Senin, 01 April 2019

Bunda Sebagai Agen Perubahan

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE
Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Berikut telah saya rangkum social venture saya yang didapatkan dari passion ditambah dengan emphaty.



Banyaknya kasus kekerasan pada anak di lingkungan rumah, kurangnya kepercayaan diri para ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya, serta maraknya pendelegasian pendidikan anak bahkan sejak usia dini (bahkan ada yang menyekolahkan anak sejak belajar merangkak), membuat hati saya terketuk. Saya merasa prihatin kepada para ibu yang merasa minder membesarkan anaknya, terlalu mendengar omongan orang hingga tidak bisa percaya lagi pada kemampuannya sendiri, bahkan jika si ibu telah mempelajari tentang ilmu parenting, namun masih juga banyak yang tidak percaya diri untuk menjalankannya.

Saya ingin menjadi influencer bagi para ibu-ibu, mengabarkan berita baik bahwa mengurus anak tidak seberat itu, bahwa pendidikan anak yang terbaik adalah dari rumahnya, bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak dan tugas ini sangat mulia,

Sekian.

Senin, 25 Maret 2019

Misi Hidup dan Produktivitas

Berkaitan dengan tugas sebelumnya disini, di postingan kali ini akan membahas tentang misi hidup dan produktivitas sebagai seorang ibu. Kali ini saya akan melanjutkan tentang hal-hal teknis berkaitan dengan postingan sebelumnya. Diantara ke-5 hal yang saya bisa dan sukai untuk dilakukan, saya memilih satu hal untuk dikembangkan, yaitu belajar ilmu tentang pengasuhan dan pendidikan anak.

Berikut BE DO HAVE yang harus saya lakukan terkait poin tersebut:

Mental apa yang harus dimiliki (BE)

Berhubung saya memilih belajar ilmu pengasuhan dan pendidikan anak, saya rasa bahwa saya harusm memiliki mental yang kuat, tegas namun sabar dan tetap konsisten dalam menjalankan pengasuhan dan pendidikan anak. Hal ini karena tingkat stress saya cenderung lebih mudah meningkat jika menghadapi anak-anak, karena itu saya harus lebih sabar lagi. Namun, saya juga harus tetap menjadi pribadi yang kuat, tegas dan konsisten agar ilmu yang saya jalankan bisa menghasilkan dampak yang positif.

Apa yang harus dilakukan? (DO)

Untuk mendapatkan ilmu tentang pengasuhan dan pendidikan anak, saya harus lebih banyak menggali ilmu, entah itu dengan membaca buku, mengikuti seminar, webinar, belajar dari agama tentunya juga sangat perlu. Selain itu saya juga perlu menuliskan rancangan apa yang harus saya lakukan untuk pengasuhan dan pendidikan itu sendiri, mencatat apa saja yang telah dilakukan, apa yang akan dilakukan dan apa yang perlu diperbaiki dalam proses menjalankannya.

Apa yang harus dilakukan jika telah memiliki apa yang diharapkan? (HAVE)

Jika saya telah mendapatkan apa yang telah saya harapkan, saatnya saya action dan mengambil langkah pertama untuk menajalankannya. Sejauh ini sebenarnya saya telah melakukan apa yang telah saya tulis di atas. Mungkin ke depannya saya tinggal observasi apa saja yang telah saya lakukan dan menuliskan apa saja yang perlu diperbaiki.

Aspek Dimensi Waktu

Lifetime Purpose, dalam kurun waktu kehidupan saya ingin mencapai satu titik dimana anak-anak saya bisa sepenuhnya menjadi manusia yang beradab dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia. Sebab, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289), sumber muslimah.or.id. Disamping itu, saya juga ingin agar ibu lainnya bisa mencetak generasi yang sama.

Strategic Plan, dalam waktu 5 - 10 tahun ke depan saya ingin agar anak-anak saya, terutama anak pertama sudah menguasai keterampilan hidup, menjadi remaja yang takut kepada Allah, sayang keluarga dan mulai menebar manfaat kepada orang lain.

New Year Soluction, tahun depan saya berharap agar dari ilmu pengasuhan dan pendidikan anak yang sedang dan akan saya miliki, anak-anak saya bisa hidup lebih bahagia sehingga mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas. Saya ingin anak-anak saya jatuh cinta dengan belajar hal baru.

Semua itu tidak akan bisa dimulai tanpa saya harus mengubah diri saya sendiri, dan perubahan itu akan saya mulai dari mindset saya, bahwa saya bisa menjalankan ilmu pengasuhan dan pendidikan anak dengan baik dan sesuai kebutuhan anak-anak saya.

Sekian.


Senin, 18 Maret 2019

Menuju Bunda Produktif

Finally, sampai juga di NHW 7 di Institut Ibu Profesional. Tugas kali ini adalah bagaimana kita menemukan bakat sejati kita, melalui pemetaan bakat dengan bantuan temubakat.com  Baiklah langsung saja ke hasil yang saya peroleh.

Hasil temubakat.com
FANY FEBRIANY, anda adalah orang yang suka dengan angka dan data  anda kurang yakin akan sesuatu yang sifatnya intuitif kecuali kalau anda juga punya bakat lainnya yang intuitif, selain memiliki sifat analitis juga banyak idea, selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang, senang mempelajari latar belakang, senang olah pikir, menyendiri, senang memotivasi dengan berbagai cara ada yang melalui sifat periangnya ada yang melalui sifat empatinya ada juga karena selalu ingin memajukan orang lain.

Berdasarkan hasil yang saya peroleh di atas, saya merasa ada kecocokan sebanyak 100% wkwkwk kok bisa ya? Namun, saya tetap harus membuat kuadran aktifitas untuk konfirmasi lebih lanjut.

Kuadran Aktifitas
Nah, di atas adalah kudran aktifitas yang telah saya tuliskan. Saya mencoba memetakan berbagai hal yang saya suka dan tidak sukai, bisa dan tidak bisa. Saya mencoba untuk mengaitkannya dengan tugas-tugas sebelumnya dan hasilnya adalah yang tertulis di gambar kuadran aktifitas.


Senin, 11 Maret 2019

Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Akhirnya sampai juga ke NHW 6 di Institut Ibu Profesional. Meski deadline pengumpulannya sudah dekat, tapi it's never too late to write something good. Tugas kali ini, seperti judul postingan adalah bagaimana saya belajar menjadi manajer keluarga handal. Caranya? Mudah, yaitu dimulai dari mengatur waktu yang sangat berharga ini. 


Aktifitas Penting / Tidak Penting
Jujur saja, setelah membuat daftar penting dan tak penting ini, saya melek sekali bahwa waktu saya memang banyak sekali habis di tiga hal di atas, bermain game, kepo postingan orang dan cari-cari barang di marketplace yang bahkan tidak mau dibeli wkwkwk wasting time banget! Kemarin-kemarin sadar sekali tentang ini, tapi sama sekali tak pernah terpikirkan untuk mengakhirinya. Jika ada waktu luang, pasti deh mulai lagi. Berikut jadwal yang saya susun.

Jadwal Harian

Waktu di atas adalah jadwal normal harian, diluar waktu mendesak seperti sakit, harus keluar rumah, mudik, atau hal mendesak lainnya yang tak bisa ditinggalkan. Berhubung anak pertama saya saat ini sedang fokus di bidang gymnastic, jadi saya meluangkan waktu di hari rabu dan sabtu untuk mengantarnya latihan. Hal ini di luar jadwal latihan tambahan dan jadwal perlombaan.

Untuk kandang waktu, saya memilih waktu dinamis saya di pukul 6 pagi hingga 6 sore. Jadi di waktu ini saya memperbanyak jam terbang saya.

Sepertinya itu saja yang ingin saya tuliskan, sekian postingan kali ini.

Rabu, 27 Februari 2019

Learning Design - Membuat Design Belajar Untuk Diri Sendiri

Baru saja saya selesai (telat) mengumpulkan tugas NHW 4, berhubung anak-anak lagi adem sama suami, saya sekalian mau mencoba mengerjakan NHW 5 ini. Oh iya, awalnya saya bingung nih bagaimana mengerjakan NHW 5 ini. Tapi terima kasih google, saya menemukan tugas NHW mbak Amaliah Rahmah dan saya mencoba untuk membuat hal yang mirip, tinggal menyesuaikan dengan misi saya sebelumnya.

Design Pembelajaran V1
Learning design ini diberikan nama v1 karena akan berubah sesuai kebutuhan di masa mendatang. Diawali dengan peran saya di dunia ini yaitu sebagai hamba (Allah), sebagai anak, ibu dan istri (keluarga) dan sebagai salah satu anggota masyarakat. Dalam gambar di atas saya memberikan anak panah timbal balik, berarti apapun yang saya lakukan, maka akan mendapatkan timbal balik.

Adapun pondasi yang harus saya bangun dalam proses belajar, harus berdasarkan Alqur'an dan sunnah, fitrah dan ilmiah. Saya tidak mau proses belajar saya terganggu oleh hal diluar pondasi tersebut, misalnya berdasarkan katanya orang tanpa dasar ilmiah yang jelas. Sehingga saya bisa mendapatkan hasil yang sesuai harapan saya.

Sementara itu, topik pembelajaran yang ingin saya ambil, sesuai dengan misi saya di tugas nhw 4 sebelumnya, saya fokus di nutrisi anak, pendidikan anak usia dini dan sekolah. Metode yang saya gunakan bisa melalui media baca, menonton video, mengikuti seminar lalu terakhir harus praktek sendiri. Alat pembelajaran saya menggunakan buku bacaan, internet, webinar dan seminar.

Nah, saya rasa sekian dulu postingan tentang design pembelajaran saya.



Mendidik Anak Dengan Kekuatan Fitrah

Tidak terasa sudah memasuki Nice Homework 4 di perkuliahan Intstitut Ibu Profesional Batch 7 ini. Rasanya makin lama saya makin tertatih-tatih mengerjakan tugasnya. Selain karena tingkat kesulitannya yang makin lama makin tinggi, kondisi keseharian plus tubuh juga membuat saya harus mencuri-curi waktu untuk mengerjakan tugas ini.

Baiklah, tak usah panjang lebar, pada NHW 1 saya pernah menulis bahwa saya ingin mendalami jurusan ilmu kehidupan di departemen kesabaran. Yah, i know it was weird. Sepertinya semua orang butuh itu. Setelah merenung beberapa waktu, saya merasa ilmu kehidupan disini adalah branding diri ya? Seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang di kelas, yang saya lupa siapa, memberikan gambaran tentang Tintin Rayner, yang sukses dengan masak-masaknya. Okay, I got it.

Jika memang ini tentang branding diri, sepertinya saya benar-benar ingin membranding diri saya dengan "seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya dengan baik dan benar". Mulai dari makanan yang mereka makan, keputusan yang saya ambil selama proses membesarkan mereka, pendidikan mereka, sampai hal detail lain selama itu berhubungan dengan proses membesarkan anak-anak saya.

Lalu, apa kabar dengan NHW 2 tentang checklist harian? Well, jujur diantara semua yang pernah saya tulis, checklist terberat yang belum bisa saya laksanakan sampai detik ini adalah membaca buku. Saya belum menemukan celah waktu dimana saya bisa pergunakan untuk membaca buku, karena saya adalah seorang ibu rumah tangga tanpa ART dan nanny serta belakangan ini kondisi kesehatan saya dan anak-anak tidak begitu baik. Selain itu, sholat tepat waktu pun masih lumayan sulit saya laksanakan di beberapa waktu misalnya dhuhur dan ashar.

Misi hidup: memberikan inspirasi ke ibu lain bahwa membesarkan anak itu menyenangkan, termasuk menyediakan gizi yang cukup untuk mereka juga menyenangkan dan tak perlu mahal.
Bidang: Nutrisi dan Pendidikan Anak
Peran: Inspirator.

Adapun ilmu-ilmu yang saya perlukan untuk menjalankan hidup seperti yang saya sebutkan di atas adalah, sebagai berikut:

  1. Ilmu Ibu Profesional : Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, Bunda Shaleha.
  2. Ilmu Nutrisi Anak : Gizi apa saja yang diperlukan untuk anak.
  3. Ilmu Homeschooling : Usia dini dan usia sekolah.
Milestone yang saya tetapkan untuk memandu perjalanan misi hidup saya dimulai dari KM 0 di tahun 2019, yaitu di usia saya yang ke 29 tahun.
KM 0 - 1 (2019) : Mempelajari seputar nutrisi anak dan pendidikan anak usia dini, mempraktikkannya dengan memberikan nutrisi bagi anak-anak saya dan pendidikan usia dini bagi mereka.
KM 1 - 2 (2020) : Menjaga terus nutrisi bagi anak-anak saya dan terus meneruskan pendidikan anak usia dini bagi anak-anak saya.
KM 2 - 3 (2021) : Menjaga terus nutrisi bagi anak-anak saya dan mempelajari pendidikan anak usia sekolah. Memulai mendaftarkan anak pertama saya di PKBM untuk memasuki homeschooling usia sekolah. Terus menjadi praktisi homeschooling.
KM 3 - 4 (2022) : Tetap menjaga nutrisi anak-anak saya, membuatnya bahagia belajar dan terus menjalankan peran sebagai ibu dan sahabat bagi anak-anak saya.

Untuk koreksi checklist NHW 2, saya harus menambahkan membaca buku tentang nutrisi dan pendidikan anak.

Sekian postingan kali ini yang sebenarnya sudah sangat terlambat untuk dikumpulkan. 


Senin, 18 Februari 2019

Menemukan Potensi Diri Sendiri Sebagai Seorang Ibu dan Istri

Gambar: lynda.com
Sebelumnya saya telah membahas tentang menggali potensi anak, nah sekarang saatnya menggali potensi diri sendiri, khususnya potensi sebagai seorang ibu dan istri. Seperti yang sebelumnya saya jelaskan bahwa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. Potensi bagi saya adalah sesuatu yang membuat kita bahagia mengerjakannya dan merasa sedih ketika tidak melakukannya. 

Jujur saja, sejak jaman kecil impian saya adalah menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anak saya dengan baik. Terdengar lucu karena seorang anak perempuan memiliki impian seperti itu, dimana anak-anak lain menginginkan menjadi dokter. Tapi saya tidak pernah mengakuinya waktu itu, karena saya sering didoktrin oleh orang tua agar menjadi pegawai.

Saya bahagia mengurus anak-anak saya dan saya bersedih ketika sedang berada di titik terendah diri saya dan kemudian melampiaskan kesedihan pada anak-anak. Saya bahagia mempelajari berbagai ilmu tentang pendidikan anak dan saya suka mempraktekkan serta menuai hasil yang memuaskan karenanya. Seperti waktu sebelum hamil anak kedua, saya mempelajari bagaimana agar kakak sayang pada adiknya, lalu saya mempraktekkannya dan kemudian sekarang alhamdulillah anak pertama saya begitu sayang dan peduli pada adiknya. Ada ataupun tidak ada orang lain bersama mereka. Tidur ataupun sedang terjaga, kakak selalu berusaha melindungi sang adik.

Selain itu, saya juga bahagia ketika saya memasak, khususnya untuk anak-anak saya. Jujur saja, kebahagiaan memasak ini saya temukan baru-baru ini. Sebelumnya saya sangat jarang memasak dan sering memesan makanan dari luar. Alasannya sederhana, karena saya terlalu sibuk dengan diri saya sendiri, saya memenuhi permintaan orang tua untuk melanjutkan kuliah dan tetap berpenghasilan, jadi saya bekerja mendalami dunia dropship sampai waktu itu penghasilan saya bisa 20-30jt per bulan. Belum lagi tugas-tugas mahasiwa magister yang aduhai. Disitulah saat anak pertama saya kecanduan berat gadget dan tv. Saya membuat orang tua saya bangga tapi sekaligus mengorbankan anak saya.

Sejak pindah ke Surabaya, saya jadi sangat bahagia memasak di rumah. Saya bisa meninggalkan semua pekerjaan lain, tapi tidak dengan memasak. Saya bisa merasa berdosa ketika tidak sempat memasak dan harus memesan makanan di luar. Saya bahagai melihat anak-anak saya lahap memakan hasil jerih payah saya di dapur. Saya bahkan rela tidak tidur semalaman mencari resep dan bangun keesokan paginya untuk memulai menggoyang dapur.

Saya sadar bahwa orang lain di lingkungan saya, termasuk dalam lingkup keluarga sendiri, banyak yang menganggap rendah pilihanku menjadi ibu rumah tangga. Mereka seolah beranggapan bahwa percuma saya bersekolah tinggi karena ujung-ujungnya saya hanya berada di rumah. Ketika saya bertanya balik, "bagaimana dengan anak-anak saya jika saya bekerja di luar rumah?" jawaban mereka benar-benar membuat saya geram, katanya saya bisa memanggil orang untuk menjaga anak-anak saya. like seriously

Saya bahkan tidak tenang ketika suami yang menjadi anak-anak, yang notabene adalah ayah kandung mereka dan satu-satunya manusia yang terkoneksi dengan pola pengasuhan saya. Lalu bagaimana bisa saya percaya dengan orang lain yang tiba-tiba datang mengurus anak saya? No way!

Saya sadar banyak yang berharap lebih padaku, berharap saya bekerja di ranah publik karena kemampuan saya bisa dibilang lumayan baik. Saya bahkan pernah mendapat tawaran bekerja sebagai dosen, but no thanks. Saya memilih mengajar anak-anak saya sekarang, tidak tahu nanti kalau mereka sudah besar dan hidup mandiri. Mungkin saya akan terjun ke ranah publik?

Setelah itu saya merenung lama, sejak anak pertama saya usia 2 tahun. Waktu itu saya benar-benar galau karena orang tua saya memaksa agar saya bekerja di luar rumah, sementara suami saya tidak pernah ridho jika saya bekerja di luar rumah, serta saya pun tidak tega meninggalkan anak. Hampir setiap hari sejak saat itu saya merenung setiap malam, saya memandangi anak saya dan bertanya dalam hati, "apa jadinya kamu nak, jika saya menuruti keinginan orang tuaku?" saya tidak sampai hati tiba-tiba pulang ke rumah dan melihatmu sudah besar, melihatmu jauh dariku. Saya tidak mau.

Mereka mengatakan bahwa kemampuan saya selama ini sia-sia, termasuk ilmu yang telah saya timba selama ini. Tapi saya tidak pernah merasa semuanya sia-sia, saya merasa bahwa Allah menunjukkan jalan yang dulu itu agar saya bisa sampai ke titik ini, agar saya bisa membesarkan anak-anak hebat. Allah telah mempersiapkanku sedemikian rupa agar bisa menjadi sekolah pertama yang berkualitas bagi anak-anakku, dan saya bangga mengatakan ini.

Sejak awal pernikahan, kami sudah memutuskan untuk merantau. Jujur saja, ketika saya pulang ke kampung halaman bersama anak-anak, pasti selalu saja ada konflik internal antar keluarga perihal metode pengasuhanku pada mereka. Selalu ada bentrok dan saya termasuk tipe orang yang tegas dalam mendidik anak. Jika saya bilang tidak, maka tidak akan terjadi. Karena itu anak pertama saya sudah tahu betul, sekarang jika saya bilang tidak maka dia tidak akan meminta lagi. Dia tahu bahwa meski merengek dan menangis, dia tidak akan pernah mendapatkannya.

Sekarang saya sadar, mengapa Allah membawa kami begitu jauh dari keluarga besar. Allah mau kami mendidik anak-anak kami dengan baik. Jujur saja, di keluarga besar kami itu masih selalu menyalahkan lantai ketika anak jatuh. Sementara kami, tidak pernah menyalahkan apapun dan siapapun atas ketidakhati-hatian si anak. Suami saya juga tidak mau anak-anak bernyanyi, karena itu kami tidak pernah mengajarinya menyanyi. Kami juga tidak pernah berkata negatif pada anak, misalnya mengatakannya bodoh, jelek, nakal dll. Kami lebih memilih diam ketika sedang emosi pada anak, daripada harus mendoakannya seperti itu. Sementara di keluarga besar kami, ketika anak berlarian maka akan disebut nakal. Ketika anak tidak tahu sesuatu maka akan disebut bodoh. Tidak adil, sangat tidak adil memberikan penilaian seperti itu pada manusia yang baru mengenal dunia lebih singkat daripada waktu menyicil kendaraan.

Suami saya sejak anak pertama kecil ingin agar anak pertama kami berjilbab, sementara dulu setiap kami pulang kampung, anak kami sering disindir jelek karena memakai jilbab. Tapi alhamdulillah anak pertama sudah mengerti kenapa harus memakai jilbab. Intinya, banyak bentrok dalam pendidikan anak versi saya dan keluarga besar.

Sekarang saya mengerti mengapa Allah menjauhkan kami dari keluarga besar. Allah ingin agar kami memutus kezaliman yang dilakukan generasi sebelumnya. Allah ingin agar generasi di bawah kami menjadi generasi yang sebaik-baiknya. Karena itu Allah memberiku impian menjadi ibu rumah tangga, karena itu juga Allah membuatku senang mempelajari dan mempraktekkan ilmu parenting. Serta membuatku bahagia memasak karena dari dapurlah seorang anak manusia bisa tumbuh sehat dan gagah.


Menggali Potensi Anak Sejak Usia Dini

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya. Berarti ketika kita berbicara tentang potensi anak, kita sedang diharuskan memperhatikan kekuatan apa yang ada dalam diri anak kita yang bisa kita bantu untuk dikembangkan.

Saya memiliki dua orang anak, yang pertama akan berusia 5 tahun di akhir Maret 2019 dan yang kedua akan berusia 1 tahun di awal Maret 2019. Khusus anak kedua, karena usianya yang masih sangat muda dan waktu yang saya habiskan bersamanya juga baru hampir setahun, jadi tentu saja saya masih belum bisa menangkap potensi apa yang ada dalam dirinya, selain saat ini doi senang menggigit apa saja karena giginya baru akan tumbuh.

Anak pertama saya, Qifaya, saya perhatikan sejak usia 2 tahun anak ini sangat suka dengan permainan fisik. Saat diajak main ke mall, doi tidak pernah takut naik ke perosotan tinggi, manjat dan melompat. Waktu itu, kami membelikannya hadiah play house dan tidak disangka Qifaya bisa naik di atas atapnya dan melompat langsung ke bawah. Saat itu usianya baru 2 tahun! Selain itu, Qifaya juga suka sekali memanjat di tempat lain, dan dia sama sekali tidak takut ketika kami menaikkannya di tempat yang tinggi.



Ketika pindah ke Surabaya, Qadarullah kami dipertemukan oleh club senam khusus anak-anak. Kami memasukkan Qifaya ke club tersebut dan luar biasa baru sebulan kemajuannya sungguh tidak terduga.

Sebelum ikut senam, sudah bisa hand stand tapi dibantu. Bertahan 3 detik
Qifaya Masya Allah memiliki fisik yang kuat. Selain itu dia juga memiliki tenaga yang banyak :D Buktinya meski telah senam selama 1 setengah jam, di rumah lanjut lagi dan dia sangat bahagia melakukan itu semua. Pernah saya merasa sangat lelah dan memintanya untuk tidak ikut senam satu hari saja, eh dia malah nangis sambil melipat baju di ruang tengah yang sudah beberapa hari belum sempat saya lipat. Katanya biar mami tidak capek dan bisa temani dia pergi senam. wkwkwk anak ini benar-benar pandai mengambil hati orang lain. Masya Allah...



Melihat potensi anak itu bisa sekali dicermati dari gerak geriknya, hal yang membuatnya berbinar ketika melakukannya, dan membuatnya bersedih jika kita menghalanginya. Sampai detik ini, saya merasa bahwa Qifaya sangat suka berolahraga, dia bahagia melakukannya dan saya bangga karena dia telah menemukan hal yang disukainya sejak kecil.

Selain senam, Qifaya juga suka sekali membuat video. Lucu banget karena saya sering mendapati video buatannya di dalam ponsel atau kamera saya. Dia suka sekali berbicara di depan kamera. Baginya, dia sedang berbicara dengan teman-temannya yang banyak. Apa karena Qifaya sering menghabiskan screen timenya menonton Youtube channel Ryan's Toys? yang jelas, ini sudah dilakukannya cukup lama. Karena itu, saya sengaja membuatkan youtube channel nya sendiri dan memberitahu bahwa saya akan memasukkan videonya di dalam sana untuk ditonton oleh orang lain. And she said okay, dia senang, sampai selalu meminta saya untuk selalu merekamnya kemudian dimasukkan ke youtube wkwkwk calon youtuber berpenghasilan 1 milyar dolar per bulan nih anakku. Aamiin....

Sejauh ini menurutku hanya dua hal itu yang membuat Qifaya bahagia melakukannya. Matanya benar-benar berbinar ketika melakukan hal tersebut. Apapun pilihannya di masa depan, saya akan terus mendukungnya, selama pilihannya itu tidak melanggar syariat Allah. 

Sekian postingan kali ini, semoga menginspirasi.