiSpa yang katanya baru keluar di awal Maret lalu. Harga normalnya kemarin-kemarin sih setau saya 5,3jt (cmiiw), tapi itu adalah harga paket lengkap, ada dua sabun dan dua silikon. Kalau paket hemat hanya ada satu silikon dan satu sabun. Oh iya, sabunnya jika habis bisa dibeli lagi seharga 450rb rupiah. Tapi, sabunnya ini lama banget dipakainya. Saya mulai menggunakan produk ini tanggal 13 Maret 2018, setiap hari dipakai 2 kali, tapi sampai tulisan ini diposting, setengahnya saja belum habis.

Dari dulu saya sudah percaya sebenarnya sama produk-produk nuskin, makanya dengan enteng saya langsung membeli produk ini tanpa ada keraguan sama sekali. Betul saja, setelah mencoba produk ini selama sebulan, produk ini membuktikan klaim manfaatnya. Tidak perlu menunggu sebulan, pertama kali pemakaian pun rasanya sudah segar-segar gimana ya.

Kelebihan produk ini dibandingkan dengan galvanic spa adalah produk ini tidak perlu gonta-ganti baterai seperti galvanic spa yang kalau lowbat harus diganti lagi karena masih menggunakan baterai A3. Produk ini bisa di charge dan kerennya karena untuk ngecas kita hanya perlu mendudukkannya di atas dudukan tersedia.

Pas ditangan
Produk ini sangat pas digenggam, agak berat namun tidak mengganggu. Anti air dan bisa dicuci keseluruhannya, tinggal dilap kering lalu disimpan. Kalau abis keluar dan makeup (ya makeup saya hanya pakai BB cream sih), pakai ini langsung bersih wajahnya. Pernah sekali saya coba pakai toner dan kapas setelah menggunakan produk ini, benar tidak ada kotoran lagi. Suka deh sama LumiSpa. Beli lagi kalau sabunnya habis? InsyaAllah, selama masih ada rejeki pasti saya beli lagi.

mamsqi.com
instagram : mamqifaya

Biaya Melahirkan dan Jadwal Imunisasi di Rumah Sakit Bersalin Bunda Makassar 2018

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi rumah sakit bersalin Bunda Makassar dengan tujuan untuk mengimunisasi anak saya yang kedua. Kebetulan ya ketika menunggu vaksin BCG datang, tepat di depan saya duduk terdapat poster biaya bersalin, jadi ya saya foto saja.

Rumah Sakit Bersalin Bunda
Lokasi : Jl. Pengayoman Blok F9 No.25, Masale, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90231
Telp     : (0411) 424460

Jadwal Imunisasi : 
Senin dan Jumat pukul 08.00-10.00 WITA (tapi sering vaksin datang pukul 09.00)
*Khusus imunisasi BCG hanya melayani hari jumat saja.

Biaya Bersalin:
Biaya bersalin RSIA Bunda Makassar
Biaya bersalin di atas sepertinya lebih murah ya dibandingkan 4 tahun lalu sewaktu saya melahirkan anak pertama dulu. Saya ingat betul dulu saya hanya mengambil kelas I dengan persalinan sectio, biaya yang saya keluarkan hampir 20jt rupiah. Apa mungkin ya karena adanya kasus bayi terpanggang kala itu, biaya bersalinnya jadi turun? Entahlah...

Dibandingkan 4 tahun lalu, rumah sakit ini hampir tidak ada perubahan sama sekali. Tapi buat mereka yang menginginkan suasana pasca melahirkan, rumah sakit ini sangat saya rekomendasikan. Soalnya lingkungannya memang seperti di rumah banget dan juga RSIA Bunda tidak perlu antri kamar. Beda dengan RSIA Ananda yang penggemarnya sangat banyak, jadi kadang kita harus antri bahkan sampai turun kelas karena kebanyakan pasien. Kecuali jika kalian beruntung seperti saya yang naik kelas tanpa tambahan biaya :D

mamsqi.com
instagram: mamqifaya

Sabtu, 14 April 2018

Review Bebe Roosie, Telon Berbentuk Krim

Saya mengenal produk ini dari salah satu toko online yang berjualan di shopee. Waktu itu saya sedang membeli perlengkapan bayi saya yang masih dalam kandungan. Saat scroll  ke bawah, saya ketemu produk dengan judul "Telon Cream", nah saya heran, kok telon berbentuk krim ya, biasanya kan berbentuk minyak. Kebetulan harganya lumayan murah, hanya 21rb rupiah, jadi saya add to cart deh.


Nah, dari kemasannya, produk ini lucu. Awalnya saya pikir ini adalah produk impor, soalnya kemasannya unik dan unyu-unyu gimana, gitu. Tapi setelah dibaca dengan seksama, ternyata bebe roosie adalah produk lokal yang diproduksi oleh PT. Industri Jamu Cap Jago.

Aroma produk ini benar-benar telon banget ya, tapi aroma telonnya gak begitu tajam, lembut dan enak. Anak saya yang pertama kalau mau dipakaikan minyak telon biasa, pasti menolak karena baunya yang memang tajam, sementara kalau dikasih ini, anaknya doyan.

Oh iya, produk ini juga sangat hemat. Untuk satu tube krim telon habisnya lama sekali. Padahal dipakainya sering buat babyku. 

Pemakaian sebulan
Oh iya, telon ini juga punya kandungan minyak zaitun, tekstur krimnya yang lembut sangat mudah meresap di kulit bayi. Sering krim telon ini saya jadikan krim pijat di area perut, belakang dan telapak kaki bayi saya.

Tektur krim telon bebe roosie
Sejauh ini, produk bebe roosie sama sekali tidak memberikan dampak buruk pada kulit bayi saya. Aman, alhamdulillah. Pernah sekali saya coba pakai di perut saya, apakah benaran ngefek gak sih? Ternyata benar kayak minyak telon, tapi produk ini tidak sekuat minyak telon pada umumnya sih dan menurutku sangat cocok buat bayi dan anak. Disamping itu, jika menggunakan produk ini, kita tidak perlu khawatir lagi telonnya keciprat kena mata bayi.

Jika ditanya beli lagi, ya saya akan terus menggunakan produk ini. Oh iya, selain di shopee, produk ini juga biasanya dijual di toko perlengkapan bayi di off store. Harganya paling beda 2rb-5rb rupiah.

mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Jumat, 13 April 2018

Pengalaman Merawat Sendiri Bayi Kuning di Rumah

Ibu mana yang tidak panik ketika mendapati kondisi bayi mungilnya yang tak berdaya memiliki kelainan, tidak normal seperti bayi pada umumnya. Terlebih kelainan itu terlihat sangat ambigu. Ya, bayi kuning memang menciptakan berbagai persepsi di mata orang yang melihatnya. Orang awam kemungkinan besar akan mengatakan bahwa si bayi dehidrasi karena kurangnya ASI.

Sewaktu acara syukuran, kira-kira sebulan yang lalu saat anak saya berusia 8 hari, beberapa orang yang datang melihat bayi saya mengatakan bahwa si anak berwarna kuning. Bahkan beberapa orang dengan lantangnya men-judge saya memiliki ASI yang kurang. Padahal saya baru saja bahagia karena akhirnya ASI saya keluar setelah hari kelima kelahiran bayi saya. Mendengar ucapan-ucapan sumbang itu, saya hanya bisa menyembunyikan kesedihanku dibalik senyuman palsu. Dalam hati, perasaan sudah bercampur aduk, terkadang saya menitikkan air mata di balik sunyi.

Keesokan harinya saya memperhatikan anak saya dengan seksama di bawah cahaya matahari. Oh, ternyata bayi saya memang kuning, bahkan matanya pun berwarna kuning. Saya membuka kembali foto-foto yang saya ambil dua hari sebelumnya, ternyata bayi saya memang kuning, Kenyataan ini membuat saya semakin lemas menjadi-jadi. Pikiran saya kacau dan hati saya tidak tenang. Saya ketakutan karena mengingat anak pertama saya tidak mendapatkan hak sepenuhnya atas ASI ku. Namun saya pikir lagi, jika memang anak saya kuning karena dehidrasi, lantas mengapa urinnya cukup, BAB nya juga lancar. Saya semakin cemas.

Mata bahkan sampai gusinya pun ikut berwarna kuning, usia 7 hari
Kebetulan saya memiliki seorang teman yang sudah dua kali kami hamil bersamaan, bahkan kedua anak kami lahir dalam waktu berdekatan. Saya sedikit sharing dengan beliau dan ternyata teman saya ini kedua anaknya terlahir dalam kondisi kuning. Ternyata pembuat ulah bayi kuning ini bukan karena kurangnya asupan ASI, namun karena ulah si bilirubin pada tubuh si kecil (bisa di googling ya). Setelah beberapa penjelasan dari beliau yang kebetulan juga seorang perawat, akhirnya saya mulai kalem.

Lalu beberapa hari kemudian, saudari ipar saya berkunjung ke rumah. Saya menceritakan kondisi anak saya dan berencana akan membawanya ke dokter anak. Namun saudari ipar saya ini mengatakan bahwa anaknya juga terlahir dengan kondisi seperti itu, waktu itu beliau membawanya ke dokter anak, tapi si bu dokter hanya menyarankan agar si bayi dijemur pagi antara pukul 7 hingga 8. Nah, kebetulan di Makassar lagi sering hujan waktu itu, otomatis waktu berjemur anak saya terganggu. Bayangkan saja, usia anak saya sudah lewat setengah bulan namun berjemur baru 3 kali. 

Namun, saya tidak menyerah, saya terus memanjatkan doa pada Sang Pengatur Hujan, sambil terus memberikan ASI pada anak saya. Alhamdulillah, matahari pagi pun muncul. Setiap pagi saya menjemur anak saya di bawah matahari pagi selama kurang lebih 15 menit. Anak saya hanya mengenakan popok dan singlet, berbaring di atas pangkuanku yang ikut duduk berjemur sambil menunggu lewatnya penjual jamu.

Adek lagi dijemur pagi
Setelah dijemur dengan rutin, alhamdulillah saat ini mata bayi saya sudah berwarna normal, begitupun dengan gusinya. Namun saya melihat kulitnya masih agak kuning. But it is okay, perubahannya sudah sangat luar biasa menurunkan level kecemasanku.

Mata sudah normal, usia 1 bulan
Nah, demikian pengalaman saya dalam merawat sendiri bayi kuning di rumah. Semoga membantu dan sehat selalu ya si kecil.

Mamsqi.com
Instagram: mamqifaya

Sabtu, 31 Maret 2018

Perawatan Pasca Operasi Caesar, Biaya, Obat dan Waktu Pemulihan

Pada awal Maret lalu, tepatnya tanggal 7 Maret, saya melahirkan anak kedua saya melalui proses operasi caesar. Salah satu hal yang membedakan persalinan normal dan caesar adalah perawatan pasca melahirkannya. Jika persalinan normal tidak membutuhkan periksa dokter setelahnya, nah persalinan caesar membutuhkan cekup rutin ke dokter hingga jahitan benar-benar kering. Berikut biaya, obat dan waktu pemulihan yang saya butuhkan setelah menjalani operasi caesar.

Tanggal 15 Maret adalah jadwal pertama kali saya melakukan cekup setelah keluar dari rumah sakit, waktu itu dokter berkata bahwa perban anti air saya terbuka sedikit. Saya malah tidak tahu karena kurangnya perhatian. Dokter berkata, luka bekas caesar saya jahitannya hampir terbuka di bagian ujung kanan. Suami saya yang ikut melihat mengatakan bahwa memang benar di bagian ujung kanan itu terlihat merah. Jadi, dokter meresepkan antibiotik claneksi untuk penggunaan 4 hari sambil tetap menkonsumsi VIP Albumin yang masih tersisa di rumah, setelah itu saya diminta untuk datang kembali. Luka pun ditutup kembali menggunakan perban anti air.



Seharusnya saya datang lagi periksa 4 hari kemudian, tapi karena kedua anak saya demam, saya tidak datang, lalu ketika anak saya sudah sehat, ternyata dokter saya lagi melancong ke luar negeri. So I decided to wait. Hingga tanggal 29 Maret baru saya kembali memeriksakan kondisi luka jahitan saya. Tapi selama itu, saya selalu mengganti perban sendiri di rumah dengan bantuan suami tentunya.

Baca Juga : Biaya Melahirkan di RSIA Ananda Makassar 2018

Saat pemeriksaan kedua, ternyata luka saya belum kering, malah keluar darah dan nanah. Lalu dokter membersihkan luka saya dan memencet bagian yang bernanah. Proses penyembuhan luka di kulit terluar saya agak lambat, begitu kata dokter. Dokter bertanya pada saya apakah saya rajin bergerak di rumah. Ternyata pasca caesar, kita dituntut untuk rajin bergerak, tidak tinggal diam agar luka cepat sembuh. Lalu saya kembali diresepkan antibiotik claneksi, VIP Albumin dan Trichodazol yang kemudian saya harus merogoh kocek yang menurutku lumayan mahal.



Berikut obat yang diresepkan dokter




Oh iya, selain obat yang diresepkan dokter di atas, saya juga menkonsumsi ikan gabus di awal pemulihan, sekarang sih sudah tidak lagi. Saya juga menkonsumsi susu tinggi protein, peptisol. 


Nah, sebenarnya saya masih harus periksa di tanggal 5 April, jadi tulisan ini akan bersambung minggu depan yaa....

====================UPDATE 8 APRIL 2018=====================

Kamis 5 April lalu, adalaha kunjungan terakhir saya ke dokter. Hari sebelumnya, perban saya terlepas dan basah semuanya, jadi saya memutuskan untuk melepasnya. Kemudian dengan bantuan adik saya, luka dibersihkan dengan cairan NACL atau biasa disebut air infus, lalu diolesi dengan salep bioplacenton dan ditutup dengan perban biasa.

Ketika kunjungan ke dokter, ternyata luka saya sudah kering, alhamdulillah... Tinggal menggunting ujung jahitan yang terdapat benang kecil yang agak keluar. Setelah itu dokter meresepkan saya salep anti keloid.

Satu fakta yang saya temukan ketika visit dokter kali ini, ternyata kulit bekas operasi pertama dulu sudah dibuang waktu melakukan operasi kedua. Jadi semakin banyak secar, semakin banyak kulit yang dibuang. Pantas saja rasanya kok perut saya bagian bawah jadi makin aneh ya keliatannya. Alasan kulitnya dibuang agar proses penyembuhan luka operasinya bisa lekas sembuh, karena pada dasarnya bekas jahitan operasi kulitnya sudah tidak sehat dan aliran darah sudah sangat kurang disana. Oh pantas saja pas saya pegang bekas jahitannya kok rasanya kayak mati rasa ya. heheh

Berikut struk dan selep yang diresepkan oleh dokter.




Nah, demikian akhir dari pemeriksaan pasca operasi caesar kedua saya, semoga bisa dijadikan bahan pelajaran yaaa... and do not worry be hurt, everything will gonna be okay. 

Mamsqi.com

Sabtu, 24 Maret 2018

Akhirnya Anak Kedua Kami Lahir Juga

Alhamdulillah, akhirnya putra kedua kami lahir juga melalui proses sectio caesaria atau lebih dikenal dengan caesar. Setelah menanti kelahirannya selama 39 minggu dan 3 hari, penantian itu berakhir juga. Meski sejak awal kehamilan, sudah terjadi banyak drama, mulai dari keluar darah dari jalan lahir pada trisemester pertama hingga sakit gigi pada trisemester terakhir. Namun dengan kelahirannya, rasanya semua terbayarkan lunas.

Saya punya kebiasaan sejak kehamilan anak pertama dulu, saya sering menuliskan proses kehamilan saya dalam sebuah buku. Maksudnya untuk kenang-kenangan gitu, siapa tahu saya nanti sudah tidak ada lagi, ataukah saya kenapa-kenapa, nah dari buku itulah anak-anak saya akan tau betapa saya sangat menyayangi mereka bahkan saat mereka belum ada di dunia ini.







And.... finally, launching juga bayinya...


Abdul Barr
Lahir 7 Maret 2018
Pukul 09.21 WITA
Pb 50cm BB 4kg

Hai baby boy, ada banyak cinta disini untukmu.



Rabu, 21 Maret 2018

Pengalaman Melahirkan Caesar Kedua

Akhirnya anak keduaku lahir juga dengan proses persalinan secara caesar. Kali ini, proses persalinan dengan jalan operasi caesar sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Kenapa harus caesar? Soalnya anak pertama saya juga lahir secara caesar. Apa tidak bisa normal? Bisa dan dokter menawarkan saya untuk mencoba jalan normal, namun saya merasa tidak yakin sanggup melahirkan anak kedua saya dengan jalan normal. Jadi yah, bismillahirrahmanirrohim, saya memilih jalan caesar.

Sebelum melahirkan, saya sempat membaca beberapa artikel tentang pengalaman orang lain melahirkan caesar kedua, namun yang saya dapatkan kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa caesar kedua lebih sakit dibandingkan dengan yang pertama kali.

Sebelum membandingkan rasanya melahirkan secara caesar yang pertama dan kedua, saya akan menuliskan satu per satu apa yang saya alami di persalinan kedua saya secara caesar ini.

Rabu, 6 Maret 2018

Selepas sholat isya, saya ditemani oleh suami, orang tua dan anak pertama saya menuju rumah sakit bersalin. Berhubung 7 maret adalah hari yang telah saya rencanakan untuk melakukan persalinan secara caesar, dokter meminta saya untuk datang malam hari sebelum operasi berlangsung. 

Pertama tiba, saya langsung memasuki ruang IGD dan memberikan surat rujukan dari dokter kandungan saya kepada dokter jaga di IGD. Setelah itu, saya diminta untuk berbaring di bed IGD sementara suami saya mengurus administrasi rumah sakit.

Nah, yang menyenangkan adalah perawat tidak perlu melakukan periksa dalam pada saya karena memang rujukan saya adalah melahirkan secara caesar. Saya ingat dulu waktu melahirkan anak pertama, berulang-ulang saya harus merasakan 'sakitnya' pemeriksaan dalam. Perawat hanya melakukan pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi bayi dan pengukuran lingkat dan tinggi perut. Tidak lama kemudian, bagian lab datang untuk mengambil sampel darah dan ketika administrasi selesai, saya dipersilahkan masuk ke kamar rawat saya dan diingatkan untuk berpuasa mulai pukul 01.00 karena besok akan diadakan operasi pada pukul 09.00.

Kamis, 7 Maret 2018

Setelah melakukan sholat subuh dan sholat taubat, saya bersiap-siap dan membersihkan diri, sambil berdoa kapan saya akan buang air besar. Soalnya entah kenapa saya tidak dipompa untuk mengeluarkan kotoran ataukah diberikan dulcolax seperti yang lalu. Mungkin perawatnya lupa atau bagaimana.

Pukul 06.00 seorang perawat datang dan memasangkan infus ke tangan kanan saya, lalu mengukur tekanan darah saya yang ternyata menjadi tinggi karena kepikiran terus proses operasi yang akan saya jalani. Untung saja si perawatnya baik hati dan tidak sombong, dia mengingatkan saya untuk rileks dan mengatakan semua akan baik-baik saja, tidak usah terlalu dipikirkan sambil mengelus-elus lengan saya.

Pukul 08.00 akhirnya saya dijemput dengan menggunakan kursi roda. Suami, anak, orang tua dan mertua sudah berkumpul di kamar. Perasaan saya jadi haru plus sangat rindu dengan anak pertama saya yang sedari malam tidak tidur denganku melainkan dengan orang tuaku. Kuraih anakku, kucium wajahnya dan kupeluk tubuh mungilnya sambil mengucapkan kata sayang.

Saya dimasukkan ke dalam kamar perawatan pasca operasi dan berbaring di bed 3. Di dalam ruangan terdapat beberapa ranjang yang sudah diisi dengan pasien lain. Ada yang sudah operasi dan ada juga yang bernasib sama denganku, menunggu giliran.

Pukul 09.00 akhirnya giliran saya yang masuk ke kamar operasi. Saya hanya berjalan kaki dituntun oleh perawat dari kamar perawatan pasca operasi menuju ruang operasi. Rasanya ngeri-ngeri gimana ya, soalnya saya banyak membaca pengalaman caesar kedua orang lain yang katanya jauh lebih sakit dibandingkan dengan caesar pertama.

Pintu kamar operasi pun terlihat dengan daun pintu yang sudah terbuka lebar. Saya mencium aroma seperti aroma pemutih pakaian suncle*n, yang terakhir saya sadari adalah bau darah dari rahim. Baunya sangat menyengat sampai menusuk hidungku. Terdengar suara dokter anastesi, yang mana adalah seorang bapak-bapak, mengatakan pada si perawat kenapa saya terlambat dibawa masuk ke ruang operasi.

Baca Juga : Perawatan Pasca Operasi Caesar, Biaya, Obat dan Waktu Pemulihan


Saya diminta naik ke atas ranjang operasi, yang ukurannya sangat ramping, sekiranya hanya muat badan saja, sulit rasanya naik ke atasnya. Daaan... akhirnya tiba saat saya harus disuntik di bagian belakang. Seingat saya dulu waktu melahirkan kakak Q, saya diminta duduk dalam posisi membungkuk, nah pas kemarin saya diminta berbaring ke sebelah kiri sambil memeluk lutut dan kepala ditekuk ke bawah oleh si bapak dokter anastesi. Ya Allah, rasanya sangat tidak mengenakkan, rasanya lebih enak waktu melahirkan pertama dulu, yang mana posisinya duduk dan sama sekali tidak ada rasa sakit apapun. Nah, kemarin itu posisinya sangat tidak nyaman karena saya sampai sesak nafas, pas disuntik di belakang pun, kayaknya suntikannya tidak pas di tempat tujuan, buktinya rasanya sakit sekali, ngilu-ngilu sampai saya ingin meluruskan belakang namun ditahan oleh si bapak dokter anastesi. Saya nangis by the way.

Setelah disuntik, badan saya buru-buru dibalik ke atas sama dokter anastesi. Tangan diposisikan seperti lagi disalip, lengkap deh dengan segala peralatan yang dipasang di lengan, jari dan dada saya plus tangan saya diikat biar tidak gerak-gerak. Ya Allah rasanya sudah seperti akan disembelih dan dikurbankan kayak sapi kurban. Nah, setelah itu saya dites efek anastesi, disuruh bandingkan dinginnya cool bag di pipi dengan di perut. Alhamdulillah rasanya lebih dingin di pipi, kalo diperut rasanya kayak gimana ya, seperti disentuh saja namun tidak ada efek dingin sama sekali.

Akhirnya si dokter spog masuk dan mengintip dari balik tirai yang sengaja dipasang di atas dada untuk menutupi kengerian di bawah sana. Dokter spog mengatakan "saya mulai yaa.." setelah itu beliau menuntun untuk berdoa bersama, lalu terdengar si dokter meminta pisau pada asistennya. Nah, disitulah kengerian mulai menjalar ditubuhku. Ya Allah, saya dipotong ini ya Allah... suara radionya mana yaaa.. huhh rasanya ngeri harus dengar percakapan dokter dan suara-suara alatnya itu. Suara radionya baru dinyalakan pas si anak sudah keluar. Telat lah, saya sudah dengar SEMUANYA. hehehe

Setelah proses operasi selesai, pukul 10.00 saya dibawa ke ruang pemulihan dan tidak diperbolehkan minum sebelum bisa menggerakkan kaki. Pas saya tanya perawat, biasanya butuh berapa jam ya agar kaki bisa bergerak, dijawabnya 3 jam. Ya Allah, rasanya lama soalnya saya sudah puasa sejak jam 1 malam, perut sudah sangat lapar. Plus saya rindu pada anak pertama saya. Lalu saya tanya lagi, kapan saya bisa ke kamar, si perawat mengatakan bahwa jika tidak ada masalah saya bisa diantar jam 16.00 ke kamar.
Kaki sudah bisa digerakkan tapi belum bisa balik kamar

Dua orang disamping bed sudah balik kamar
Seperti biasa, setelah operasi badan jadi menggigil. Berangsur-angsur efek bius hilang, bersamaan dengan datangnya rasa sakit dan nyeri di bekas operasi. Jika dulu saya menangis dan berteriak, kali ini saya hanya bisa meringis dan beristigfar. Mungkin pengaruh malu kali ya karena di kiri dan kanan adem-adem saja pasca operasi.

Perbedaan Caesar Pertama dan Kedua

  1. Sc pertama prosesnya lebih cepat, kedua lebih lama.
  2. Sc pertama pemulihannya lebih lama, kedua lebih cepat.
  3. Sc pertama saya di RS sampai 8 hari, kedua hanya 3 hari.
  4. Sc pertama saya tidak sanggup menggendong bayi saya yang beratnya 3,8kg, kedua saya menggendong bayi saya yang 4kg pulang ke rumah plus ada kakaknya yang menggantung di badan saya.
  5. Sc pertama biaya lebih mahal karena cito sc dan lama perawatan di RS, kedua lebih murah.
Setelah ada kesimpulan di atas, bisa disimpulkan sendiri bahwa caesar kedua sebenarnya lebih enteng dibanding yang pertama. Mungkin karena sudah ada pengalaman kali ya, dan kemungkinan besar karena ada si kakak yang diingat juga butuh kita. Jadi emmaknya harus kuat demi si anak-anak.

Nah, jadi buibu, yang ada rencana caesar kedua, tidak usah khawatir dengan review orang lain. Rasanya tidak sengeri itu kok, yang penting mindset kita harus kuat. Tidak usah bayangkan yang tidak-tidak, takutnya tekanan darah akan naik dan jadinya runyam deh...

Semoga selamat ya bersalinnya, ibu dan bayi sehat selalu.

Kamis, 15 Februari 2018

Biaya Melahirkan di RSIA Ananda Makassar 2018

Halo, terakhir saya melakukan pemeriksaan rutin kehamilan saya di RSIA Ananda Makassar, saya sekalian mengambil daftar biaya melahirkan di RSIA Ananda Makassar. Kenapa? Ya.. soalnya saya berniat untuk melahirkan anak kedua saya disana. Oh iya, tarif yang saya akan bahas disini adalah tarif untuk pasien umum ya, bukan yang menggunakan asuransi apapun termasuk BPJS.

Foto: dokumentasi pribadi
Saya pribadi berencana melahirkan secara secar, kenapa? Pertama karena anak pertama saya juga dilahirkan secara secar, saya tidak mau mengambil risiko robek bawah dan atas. Kedua, kondisi terakhir anak saya, lehernya terlilit tali pusar. Ketiga, bekas jahitan secar pertama saya sering terasa sakit, saat diperiksa ternyata ada penipisan disana. Keempat, dan yang paling utama, saya merasa tidak yakin bisa melahirkan secara normal, mindset saya sudah mentok di secar.

Oh iya, perlu diketahui bagi ibu-ibu yang ingin melakukan operasi secar, cito secar di atas maksudnya adalah operasi secar yang dilakukan secara mendadak, baik karena ketuban pecah, dll. Intinya, operasi tsb tidak direncanakan sebelumnya dan harus dilaksanakan saat itu juga. Makanya harganya jadi lebih mahal 25% karena ya itu, mendadak.

Bagi ibu ibu yang ingin menikmati suasana setelah melahirkan tanpa ada pasien lain di kamar, bisa memilih kamar VIP ke atas ya.. Oh iya, tarif di atas adalah harga paket, untuk melahirkan secara normal paketnya hanya 3 hari, secara secar 4 hari. Tapi bukan berarti kita harus keluar setelah 3 atau 4 hari ya.. Jika kondisi belum memungkinkan untuk pulang, ya dokter juga tidak akan membiarkan kita pulang. Buktinya, waktu anak pertama saya lahir, saya membutuhkan waktu 8 hari hingga benar-benar pulih. Nah, kalau sudah lewat dari paketnya, kita harus tambah biayanya lah ya.

Foto: dokumentasi pribadi
Nah, di atas adalah harga kamar hariannya. Wah, lebih mahal dari hotel ya hehehe.. maklumlah, saya biasanya nginap di hotel harga 200-300rban saja hahaha.. Ingat, di atas hanya harga kamarnya per malam, belum termasuk bintang-bintangnya yang sudah dipaparkan di bagian bawah lembarannya.

Nah, mams pilih yang mana? Tentukan pilihanmu sekarang yaa, biar bisa kumpulkan uang untuk kelahiran si kecil.


=============================== UPDATE ===============================

Sewaktu bersalin lalu, saya memesan kamar VIP di RSIA Ananda, namun karena kamar VIP full, saya dinaikkan ke kelas VVIP dengan bayaran VIP, total yang saya bayar Rp. 17.486.980 di luar biaya obat senilai kurang lebih 3jt rupiah. Oh iya, saya masuk RS tanggal 6 Maret pukul 21.00 WITA dan keluar di tanggal 9 Maret ba'da Ashar.

Kwitansi

Kamar VVIP RSIA Ananda Makassar